Akhir-akhir ini lingkungan salah satu Universitas Swasta di daerah Surabaya semakin diperindah dengan kehadiran taman kampusnya. Upaya universitas untuk membuat taman dengan segala hiasannya sudah menampakan hasilnya.

 Hal ini sangat baik karena turut mendukung upaya pemerintah kota Surabaya dalam program penghijauannya. Tak hanya itu, pembuatan taman ini juga menunjukkan upaya universitas untuk menjaga lingkungan dan memperindah kampus serta ingin menunjukkan eksistensinya kepada publik.

Ada satu hal menarik dari pembuatan taman di lingkungan Kampus. Satu hal tersebut adalah pemilihan pembuatan lukisan sungai di tembok taman kampus bagian depan. Pihak universitas lebih memilih membuat lukisan sungai daripada sungai buatan 3 dimensi atau kolam air mancur.

Hal sederhana ini tentu memiliki alasan tersendiri. Pertama, pihak universitas menilai bahwasanya lukisan sungai lebih indah dan bernilai seni tinggi dibandingkan dengan sungai buatan atau kolam air mancur. 

Kedua, lukisan sungai lebih bersih dan rapi serta tidak mudah kotor dan tanpa harus menguras setiap waktu. Ketiga, lukisan sungai lebih tahan lama dan tidak mudah berlumut dibandingkan sungai buatan atau kolam air mancur.

Estetisasi

Apabila dilihat lebih dalam lagi, upaya kampus untuk memperindah kampus dengan adanya lukisan air terjun ini merupakan bentuk estetisasi. Estetisasi merupakan kerja memperindah tampilan serta panggung pertunjukkan diri.

Estetisasi berasal dari kata estetika. Estetika pertama kali muncul pada tahun 1750. Estetika diperkenalkan oleh seorang filsuf yang bernama A.G. Baumgarten (1714-1762). Istilah ini diambilnya dari bahasa Yunani kuno yakni aistheton yang berarti kemampuan melihat lewat pengindraan.

Estetika sendiri merupakan bagian dari ilmu filsafat. Ilmu ini secara khusus membahas tentang hakikat keindahan alam dan karya seni. Taman kampus merupakan bentuk karya seni. Maka dari itu, sangat patut untuk dibahas lebih dalam dengan pisau analisis ilmu estetika.

Seperti dibahas sebelumnya, upaya pembuatan taman kampus dapat digolongkan sebagai estetisasi. Bagi saya hal tersebut sangat benar dan tepat. Upaya tersebut tentu memiliki banyak motivasi dan latar belakang sendiri. 

Bisa jadi karena tuntutan untuk universitas atau karena inisatif murni dari pihak universitas.

Pertama, pembuatan taman dan ruang penghijauan untuk kampus merupakan salah satu syarat unggul dari akreditasi sebuah perguruan tinggi. Maka pembuatan taman ini memperindah tampilan/panggung pertunjukkan (kampus) untuk mendapat penilaian yang baik.

Kedua, kampus tersebut juga memiliki cita-cita menjadi perguruan tinggi berstandard internasional. Salah satu syarat standard internasional tersebut ialah memiliki taman kampus dan ruang penghijauan. 

Sekali lagi hal ini yang dinamakan motivasi tuntutan bagi universitas untuk meraih tujuan dan cita-citanya.

Motivasi atau latar belakang murni dari universitas bisa jadi karena kesadaran pihak universitas untuk memperluas taman dan ruang penghijauan di kampus. Kesadaran ini bisa jadi muncul karena banyaknya permasalahan lingkungan dewasa ini.

Permasalahan lingkungan sering terjadi di Indonesia dan dunia akhir-akhir ini, seperti halnya banyaknya kebakaran hutan, pengrusakan lahan, dan pemanasan global yang semakin menjadi-jadi.

Tak hanya itu, inisiatif murni juga bisa muncul atas kesadaran pihak universitas, untuk memperindah kampus supaya sedap dipandang oleh khalayak ramai yang hendak bersinggah.

