cimg0131compress.jpg
Bazaar Art 2016. (Dokumentasi pribadi.)
Seni · 2 menit baca

Seni yang Elitis

“If enough people said that bad art was good, the elite would agree. They do say that history repeats itself.” Dadaism Proverb

Seni kerap kali dipandang sebagai suatu yang mahal dan terkesan elitis. Pandangan ini bermula bagaimana orang-orang terdahulu menggunakan seni sebagai medium untuk kultus kekuasaan mereka. Sebagai contoh adalah para aristokrat yang berduyun duyun meminta perupa termahsyur di zamannya untuk melukis rupa mereka, mulai dari Anna Meyer putri seorang walikota yang dilukis oleh Holbein hingga The Hon.Frances Duncombe yang dilukis oleh Gainsborough.

Tidak hanya pengkultusan sosial melalui lukisan, para aristokrat juga kerap mengundang para pemusik untuk bermain di pesta bangsawan mereka, sebut saja Mozart, Beethoven, Tchaikovsky atau bahkan Scriabin. Tidak mengherankan jika kemudian seni tumbuh subur di kalangan atas hingga melahirkan dikotomi seni tinggi serta seni rendah.

Dikotomi ini mempersoalkan hierarki estetika berdasarkan kelas. Seni tinggi/High Art direpresentasikan dengan tingkat estetika yang bersifat metafisis dan antropomorfisme. Tentunya sifat yang demikian ini tidak sekonyong-konyong dapat dimengerti begitu saja, melainkan harus melalui kontemplasi berdasarkan berbagai macam pengetahuan yang seringkali hanya dimiliki kaum elite. Sementara itu, seni rendah lebih bersifat fisik dan mudah dimengerti bahkan monotafsir.

Diskursus seni tinggi dan rendah ini terus dipertahankan dalam tradisi kesenian pada umumnya hingga pada satu titik, seni tinggi terus menghegemoni. Hegemoni seni tinggi/High Art lantas membentuk citra sebagai seni yang ideal. Akibatnya, seni rendah/Low Art dideskreditkan dan bahkan tidak dianggap sebagai suatu seni.

Dilegitimasikannya High Art sebagai seni yang ideal melahirkan sebuah pandangan bahwa seni diproduksi untuk kalangan elite. Terlihat dari beragam art fair maupun pertunjukan musik yang para hadirinnya didominasi oleh elite. Di samping itu, muncul pula rumah pelelangan bergengsi seperti Christie yang memfasilitasi penjualan karya-karya seni berharga tinggi.

Karya-karya seni ini pun kemudian menghiasi dinding-dinding dan sudut ruangan galeri pribadi para elite, entah demi kesenangan estetik ataukah kultus kekuasaan mereka. Inilah yang mengabadikan pandangan seni sebagai sesuatu yang mahal.

Persoalannya, jika seni terus diekslusifkan maka adalah suatu keniscayaan seni hanya akan kehilangan ‘nilainya’ dan hanya akan menjadi suatu komoditas kaum elite.

Di samping itu, perlu digarisbawahi bahwa pendikotomian antara seni tinggi dan seni rendah hanya akan membuat seni terperangkap serta tidak berkembang di balik laju modernitas. Oleh karena itu, seni semestinya tidak bersifat eksklusif atau mengekslusifkan diri, seni tidak berkiblat pada suatu standar ideal atau mengeklaim sebagai yang ideal.

Tidak ada seni yang tinggi maupun rendah. Seni adalah seni, hasil rasa karsa manusia dan peradabannya. Seni adalah untuk semua manusia, untuk semua golongan. Sudah saatnya, dikotomi seni didekonstruksi dan terbuka dengan segala macam keberagaman.