Bagi sebagian orang, masa SMA adalah masa penuh ekspresi, semangat yang berapi-api, dan masa ingin tahu hal-hal baru yang menantang. Kisah cinta dan persahabatan merupakan bumbu penyedap yang membuat masa putih abu-abu selalu melekat di ingatan.

Novel Jodoh Tepat Waktu menceritakan tentang kisah cinta antara Wulan dan Didik. Cinta yang pada akhirnya mengendap lama sebelum jodoh mempertemukan mereka kembali. 

Wulan merupakan gadis yang lincah, cerdas, dan ekspresif. Di awal tahun pertama di SMA Negeri Kartasura, dia jatuh cinta kepada kakak kelas 3 yang merupakan ketua MPK (Majelis Permusyawaratan Kelas) dan aktivis ROHIS (Kerohanian Islam) bernama Didik Darmanto.

Dalam cerita ini, Didik memiliki karakter yang berseberangan dengan Wulan. Didik adalah seorang laki-laki pemalu dan introvert, dan mempunyai prinsip layaknya aktivis ROHIS pada umumnya, yakni menjaga adab pergaulan dengan perempuan. Jangankan pacaran, bersalaman dan memandang lawan jenis pun dilarang.

Dua karakter yang bertolak belakang inilah yang menjadi pokok cerita apik dari novel ini. Mereka menyelesaikan kegalauan dan drama cinta yang tersimpan dalam hati dengan cara masing-masing. 

Selain kisah cinta antara dua pelajar SMA, penulis juga menceritakan tentang kisah persahabatan antara Wulan, Cici, Neima, dan Widya yang tak kalah menariknya. Ketiga sahabatnya itulah yang menguatkan Wulan saat menghadapi kegagalan cinta. Mereka mengingatkan, mendampingi, men-support, dan merangkul Wulan, sehingga Wulan bisa melewati hari-hari sulitnya dengan tegar.

Wulan yang digambarkan ekspresif selalu menyampaikan perasaan cinta kepada Didik dengan terbuka. Dia mengirim surat dan puisi, yang membuat Didik sering tertangkap mata tersipu malu, menulis puisi di papan tulis kelas Didik yang berujung kelakar teman-teman satu kelas didik serta guru yang baru mengajar, atau menitipkan salam melalui teman dan guru Didik. 

Wulan juga menemui secara langsung, diam-diam ataupun terang-terangan di depan banyak orang, kadang di kantin sekolah, perpustakaan, musala, tempat parkir motor, dan lapangan olahraga.

Sedangkan Didik menanggapinya dengan diam atau tersenyum tanpa memberikan sinyal balasan perasaan Wulan, meskipun juga tidak menunjukkan penolakan. Sikap yang bagi Wulan sangat misterius dan mengundang rasa penasaran.

Sampai suatu hari, beberapa teman sekelas Didik mendatangi kelas Wulan, dengan alasan risi dengan perbuatan Wulan yang mereka anggap tidak tahu malu, mereka melabrak Wulan. Mereka tidak terima Wulan mengganggu Didik seperti yang biasa dilakukan Wulan.

Meskipun alasan yang mereka buat tidak masuk akal, mengingat mereka hanya teman satu kelas, tidak punya hubungan khusus dengan Didik, namun hal itu membuat Wulan mundur, dan sahabat-sahabatnya memaksa Wulan menjauhi Didik.

Tidak berhenti di situ. Tidak lama setelah pelabrakan tadi, Didik dan teman-teman ROHIS mendatangi kelas Wulan untuk menemuinya. Mereka meminta Wulan tidak lagi mengganggu ataupun memberikan perhatian terhadap Didik. 

Sahabat-sahabat Wulan yang membela Wulan saat itu menganggap cara Didik arogan meskipun tampak sopan. Tidak bisa ditolelansi lagi, Wulan harus menjauhi Didik, seberat apa pun. 

"Harga dirimu sudah diinjak-injak. Sekarang terserah, kamu masih mau cinta buta sama dia atau gimana. Aku nggak mau tau lagi. Bisa, kan? Nggak usah jatuh cinta pada orang yang sombong kaya dia." (hlm. 267).

