Sebagai seorang mahasiswa baru, bayangan awal saat mulai memasuki dunia perkuliahan adalah sebuah cara belajar ringan dengan kelonggaran waktu yang diberikan, bebas dalam berpakaian, dan mendapatkan banyak teman yang berasal dari berbagai daerah.

Namun kehidupan kampus tidak seindah yang dibayangkan, kehidupan disini lebih luas lingkupnya dibandingkan sekolah menengah. Sehingga makin luas lingkup kehidupan itu, maka makin luas juga pola pergaulan dan potensi timbulnya konflik.

Salah satu konflik yang sering terjadi di kampus adalah “Budaya Senioritas”. Konflik semacam ini tidak hanya ditemukan di lingkungan masyarakat saja, melainkan menyerang kehidupan pelajar atau mahasiswa.

Siapasih yang gak tahu apa itu senioritas? Sudah tidak asing lagi bagi para mahasiswa jika mendengar kata senioritas. Terutama bagi mereka yang pernah merasakannya saat mengikuti pengkaderan atau penerimaan mahasiswa baru.

Senioritas dan junioritas merupakan istilah yang merujuk kepada tingkatan dari para mahasiswa di universitas. Senioritas sendiri adalah keadaan lebih tinggi dalam pangkat, pengalaman, dan usia atau dalam arti lain adalah prioritas status atau tingkatan yang diperoleh dari umur atau lamanya bekerja.

Sehingga jika kita mendengar kata senior, hal yang terlintas dipikiran kita adalah sosok mahasiswa semester atas atau mahasiswa yang memang dianggap senior di lingkungan kampus. 

Mahasiswa senior identik dengan sosok yang seenaknya sendiri pada junior, merasa berkuasa, dan merasa paling tahu mengenai kampusnya. Ya maklum saja, memang mereka lebih dahulu berada di dunia perkuliahan dan lebih berpengalaman dibandingkan juniornya.

Pada dasarnya senioritas itu adalah hal yang penting. Kenapa? Karena sebenarnya senior adalah pengarah dan pembimbing bagi adik tingkatnya. Dimana mereka akan mengajarkan dan membimbing para junior untuk bisa beradaptasi di lingkungan kampus.

Pembahasan tentang senioritas di perguruan tinggi ini tidak ada habisnya. Berbagai pro dan kontra selalu kita temui. Beberapa orang setuju dengan diterapkannya senioritas. 

Alasannya karena dengan adanya sikap ini, para junior bisa merasakan betapa kerasnya kehidupan kampus yang memang sangat bertolak belakang dengan kehidupan sekolah sebelumnya. Sehingga para junior tidak kaget dan mempunyai mental kuat saat melaksanakan perkuliahan.

Selain pernyataan tersebut, adanya budaya senioritas di perkuliahan ditujukan untuk menghubungkan interaksi antar kelompok yang memiliki jenjang umur serta pengalaman yang berbeda dalam lingkup yang sama. 

Banyak senior juga mengatakan bahwa budaya ini harus diterapkan agar para junior bisa selalu menghormati dan menghargai para seniornya.

Tapi kenyataannya, senioritas ini disalah artikan dan menimbulkan masalah di kampus. Banyaknya kasus dan perpeloncoan yang dilakukan oleh senior membuat para junior merasa tertekan, trauma, bahkan memperburuk mentalnya.

Di dunia perkuliahan sering terjadi konflik antara senior dan junior terutama mahasiswa baru, banyak dari mereka yang masih sungkan dan tidak bisa mengekspresikan perasaannya. Terkadang saat junior mengutarakan pendapatnya di sebuah forum, beberapa dari senior menyanggah dengan tidak sopan dan acuh.

Terkadang senior juga sering memandang juniornya sebelah mata. Bila para senior tidak suka dengan suatu hal yang ada dalam diri juniornya, mereka bisa saja memberikan beberapa sindiran dan tindakan frontal yang memalukan dan tidak pantas.

Banyak juga yang bilang kalau senioritas itu turun temurun. Awalnya sih memang gak ada niatan,  tapi terus saja berulang. Desas-desusnya, senioritas itu ajang balas dendam. Entah bagaimana awalnya yang jelas, seorang junior merasa sakit hati atas perlakuan senior sebelumnya.

Sehingga mereka akan melampiaskannya kepada junior yang akan datang juga. Ya, bisa dibilang pelampiasan yang kurang tepat.

Sering kali saya menemukan dalih pelatihan kedisiplinan dan penguatan mental dalam senioritas ini. Sayangnya urusan mental itu tidak bisa disamaratakan. 

Ada sebuah cuitan yang mengatakan bahwa “Banyak senior berlaku keras ke junior dengan alasan kuatin mental tapi mereka tak tahu apapun soal kesehatan mental. Kalau mau ajar kesopanan, ajari juniormu sopan ke semuanya bahkan satpam sekalipun. Kalau senior doang, gila hormat namanya”

Saya yang saat ini berada di posisi junior juga ikut merasakan kentalnya budaya ini. Meski memang tidak ada perpeloncoan dan kekerasan yang terjadi, tapi masih ada saja senior yang tidak pernah mau salah dan mengeluarkan beberapa sindiran.

Mereka tidak mau tersaingi dan tidak sadar akan kesalahan mereka sendiri. Jika salah pun, mereka pasti akan melampiaskannya ke para junior. Istilahnya “Senior selalu benar, jika senior salah maka kembali ke aturan pertama”

Menurut saya budaya senioritas itu sah-sah saja diterapkan di kampus. Asalkan diterapkan dengan tepat agar tidak melenceng dari tujuan awal, sehingga para junior bisa menerima dengan baik serta merasakan manfaatnya.

Sebenarnya senioritas itu seperti pisau, bisa bermanfaat jika diterapkan dengan baik, dan bisa fatal jika diterapkan sebaliknya.

Senioritas itu perlu. Namun harus menjadi senior yang baik, jauh dari arogansi, tidak gila hormat, dan tidak bertindak seenaknya sendiri. Karena pada dasarnya menjadi senior adalah soal waktu saja. 

Didik para junior agar lebih baik dan bantu mereka untuk berproses di kehidupan kuliah, bukan untuk ajang kekerasan dan balas dendam.