3 minggu lalu · 4268 view · 5 min baca menit baca · Pendidikan 63478_97221.jpg
Foto: anakui.com

Senioritas Itu Sampah Zaman!

Gegap gempita perayaan kelulusan siswa SMA telah usai. Saatnya mereka, sebagian dari yang mencoret-coret seragam sekolah di jalanan beberapa waktu lalu menggunakan pilox dan spidol, akan kembali disibukan dengan gegap gempita yang lainnya. Apalagi kalau bukan soal kuliah?

Jadi mahasiswa tentu jadi kebanggaan bagi setiap orang yang memiliki keberuntungan bisa membayar uang kuliah. Lain halnya dengan mereka yang terpaksa harus membuang mimpi merasakan bangku kuliah karena dipaksa miskin oleh negara yang hanya sibuk mengeruk keuntungan dari si miskin dan menambah pundi-pundi keuntungan si kaya. 

Jangankan bayar uang kuliah, buat makan saja harus lebih berhemat. Beruntung kalau diberi beasiswa.

Sebagai mantan mahasiswa baru yang pernah malang melintang di tiga program studi dan dua universitas berbeda selama 6 tahun, tentu saya, juga segerombolan manusia yang lebih dulu menginjakkan kaki di kampus, pernah merasakan apa yang dirasakan oleh calon-calon mahasiswa baru saat ini. 

Dari mulai teman baru, pelajaran baru, suasana baru, bahkan sampai pacar baru pernah ada di benak mahasiswa baru nan jomblo seperti saya saat pertama kali menyerahkan berkas-berkas pendaftaran mahasiswa di bagian registrasi (tata usaha) kampus tujuan saya.

Hari-hari seolah terasa lama berlalu. Rasanya tak sabar bagi saya untuk segera memulai petualangan baru bersama teman-teman baru. Saya rasa demikian juga yang sedang dirasakan oleh teman-teman calon mahasiswa baru saat ini.

Awas Bahaya Senioritas!


Lain mahasiswa baru, lain halnya juga dengan segerombolan senior yang mendapatkan hak istimewa dari pihak birokrasi kampus untuk menjadi panitia pengenalan kehidupan kampus bagi mahasiswa baru, sebut saja OSPEK.

Sejak calon mahasiswa baru masih berpusing-pusing dengan ujian masuk perguruan tinggi, senior-senior yang menjadi panitia ini, termasuk saya sebelum bertobat dulu, sudah mulai mempersiapkan diri jauh-jauh hari. Rapat seminggu sekali, pembagian tugas, drama apa yang dipertontonkan saat OSPEK nanti, semua sudah dipersiapkan.

Sebagai orang yang pernah terlibat dalam kepanitiaan OSPEK selama tiga tahun berturut-turut, tentu saya hampir hafal persis bagaimana cara-cara panitia ini memperlakukan mahasiswa baru. 

Saya rasa hampir sama di setiap kampus, kalau pun ada yang berbeda, mungkin cuma soal seragam yang digunakan oleh mahasiswa baru saja (hahaha). Inti penyelenggaraannya selalu sama: Mahasiswa Baru akan dibuat tunduk dan patuh terhadap aturan-aturan senior. 

Tidak percaya? Tanyakan saja ke senior-senior kalian atau bahkan orang tua kalian yang pernah kuliah dulu.

Praktik-praktik senioritas sampai saat ini masih terjadi di hampir setiap kampus di Indonesia. Senior selalu merasa lebih dominan dari mahasiswa baru, sehingga mereka memperlakukan mahasiswa baru bak kerbau yang harus tunduk dan patuh diarahkan ke mana saja semau mereka dengan dalih untuk menyiapkan mahasiswa baru agar terlatih dan mampu menghadapi kehidupan kampus.

Saya masih ingat persis bagaimana pasal-pasal yang harus saya hafal saat jadi mahasiswa baru dulu. Pasal-pasal yang dibuat senior di kampus saya untuk menbenarkan perbuatan mereka. 

Pertama, senior selalu benar; kedua, junior (mahasiswa baru) tidak boleh lebih cantik dan lebih ganteng dari senior; ketiga, senior harus selalu lebih tinggi; dan keempat, apabila senior salah, maka kembali ke pasal pertama yang pada akhirnya senior bak dewa yang tindak tanduknya harus selalu dianggap benar. 

Awalnya, sebagai mahasiswa baru, saya dan beberapa teman mahasiswa baru tidak mempermasalahkan hal tersebut. Kalau pun ada yang mempermasalahkan, tetap saja dia hanya mampu memprotesnya dalam hati saja. Ya, kalau tidak protesnya di belakang senior (saat berada di kosan, misalnya).

Warisan-warisan budaya feodalisme seperti senioritas di kampus, di mana yang kuat selalu mendominasi yang lemah, sudah seharusnya kita tinggalkan. Karena memang sama sekali tidak berdampak bagi perubahan dalam tataran kampus yang kian hari kian merugikan mahasiswa. 


