Salah satu rutinitas mahasiwa di masa pandemi adalah mengikuti beberapa seminar online. Terkadang kita malah berusaha sibuk dengan beragam seminar yang tidak kita ketahui maksud dan tujuan mengikutinya selain berlomba-lomba memperbanyak sertifikat seminar.

Hal ini terasa lucu ketika saya pernah mengikuti salah satu seminar nasional yang ditayangkan live di youtube, topik dari seminarnya adalah tentang kesehatan mental. Namun, bukan topik dari seminar itu yang menjadikannya lucu, melainkan para audiens yang tidak berhenti berkomentar dan bertanya tentang 'kapan link sertifikat dibagikan?'.

Miris sekali sebenarnya materi sebagus itu malah disalahartikan oleh para pemuda-pemudi yang daftar seminar hanya ingin sertifikatnya saja. Meskipun begitu, jujur saya pribadi akui bahwa sebagai mahasiswa saya tidak tahu apa kegunaan dari sertifikat seminar. 

Lalu apa alasan saya ikut seminar-seminar online? Saya sendiri cukup tidak suka ikut seminar, saya lebih suka tidur dibandingka harus menggunakan waktu libur untuk mencari ilmu di luar kuliah.

Tapi menjadi dewasa apalagi ketika baru memasuki usia 20 tahunan, saya mulai mengalami apa yang sering orang sebut 'krisis identitas'. Pertanyaan-pertanyaan bergejolak dalam kepala saya seperti halnya, "saya ini siapa" "apa yang mau saya lakukan" "saya mau kemana", dan beberapa pertanyaan lainnya yang membuat kita seakan tidak mengenal diri sendiri.

Maka saat itulah saya merasa saya harus menemukan diri saya, saya harus mengenal diri sendiri, bisa bersabat dengannya, dang yang terpenting saya ingin bisa mencintai diri saya sendiri. Karena kita sebagai manusia tidak bisa memaksa seseorang untuk mencintai kita, kita sendirilah yang mampu dan harus melakukannya.

Seperti halnya  jodoh, cara saya untuk memulai mencintai diri sendiri adalah dipertemukannya saya denga suatu komunitas, yaitu The Leader. The Leader sendiri adalah sebuah perkumpulan pemuda-pemudi hebat asal Banda Aceh. 

Dalam program yang dibuat The Leader, yaitu program The Leader Cafe saya memulai petualangan, dengan melihat, mendengar, dan merasakan suatu hal yang tidak pernah saya tahu sebelumnya.

Dengan jargon 'Everyone Can Be The Leader' kegiatan The Leader dibagi menjadi 3 fase yang dilakukan kurang lebih dua bulan dengan peserta tersebar dari seluruh penjuru Indonesia, mulai dari sabang sampai merauke, serta pembicara-pembicara luar biasa dari berbagai bidang.

Di masa pandemi ini sangat perlu bagi kita untuk tetap terhubung dengan dunia luar, karena itu salah satu cara untuk merasa bahwa kehadiran kita adalah nyata. Karen seluruh perasaan terasa campur aduk, segala hal menjadi tidap pasti. 

Banyak hal yang tiba-tiba cepat berubah, seperti rutinitas keseharian kita, agenda yang yang telah direncanaan jauh-jauh hari tiba-tiba batal begitu saja. Beberapa dari kita merakasan stress, cemas, dan takut menghadapi pandemi ini. 

Tapi bila kita melihat dari kacamata lain, sisi yang berlawanan, kita bisa mengambil makna dari ini semua. Ini yang yang saya pelajari dari acara yang diadakan The Leader, bahwa kita bisa memberi jeda untuk diri kita melihat lebih jauh ke dalam, merefleksikan hidup, dan merawat diri.

Seperti hal kita belajar pada sebuah pohon, kita tahu semakin tinggi pohon semakin kuat ia diterpa angin. Tapi ia tidak patah, pohon yang kuat akan berusaha melentingkan diri mengikuti arah angin untuk kemudia berdiri kokoh kembali. Dari pohon tersebut kita belajar makna beradaptasi.

