2 bulan lalu · 43 view · 3 min baca menit baca · Lingkungan 40637_44321.jpg

Senjata Pembunuh Massal Bersertifikasi

Bumi merupakan rumah bagi umat manusia dan segala ekosistem makhluk hidup di dalamnya. Sudah beribu-ribu tahun bumi mengalami berbagai proses pembentukan yang akhirnya dapat layak dihuni oleh makhluk hidup khususnya manusia. 

Tetapi, pernahkah terlintas suatu anggapan bahwa bumi akan rusak? Udara bersih makin sedikit, emisi gas makin tidak terkendalikan, suhu bumi meningkat drastis, limbah industri di mana-mana, dan akhirnya seluruh daratan bumi akan tenggelam dalam air.

Manusia sulit untuk sadar akan asumsi ini, jika mereka tidak merasakannya secara langsung. Gejala- gejala ini akan terus muncul seiring dengan terganggunya keseimbangan alam.

Alam tidak bisa diperlakukan seenaknya saja. Kita sering serakah dalam mengambil keuntungan dari alam. Sumber daya alam dieksploitasi secara besar- besaran hanya untuk memuaskan suatu pihak diluar kecukupan kebutuhan manusia. 

Pada akhirnya alam menunjukkan ketidakstabilannya dengan berbagai dampak perubahan iklim yang ada.

Dampak Nyata Perubahan Iklim

Bahan bakar minyak, gas dan batu bara sudah digunakan beratus- ratus tahun di berbagai belahan dunia. Kendaraan bermotor, kebutuhan listrik, pabrik- pabrik industri mempunyai keterkaitan kuat dengan bahan bakar  mesin.

Dampak yang dihasilkan semakin hari semakin terasa. Emisi gas (sisa hasil pembakaran bahan bakar mesin) adalah yang paling utama dalam pencemaran lingkungan. 

Emisi ini akan langsung menyatu dengan udara dan akan terus naik. Energi panas yang dihasilkan menaikkan suhu bumi secara drastis dan membuat lapisan ozon semakin terkikis. 

Hal ini akan berakibat buruk jika terus dilakukan terutama bagi lapisan atmosfer serta kehidupan di bumi sendiri . Tinggal menunggu waktu sampai bencana besar datang atau manusia dapat mencari solusi untuk lebih bijak dalam memanfaatkan energi alam.

Pada pertengahan tahun 2015, India mencatat suhu paling tinggi mereka di angka 123,8˚ F (51˚ Celcius). Jalan- jalan mencair karena suhu yang terlalu tinggi dan emisi gas menjadi suatu pemandangan yang biasa. Tidak dipungkiri India menjadi negara pengguna bahan bakar fosil selama lebih dari 150 tahun.


Pada 13 April 2016 beberapa ledakan gletser terjadi di bagian atas Greenland dan permukaan es mencair lebih cepat dalam kurun waktu 30 tahun. 

Swiss Camp merupakan salah satu stasiun pemantau cuaca di pusat Greenland yang mengabarkan bahwa antara tahun 2000 – 2016 ketinggian permukaan es menurun sampai 12 meter.

Daerah pesisir Miami di Florida menanggung dampak dari bertambahnya volume air sehingga beberapa jalan, rumah, dan akses transformasi tergenang air. Hal ini juga dapat menyebabkan berbagai penyakit muncul, melihat kondisi yang semakin buruk.

Di wilayah Indonesia sendiri mempunyai intensitas hujan tinggi, sehingga banjir dan tanah longsorpun sulit terelakkan. Kekeringan dan kebakaran hutan juga sudah menjadi langganan pada musim kemarau.

Membuka Mata Dunia lewat Media

Media informasi menjadi salah satu alternatif yang sangat menjanjikan dalam menggugah semangat sekaligus kembali menumbuhkan kesadaran masyarakat dunia akan pentingnya menjaga bumi tetap bersih. 

Dengan perantara audio dan visual mengenai bencana- bencana perubahan iklim di berbagai negara, diharapkan dapat menyampaikan pesan moral kepada masyarakat luas. 

Terlepas dari para pimpinan yang memang memiliki kewenangan, seluruh masyarakat dunia dari berbagai lapisan juga harus berjuang dalam menanggulangi perubahan iklim.

Mantan Wakil Presiden Amerika Serikat atau biasa disapa Al Gore mencoba memahamkan perubahan iklim lewat film dokumenter  “An Inconvenient Truth” dan “An Inconvenient Sequel : Truth to Power”

Kedua film ini memperlihatkan realita, bagaimana dasyatnya dampak perubahan iklim yang sangat merugikan berbagai pihak tidak terkecuali material maupun finansial sampai pada akhirnya nyawa menjadi taruhannya. 

Tujuannya tidak lain untuk meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa perubahan iklim memerlukan tindakan sedini mungkin. Pada film yang kedua harapan mulai muncul dengan adanya teknologi yang lebih maju dalam proses produksi energi terbarukan dan tentunya ramah lingkungan. 

Cara ini sangat efisien dalam pelaksanaan kampanye perubahan iklim secara keseluruhan.
Aktivis- aktivis mulai banyak bermunculan tidak hanya di benua Amerika tetapi dari berbagai belahan dunia. 

Bersama- sama berjuang menuju bumi yang lebih bersih. Puncaknya yaitu “Perjanjian Paris” dalam Konferensi Perubahan Iklim/ COP21  yang menyatukan berbagai negara, bersama- sama berjuang untuk sampai pada level 0 emisi gas rumah kaca.

Peluang Besar bagi Indonesia

Kecanggihan teknologi tidak dapat diragukan lagi. Apalagi kita akan mulai masuk pada masa revolusi industri 4.0. Kemajuan teknologi diharap menjadi solusi untuk menjawab tantangan dalam pengendalian perubahan iklim.

Energi terbarukan mulai dikembangkan demi menggantikan bahan bakar fosil. Berbagai negara sudah mulai menampakkan hasilnya. 


Pada 7 Agustus 2016, 100% kebutuhan listrik daerah Skotlandia dihasilkan dari energi angin lalu pada tahun 2002 proyek global energi surya menghasilkan 1 gigawatt/tahun dan pada tahun 2016 mencapai peningkatan diangka 75%. 

Chili menjadi negara berkembang yang melakukan percepatan pembangunan energy surya. Akhir tahun 2013 menghasilkan 11 megawatt dan pada tahun 2016 naik drastis menjadi 13,13 gigawatt. Sebuah pencapaian besar terhadap sumber daya matahari.

Indonesia sebagai negara kepulauan dan beriklim tropis mempuyai peluang besar dalam kemajuan energi terbarukan. Belum lagi gagasan terbaru pemanfaatan gelombang laut sebagai solusi menggantikan bahan bakar fosil, sangat cocok diterapkan di Indonesia.

Dengan adanya perjanjian paris, pemerintah Indonesia juga harus memulai pengembangan energi terbarukan. Indonesia bisa menjadi motor perkembangan energi bersih di dunia kedepannya nanti.

Artikel Terkait