Beberapa waktu lalu, kita muak atas sensor yang berlebihan di Televisi. Kemudian kita bikin banyak meme buat menertawai kejumudan Komisi Penyiaran Indonesia alias KPI. Sepertinya, sensor semena-mena dan blur di sana-sini adalah semacam jalan tercepat untuk menyenangkan semua pihak.

Di situs KPI kita akan menemukan ribuan surat pengaduan yang berisi keluhan dari masyarakat atas tayangan televisi. Pokok soalnya bisa beranekaragam, mulai konten sinetron sampai iklan, dari siaran tinju sampai kartun anak-anak, dari program berita sampai cuplikan lagu mars partai politik.

Laporan-laporan tersebut ada yang masuk akal, ada pula yang mengundang tawa. Saya pernah mencatat sebuah keluhan atas tayangan iklan suatu merek cat, yang menggambarkan seorang perempuan mendadak berdiri dari sebuah bangku yang baru saja dicat.

Rok perempuan yang memang cukup pendek itu sedikit tersingkap ketika dia berdiri, dan di situlah pangkal keluhan pemirsa, rok pendek yang mudah tersingkap. Keluhan ini akhirnya ditanggapi oleh KPI. Iklan tersebut disensor alih-alih dilarang sama sekali.

Saat itu, sensor di layar kaca tidak berbentuk blur, melainkan stiker bertulis "Sensor" dengan huruf besar-besar dan berwarna mencolok tertempel di bagian paha sang model iklan. Ini suatu model sensor yang bagi saya agak menggelikan.

Saya percaya, ketika awalnya iklan tersebut ditayangkan tanpa sensor, tidak semua pemirsa tertuju perhatiannya pada paha sang model. Mungkin cuma sebagian orang, yaitu mereka yang gampang tertarik pada kelucahan. Yang pikiran-pikirannya telah terkondisikan untuk mendadak bangkit saat sehelai kain tersingkap. Kalau kata anak muda jaman sekarang, "radarnya kuat untuk hal begituan." Maka kemudian, tatkala stiker sensor itu tertempel, perhatian segera tertuju pada bagian yang tertutup itu.

Bukanya menjauh, perhatian pemirsa justru menjadi terfokus pada wilayah terlarang tersebut. Stiker sensor menjadi semacam rambu petunjuk jalan, ke mana seharusnya mata Anda mesti ditujukan. Pada akhirnya, pemirsa yang telah terlanjur penasaran akan mencari jalan untuk menyingkap kembali wilayah yang telah ditutup secara serampangan tersebut. Dan Google serta Youtube memberikan peluang bagi orang-orang yang tak lelah melakukan pencarian atas nama berahi yang tertunda.

Belakangan, stiker yang konyol tersebut akhirnya diganti dengan blur. Namun itu tidak serta merta menghilangkan kekonyolan. Pernah bagian tubuh sapi yang sedang diperah kena blur, rok tokoh kartun pun kena blur, terakhir yang cukup menghebohkan, setelan kebaya para peserta suatu kontes kecantikan juga tak luput dari pemburaman alias blur.

Dan lagi-lagi, pemirsa yang semula barangkali berpikir positif menjadi ikut merasa diracuni. KPI boleh saja berkilah, petunjuk praktis soal sensor bukanlah wilayah kewenangannya. Semua sensor dilakukan di bawah panduan SP3-SPS, namun sejumlah pasal dalam aturan tersebut begitu multi-tafsir.

Dan KPI menjadi satu-satunya pihak yang berhak merumuskan tafsir tunggal atasnya tanpa mempertimbangkan konteks sosiokultural masyarakat penonton. Tanpa petunjuk praktis, insan pertelevisian pun menjadi bingung dan gemetaran melakukan swa-sensor di bawah bayang-bayang ancaman pembekuan siaran.

***

Tak kurang dari 24 jam sebelum tulisan ini dibuat, sebuah peristiwa lagi-lagi menghentak nalar pengguna media sosial. Sepasang anak di bawah umur, mengaku masih SMP, mengunggah gambar mesra di suatu kamar hotel, dengan tubuh hanya berbalut selimut.

Kemudian, beberapa di antara kita, tanpa berpikir panjang dan matang, menyebarluaskan foto anak-anak di bawah umur yang sedang "khilaf" di kamar hotel tersebut tanpa menyamarkan identitas mereka sama sekali!

Orang-orang itu mengutuk, bersorak dan bersumpah-serapah, seolah yang sedang dikutuk, disoraki dan disumpah-serapahi bukan anak-anak yang masih lugu dan butuh bimbingan, melainkan orang dewasa yang sudah benar-benar paham soal konsekuensi moral dan sosial atas perbuatan mereka sendiri.

Ini bukan peristiwa pertama. Sebelumnya dunia maya sempat dihebohkan oleh video sekelompok anak gadis berseragam putih abu-abu dalam angkot sedang bergiliran menenggak minuman yang dituang dari botol miras.

Video ini tersebar diiringi ungkapan prihatin dan istigfar. Para penyebar berpikir mereka sedang melancarkan kritik moral, menjadi penegak akhlak, tanpa sadar perbuatan semacam itu justru membikin kondisi tambah rusak.

Clicking monkeys, begitu Daru Priyambodo menyebut para penyebar berita di media sosial, yang begitu riuh dan gaduh menyebar berita-berita yang rusak seperti monyet melempar-lempar pisang busuk.

Jika Daru lebih menyasar para penyebar hoax, saya pikir istilah ini pun pantas buat mereka yang menyebar berita atau postingan yang, barangkali faktual, tapi tidak etis dan dapat berbahaya bagi orang lain. Yang dalam kasus ini berbahaya bagi perkembangan psikologis dan masa depan anak-anak tersebut.

Barangkali lantaran orang-orang semacam ini KPI lahir dan bikin sensor di televisi. Lantaran orang-orang semacam ini, dibikinlah aturan dan undang-undang yang mengungkung kebebasan berekspresi.

Barangkali tudingan saya di atas tergolong sumir dan masih debatable. Tapi tentu tidak mungkin ada asap tanpa ada api. Mungkin saja ada yang akan berkata, media sosial bukanlah televisi, namun tentu kita tidak ingin nasib keduanya menjadi sama dalam hal penyensoran yang salah letak dan buta tujuan.

Di atas itu semua, kita yang dewasa seharusnya benar-benar bisa bersikap dewasa. Menjadi clicking monkeys adalah suatu bentuk ketidakdewasaan kita dalam menghadapi dunia internet dengan generasi z-nya. Generasi yang masih meraba-raba dunia lewat jejaring sosial.

Menyebar, dan ikut mengumbar foto-foto cabul tersebut, meski dengan diiringi seruan untuk bertobat dan insaf, bukanlah jalan yang tepat jika dilihat dari konteks sosiokultural dan psikologis anak. Sayangilah anak-anak kita dengan cara tidak ikut menyebar ketengilan mereka.