Sejak masih duduk di bangku kuliah, saya telah menyukai barang-barang tua berjenis senjata tajam tradisional, seperti keris, golok, mandau, rencong badik dan sebagainya. Saya mengumpulkan satu persatu barang-barang seperti itu. Saat nasib membawa saya menjadi pedagang barang bekas di pasar loak Taman Puring pada 1998, ini membuat kesukaan saya itu seperti mendapat penyaluran. Di pasar ini saya mendapat cukup banyak barang seperti itu. Selain dari berburu, tidak sedikit yang saya dapatkan dari pemberian orang yang memiliki barang seperti itu –biasanya dari waris orang tuanya.

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa barang-barang tua seperti itu tidak lepas dari kesan mistis atau hal semacamnya. Saya tidak peduli dengan hal tersebut, bahkan bisa dikatakan masa bodo. Kesukaan saya murni hanya mengagumi hasil budaya yang luar biasa dengan segala macam filosofi yang tertanam pada senjata tersebut.

Di bilah pusaka tua itu biasanya terdapat apa yang dikenal orang sebagai pamor –semacam motif yang mengandung makna tertentu. Pembuatan pamor ini tidak seperti melukis, jadi dilakukan bersamaan dengan penempaan bilah tersebut. Bayangkan tingkat kesulitannya, besi yang dipanaskan ditempa dengan campuran bahan tertentu sehingga bisa menghasilkan motif tertentu.

Saya mendapat cukup banyak senjata tua tradisional dari pasar ini. Koleksi saya mencapai ratusan pusaka saat itu. Baik itu yang saya dapatkan dengan membeli karena ada orang yang menjualnya, maupun yang saya dapatkan dari hibah karena banyak orang yang tidak suka dengan adanya barang seperti itu di rumah mereka.

Saya merawat barang-barang pusaka tersebut dengan baik dalam arti merawat yang sesungguhnya. Saya melakukan pembersihan pada bilah logamnya dan memberikan minyak agar korosi tidak bertambah parah. Karena namanya logam tua, pastinya sudah banyak korosinya. Hanya sebatas itu saya merawat benda-benda pusaka itu. Mungkin berbeda dengan kebanyakan orang yang ‘merawat‘ benda pusaka dengan nuansa mistis, biasanya mereka selalu memandikan barang-barang seperti itu dengan bunga-bunga tertentu pada malam satu Suro atau satu Muharam dalam penanggalan Islam.

Saya juga termasuk orang yang tidak peduli terhadap apa yang dinamakan khodam atau makhluk yang menjadi penunggu benda pusaka. Saya memang memercayai ada kehidupan di dimensi yang berbeda dengan manusia, tapi saya tidak ambil pusing. Prinsip saya kalau mereka mau dan senang tinggal di benda pusaka yang saya koleksi, silakan saja, asal jangan macam-macam dan merepotkan saya, begitu saya selalu berkata.

Saya ingin memasang barang-barang tersebut di rumah sebagai unsur dekorasi, tapi sayang, istri saya tidak menyukai hal-hal seperti itu. Dia mengatakan tidak menyukai nuansa yang dihasilkan jika saya memasang barang-barang tersebut sebagai dekorasi rumah. Rumah jadi terkesan seram, begitu dia berargumen. Akhirnya saya mengalah dan menuruti apa yang diinginkannya, tidak ada satu pun yang saya pajang, semua masuk dalam satu peti besar.

Hanya ada beberapa barang antik yang istri saya tidak keberatan untuk dipajang, yaitu senjata zaman kolonial (VOC) yang masih menggunakan bubuk mesiu untuk menggunakannya dan setrika yang masih menggunakan media arang untuk sumber pemanasnya, biasanya ada lambang ayam jago di ujungnya. Selain dari dua barang tersebut tidak ada satu pun yang dia suka. Menyeramkan, katanya.

Pada suatu ketika ekonomi keluarga kami terganggu dan hal itu membuat rumah yang kami miliki terpaksa harus dijual. Singkat cerita rumah kami jual untuk membereskan segala urusan saat itu dan termasuk koleksi senjata-senjata pusaka pun ikut dijual juga. Saya hanya menyisakan beberapa untuk tetap saya miliki.

Saat ini kondisi perekonomian kami sudah mulai membaik dan kami juga sudah memiliki rumah lagi di sebuah perumahan sederhana di bilangan Depok. Di perumahan tersebut kami bisa memiliki dua rumah yang saling berhadapan atau berseberangan. Kami tinggal di rumah yang satu dan rumah satu lagi lebih dipakai sebagai tempat menyimpan barang dan kami pergunakan jika ada tamu berkunjung.

Di sinilah kesukaan saya akan benda-benda pusaka itu bangkit lagi. Saya berpikir kalau pun mengoleksi benda-benda pusaka tua, toh tidak berada satu rumah dengan tempat tinggal kami, jadi tentu tidak akan mengusik atau mengganggu istri saya. Jadi saya mulai mengumpulkannya lagi.

Saya banyak sekali mendapatkan filosofi hidup dari hanya mempelajari motif-motif pamor di bilah senjata pusaka tua tersebut. Senjata-senjata tradisional Indonesia, khususnya keris berpamor ini sudah diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia, dan kita perlu berbangga karenanya. Betapa hebatnya orang Indonesia ratusan tahun yang lalu yang bisa membuat keris dengan teknologi yang sampai saat ini tidak bisa ditiru oleh orang Eropa dan bangsa lainnya. Sekarang sudah banyak barang-barang tersebut pindah ke luar negeri akibat pengakuan UNESCO tersebut.

Semoga apa yang saya lakukan saat ini minimal bisa menjaga atau melestarikan budaya kita yang tersisa.