1 tahun lalu · 333 view · 6 min baca · Pendidikan 50238_90849.jpg
@Mualiminmelawan

Senior Course BPL Jakarta Selatan

         Sangat sulit bertahan di dunia yang dipenuhi kemunafikan. Oranglain dengan mudahnya berbohong demi keuntungan, yang lain sok tulus mengabdi pada kemanusiaan. Mungkin Tuhan telah benar-benar absen dalam urusan dunia, sehingga manusia dibiarkan terjebak dalam tentakel dilema. 

         Sejak awal penciptaannya, manusia berbakat membangkang. Mungkin itu yang membuat Tuhan malas mengurus lagi makhluk serakah ini. Ajaran yang menjamin semua orang cukup makan, dicampakkan hingga melahirkan nestapa kehidupan. Kebenaran dianggap hantu menakutkan, kehadirannya mengancam penguasaan. 

         Orang berlomba-lomba menjadi terkenal, tapi tidak ada satupun yang benar-benar abadi. Semua hanya ilusi dan usaha melelahkan. Berjuta kali membuang tenaga untuk sesuatu yang tiada guna, berjuta kali pula tidak pernah mendapat pelajaran darinya. Ini adalah kisah makhluk bodoh yang selalu merasa pandai. 

          Masih dicari, dunia ideal di dalamnya segala kebohongan menjadi musuh semua orang. Masih didamba, kehidupan tiap individu dapat nyaman dengan pilihan merdekanya sendiri. Masih menjadi mimpi, kehidupan yang di dalamnya tidak ada sedikitpun dijumpai orang jujur dimusuhi. 

          Makhluk lemah. Untuk sampai tahu dirinya bodoh, penuh cacat, manusia butuh dibantu oranglain untuk mendiagnosa dirinya sendiri. Beberapa legowo menerima kenyataan, beberapa murka mengetahui ada yang salah pada pola pikirnya. Ada orang mengamuk memecahkan kaca karena melihat wajah buruk rupa dalam cermin.

          Seorang rajin mengunjungi rumah ibadah, merasa suci dan dengan ringan menghakimi yang lain sebagai pendosa. Saat bertemu kebenaran yang sebelumnya tidak terpikirkan, lari ketakutan bagai melihat genderuwo hutan. Di dunia ini, masih banyak orang salah menakuti. Sesuatu yang harusnya dinikahi, malah dianggap setan menyeramkan. 

          Aku tidak mengerti, mengapa ada orang yang mesti dibantu sadar agar tahu dirinya makhluk merdeka. Mungkin ini disebabkan karena lamanya penindasan yang diterimanya? Mengapa hierarki kehidupan dianggap lumrah, padahal semua manusia sama di mata Tuhan. Siapa pencipta feodalisme, siapa yang diuntungkan, menunggu sampai kapan orang-orang bakal melawan. 

          Aku tidak tahu kehidupan macam apa yang pantas dijalani. Entahlah, semua ini terasa rekayasa kehidupan yang dikendalikan para tuan. Mahasiswa paling cerdas sekalipun, akhirnya tunduk dan menjadi objek penindasan intelektual. Dimana-mana orang dengan gembira menyanyi lagu kebebasan, meski faktanya dalam pengaruh perbudakan. 

           Duniaku dipenuhi orang-orang yang kaya karena menjual topeng. Dimana-mana orang butuh sembunyi, karena kejujuran menyebabkan orang mati. Masker dan jubah menjadi komoditas paling dicari, keduanya berguna untuk menutupi kebusukan yang selama ini menjadi penopang kekuasaan. 

           Rumahku dipenuhi pasien-pasien. Untuk sehat, orang dicekoki obat kebohongan. Dengan menelannya, dokter yang diperankan senior meyakinkan adik-adik dapat terhindar dari kemusnahan. Semua orang kalau ingin baik-baik saja, harus bersekutu dengan kemunafikan. Kalau ada yang mencoba-coba menggenggam kejujuran, harus bersiap hancur berkeping-keping karena tombak kecongkakan akan menghantam kapanpun si tuan inginkan.

          Orang-orang percaya, kematian adalah misteri menakutkan. Mestinya mereka harus percaya, mati ialah nikmat terindah milik manusia. Tanpa kematian, dunia hanyalah sarang derita yang tidak memungkinkan orang lari dari kenyataan. Maut memang madu kehidupan, keberadaannya mengakhiri masa-masa pahit tak tertahankan. Itulah mengapa nabi berani mati mempertahankan perintah-Nya. 

          Sebagai manusia biasa, aku memiliki penyakit aneh. Oranglain muntah karena diare atau magh. Aku selalu ingin muntah mendengar pidato atau sambutan tuan pemimpin. Bagiku, formalitas yang terasa manis di mulut, hanya membuatku merasa muak dan ingin sembunyi dari tatapan mata lugu kader-kader. 

           Entah sejak kapan aku mengidap penyakit ini, yang jelas, mendengar pidato formalitas tanpa kejujuran hanya menyiksa batinku. Satu-satunya cara menghindari luka ya tidak menghadirinya. Beratus kali mendengar penguasa mengumbar omong kosong, membuatku berilusi bak melihat berak sekebun. Aku tidak percaya lagi pada konsepsi politisi, aku butuh bukti dan realita. 

           Pada jaman yang katanya banyak orang pintar, masih ada puluhan orang bodoh. Mereka datang dari jauh untuk mengikuti pelatihan di Jakarta Selatan. Seolah bakal mendapatkan sesuatu yang berguna, padahal tidak sama sekali. Harusnya anda jangan pernah ikut senior course di sini, karena tidak sesuatupun yang dapat kau ambil kecuali agitasi untuk melawan. 

