Arus peralihan penggunaan media konvensional ke media digital yang semakin deras dalam beberapa tahun terakhir menjadi ancaman nyata terhadap eksistensi media massa cetak di dunia. Tak terkecuali di Indonesia.

Seiring menjamurnya media daring dan kian populernya media sosial membuat bisnis media cetak menjadi semakin suram. Dalam beberapa tahun terakhir banyak media massa cetak pamit dari peredaran. Beberapa di antaranya media cetak papan atas nasional, bahkan ada yang telah terbit puluhan tahun.

Di era digital seperti saat ini nama besar dan lama terbit tidak menjadi jaminan media cetak bisa bertahan. Banyak yang angkat bicara dengan menyebut inilah saatnya media cetak memasuki senja kala di Indonesia. Media cetak yang masih bertahan saat ini pun banyak yang mengalihkan kegiatan mereka ke platform digital dengan menutup edisi cetak mereka.

Namun ada sejumlah perusahaan media cetak yang tidak serta merta menutup edisi cetak mereka tapi menyiasatinya dengan melakukan sejumlah efisiensi. Misalnya dengan tidak menerbitkan edisi tertentu atau memangkas halaman dengan alasan agar bisa menutup ongkos produksi yang tinggi.

Senja kala media cetak di Indonesia tampaknya akan terus berlanjut. Anggapan masyarakat bahwa berita seharusnya bisa didapatkan secara gratis diprediksi akan semakin menenggelamkan pamor media cetak. Tapi disaat bersamaan akan menaikkan popularitas media digital.

Jika bisa mendapatkan berbagai informasi secara gratis hanya dengan membuka media daring di gawai kenapa harus membeli koran, tabloid atau majalah? Selain lebih ekonomis tanpa perlu mengeluarkan uang untuk membeli koran, membaca berita atau informasi di media digital juga dianggap lebih praktis.

Anggapan seperti inilah yang membuat terjadinya pergeseran kebiasaan masyarakat dalam memperoleh informasi. Masyarakat masa kini terutama kalangan muda generasi muda lebih suka membaca dan mencari informasi yang mereka butuhkan  di media digital ketimbang membaca koran atau media cetak lainnya. Jadi tidak mengherankan jika akhir-akhir ini banyak media cetak yang terpaksa tutup.

Berdasarkan survei Nielsen Consumer & Media View dikutip katadata.com edisi 7 Desember 2017 disebutkan pada 2017 pembaca media cetak hanya 4,5 juta orang, menurun drastis dari 2013 yang mencapai 9,5juta orang. Berbanding terbalik dengan yang dialami media cetak, media digital mengalami kenaikan jumlah pembaca mencapai 6 juta di 2017, naik signifikan dari 2013 yang hanya 1,1 juta pembaca.

Data Nielsen Indonesia juga menyebutkan jumlah media cetak dalam empat tahun terakhir berkurang banyak. Pada tahun 2013 tercatat ada 268 media cetak di Indonesia namun di 2017 berkurang menjadi 192 media cetak. Penurunan yang cukup signifikan.

Semakin banyaknya media cetak yang gulung tikar tentunya akan berimbas pada bisnis lainnya, terutama bisnis kertas yang menjadi penyokong utama industri media cetak. Meski penyerapan kertas bukan hanya untuk industri media cetak namun kenyataannya permintaan kertas mengalami penurunan.

Ketua Umum Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI), Aryan Warga Dalam, dikutip bisnis.com edisi 17 November 2017 mengakui permintaan kertas untuk koran mengalami penurunan sementara penyerapan kertas untuk penerbitan stagnan.

Situasi semacam ini jelas tidak memberikan angin segar bagi industri kertas di Indonesia. Apalagi dengan isu paperless yang semakin nyata akan membuat pelaku industri kertas di Indonesia berada dalam tekanan besar. Era digital tidak bisa dipungkiri telah mengubah kebiasaan dan kebutuhan masyarakat terhadap kertas.

Efisiensi kertas di berbagai sektor pun mulai terlihat. Sebagian besar perusahaan meminimalisir penggunaan kertas dalam kegiatan mereka sehari-hari. Contoh kecilnya seperti menggunakan media electronic mail (email atau surat elektronik) atau menggunakan grup Whatsapp untuk mempermudah penyebaran informasi kepada karyawan mereka.