Cici yang pasang badan setiap Wulan dapat masalah memberikan peringatan pamungkas.

Setelah dua kejadian menyakitkan itu, Wulan berjanji untuk menjauhi kehidupan Didik. Sampai Didik lulus sekolah dan seterusnya. Selamanya. 

Wulan benar-benar ingin melupakan dan membuang kenangan itu. Hingga suatu waktu Wulan mencoba melabuhkan hatinya pada laki-laki lain saat dia selesai kuliah. Dia merasa sudah berhasil melupakan Didik dan mencintai orang lain, lalu dia memutuskan berproses melalui ta'aruf dengan Rahadian.

Namun ternyata perasaan Wulan kepada Didik hanya mengendap. Tak pernah hilang. Dari awal dia tidak yakin bisa membuang perasaannya. 

"Aku nggak bisa janji kalau aku nggak jatuh cinta, tapi aku bisa menjamin aku nggak akan mengganggu dia lagi." (hlm. 267). 

Wulan juga menulis surat buat Didik di hari kelulusannya. Meskipun surat itu tidak diberikan secara langsung, melainkan diselipkan di antara buku-buku di musala sekolah, yang dia harap akan ditemukan Didik lalu dibacanya. Surat yang berisi permintaan maaf dan harapan Didik akan menghubunginya jika perasaannya kepada Wulan sudah berubah.

Novel ini ditulis dari kisah nyata penulis, sangat hidup dan menyentuh, mengaduk-aduk perasaan pembaca. Dengan kisah yang mengalir apa adanya tentang cinta anak SMA yang tak terbalas, namun dia tetap mencintai tan sadar sampai di kehidupan dewasanya. Cintanya seperti api tertutup sekam. Tidak tampak namun tak pernah kehilangan apinya.

Wulan Darmanto merupakan penulis berbakat yang sudah melahirkan beberapa novel, serta banyak tulisan inspiratif yang bisa dibaca melalui blok pribadi serta halaman Facebook-nya.

Kisah ini memberikan nilai moral bahwa cinta SMA tak bisa serta-merta disalurkan seperti yang disampaikan Didik, bahwa dia pun jatuh cinta pada Wulan di waktu yang bersamaan. Cinta yang saling berbalas, namun dia kemas dalam sebuah janji, bukan disalurkan langsung ada waktu itu. 

Satu kekurangan dari novel ini, yakni episode pertemuan kembali dengan Didik dan bagaimana dia mengakhiri hubungan dengan Rahadian (calon suaminya) hanya ditulis singkat.

Pada pertemuan pertama setelah 8 tahun berpisah, Didik memberikan pengakuan perasaannya selama ini kepada Wulan.

"Aku menunggu bertahun-tahun hanya untuk berani memujimu seperti hari ini, "ungkapnya di sebuah restoran. "Aku tidak berdaya, Wulan. Aku masih 16 tahun waktu itu. Di pundakku ada prinsip yang harus kupegang teguh." (hlm. 376 )

Kata kata itulah yang mengaduk-aduk kembali perasaan Wulan yang sudah lama mengendap.

"Surat-surat kamu, puisi-puisi yang kamu kirim, semuanya kubaca. Aku cari tahu di mana rumahmu, tapi nggak ada satu pun temanku yang tahu. Aku sadar, aku sudah jatuh cinta." (hlm. 377)

Hal yang begitu lama ditunggu Wulan dari Didik didengarnya saat itu. Saat sudah terlambat. Dia mau menikah dengan orang lain.

"Kenapa baru mencariku sekarang?"

"Karena baru sekarang waktu yang tepat. Kalau sejak dulu aku mencarimu, untuk apa? Toh aku tidak bisa menikahimu, kan?"

Dari pertemuan itu, sepertinya doa-doa dan harapan mereka terasa bekerja. Ada keajaiban yang muncul dari endapan-endapan cinta yang mereka simpan.

Jodoh memang datang tepat waktu.

  • Judul: Jodoh Tepat Waktu
  • Penulis: Wulan Darmanto
  • Penerbit: Kinimedia
  • Cetakan: Pertama
  • Tebal: 397 halaman
  • ISBN : 978-602-60268-2-8