Runtuhnya era Orde Baru yang dipimpin oleh rezim otoriter Presiden Soeharto menjadi awal dari kebebasan berekspresi para seniman di Indonesia. Para seniman mulai berani membicarakan masalah-masalah yang sebelumnya dilarang oleh aturan rezim tersebut. 

Hasilnya, lewat industri kreatif, keterbukaan informasi terhadap hal-hal yang jarang dibicarakan menjadi sebuah tren tersendiri pada saat itu. Seperti ketika masalah gender dan seksualitas menjadi bahan pembicaraan hangat di kalangan para sineas pada masa itu.

Lewat film dengan judul Kuldesak pada tahun 1998, persoalan ekspresi gender yang sangat beragam kembali diangkat lewat karakter para tokohnya. Pada masa itu, film-film lain bertemakan seks dan gender pun muncul sebagai aspirasi dari kebebasan tubuh.

Persoalan isu LGBTQ yang pada saat itu tidak terlalu menjadi isu yang serius membuat LGBTQ menjadi hal yang terkesan biasa saja. Hal ini terlihat dari banyaknya film yang mengangkat tema tersebut, mulai dari Arisan (2003), Realita, Cinta dan Rock’n roll, (2006) sampai Lovely Man (2011). 

Film-film yang secara serius atau bahkan “bermain-main” mengenai persoalan gender tersebut bisa diterima masyarakat dan bahkan mendapat respons yang cukup positif. Maka persoalan gender dan seks dalam perfilman pun menjadi topik yang cukup diminati pada saat itu. 

Pada saat itu, keterbukaan atas orientasi gender yang beragam tidak dipandang sebagai sesuatu yang buruk. Masyarakat tidak hanya menerima hitam-putih, melainkan juga bisa menerima persoalan abu-abu dalam konteks gender.

Namun, seiring dengan perkembangannya, Indonesia pun memasuki fase di mana LGBTQ menjadi pertentangan para kaum religius konservatif. 

Pada tahun 2010, ini menjadi awal terputusnya kebebasan untuk membicarakan persoalan gender. Pada saat itu, ketakutan masyarakat mengenai LGBTQ diidentikan dengan anggapan orientasi seksual yang menyimpang. 

Dari hal tersebut, muncullah masyarakat yang secara tegas menolak hadirnya para kaum LGBTQ, bahkan sampai melakukan protes keras kepada kelompok pro-LGBTQ. 

Perlahan masyarakat yang tadinya menganggap bahwa hal yang bersifat abu-abu tersebut adalah persoalan yang biasa saja, kini mulai menyadari bahwa hal tersebut adalah hal yang menyimpang dan tidak boleh dibicarakan.

Puncaknya ketika Garin Nugroho merilis film Kucumbu Tubuh Indahku (2018). Film tersebut kemudian ditolak para masyarakat konservatif, dengan alasan mendidik masyarakat untuk menjadi/mencintai LGBTQ. 

Keberanian Garin untuk kembali mengangkat tema yang sangat dibenci oleh masyarakat hari ini akhirnya mendapat penolakan bahkan pemboikotan terhadap filmnya. Masyarakat beramai-ramai menyerukan untuk memboikot film Garin dengan cara tidak menontonnya. 

Melihat hal tersebut, Garin pun menunjukkan kekecewaannya terhadap cara pandang masyarakat terhadap film yang ia hadirkan. Ia mengatakan bahwa jejak sejarah terkait masalah maskulin dan feminin tersebut justru menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia, bahkan di wilayah pedesaan.

Budaya tersebut salah satunya diwakili oleh budaya Lengger Lanang di wilayah Banyumas yang muncul dari ritual mistikisme. Budaya yang telah berlangsung lama tersebut menjadi salah satu pembuktian bahwa sebenarnya anggapan bahwa LGBTQ merupakan pengaruh budaya luar adalah anggapan yang keliru. 

Jejak budaya membuktikan bahwa Lengger Lanang, yang merupakan tradisi seni pertunjukan, sangat lekat dengan citra gender feminin dan maskulin di dalamnya. 

Meskipun hari ini budaya Lengger mulai tergerus oleh nilai-nilai spiritual konservatif yang selalu disuarakan, namun ia tetap bertahan, meski kian lama jumlahnya makin sedikit. Lengger tetap dipertahankan sebagai suatu budaya pertunjukan, yang diwariskan oleh para leluhur, agar tetap lestari sebagai sebuah kesenian tradisi.

Maraknya penolakan terhadap para kaum LGBTQ justru tidak menjadi sebuah masalah bagi sebagian orang yang tetap berusaha mengekspresikan kebebasan tubuhnya. Salah satunya oleh Tamara Pertamina, seorang Visual Artist dan juga seorang mantan pengamen jalanan. Lewat Amuba, sebuah grup band querr pertama di Indonesia, ia mengekspresikan kebebasan tubuhnya. 

Bersama dengan teman-temannya, dia berusaha mencari panggung untuk ikut andil dalam industri musik tanah air dan tetap diakui keberadaannya. 

Selain itu, Amuba juga berusaha menunjukkan bahwa kaum-kaum seperti mereka juga patut diakui dan dihargai sebagaimana kaum lainnya yang dianggap “normal” oleh para masyarakat.

Baik di dalam perfilman Indonesia, kesenian tradisi, dan industri musik, peran gender ketiga selalu muncul sebagai sebuah identitas yang ada dan menjadi sesuatu yang wajar di Indonesia. Mereka yang dianggap sebagai “penyakit masyarakat” karena anggapan berlebihan selalu berusaha untuk tetap dihargai sebagai seorang manusia yang sama. 

Mereka yang terus mendapat perlakuan tidak menyenangkan berupa kekerasan fisik maupun verbal, karena dianggap menyimpang, terus berusaha untuk tetap mempertahankan jati dirinya dan ekspresi gendernya.

Lalu, bagaimanapun ekspresi gender, oleh para kaum LGBTQ ini akan tetap ada dan bermunculan, meski mendapat penolakan dan diskriminasi moral dari para masyarakat. Anggapan bahwa LGBTQ sebagai sebuah penyakit dan pengaruh budaya luar telah dijawab dengan tegas oleh budaya melalui media panggung. 

Bagaimanapun, gender ketiga tersebut tetap meyakinkan masyarakat bahwa mereka ada dan tetap memiliki peran vital sebagai bagian dari budaya Indonesia yang sangat beragam.

Sumber