Di bidang perbankan, pendidikan dan bidang lainnya juga mulai menerapkan paperless. Situasi ini tentunya berpengaruh pula pada kebutuhan masyarakat terhadap kertas. Melakukan inovasi dan pengembangan produk menjadi tantangan tak terelakkan jika industri kertas tak mau memasuki masa senja kala.

Inovasi teknologi ramah lingkungan dengan menerapkan teknologi hijau dalam industri kertas perlu terus dikembangkan untuk melawan isu go green yang menjadi salah satu perhatian utama di pasar global. Inovasi produk kertas juga sangat penting dilakukan agar industri kertas tetap menggeliat di tengah badai tsunami media digital.

Industri kertas juga perlu terus mengembangkan alternatif energi bahan bakar menggantikan energi fosil untuk menekan biaya produksi sehingga harga kertas masih bisa bersaing di pasar domestik maupun internasional.

Kabar baiknya, pelaku industri kertas di Indonesia masih bisa berharap dari permintaan kertas karton untuk kemasan dan tisu yang saat ini masih tinggi, terutama untuk kebutuhan ekspor. Industri kertas di Indonesia masih bisa optimistis menatap masa depan yang lebih baik jika sigap menggenggam pasar internasional dan mencari celah menangkap peluang di pasar domestik.

Menurut Kementerian Perindustrian (Kemenperin) konsumsi kertas dunia pada 2017 mencapai 394 juta ton dan diprediksi meningkat 490 juta ton pada 2020. Kebutuhan kertas yang cukup besar tersebut bisa menjadi lahan basah bagi pelaku industri pulp dan kertas di Tanah Air asalkan cepat menangkap peluang.

Data Kemenperin menyebutkan pada 2016 jumlah industri pulp dan kertas nasional tercatat sebanyak 84 perusahaan. Sementara kapasitas produksi nasional sebesar 7,93 juta ton pulp per tahun dan 12,98 juta ton kertas per tahun. Indonesia menjadi produsen kertas terbesar keenam di dunia.

Potensi industri pulp dan kertas nasional diyakini bisa terus menggeliat. Kapasitas produksi industri kertas di Tanah Air pun diharapkan bisa meningkat untuk memenuhi permintaan pasar kertas domestik dan dunia yang masih tinggi . Apalagi jika melihat permintaan kertas dari Indonesia di pasar global yang menunjukkan sentimen positif.

Prospek cerah ekspor kertas tampak di sepanjang 2017. Selama periode Januari hingga Oktober 2017 ekspor kertas tercatat mengalami kenaikan 9,76% dari US$2,84 miliar menjadi US$3,12 miliar. Kebutuhan kertas terbanyak adalah untuk kemasan dan tisu.

Jadi apabila konsumsi kertas dalam negeri berada jauh di bawah rata-rata konsumsi kertas negara lainnya, pelaku industri kertas di Indonesia masih bisa berharap pada permintaan kertas di pasar global. Namun industri kertas Tanah Air harus siap menghadapi tantangan proteksi perdagangan global dan persaingan pasar yang ketat.

Pun saat permintaan kertas untuk industri media cetak dan penerbitan mengalami penurunan, industri kertas di Indonesia juga masih bisa berharap pada permintaan kertas untuk kemasan dan tisu di pasar lokal maupun internasional.

Meski industri media cetak saat ini diyakini memasuki masa senja kala, media cetak masih dibutuhkan masyarakat dan memiliki pasar tersendiri. Buku juga masih memiliki peminat yang tidak sedikit dan diyakini tidak akan musnah begitu saja. Oleh karena itu kebutuhan kertas untuk media cetak maupun untuk penerbitan masih bisa diharapkan meski tak lagi menjanjikan.

Pelaku industri pulp dan kertas di Indonesia juga masih bisa menatap masa depan yang cerah seiring masih menggeliatnya industri makanan dan minuman yang menggunakan kemasan dari kertas. Menjamurnya industri makanan daring di era digital juga menjadi pasar baru yang potensial karena mereka membutuhkan kertas untuk mengemas makanan.

Pabrik-pabrik tekstil di Indonesia masih menjadi pangsa pasar potensial karena kebutuhan mereka terhadap kertas sebagai textile support masih sangat tinggi. Masyarakat dan industri masih membutuhkan kertas untuk berbagai kebutuhan.