Anak, selalu memiliki "keunikan" yang tidak bisa disamakan antara anak satu dengan anak lainnya; yang biasanya akan berdampak terhadap pola asuh orang tua terhadap anaknya.

Oleh karenanya, tulisan ini bukanlah standar pakem yang langsung dapat di implementasikan terhadap semua anak. Karena apa yang akan saya uraikan di tulisan ini merupakan catatan pribadi saya dalam menemani tumbuh kembang anak perempuan saya; yang saat ini berusia 4 tahun.

Dulu bahkan dulu sekali saya pernah mendapatkan cerita dari simbah, ibu, bapak, pak lik, bu lik, bibi, om, tante, pakde dan keluarga saya yang lain. Mereka mengungkapkan bahwa setiap anak memiliki "langgam" masing-masing. Langgam ini sifatnya unik. Saking uniknya langgam tersebut terkadang orang tua membutuhkan pengetahuan dan energi untuk menebak (menafsirkan) apa yang menjadi keunikan anaknya.

Saya termasuk orang yang memercayai 2 hal; Pertama, bahwa anak membutuhkan perlindungan dari orang tuanya; baik untuk perkembangan emosinya, cara berpikirnya, ketahanan psikis dan fisiknya serta model interaksinya dengan teman sebaya.

Kedua, anak juga memiliki kemampuan (kapasitas) bertumbuh dan berkembang yang sama dengan orang yang lebih dewasa; baik tentang kesempatan, potensi, pengetahuan atau bahkan yang lainnya.

Kedua hal tersebut di atas, boleh jadi merupakan keunikan yang datang sebagai bentuk anugerah dari Yang Maha Kuasa; Allah SWT kepada setiap manusia tanpa perlu melihat jenis kelaminnya.

Namun begini, terkadang ketika merespon keunikan tersebut saya sebagai orang tua memiliki cara dan pendekatan yang tidak sama; baik disandarkan kepada informasi dan pengalaman secara turun temurun, otodidak, atau karena pengaruh doktrin teori tertentu atau bahkan karena tidak memiliki referensi alias sebisanya.

Keunikan di atas, tentu saja memiliki dampak bagi anak. Terutama cara anak berinteraksi dengan orang tuanya, keluarganya atau dengan teman. Karena setahu saya anak adalah "peniru" terbaik. Makanya saya sebenarnya tidak perlu heran jika anak berupaya meniru perilaku orang tuanya dalam berbagai hal.

Anak, merasa dirinya mampu melakukan karena pada dasarnya anak juga seperti orang dewasa. Meskipun dalam kenyataannya anak juga memiliki tantangan ketika berusaha meniru perilaku orang tuanya.

Sebagai contoh, ibunya dandan, anak juga ikut dandan. Bapaknya pakai sarung, anak juga pakai sarung. Menurut buku "Daily Parenting" karya Rudi Cahyono yang pernah saya baca, proses meniru yang dilakukan anak bisa sampai pada usia 7 tahun. Wah, ndak lama kok ya. 

Di sinilah tantangan saya sebagai orang tua di mulai. Terkadang saya ingin terlibat "membantu" anak ketika saya menganggap bahwa anak saya butuh bantuan. Masalahnya begini, jika saya terlihat "mengatur" dalam membantu anak maka anak saya pernah merasa dianggap belum mampu, tampak merasa kurang senang, merasa dianggap "remeh" dan perasaan-perasaan lain yang agak mirip dengan hal tersebut.

Di sisi lain, jika anak tidak mendapat bantuan, terkadang saya juga punya anggapan bahwa anak saya memang belum/tidak bisa. Ternyata tidak mudah kan?

Mungkin masalahnya ada di otak saya yang terkadang "memelihara" anggapan bahwa anak belum cakap dan belum cukup usia untuk melakukan aktivitas tersebut.  Atau karena saya juga masih memiliki pandangan tentang "batas" usia tertentu agar anak bisa mendapatkan keleluasan mengeksplorasi kegiatannya. Contoh yang paling mudah adalah ketika membantu anak menaiki sepeda. Mungkin saya bisa menarik atau mendorong sepedanya. Jika sepeda sudah jalan barulah saya melepaskan dengan lega dan nyaman.

Ngomong-ngomong, ternyata membantu anak tidaklah semudah melatih ketrampilan naik sepeda lho, ada saja "keluhan" anak terhadap saya. Dari yang bapaknya di suruh pergi, sampai di suruh menunggu di suatu tempat oleh anak agar tidak terlibat membantu.

Mungkinkah saya telah salah ketika membantu anak? Dalam hal ini saya akhirnya bisa belajar memahami bahwa anak juga memiliki HAK  menolak atau melakukan PROTES terhadap bantuan yang saya berikan jika  merasa tidak nyaman.

Umpan balik/reaksi anak yang menolak bantuan tersebut idealnya disikapi sebagai hal yang lumrah dan biasa-biasa saja. Saya sebagai orang tuanya tidak perlu marah, tidak perlu tersinggung dan tidak perlu gengsi jika mendapatkan komplain. Sikapi saja dengan humor. Karena jika saya menanggapinya tidak terukur maka saya khawatir anak merasa tidak dihargai atau bahkan meninggalkan "bekas" secara psikis.

Ternyata orang tua juga bisa melakukan "kesalahan" dalam proses-proses mendidik anak. Baik yang telah disadari maupun yang belum.

Saya yakin 100% bahwa semua orang tua ingin yang terbaik untuk anak, namun hal itu versi orang tuanya, versi orang dewasa. Sekali lagi versi orang tuanya. Yang terbaik menurut orang tua belum tentu terbaik menurut anak.

Saya terkadang juga tidak sabar ingin segera membantu anak ketika anak terlihat mengalami "kesulitan" melakukan sesuatu. Padahal saya bisa mengamati terlebih dahulu atau meminta persetujuannya sebelum langsung membantu. Tapi yo kuwi mau, namanya gak sabaran ana saja alasannya. 

Oiya, saya sebagai orang tua idealnya bisa memahami, jika anak juga memiliki imajinasi sendiri tentang apa yang akan dilakukan, dan apa yang akan terjadi setelahnya. Namun, terkadang tanpa saya sadari justru saya memberikan bantuan sesuai selera dan sesuai kemauan saya.

Akibatnya kalian bisa tebak sendiri lah. Terjadilah "ketegangan" antara anak dan orang tua. Jadi perenungan saya begini; bahwa pengetahuan itu luas namun hidup itu singkat. Wallahu a'lam.