Hal ini juga dapat memberikan ruang ekspresi bagi para seniman untuk dapat menuangkan imajinasi dan ide-ide kreatifnya. Secara tak langsung, dengan membuat taman yang penuh dengan ornamen seni, pihak kampus juga memberikan lapangan pekerjaan dan penghasilan bagi para seniman lukisan.

Kedua alasan tersebut, baik alasan tuntutan ataupun inisiatif universitas, semuanya sangat patut diapresiasi. 

Upaya tersebut sangat mendukung para seniman baik itu seniman desain taman ataupun seniman lukis.

Sekali lagi, upaya tersebut patut diapresiasi dan patut diacungi jempol. Upaya untuk memperindah wajah dunia yang dimulai dengan memperindah lingkungan kampus menjadi salah satu upaya mengampanyekan keindahan bumi. Hal ini menjadi salah satu sumber  kemaslahatan bersama (bonum commune).

 Setali tiga uang, Plato menyebut keindahan sebagai ide kebaikan, yang memunculkan tentang watak yang indah dan hukum yang indah. Hal ini senada dengan pendapat Aristoteles yang menyebut bahwa keindahan, selain baik juga menyenangkan. 

Selaras dengan Aristoteles, Thomas Aquinas merumuskan bahwa keindahan adalah sesuatu yang menyenangkan bila dilihat.

Obat Seni Budaya 

Menurut Dharmawan (1988:17), karakteristik seni ada lima macam. Salah satunya ialah “semesta”. Semesta mengandung arti bahwa seni ada di mana-mana dan terus berkembang tiada hentinya, karena seni memiliki nilai kehidupan. 

Jadi dapat dikatakan bahwa kehidupan yang indah di dunia ini penuh dengan seni dan setiap manusia adalah pelukis-pelukisnya.

Langkah pihak kampus untuk membuat karya seni berupa taman dan lukisannya merupakan langkah yang patut diapresiasi. Sebab langkah tersebut sejalan pula dengan langkah pemerintah Republik Indonesia.

Menteri Sumber Daya Manusia dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy mengapresiasi budayawan dan seniman. Langkah yang dilakukannya ialah menambah dana abadi untuk dihibahkan kepada para seniman dan budayawan di seluruh Indonesia.

Dana abadi dalam pengembangan budaya dan seni yang awalnya senilai Rp 5 triliyun menjadi Rp 25 triliyun. Harapannya, dana ini dapat digunakan oleh para seniman dan budayawan di seluruh nusantara untuk mengembangkan budaya dan karya seni lokal.

Tak hanya itu, dana tersebut juga dapat digunakan oleh para seniman dan budayawan untuk menggelar pameran dan pagelaran seni di setiap daerahnya masing-masing.

Keberadaan karya seni yang telah lama hilang dan terkubur oleh zaman, kini sedikit demi sedikit telah terobati dan dihidupkan kembali. Segala upaya pengembangan baik dalam skala kecil maupun besar telah mulai dilakukan.

Hal ini merupakan bentuk revolusi seni bagi bangsa Indonesia. Hal ini pula menjadi salah satu bentuk revolusi dari sekian banyak revolusi yang dilakukan oleh pemerintah untuk segala bidang kehidupan bangsa Indonesia.

Kampus tersebut telah membangun taman kampus sekaligus lukisan sungai sederhana di lingkungan kampus. Secara tidak langsung, kampus telah sedikit mengobati keindahan seni yang lama hilang ditelan bumi di tanah pertiwi.

Kiranya bentuk apresiasi-apresiasi seni semakin ditumbuhkembangkan di lingkungan kampus, sehingga dapat membangun atmosfer kesenian dalam lingkup pembelajaran. Hal tersebut kiranya pula dapat mengajak mahasiswa untuk mencintai seni dan karya seni serta budaya lokal.

Sebab seni dan budaya merupakan jati diri bangsa Indonesia yang penuh dengan keanekaragaman seni dan budayanya. Ajining bangsa saka budaya. Kekuatan dan keberadaan sebuah bangsa berakar dari budaya masyarakatnya.

Mari mencintai seni dan budaya untuk menghidupkan seni yang telah lama mati dan hilang ditelan bumi serta dapat terobati. Mari mencintai seni dan budaya sebagai bentuk mencintai bangsa Indonesia yang berbhinneka.