N. Riantiarno adalah salah satu sutradara, aktor panggung, dan penulis lakon ternama di Indonesia. Pria kelahiran Cirebon, Jawa Barat, pada tanggal 6 Juni 1949 ini mengaku bahwa dirinya baru mengenal dunia teater setelah duduk di bangku SMU kelas dua, saat bergabung dengan kelompok kesenian Tunas Tanah Air Cirebon pada tahun 1965/1966.

Nano telah melahirkan lima puluhan naskah drama, tiga puluhan skenenario film, dan beberapa novel serta cerpen. Beberapa karyanya itu sempat memperoleh penghargaan di berbagai sayembara. Pada tahun 1972, 1973, 1974, dan 1975, misalnya,

Nano pernah meraih penghargaan dari Sayembara Penulisan Naskah Drama yang diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta. Skenario filmnya yang berjudul "Jakarta, Jakarta" pun meraih Piala Citra pada Festival Film Indonesia 1978 di Ujung Pandang, untuk kriteria penulisan skenario film terbaik.

Di samping memimpin Teater Koma, N. Riantiarno juga bekerja di beberapa tempat. Ia ikut mendirikan majalah Zaman dan bekerja sebagai redaktur (1979—1985). Ia pun pernah duduk sebagai Ketua Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta (1985—1990) dan menjadi anggota Komite Artistik Seni Pentas untuk Kesenian Indonesia di Amerika Serikat (KIAS) pada tahun 1991—1992. Kini, ia masih menjadi Pemimpin Redaksi majalah Matra dan oleh pemerintah dipercaya untuk memimpin Teater Tanah Air yang berada di kompleks Taman Mini Indonesia Indah. Menurut Saini, KM, N. Riantiarno adalah seorang pelopor teater modern Indonesia, seorang penulis naskah, actor dan sutradara yang paling getol berurusan dengan orde baru.

Teater Koma yang dipimpin oleh N. Riantiarno sering mendapat sorotan oleh pemeritah di masa orde baru. Pementasan teater Koma yang selalu meciptakan gaya bahasa urban masyarakat kota yang dikemas menjadi dialog-dialog banyolan. Pada penampilan hasil karyanya Teater Koma selalu menyuguhkan kritik dengan cara memupuk sentimen publik secara tersurat, efek banyolan dan ledakan tawa yang dihasilkan diartikan sebagai pemuas kolektifnya. Teater Koma berusaha melawan retorika represif lewat olok-olok, parodi, dan bentukbentuk nyanyian yang bersemangat membela komunitas tertindas. Walaupun demikian Teater Koma tidaklah berpolitik, kehadirannya hanyalah menjual isu-isu politik yang sudah melebar dan cair sebagai bahan gosip sehari-hari. Misalnya persoalan jurang kaya miskin, kebobrokan mental penguasa, elegi komunitas pinggiran, karikatur tokoh-tokoh publik, dan ledakan hasrat humor dari nalar yang tertekan.

Apa pendapat Nano Mengenai Seni Teater?

Menurut Riantiarno teater adalah salah satu bentuk seni. Lewat seni itulah, teater berpeluang membantu manusia memahami duanianya, antara lain mencari arti atau makna kehidupan (N.Riantiarno, 2011: 3). Menurutnya seni teater ialah suatu wadah yang dapat membantu manusia membentuk presepsi mulai dari emosi, imajinasi maupun intelek. Seni teater bukan lah sebuah seni yang hanya difungsikan sebagai panggung hiburan, namun seni tater juga memiliki banyak fungi yang tidak banyak orang tau. Teater seni bisa dijadikan alat pendidikan, teater sebagai senjata sosial politik, dan teater bisa sebagai dokumen sejarah. Yang dimaksud teater sebagai sejarah bukanlah berbagai peristiwa teater dan drama dari periode yang berbeda-beda, namun bisa dilihat sebagai dokumen bersejarah yang menggambarkan kebudayaan pada zamannya.

Seni teater ini menjadi penting untuk dipelajari bagi masyarakat. Riantiarno menilai 4 faktor mengapa seni teater untuk dipelajari.

  • Seni teater sebagai seni bebas bisa membantu kita terhadap semesta dan dunia tempat kita tinggal sekarang ini, karna teater mencerminkan dan sekaligus juga cermin yang berpengaruh bagi masyarakat. Konon, setiap masyarakat sudah dan masih memiliki teater yang membantu mereka mempelajari hidup sendiri dan hidu orang lain.
  • Seni teater sebagai gerakan sosial. Teater bisa menjadi merupakan propesi tertua kedua sesudah kekuasaan atau politik (teater dalam arti kata seni peetunjukan dan bukan hanya teater dalam pengertian sandiwara saja). Teatre sering dipergunakan atau dimanfaatakan untuk sebuah “gerakan pendidikan/didaktik”. Teater juga bisa bersuara keras dan “menyinggung yang merasa terkena”, jika mengusung tujuan yang bersumber dari cermin kondisi sosial dan kekuasaan yang korup. Sebagai ekspresi bersumber dari dampak nilai-nilai sosial teater biasanya juga mampu hadir lewat dan dampak nilai-nilai sosial, teater juga biasanya juga mampu hadir dalam pancaraan yang sangat kuat.
  • Teater adalah suatu gerakan atau kekuatan pribadi. Ada banyak hal yang bisa dipetik dari setiap individu dan teater. Ada banyak hal yang tak dapat diperoleh dari sector lain, bahkan dari lembaga pendidikan formal. Karna di dalam teater ada komitmen, kerja sama, kepekaan demi hasil yang prima, kepuasan pribadi atau batin, pembengunan serta pengembangan karakter, daya imaji kreatifkritis, pengembangan diri, pembelajaran dari dan lewat pengalaman hidup, tanggung jawab, disiplin, dan banyak lagi.
  • Sebagai bentuk seni, teater yang penting untuk dipelajari. Sebuah objek yang tak habis digali. Pada dasarnya teater adalah kombinasi dari berbagi bentuk seni yaitu seni sastra, seni filsafat, seni rupa, film, seni tari, seni musik, seni suara, dam seni arsitektur. Bahkan dalam perkembangannya, ilmu teater perlu dilengkapi dengan dukungan dari berbagai pengetahuan, misalnya dari sosiologi atau politik, antropologi,  psikologi, psikiater, sejarah, geografi, biologi, fisika, dll. Meski terdiri dari beberapa kombinasi bentuk seni, jika diletakkan sejarah, teater terasa lebih dari semua seni yang mengkombinasikan itu. (N. Riantiarno, 2011:85).

Pendiri teater koma ini menyimpulkan “kesenian adalah seni menfsir alam dan kehidupan. Tujuannya hanya satu, Berterima kasih kepada alam dan kehidupan”. Teater Koma yang didirikan oleh Nano sejak 1977 ini terkonsep dari isi energinya yang bersumber dari rasa terimakasih terhadap alam dan kehidupan.

Referensi

http://ensiklopedia.kemdikbud.go.id/sastra/artikel/N_Riantiarno | Ensiklopedia Sastra Indonesia - Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Diakses pada tanggal 06 Desember 2020.

N.Riantiarno. 2011. Kitab Teater (Tanya Jawab Seputar Seni Pertunjukan).

Sutarno Haryono. Penerapan Management Seni Pertunjukan pada Teater Koma. https://media.neliti.com/media/publications/65593-ID-penerapan-management-seni-pertunjukan-pa.pdf . Diakses pada tanggal 06 Desember 2020.