Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “umur-umur umatku antara 60 hingga 70 tahun, dan sedikit orang yang bisa melampaui umur tersebut”. (HR. Ibnu Majah : 4235). Artinya, usia 40 sudah melewati lebih dari separuh hidup. Usia tersebut manusia tidak lagi dikatakan muda, tetapi belum pula dikatakan tua.

Pada usia 40, tubuh laki-laki maupun perempuan sudah mulai terlihat rapuh, walaupun penampilan kadang masih terlihat muda dan segar, seseorang akan mulai mengalami pandangan yang kabur atau masalah penglihatan, Selain penglihatan, pendengaran orang berumur 40 tahun juga memburuk. Hal ini terjadi karena adanya perubahan struktur membran timpani dan telinga bagian dalam.

Tubuh seseorang akan mulai menyusut setelah umur 30 tahun. Anda dapat melihat perubahan ini ketika berusia 40 tahun. Menurut data yang dikumpulkan oleh University of Arkansas jurusan ilmu kedokteran, pria dapat secara bertahap kehilangan tinggi badan satu inci antara usia 30 dan 70, dan wanita dapat kehilangan tinggi badan sekitar dua inci.

Jika Anda menderita gigi sensitif saat usia muda, masalah ini dapat hilang saat Anda bertambah tua. Hal tersebut terjadi karena dentin, jaringan kalsifikasi pada gigi yang tumbuh seiring berjalannya waktu. Itulah sebabnya, sensitifitas semakin berkurang.

Maka, usia 40 tidak lagi pantas nongkrong-nongkrong di pinggir jalan, kafe, berkumpul di tempat yang sia-sia, begadang tanpa makna. Hendaknya mulai menarik diri dari fitnah dunia, berkumpul dengan orang saleh sambil menanti jadwal kematiannya.

Namun jika di usia 40 tahun masih gemar melakukan dosa dan maksiat, seperti meninggalkan shalat, berzina, dll, maka akan sulit baginya untuk berhenti dari kebiasaan tersebut.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda, “salah satu tanda Allah Ta’ala telah berpaling dari hamba-Nya adalah kesibukan hamba yang bersangkutan pada hal-hal yang tidak perlu baginya. Sungguh, seseorang yang berlalu sesaat dalam usianya untuk selain ibadah yang menjadi tujuan penciptaannya, maka layak menjadi penyesalan panjang baginya. Orang yang melewati usia 40 tahun, dan kebaikannya tidak melebihi keburukannya, hendaklah ia menyiapkan diri untuk neraka,”

Usia 40 tahun merupakan titik awal seseorang memiliki komitmen terhadap penghambaan kepada Allah Ta’ala, sekaligus konsisten terhadap islam, sehingga Allah Ta’ala pun akan meringankan hisabnya.

Pada usia 40 tahun, semestinya kita berdoa agar diberikan petunjuk untuk senantiasa dapat berbuat kebajikan, sehingga mendatangkan ridho dari Allah Ta’ala.

Bahkan di umur 40 tahun, semestinya menjadi titik awal manusia untuk segera memohon ampunan dari Allah Ta’ala atas dosa yang telah dilakukan semasa hidupnya.

Sebagaimana Allah Ta’ala telah berfirman di dalam Al-quran, “dan kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Masa mengandung sampai menyapihnya selama tiga puluh bulan, sehingga apabila dia (anak itu) telah dewasa, dan umurnya telah mencapai 40 tahun, dia berdoa, “Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridhoi, dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engaku dan sungguh aku termasuk orang muslim”. (QS. Al-Ahqaf: 15)

Manusia juga diperingatkan untuk mempersiapkan bekal amal untuk hari esok, yang dalam hal ini dimaksudkan pada kehidupan akhirat.

Seperi firman Allah Ta’ala dalam Al-quran, “wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (hari akhirat). Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha teliti terhadap apa yang kamu kerjakan”. (QS Al Hasyr: 18)

Seseorang yang telah menginjak usia 40 tahun keatas dan memiliki kebutuhan spiritual yang makin tinggi, keinginan akan nikmat dunia mulai berkurang, sehingga lebih kepada keinginan akhirat. Maka itu adalah suatu “nikmat”.

Seseorang yang telah mendapatkan kenikmatan di usia 40 tahun akan semakin taat beribadah, setiap melakukan ibadah akan menimbulkan ketenangan mental, pikiran dan perasaan. Jika nantinya mendapatkan masalah yang besar tidak akan terasa berat karena telah menempatkan dan meyakini bahwa segala sesuatu sudah merupakan takdir dari Allah Ta’ala.

Selalu merasa segala sesuatu adalah hanya milik Allah Ta’ala, sehingga apabila menghadapi musibah seperti kehilangan orang terdekat/tercinta tidak akan diratapi secara berlebihan, tidak larut dalam kesedihan yang berkepanjangan. Dia akan mudah move on kembali ke keadaan normal karena sadar bahwa segalanya adalah milik Allah dan akan kembali kepada Allah Ta’ala.

ketergantungan akan urusan dunia makin kecil, dia akan lebih cepat merasa ikhlas akan suatu hal yang terjadi kepada dirinya, tidak cepat marah, tidak cepat tersinggung. Seolah hanya dengan beribadah saja akan mendapatkan ketenangan.

Firman Allah Ta’ala dalam Al-quran bahwa tujuan manusia diciptakan tidak lain adalah agar mereka beribadah kepadaNya “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku” (QS. Al-Dzariyat : 56)

Jika sudah merasakan kenikmatan dalam beribadah serta meyakini dan memahami bahwa tujuan penciptaan manusia tidak lain adalah agar mereka beribadah kepadaNya, maka beribadah akan dirasakan sebagai kebutuhan primer.

Disamping itu, kenikmatan-kenikmatan yang dijanjikan Allah Ta’ala bagi orang-orang yang bertaqwa yaitu yang menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, maka beribadah akan menjadi santapan favorit yang diidam-idamkan dalam kehidupan kesehariannya, bahkan sangat menguntungkan karena akan mendapatkan “privilege” berupa pahala dan kenikmatan lainnya (surga) kelak di akhirat.