Para komentator di YouTube itu, setidaknya yang saya observasi, mempertontonkan banalitas verbal. Mereka saling adu mulut tanpa pertimbangan analitis dan wacana yang komprehensif. Saling lempar kesalahan, bahkan pengutukan, tersembur bebas lewat tanda baca dan susunan sintaksis tulisannya.

Ketidaklengkapan informasi tak disadari oleh mereka yang setelah dilacak merupakan jebolan sekolahan. Di sini terlihat anomali: orang sekolah tak selalu menunjukkan kelengkapan pengetahuan—selalu ada limitasi di situ, walau tak disadari atau tak mau menyadari.

Bahasa yang digunakan jauh dari logika orang terdidik sebagaimana ia akui sendiri, meski legitimasi itu cuma sebatas tameng paranoia. Pendeknya, mereka berseteru atas nama kebencian yang hulunya dikonstruksi oleh para perakit potongan-potongan video demi mengais rating.

Klik, bagi, dan viral adalah tiga kata kunci yang mesti dimanifestasikan. Semakin panas video itu, sekalipun beda konteks dan koteks, semakin gurih digoreng. Untuk itu mereka tak tanggung-tanggung memotong video orang lain dan memversuskannya.

Dua video dua situasi yang berlainan dan berjarak diadudomba demi mendatangkan atensi khalayak. Keramaian inilah orientasi utama dari sistem SEO yang sedang digandrungi para peselancar jagat maya.

Ironinya banyak orang tertipu. Mereka saling benci dan memvonis liyan hanya karena adu domba kacangan semacam itu. Saya terkadang tertawa terpingkal-pingkal membaca komentarnya. Bukan karena sisi semantik dan pragmatik kalimat yang ditulis, melainkan betapa polosnya mereka.

Sebagian dari mereka, bahkan, sudah berusia lanjut, memiliki predikat akademik tertinggi, mempunyai jabatan struktural prestisius, namun kelakuannya betul-betul ironi karena tak sesuai dengan ketercapaian yang didambakannya. Apa ini dampak mikro dari kegagapan menghadapi Revolusi Industri 4.0? "That is the question," kata Shakespeare.

Distorsi Berkedok Fitnah

Tulisan, apa pun jenisnya, niscaya terikat gaya idiosinkrasi penulis. Gaya kepenulisan ini disadari atau tidak terwakili oleh diksi, struktur logika kalimat, hingga pola pengembangan paragraf. Maka akan lekas terlihat, bagi pembaca yang kritis, apakah tulisan itu milik penulis yang dimaksud atau bukan.

Saya segera terperanjat dan bertanya-tanya manakala membaca sebuah tulisan singkat yang berisi provokasi itu. Pilihan kata yang dipakai serampangan. Tanda baca dan penggalan kata banyak kesalahan di mana-mana. Aspek koherensi dan kohesi di sana pula menunjukan bahwa penulis gadungan yang "nabok nyilih tangan" itu benar-benar buruk mengimitasi gaya penulis asli.

Barangkali ia tak belajar linguistik. Ia sekadar menebar dengan dalih lekas viral tanpa mengindahkan pertimbangan morfologis, sintaksis, semantik, dan wacana. Ini berat memang. Biarkan Dilan saja. Loh!

Kita mengakui, betapa di jagat maya, segala sesuatu, terutama penyebaran informasi, berjalan masif dan sistematis. Akun robot dibikin sebagai topeng. Ia kemudian mengatasnamakan seseorang agar tulisan jelek sekalipun segera tersebar.

Orientasinya cuma satu, yakni dibaca, disukai, dan disebarkan. Sayangnya para penyebar, sejauh yang saya amati, tak memiliki kecakapan literasi secara kritis dan komprehensif. Akibatnya cuma membagi warta tanpa kesadaran praduga. Mengkritisi apa yang dibaca setelanjang-telanjangnya.

Apa ini akibat dari meremehkan pelajaran bahasa Indonesia saat sekolah dulu? Atau materi bahasa Indonesia masih menganut dogma tradisional, yakni berkutat pada pembelajaran “tentang bahasa” dan jauh dari kesan “belajar berbahasa”. Problem ini semakin parah manakala menyaksikan model pendidikan bahasa yang jauh dari praktik empiris.

Keluar dari Tempurung

Berselancar di dunia daring memang menjadi kebutuhan abad Revolusi Industri 4.0. Titik jenuh, lambat-laun, terasa dan semakin mengemuka. Keluar dari kemelut itu bisa dilalui lewat kembali pada tradisi arkais: membaca buku secara tradisional.

Dua tahun terakhir literatur pendidikan menyedot perhatian ekstra untuk dibaca, direnungi, dan direfleksikan. Bacaan dari sumber mana pun saya cari dan komparasi. Menarik sekali. Saya menemukan benang merah dari tiap tulisan di situ. Metode baca komparatif semacam itu ternyata serupa vakansi ke jagat teks. Tak ada kata yang mewakili kecuali betah dan asyik.

Dogma latar belakang pendidikan formal dan ketertarikan topik bacaan acap dirangkum menjadi satu paket. Kalau kamu jurusan tertentu maka jangan beranjak dari sana. Kau perlu berada di lingkaran itu terus-menerus. Bahkan sampai muntah sekalipun. Itu bagus.

Tapi, bagi saya, dinding-dinding pembatas semacam itu justru membelenggu gairah untuk menerjang batas demarkasi. Buku, betapapun jenis dan jangkauan intertekstualnya, mesti dilahap demi mengisi antusias. Ini menandakan geliat untuk membaca apa pun tanpa memparsialkan topik partikular.

Saya cuma ingin mengatakan, yuk, baca buku apa pun yang kau gandrungi. Mari menikmati pesta literasi tanpa takut tersesat ke genre tetangga. Awal tahun ini saya sudah mendaftar literatur seputar seni yang wajib dikonsumsi. Mulai dari buku berjudul Melampaui Citra dan Ingatan: Bunga Rampai Tulisan Seni Rupa 1968-2017 karya Bambang Bujono.

Pesta literasi bisa dilakukan di mana pun dan kapan pun. Ia tak terikat ruang dan waktu. Membaca, dengan kata lain, adalah proses cair yang bebas diselebrasikan tanpa ikatan-ikatan baku. Saya pikir sudah saatnya rehat sejenak dari jagat maya yang mencemaskan itu. Jeda memang sebuah pilihan. Sedangkan membaca buku merupakan kebutuhan.