Pria bernama lengkap raffi bagaskara itu adalah adik dari anara syakila. Orang tua mereka adalah pemilik dari sekolah menengah ini. Mereka memang bersaudara sejak lahir. Namun, sifat dari keduanya benar-benar berbeda. Seperti yang kalian ketahui nara sangat jahat dan sombong. Sebaliknya dengan raffi yang cenderung rendah hati. Selalu menolong mereka yang menjadi korban bully kakaknya.

"Raffi mohon sama Kak nara. Sudah cukup kak.. sudah cukup kakak berperilaku begini. Kenapa kakak bisa setega ini?" Ujar raffi lagi-lagi membela Keila yang sudah berkali-kali menjadi korban bully oleh nara.

"Cih! Dah lah ngomong sama adek laknat kayak lho mah percuma! Gak bakal ngerti." Ucap nara khas logat mengejeknya.

Nara dan dua teman sehobi-nya itu pergi meninggalkan mereka berdua.

"Kak Keila mau aku antar pulang? Ini sudah mau sore," Tawar dengan lembut tak lupa secarik senyuman menghiasi wajah tampan raffi. Sungguh pria ini sangat berbalik dengan kakaknya yang begitu egois.

"Gak perlu, raffi . Takut kakak ngerepotin kamu." Jawab Keila dengan tenaga nya yang tersisa.

"Atau kakak mau lihat senja lagi? Kan biasanya kalo kakak lagi sedih. Kakak minta ke tempat yang bisa lihat senja." Tawarnya lagi.

"Euhm.. okay. Makasih ya raffi"

Dengan perlahan raffi membantu Keila untuk berjalan menuju tempat parkir. Mereka langsung bergegas pergi meninggalkan sekolah.

Sepanjang perjalanan ketika hampir sampai di tempat tujuan mata telah dimanjakan oleh pemandangan hijau. Hamparan angin yang membuat rambut Keila terurai.

"Udah sampe nih kak." Motor berhenti.

"Ehm.. sudah?" Keila yang sedari tadi melamun menikmati angin mendadak tersadar. la segera turun dari motor.

"Iya. Maaf ka aku gak bisa nemenin kakak. Soalnya tadi ayahku nelpon." Terpampang wajah cemberut dari raffi yang malah nampak menggemaskan.

"Iya, gak papa kok. Sekali lagi makasih banyak ya, raffi ."

"Senyum dulu dong, kak." Mencoba memaksa Keila untuk mengulas senyuman.

Keila sontak menampilkan eyes smile nya. Terlihat begitu cantik. Setiap inci wajah gadis ini begitu indah.

"Kak Keila cantik kalo lagi senyum."

"Ah kamu. Ya udah sana di tungguin ayah kamu lho." Gadis itu salting seketika mendapat sebuah pujian manis dari sang adek kelas.

"Iya deh. Aku pamit ya kak, dadah."

Keduanya pergi meninggalkan titik lokasi semula. Raffi yang telah pergi dan Keila mulai memasuki sebuah taman. Pepohonan hijau, langit yang mulai berubah warna menjadi kemerahan, dan sungai jernih menambah kenyamanan.

"Kapan ya matahari nya terbenam? Dimana relfi? Apakah dia akan telat datang?" Gumam gadis itu, duduk di pinggiran sungai.

Netranya tak kunjung berhenti mencari seseorang yang ia sebut dalam gumamnya tadi. Lama tak ada tanda-tanda kedatangan orang itu, Keila menatap lekat sungai di depannya. Sungai itu memantulkan langit di atasnya.

"Eh matahari nya sudah mulai tenggelam," Senyuman senang tercipta.

"Lama nunggu?"

Suara itu, ya Keila yakin itu suara pria yang ia cari.

"Luz. Ah akhirnya kamu datang," Sebuah pelukan hangat seketika menenangkan Keila.

"Kenapa sih kamu datang nya setiap senja doang?" Tanya Keila dengan wajah murung di bahu luz.

"Kamu ingatkan arti nama aku?" Luz berbalik tanya. Keila kemudian melepas pelukan mereka.

"Hm.. tentu saja. Tapi, sampai sekarang aku selalu merasa aneh. Hanya kau yang selalu membuatku bahagia. Hanya kau yang bisa mengerti diriku. Dan kau juga hanya datang saat senja datang. Mengapa?" Pertanyaan itu kembali memutar dalam pikiran Keila. Memanglah suatu tanda tanya yang sangat besar. Pria bernama lengkap Luz Hasaq itu adalah satu-satunya orang yang selalu membuat Keila bahagia dan tertawa lepas. Dan anehnya ia akan datang hanya pada saat matahari terbenam atau saat senja datang.

"Biar ku ingatkan kembali. Namaku Luz Hazaq yang artinya cahaya senja. Aku datang ke kehidupan mu hanya untuk memberikan dirimu semangat. Kau pun tahu bahwa dirimu adalah perempuan yang lemah, bukan? Itulah alasan nya ku datang."

"Apa karena nama mu yang menjadi alasan kau hanya bisa datang saat senja? Begitukah? Alasan mu benar-benar aneh." Keila mengalihkan wajahnya.

"Apa kau ngambek lagi huh? Heyy Keilaaa ku yang cantik..," Luz langsung menghibur Keila dengan segala pujian. la sangat tahu seorang Keila. Gadis itu dapat ditaklukkan dengan sebuah pujian. Tapi, ada seorang yang dapat menaklukkan Keila bahkan membuat nya menjadi asisten pribadi. Ya itu Bella Natasya. Cukup berbicara tentangnya.

"Apa maksudmu menyebut ku dengan sebutan 'gadisku'?" Dengan wajah yang masih menekuk dan tanpa sekali pun menatap balik pria bernama Luz itu.

"Memangnya aku tidak boleh memilikimu?" Tanya Luz sambil memeluk Keila dari belakang. Menaruh dagunya di bahu Keila.

"Jangan ngambek gitu dong," Luz tiba-tiba mencolek pipi dan dagu Keila untuk menggodanya.

"A-apaan sih?" Memang Luz tahu segalanya tentang Keila. Hanya dengan sebuah pelukan serta gombalan yang murah pun dapat membuat gadis itu salah tingkah.

"Apa? Hm.. kau tahu senja itu indah ya.. lihatlah itu." Jari telunjuk Luz mengarah pada langit dengan gradasi merah-oranye. Matahari yang akan tenggelam. Serta burung-burung ikut menghiasi langit senja.

Momen dimana sangat disukai gadis yang masih duduk di bangku SMA ini. Dimana ia akan merasa bahwa dunia ini adalah miliknya. Dimana semua masalah hilang seketika. 

Dimana saat seorang datang membuat tawaan terlontar. Momen yang sangat tak terlupakan. Keila sangat bersyukur ia masih diberi kesempatan untuk menikmati senja ini bersama pria yang sejak kecil menemaninya. Yang hanya bisa datang di kala diiringi sang senja.

Langit mulai gelap. Matahari perlahan hampir benar-benar menghilang. Saat itu juga sebuah pelukan erat melonggar. Tangan Luz perlahan menghilang seperti debu. Bahu Keila sudah tak lagi berat. Bayangan pria itu musnah bersama sang matahari.

"Luz, jika saja setiap waktu adalah senja. Cepatlah kembali aku merindukanmu." Keila tersenyum. Sangat bahagia. Entahlah semesta baginya memang aneh. Ada saja orang yang hanya bisa datang saat senja. Dia adalah Luz Hasaq. Pria yang selama ini membuat kenangan manis untuk Keila.

END