Minggu malam Senin. Rida malam ini berusaha tidur lebih awal dibanding biasanya. Tugas kuliah yang menumpuk, bahkan tugas yang tenggat waktunya jam 12 malam diabaikannya untuk tidur. Sehabis solat Isya' Rida merebahkan tubuhnya di kasur, berusaha tidak mengingat kejadian tadi sore.

"Hiks hiks", Rida terisak sambil mengelap air matanya yang mengalir deras, membuat pipinya sembab.

Rida berharap malam ini segera menutup mata, lalu tertidur sehingga tidak mengingat kejadian di pantai bersama Zidan, kekasihnya.

Siang itu, terik matahari menyengat kulit sepasang kekasih yang tengah duduk berdua di pinggir Pantai Parangtritis, Yogyakarta. Keduanya duduk dibawah payung beralaskan tikar, sambari menikmati kelapa muda yang dibeli di warung tak jauh dari mereka duduk.

"Sayang, main air yuk!", ajak Rida.

"Iya bentar, aku habisin dulu kelapanya", ucap Zidan terburu-buru menghabiskan minuman ditangannya.

"Cepetan, keburu sore!", kata Rida. Manarik tangan Zidan dan mengajaknya mendekati air.

"Iya iya, sabar Sayang", Zidan menaruh kelapanya dan menuruti kemauan kekasihnya itu.

Zidan kemudian berjalan sembari menggenggam tangan Rida menuju bibir pantai. Dilihatnya senyum kekasihnya berbinar ketika mereka menginjakkan kakinya di air. Rida yang jail mencipratkan air ke wajah Zidan, kemudian tertawa puas karna berhasil membuat wajah kekasihnya basah karena air.

Zidan tak mau kalah, Ia membalasnya dengan cipratan air yang beruntun, yang membuat wajah dan baju Rida basah kuyup. Waktu pun berjalan cepat, menyadari hari yang menjelang sore, keduanya meninggalkan air dan bergegas berganti pakaian.

Sewaktu menunggu Zidan berganti pakaian, Rida memainkan handphone nya dan sesekali memfoto senja dari gubuk yang ia tempati. Ketika sedang memfokuskan kamera, handphone Zidan berdering. Seseorang menelpon Zidan. Terlihat dilayar hp yang menelpon seorang perempuan bernama Tia.

Ia baru tau kalau Zidan mempunyai teman bernama Tia. Rida hafal betul setiap teman dari Zidan . Ia mencoba mengingat Tia. Tetapi nihil. Ia belum pernah mendengar cerita mengenai Tia dari kekasihnya.

Ia membiarkan saja telepon berdering, mengabaikan dan tidak mengangkat.

1 panggilan tak terjawab.

2 panggilan tak terjawab.

3 panggilan tak terjawab.

Tetapi perempuan ini masih saja menelpon. Rida berfikir kalau ini telepon penting, segera Ia mengangkat dan menempelkan handphone Zidan di telinganya.

"Kok lama sih ngangkatnya Sayang, aku kangen", terdengar suara perempuan khas dengan nada marah manja yang seketika mengusik telinganya.

"Aku udah pulang Mas, nanti malam ketemu yuk!", sambung wanita itu.

"Halo Mas, kok ga dijawab".

Rida hanya diam mendengar setiap ucapan wanita itu. Seperti pohon tersambar petir, kini tubuhnya lemas bersandar tiang gubuk. Tak sadar air matanya perlahan menetes . Tak sampai air matanya jatuh Ia pun mengusap dengan tangannya. 

Rida tak menjawab sepatah katapun. Ia perlahan menurunkan handphone, dan tiba-tiba Zidan mengejutkannya dengan meraih hp yang masih dipegangnya.

"Kamu kenapa Sayang?", tanya Zidan. Mengusap air mata Rida yang ternyata masih berbekas di pipinya. Namun Rida tetap diam menatap senja yang tadi begitu indah, tapi sekarang perlahan mulai menampakkan kegelapan menjelang malam.

Tak lama Zidan menyadari dan langsung mengecek handphone nya. Benar saja, panggilan baru saja dari Tia. Zidan menghela napas, memberanikan bertanya.

"Kamu angkat telpon punyaku?", tanya Zidan. Menatap tajam ke arah Rida dengan kecemasan yang nampak dimatanya.

"Tia siapa?", suara Rida lirih sedikit menahan tangis yang Ia bendung.

"Dia temenku Sayang", jawab Zidan mengelus rambut Rida yang mulai berantakan.

"Aku mohon jawab jujur dia siapa!?", pinta Rida dengan suara agak meninggi.

Zidan menarik napas panjang dan beralih tempat duduk tepat di depan Rida. Ia memegang erat tangan kekasihnya, meskipun Rida menolaknya.

"Aku jawab jujur ya. Dia pacarku. Maafkan aku", Zidan memegang erat tangan Rida dan menatap mata kekasihnya yang kini perlahan meneteskan air mata.

Rida yang duduk terdiam menunduk menangis, lalu menatap tajam mata Zidan dengan pandangan kabur. Tak percaya apa yang telah diucapkan pasangannya.

"Aku lebih dulu kenal Tia sudah 2 tahun sebelum aku mengenal kamu. Sampai dia pergi ke Semarang untuk kuliah dan setahun ini aku dekat dengan kamu", sambung Zidan.

Zidan menjelaskan, berharap Rida memahami dan memaafkannya. Rida paham dan tak sepenuhnya menyalahkan Tia. Rida hanya tak suka Zidan membohonginya selama setahun ini.

"Terus kamu pilih siapa?", tanya Rida lirih  yang masih terisak mendengar pernyataan Zidan.

"Ya, aku sama Tia sama-sama suka. Terus kalau sama kamu...", Zidan berhenti dan tak melanjutkan ucapannya sambil menatap mata Rida yang kembali membendung tangis yang siap pecah.

"Selama ini aku salah menilai kamu. Lupakan aku. Aku pergi.", sambung Rida. Melepaskan genggaman lalu meraih tas disebelahnya. Ia beranjak pergi dari gubuk dengan Isak tangis yang tak kunjung reda. Meninggalkan kekasihnya duduk sendiri, entah Ia merasa bersalah ataukah merasa memang pantas Ia berbuat demikian.

Mulai malam ini, Rida akan melewati hari-hari yang begitu berat. Hari-hari tanpa sosok orang yang amat Ia sayang selama setahun ini. Malam yang melelahkan. Sebab Ia harus memaksa ingatan agar lupa walaupun sejenak tentang kenangan bersama Zidan yang telah tertanam dalam pikirannya. Hari-hari yang amat lesu. Sebab rasa perih, pedih, lemas tak bisa terelakkan menerima bahwa semesta tidak memihak kepadanya.