Dalam filsafat Neoplatonis (sebuah kombinasi filsafat Plato, mistik Yahudi, dan pikiran radikal Kristen mula-mula yang dihidupkan lagi selama Renaisans) Tuhan dipahami sebagai sebuah pikiran universal yang disebut “Yang Esa.” Yang Esa memberi semua ciptaan dengan sesuatu yang disebut Nous (kecerdasan Ilahi) dan inilah yang menghidupkan alam semesta.

Jiwa manusia adalah bagian dari jiwa universal ini sebagaimana sel-sel di dalam tubuh dan diciptakan di dalam citra Yang Esa. Dan manusia memiliki kepekaan naluriah bahwa tubuh manusia adalah rumah sementara yang mereka tinggali untuk waktu yang fana.

Dalam diri manusia yang fana itu, manusia dikuatkan dengan kekuatan atau kemampuan (kecerdasan Ilahi) yang diperolehnya agar manusia bisa menjadikan itu sebagai topang untuk menjalani hidupnya dengan baik.

Kecerdasan Ilahi yang dimiliki manusia itu juga menggerakkan manusia untuk mengaktualisasikan semua kemampuan yang dimilikinya agar mampu mengindahkan hidupnya menjadi lebih hidup dan indah. Keindahan inilah yang membuat manusia semakin terkagum dengan kehidupannya dan pada akhirnya membawa dia pada suatu pemahaman akan makna hidup yang sebenarnya.

Apabila sudah memahami segala hal baik-buruk atau makna dari kehidupannya, maka tidak ada lagi alasan bagi manusia untuk meratapi kehidupan ini tetapi ia melihatnya sebagai anugerah terindah yang harus dijalankannya dengan penuh sukacita dan tak terbebani.

Pada akhirnya, dengan kecerdasan Ilahi yang dimilikinya itu juga membuat manusia sungguh mengalami dan merasakan kehadiran penciptanya melalui tindakan-tindakan aktual yang terkandung nilai spiritual di dalamnya.

Revolusi Menuju Kebahagiaan

Tak bisa dipungkiri bahwa kerinduan terdalam dari manusia dalam kehidupan ini adalah menikmati kebahagiaan. Segala hal yang dilakukan manusia berorientasi kepada keindahan dan kebahagiaan itu, walau kebahagiaan itu sendiri tidak bisa didefenisikan secara sempurna.

Banyak ahli filsafat berkata bahwa kebahagiaan adalah suatu keadaan yang tidak disadari seorang pun ketika ia sedang bahagia. Tetapi ia mengingat semuanya itu dengan sangat jelas bilamana ia menjadi tidak bahagia. Hal ini jelas menunjukkan bahwa kebahagiaan itu memang tidak bisa didefenisikan secara sempurna.

Kebahagiaan itu juga tidak mudah diraih apabila seseorang tidak membuka diri untuk dibentuk dan ditempah oleh berbagai seni realitas yang ada dan mengelilingi dia dalam hidupnya.

Kebahagiaan hanya dicapai apabila manusia melepaskan diri dari keterikatan akan hal-hal duniawi dan tergerak untuk mencari kualitas hidup yang sebenarnya yang ada di seberang sikap ego dan arogannya.

Leonardo da Vinci, seorang filsuf dan seniman terkenal, mempelajari anatomi tubuh manusia agar bisa melukis orang dengan lebih tepat. Tentu dalam pembelajarannya akan mayat manusia itu ketekunan dan kekonsistenan menjadi hal yang harus benar-benar diperhatikan olehnya.

Apabila Leonardo da Vinci tidak secara konsisten dalam mengamati serta mempelajari mayat, maka ia tidak akan secara utuh melukiskan gambar tentang manusia terutama lukisan Mona Lisa yang merupakan karyanya yang paling terkenal (potret manusia paling polpuler) yang pernah dibuatnya.

Tentu juga tidak akan ada nilai estetis untuk menarik atau menggugah orang agar terkesima pada karya seni Leonardo jika ketekunan dan kekonsistenan tadi tidak benar-benar dihidupkan dalam dirinya. Bahkan mungkin lukisannya hanya menyenangkan dirinya sendiri atau membuat dirinya menjadi pribadi yang narsistik.

Nilai estetika dalam melukis juga mengorientasikan atau mencerminkan nilai kehidupan manusia. Kehidupan manusia itu merupakan sebuah estetika yang harus menampilkan atau menunjukkan aura yang mengagumkan agar tercipta ketertarikan, keharmonisan dan kebahagiaan hidup bagi dirinya dan orang lain.

Manusia harus tekun dan konsisten secara penuh dengan kehidupannya. Baik dalam hal tugas dan  pekerjaannya, dalam hal relasinya dengan sesama manusia yang lain dan semua makhluk yang ada dan lain sebagainya.

Apabila tidak ada ketekunanan dan kekonsistenan dalam menjalani semua tugas dan kewajiban dalam hidup, maka pintu penderitaan dan kehancuran itu semakin terbuka lebar dan semakin mendekati manusia dengan sebuah penantian kehausan.

Tentu dalam hidup ini tidak ada seorang pun yang menginginkan penderitaan. Manusia hanya memiliki hasrat yang mendalam untuk merasakan kebahagiaan dan keindahan serta hal-hal yang menyenangkan bagi dirinya. Lalu, seperti apa persisnya hidup bahagia itu?

Hidup yang bahagia berarti hidup yang dijalani dengan cara berpikir dan bertindak yang tepat yang mengandung nilai kebijaksanaan (filosofis). 

Kerangka berpikir dan tindakan filosofis dari berbagai macam sudut pandang inilah yang harus dihidupkan dalam diri setiap individu yang ingin bahagia. Setiap pribadi hanya perlu memilih cara atau sudut pandang mana yang pas untuk hidupnya yang bisa membawa revolusi.

Hasil dari proses berpikir filosofis yang mendorong revolusi ini adalah hidup yang bahagia. Kebahagiaan, dengan kata lain, lahir dan berkembang setelah orang mengalami revolusi berpikir dan bertindak di dalam hidupnya karena kebahagiaan adalah hasil dari revolusi hidup.

Epiktetos, seorang tokoh filsuf stoa, mengajarkan bahwa hidup adalah mempersiapkan diri menuju kematian secara rasional. Artinya bahwa dalam proses menuju kematian (hidup) setiap orang dituntut menggunakan akal budi atau kebijaksanaannya dalam mengelola nafsu dirinya agar mengarahkan dia pada kualitas hidup yang sejati yang membuatnya bahagia dalam hidup, bahkan bahagia setelah kematian yang kepastiannya tidak pasti.

Pengelolaan nafsu diri ini dapat dilakukan dengan kemampuan yang “Yang Esa” telah tanamkan dalam diri setiap manusia. Manusia hanya menghidupkan cahaya yang telah ditanamkan itu dengan nilai estetis yang diaplikasikan dalam cara berpikir dan bertindak di dalam kehidupannya setiap hari.

Dengan demikian, manusia (individu) akan meraih kebahagiaan yang pada kodratnya telah ada dan terpendam dalam dirinya sejak awal kehidupannya.