Yang terjadi justru sebaliknya, bukan perubahan kebijakan kampus yang berhasil kita lakukan, melainkan antara sesama mahasiswa, karena sejak OSPEK dipertontonkan dengan budaya saling mendominasi antarmahasiswa, terkadang mengakibatkan adu jotos akibat hal-hal yang remeh-temeh atau rebutan proyek kegiatan event organizer yang dibumbui program unit kegiatan mahasiswa (UKM) antarmahasiswa. 

Anehnya, bahkan ada senior yang dengan gagahnya mengatakan di depan mahasiswa baru bahwa "sebelum melawan penindasan, kalian harus merasakan bagaimana ditindas" sebagai dalih agar mahasiswa baru mau mendengarkan perintah-perintah senior. 

Sungguh senioritas telah mendarah daging dalam diri mahasiswa seperti ini. Padahal tanpa kita atur-atur atau arahkan bak kerbau sekalipun, mahasiswa-mahasiswa baru ini akan tetap mampu menyesuaikan dengan lingkungan barunya. 

Darwin bahkan Engels sudah pernah menguraikan bahwa manusia, sejak mulai memisahkan diri dari binatang, mampu melewati fase penyusuaian dengan lingkungannya yang senantiasa berubah (lihat Engels, Peranan yang Dimainkan Kerja dalam Peralihan Kera Jadi Manusia).

Bagi saya, yang pernah terlibat dan menyesal sepenuhnya pernah menjalankan praktik senioritas saat penyelenggaraan OSPEK, praktik-praktik semacam ini lebih merupakan sebagai budaya balas dendam dan sampah sejarah yang semestinya sudah lama membusuk di tempat pembuangan sampah. Tidak ada alasan kuat untuk terus mempertahankannya.

Lalu Apa yang Harus Kita Lakukan?

Mahasiswa baru, jika masih saja kalian temui praktik-praktik dan tipikal senior yang seperti saya sampaikan di atas, alangkah baiknya kamu mulai berpikir lagi untuk mendengarkan setiap ocehannya yang penuh omong kosong dan hasrat untuk mendominasi tersebut.

Masih banyak yang harus aku, kamu, dan teman-teman lain lakukan untuk mengubah kampus yang kian hari kian sulit diakses oleh masyarakat luas. Negara, yang katanya melalui undang-undang memiliki tanggung jawab untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, justru berbalik 180° dan menjadikan kampus tempat yang sulit diakses oleh masyarakat luas dan menjadikannya lumbung memperoleh keuntungan sebanyak-banyaknya. 

Liberalisasi pendidikan, skema pembayaran Uang Kuliah Tunggal, hingga kontrol terhadap organisasi mahasiswa (UKM) adalah paket lengkap yang menjadikan kampus sebagai salah satu instrumen penindasan mahasiswa dan masyarakat secara luas.

Kalian mahasiswa baru, tidak perlu takut jika harus berhadapan dengan tipikal-tipikal senior di atas. Sebab ada banyak mahasiswa yang bisa kamu temui di sudut-sudut kampus, di kantin-kantin, di klub-klub diskusi taman kampus, sampai di depan gedung rektorat yang bisa bergandengan tangan denganmu, berdiri bersamamu, dan bersuara lantang untuk menyudahi praktik-praktik sampah itu. 


Hanya dengan berkumpul dan bertukar pikiran dengan orang-orang seperti itu, setidaknya kalian punya peluang terbebas dari doktrin-doktrin senioritas.

Dan untuk kalian, yang pernah sama-sama jadi panitia OSPEK, bahkan yang sampai sekarang masih jadi panitia OSPEK dan melanggengkan praktik-praktik senioritas, apa kalian tidak bosan menyaksikan bahwa hampir setiap tahun, senioritas yang dipraktikkan selama OSPEK itu sama sekali tidak ada gunanya?

Ada banyak hal yang perlu kita lakukan bersama-sama tanpa harus mendominasi satu sama lain. Ada banyak teori-teori yang mestinya kita baca lalu kita uji bersama dalam praktik untuk mengubah kampus agar menjadi tempat yang lebih mudah diakses oleh masyarakat luas, bukan jadi tempat meraup pundi-pundi keuntungan bagi negara dan segelintir orang yang mengendalikan negara.

Tidak perlu menungulur-ngulur waktu lagi. Ayo, ubah kampus demi kebahagianku, kebahagianmu, dan kebahagiaan kita!

Terakhir, saya ingin mengutip kata-kata Jenny Von Westphalen untuk kalian, mahasiswa baru: "Kebahagiaan membutuhkan pemberontakan."

Selamat datang, kawan baru. Sampai bertemu di medan juang. Semoga kita dapat berkawan untuk bahu-membahu menghapus senioritas dan mengubah kampus.

Artikel Terkait