Pasca beberapa jalur pendakian gunung dibuka dan kemunculan postingan orang-orang pada ramai naik gunung di akun twitter @pendakilawas, saya jadi getol pengen bahas hal substansial yang mungkin sudah mulai dilupakan pendaki-pendaki masa kini: seni berboker di gunung.

Tiada beda dari disiplin seni lainnya, boker di gunung juga membutuhkan keterampilan, niat dan usaha yang ekstra. Tidak akan pernah ada satu pun pendaki gunung di dunia yang mengerti seni boker di gunung tanpa mengalami naik turunnya kehidupan. Bahkan, beberapa orang bilang esensi naik gunung hanya bisa didapatkan setelah seseorang berhasil menggapai boker yang maksimal. Hahaha... Dipikir cuma ganteng yang bisa maksimal?

Saya tak bisa menyalahkan asumsi liar dari sebagian orang yang menganggap boker di gunung sebagai momok atau hal yang paling dihindari. Orang-orang seperti ini belum aja papasan sama jamet yang naik gunung cuma bawa mi instan sama botol air mineral tanpa alat masak lalu foto di puncak sambil megang kertas gambar ada tulisannya "Jangan di rumah terus, INDONESIA itu INDAH!!!11!!1!!1". Bukan apa-apa, orang-orang kayak gini cuma nyusahin kalau di gunung, ngabisin logistik orang.

Seperti yang saya bilang di awal, boker di gunung itu memang ada seninya, jadi kalau dilakukan secara sembarangan ya memang nggak ada kesannya. Pertama kali saya boker di gunung berkesan sih, tapi nggak bisa dibanggakan, lebih tepatnya malu-maluin. Walaupun saat itu posisi belum ke jalur pendakian alias masih di bawah, tepatnya di basecamp Sumbing via Garung, secara geografis tinggi basecamp sekitar 1.400 mdpl, sehingga cukup valid kalau dikatakan momen itu merupakan riwayat pertama kalinya saya boker di gunung.

Waktu itu saya dan teman-teman berencana berangkat dari basecamp pagi-pagi, namun karena kabut turun dan perut kosong semaleman, ya sudah kami putuskan buat pesen nasi goreng dulu. Saking enaknya menu sarapan yang kami santap, kami kurang menyadari efek memakan hidangan pedas di tengah kepekatan kabut gunung yang turun dan membawa iklim bersuhu di bawah 15° Celcius. Alhasil semuanya pada mules. Kelar makan pada berebutan masuk kamar mandi. 

Apesnya, saya kebagian masuk ke kamar mandi yang nggak ada wcnya. Karena udah diujung tanduk, mau nggak mau saya melakukan improvisasi dengan sedikit gaya akrobatik. Gimana caranya saya harus bisa memasukkan limbah pencernaan tepat di lubang saluran pembuangan air yang diameternya nggak lebih gede dari tutup botol air mineral itu. Mana posisinya di pojokan banget lagi. Smh~

Saya juga tidak bisa menyangkal gaya mendaki orang yang berbeda-beda. Saya hanya bisa bertanya-tanya, kok bisa ada orang yang nggak kepikiran boker di gunung? Apa yang mereka harapkan ketika melakukan perjalanan dengan bekal yang cukup bahkan lebih dari biasanya selama tiga sampai empat hari, sambil menyesuaikan suhu ekstrim yang belum pernah mereka rasakan seumur hidup? 

Bukankah kebutuhan biologis untuk boker itu setara pentingnya dengan makan? Nggak fair rasanya kalau kita cuma mengharapkan makan doang tanpa ada boker di antaranya. Apa nggak kasihan sama usus kita? Kalau disuruh mogok kerja kayak gitu entar yang ngasih makan anak istrinya siapa dong? Hayooo~

Sebenarnya tidak susah untuk memahami bahwa boker di gunung ada seninya, soalnya memang membutuhkan keahlian khusus, tidak semua orang bisa melakukannya. Namun saya tidak akan membahas secara teoritis maupun teknis atau langkah-langkah praktis cara boker di gunung dengan benar, karena itu urusan privasi seseorang. Saya percaya orang-orang yang mengerti seni boker di gunung memiliki motif dan intensinya sendiri-sendiri, sama halnya dengan naik gunung.

Baginda Rasul Nabi Muhammad SAW mendaki gunung Jabal Nur untuk menyendiri dan melakukan perenungan di Gua Hira, sehingga turunlah wahyu pertamanya. Soe Hok Gie naik gunung untuk menghindar dari jebakan politik kampus yang memecah belah dan merusak pertemanan, karena itulah lahir Mapala UI. Rocky Gerung naik gunung untuk menjaga kesehatannya, sehingga di usianya yang senja beliau masih konsisten dan berani mengambil sikapnya untuk tetap menjadi oposisi pemerintah. 

Pun dengan boker, ada orang yang boker sekadar untuk menunaikan kewajibannya, ada yang mencari inspirasi untuk esai terbarunya, ada juga yang berkontemplasi. Siapa tahu seorang Rene Descartes mendapatkan perenungan-perenungannya untuk membuktikan adanya Tuhan setelah melalui proses boker yang begitu khidmatnya.

Tidak menutup kemungkinan dengan digabungnya dua aktivitas itu; boker di gunung, suatu saat nanti timbul karya-karya yang mampu mengubah sistem kenegaraan di dunia menjadi lebih baik lagi. Muncul ideologi atau gagasan-gagasan baru yang lebih baik lagi dari sistem demokrasi sekarang yang familiar dengan praktik korupsi dan diskriminasi. 

Atau, kita coba tarik ke persoalan yang lebih aktual. Siapa tahu dengan boker di gunung, beberapa ilmuwan medis kita yang tersisa mampu menemukan vaksin Covid-19. Nggak ada salahnya berharap, 'kan? Siapa tahu masih ada ilmuwan medis yang nggak sok-sokan ngomelin warga yang keluyuran eh ujung-ujungnya dia sendiri 'promosi masker'. Hasshh Prek!

Di tengah-tengah kerumunan edelweiss dan cantigi, suara pekikan elang-ular bido, hembusan angin yang membawa awan gemawan serta perpaduan warna hijau, kuning, cokelat, dan biru yang terpampang pasrah sembari menghisap rokok atau menyeruput kopi hitam kupu-kupu, semua itu bisa Anda alami di waktu bersamaan dengan cara boker di gunung. Maka, nikmat Tuhan manakah yang engkau dustakan?