Angin tidak serta merta selalu datang dari utara, ia akan bergerak mungkin dari selatan atau bahkan barat laut. Sebuah pohon harus bisa beradaptasi dengan berbagai terjangan angin yang muncul mungkin tidak ia ketahui dari mananya, namun pohon selalu mempersiapkan diri bila angin itu datang dan mulai berusaha mematahkannya.

"Resilience: we might be bend, but we don't break" begitu kata Mifta Sugesti, pembicara pertama pada sesi The Leader Cafe.

Resiliensi adalah kemampuan kita untuk bisa beradaptasi dan tetap tangguh dalam menghadapi segala hal sulit yang terjadi, seperti halnya yang terjadi belakangan ini. 

Cara yang bisa kita lakukan untuk bisa mengenal diri sendiri sekaligus menjadi pribadi tangguh adalah membayangkan bahwa kita adalah sebuah rumah. Dimana ketika rumah itu berantakan dan kotor maka kita tidak akan nyaman untuk menempatinya. 

Lalu bagaimana cara kita untuk merasa nyaman ketika rumah itu sudah berantakan dan kotor? Caranya sangat mudah, kita hanya perlu merenovasi dan membersihkannya. Yang menjadi sulit apakah kita mau melakukannya sekarang juga?

Tips and trik merenovasi rumah ala MIfta Sugesti:

  1. Tuliskan jawaban dalam secarik kertas tentang apa yang rasanya tidak kamu miliki, tidak kamu mampu untuk melakukannya, dan sifat negatif yang kamu percayai ada di dalam dirimu. Sekarang lihat tulisanmu, ketika kamu sadar dengan apa yang kamu tuliskan berarti setengan masalahmu sudah teratasi. Semua yang kamu tulis disini mungkin beberapa penyebab rumahmu mesti direnovasi.
  2. Sekarang balik keadaan, lihat sisi yang berbeda. Kita beli bahan baku baru untuk merenovasi rumah seindah yang kita inginkan. Dari semua kekurangan yang sebelumnya dirasakan sekarang kamu tulis sebaliknya, apa yang kamu miliki, apa yang kamu bisa, sifat positif yang kamu percayai ada diri kamu. Kamu fokus degan hal itu, sekarang kamu tahu setiap manusia lahir dengan warna berbeda-beda.


Hal lain yang bisa kita coba adalah dengan mengubah self criticism menjadi self motivationKita cendenrung sering merasa insecure dan ujung-ujungnya kita malah menyalahkan diri sendiri dengan berkata "kamu kok males banget!", "wajar kamu digituin, soalnya kamu jelek". Kita tidak sadar betapa jahatnya kita terhadap diri sendiri.

Kita harus bisa menghargai dan berprasangka baik kepada diri sendiri dengan mengubah kata-kata yang semula terkesan menghakimi menjadi lebih positif untuk dengar. Seperti, "Aku memilih berusaha mengerjakan tugas setiap hari, walaupun pelan-pelan"

Kita tahu bahwa diri kita sendiri mungkin tidak selalu bisa memecahkan masalah sendirian, terkadang kita juga perlu dukungan dan dorongan dari luar untuk tetap kuat. Ada 4 hal yang bisa kita pikirkan untuk bisa membantu kita membangun ketangguhan diri:

1. Support (Apa yang membuatmu tetap tegak saat menghadapi kesulitan?)
2. Strategies (Apa yang membuatmu terus bergerak?)
3. Sagacity (Apa yang memberimu harapan dan membuatmu tetap termotivasi?)
4. Solution-Seeking (Untuk menyelesaikan masalah, aksi apa yang akan kamu lakukan?)

Seperti kata pepatah 'Tak Kenal Maka Tak Sayang'. Karena pada dasarnya untuk bisa memahami, menyanyangi, dan mencintai hal pertama yang harus kita lakukan adalah mengenal hal tersebut, dalam kasusu ini adalah diri sendiri.