          Usai balik ke cabang masing-masing, kalau apa yang anda dapatkan di sini anda praktikkan, tidak akan membuatmu menjadi hebat. Paling-paling hanya akan menambah musuh baru dan dibenci teman. Apa guna ikut senior course jauh-jauh ke jakarta selatan, kalau akhirnya hanya akan melawan senior-senior sendiri di cabang?

           Pikiran di HMI Jakarta Selatan dengan di daerah, sangat mungkin berbeda. Aku minta maaf pada kalian, karena semua agenda ini hanyalah untuk meracuni pikiran kalian tentang sebuah perlawanan. Jalan ini tidak enak, dipenuhi duri dan kerikil sepanjang perjalanan. Sebaiknya jangan praktikkan, karena dapat membuatmu berdarah dan kesepian. 

          Apa guna memikirkan perubahan, jika semua orang dapat hidup mapan dari kebohongan. Berjuang demi prinsip harus dipertimbangkan ulang, karena ketika sudah dipilih tidak bisa kembali ke belakang. Bersantai di restoran tentu lebih mengasyikkan ketimbang berpikir sepanjang malam. Orang terkaya di bumi bukan penggila buku, tapi penyembah kekuasaan. Tren sekarang adalah gejala musnahnya kejujuran. 

           Jangan ikuti kami. Jangan contoh aku, karena hanya akan menemui keterasingan dan luka. Hidup sekali, untuk apa bersusah-payah sok memperjuangkan kebenaran. Toh uang dan jabatan terasa nikmat untuk dijadikan sandaran. Kalau dunia tidak bisa diselamatkan dari kehancuran, kenapa mesti ada segelintir orang peduli pada kejujuran? 

           Hidup hanya rangkaian masalah, dipenuhi kisah orang-orang penghalal segala cara demi kesenangan pribadi. Kenapa mesti jujur seolah anda pahlawan super yang dapat membela orang-orang lemah? Tokoh orang rela berkorban demi oranglain hanya di dongeng dan buku novel. Di sini, tidak ada orangnya. 

           Kalau bunuh diri dianggap sikap para pengecut. Mungkin naik ke gunung berbelerang dapat menjadi pilihan lari dari kenyataan. Penghilangan diri dapat ditutupi dengan insiden kecelakaaan atau kenaasan yang tidak disengaja. Hidup hanya sekali, jika tidak kuat silahkan pergi dan akhiri. Kalau hidup hanya menjadi objek yang dihianati, kenapa mesti sok kuat dan bertahan? 

          Tidak ada yang hina dari lelaki yang menitikkan airmata. Seorang pria punya hak untuk menangis. Tidak perlu malu dan gengsi saat terlihat lemah. Karena yang terkutuk bukanlah ketidaksempurnaan, tapi orang yang berkuasa dengan cara munafik. Ketika segalanya tidak dapat dipertahankan karena rakusnya para pembohong, mungkin cintalah satu-satunya yang harus dipertahankan. Orang boleh kehilangan nama, tapi tidak dengan cinta. 

          Aku percaya, tiap manusia tidak selayaknya menjadi pasien asa. Tidak boleh ada orang mendapat uang dari memotivasi oranglain. Karena kebahagiaan tidak mungkin dirumuskan dalam teori, apalagi menjadi kurikulum yang diajarkan. Manusia yang bergelimang harta dari menjual kata-kata penyemangat, dia telah merenggut jalan tiap individu menuju kemerdekaan kehendak. 

          Dahulu manusia terbudak pola pikir yang berbasis benda mati. Patung dianggap dewa, memberikan rasa aman dan kesuksesan, padahal bohong. Hari ini, mahasiswa ditipu senioritas. Seolah dengan menyembah generasi tua, jalan menuju sukses dan kemandirian akan tergapai segera. Aku tidak percaya ada manusia berubah menjadi malaikat. Manusia tetaplah manusia, yang kentutnya tetap bau meski dia penguasa. 

          Tidak ada kebenaran tetap. Selama kata-kata terucap dari mulut manusia, maka disitu melekat cacat dan relatif. Maka tidak ada satu patah kalimatpun yang harus dipercaya serta merta. Manusia yang asal percaya, hanya akan terbudak oleh sesuatu di luar dirinya. Aku tidak mungkin patuh, karena aku menghargai diriku sendiri. 

           Makin mahir mencukupi kebutuhan diri, seseorang makin merdeka. Kemandirian didapat dari kreativitas, inovasi lahir dari cara hidup berbeda. Maka tuan senior mengharamkan interupsi, karena takut terjadi perbedaan pendapat. Kalau dialektika timbul, akan lebih banyak ide dan gagasan berbeda muncul. Itu membahayakan kekuasan hegemoni sehingga harus direpresi. Satu-satunya cara ya melawan. Dengan membangkang, kita telah membangun arus baru kebenaran tandingan. 

           Anak sungai muncul dari ketidakpatuhan. Arus baru lahir dari keberanian memilih jalur baru. Kalau anda tidak bisa melawan arus, maka mulailah untuk membuat arus baru. Di dunia ini, tidak ada kata haram untuk berinovasi. Segala hal sah dilakukan demi mencapai kemajuan. Anda bukan kerbau pembajak sawah, maka persetan dengan ancaman si tuan. 

           Senjataku kata-kata Cak Nur. ‘’Hanya sampah dan bangkai ikan yang ikut arus’’. Perisaiku buatan Albert Camus. ‘’Memberontaklah maka kau ada’’.

Artikel Terkait