Sebagaimana biasa setiap tahunnya dunia kampus akan dipenuhi para generasi-generasi muda yang berbondong-bondong agar dapat melanjutkan jenjang pendidikan setelah lulus dari sekolah, dengan menempuh status sebagai seorang mahasiswa baru.

Dengan beragam gaya, tujuan dan keinginan agar dapat dinobatkan sebagai seorang mahasiswa yang secara resmi terdaftar di Perguruan Tinggi, baik negeri maupun swasta.  

Setelah seorang siswa lulus dari sekolah SMA/SMK/Sederajat, tentu harapannya adalah dapat mencapai cita-cita dengan melanjutkan pendidikan pada jenjang selanjutnya. Dengan pemikiran yang bisa dibilang masih tergolong konseptual dan belum sepenuhnya mampu menganalisa setiap keadaan. Tetapi, hanya dengan satu harapan bahwa nantinya mereka juga dapat menjadi seorang mahasiswa.

Dunia sekolah dan kampus akan sangat jauh berbeda. Mungkin saja lingkungan sekolah akan penuh dengan aturan, seorang murid dituntut untuk selalu patuh pada aturan sekolah dan murid hanya bisa mematuhi segala perintah guru.

Sementara, dunia kampus akan dihadapkan pada berbagai problematika, suasana lingkungan yang dapat menumbuhkan nalar kritis, inovasi dan kreativitas. Seorang mahasiswa harus mampu menjadi agen perubahan, sebagaimana tanggungjawabnya sebagai seorang mahasiswa, kepada masyarakat dan juga bangsa.  

Sebelum jauh berbicara mengenai mahasiswa. Perlu diketahui bahwa ada kultur dalam budaya mahasiswa yang cenderung menodai eksistensinya. Memposisikan diri sebagai pejuang, namun nyatanya membodohi kepada yang lemah yang pemikirannya masih labil.  

Seperti perilaku senior kampus yang nampak menyeramkan di hadapan para calon mahasiswa baru. Menjelang penerimaan, para senior kampus seakan bertindak sebagai penyambung lidah antara mahasiswa baru dengan pihak kampus.

Bergaya sok kuasa dengan tuturan retorika tinggi agar dapat menarik simpati para mahasiswa baru. Sehingga dapat menjadi dominasi kekuasaan diantara para mahasiswa. Bukan berarti, saya mengatakan bahwa semua senior-senior kampus bertindak seperti demikian, hanya yang merasa sajalah.

Sebagai senior kampus dengan penampilan yang sangar, tentu mereka sangat dihormati dan dikagumi bagi adik-adik para calon mahasiswa baru. Masa pengenalan Kampus adalah bukti kekuasaan para senior-senior kampus yang mempunyai legalitas sebagai penitia PKKMB.

Momentum PKKMB akan banyak terlihat keganasan dan keberanian para senior kampus. Segala perintahnya tidak ada yang bisa membantah, dan parahnya dari kekuasaan itu justru digunakan untuk membodohi para calon-calon mahasiswa baru. Dengan sombongnya meneriakan segala perintah kepada calon mahasiswa baru yang tidak boleh dilanggar. Padahal nyatanya kekuasaan tersebut hanya berjalan satu minggu saja.

Mungkin banyak terjadi pada saat PKKMB lontaran aturan dari senior kampus yang tidak rasional dan jelas mencederai akan sehat kita sebagai manusia yang berfikir.

Seperti aturan, "pasal 1: bahwa senior tidak akan pernah salah, pasal 2: ketika senior salah maka kembali pada pasal 1". Jelas aturan ini adalah pembodohan massal, yang memberikan doktrin bahwa seakan para calon mahasiswa baru tidak dapat berbuat apa-apa. Segala kebenaran ada pada senior kampus, bahkan seakan bertindak sebagai Tuhan.  

Momen kekuasaan satu minggu itu, memang banyak dimanfaatkan. Entah sebagai jalan untuk dapat balas dendam, dengan alasan bahwa sebelumnya juga telah merasakan hal seperti itu bahkan kesannya lebih parah.

Bahkan ada juga memanfaatkan sebagai ambisi para senior kampus untuk menarik perhatian para calon mahasiswa baru, biasa juga dijadikan sebagai jalan untuk mencari pacar-pacar baru. Ya, lagi-lagi saya katakan ini berlaku bagi yang merasa saja, tidak usah baper.

Tapi, herannya senior kampus tidak mampu juga menjadi jembatan ketika terjadi ketidakadilan. Dengan adanya aturan yang tidak berpihak pada mahasiswa baru justru banyak yang diam. Bahkan malah hanya menjadi tikus ketakutan ketika berhadapan dengan birokrasi kampus dan bertindak sebagai singa lapar ketika berada dihadapan para mahasiswa baru. 

Hal ini memang dapat merusak esensi dan eksistensi mahasiswa. Menodai nama mahasiswa dengan tindakan-tindakan yang hanya mementingkan kepentingan pribadi dan kelompok. Kejadian-kejadian seperti itu akan banyak kita jumpai di hari-hari sebelumnya.  

Namun dalam kondisi hari ini, tentu mengalami suasana yang sangat berbeda. Sebagaimana kita ketahui pandemi COVID-19 yang melanda mengakibatkan berbagai kegiatan yang sifatnya mengundang banyak orang akan dilarang.

Bahkan proses perkuliahan nantinya, banyak kampus yang menerapkan perkuliahan secara daring.  Hal ini jelas juga berpengaruh pada kegiatan rutinitas calon mahasiswa baru sebelum memasuki perkuliahan harus mengikuti dulu tahap PKKMB. Dan tahun ini juga PKKMB dilakukan secara daring.

Momen ini adalah sejarah dalam mahasiswa yang melakukan PKKMB secara daring. Tentu peran senior kampus tidak bisa lagi bertingkah seperti sebelumnya  kepada mahasiswa baru, yang dengan seenaknya berbuat dengan kehendaknya.  

Saya tidak berani mengatakan bahwa senior kampus yang seharusnya menjadi panitia PKKMB akan kecewa. Akan tetapi, jatah para senior kampus tahun ini untuk balas dendam terhadap mahasiswa baru tidak ada. Dan ambisi kekuasaan yang berjalan satu minggu akan hilang. Apakah ini suatu karma, cobaan, kekecewaan atau bahkan kesyukuran. Entahlah.