“Inilah kisah tentang perjalanan jiwa di dalam raga manusia.”

Mendengar prolog dari pementasan sendratari dengan judul Tan Hana Dharma Mangrwa yang dituturkan merdu oleh sang narator seirama dengan alunan musik yang mengiringinya siang itu, saya pun segera bergegas memposisikan diri berada di antara penonton untuk menyaksikan jalannya cerita yang akan digambarkan utuh oleh para pemain.

Panas terik siang itu sangat menyengat. Namun tak menghentikan langkah kaki saya menuju sudut halaman sekolah, sebuah arena terbuka tempat pementasan seni tersebut digelar.

Sendratari Tan Hana Dharma Mangrwa merupakan pertunjukan seni drama tari yang mengisahkan tentang perjalanan jiwa di dalam raga manusia menuju kepada kesempurnaan di dalam hidupnya.

Bagaikan terang bulan dan bintang di langit malam, juga terang matahari yang bersinar di langit biru, seperti itulah sifat yang keluar dari batin manusia yang telah memiliki kesadaran diri dalam terang cahaya ilahi yang ada pada dirinya.

Berhati murni dan juga ikhlas berserah diri kepada Sang Pencipta. Sungguh indah di luar bayangan. Cahaya yang keluar dari raganya pun dapat menyinari dunia, tatkala hitam dan putih kembali menempati posisi yang telah ditetapkan dan berada dalam keseimbangannya.

Hitam dan putih adalah dua warna yang berbeda. Tetapi bagaimanakah keduanya dapat silih berganti menempati posisi tahta kebenaran sejati?

Pada mulanya yang ada memanglah kebahagiaan sejati dan suara hati nuranilah yang memimpin otak dan seluruh bagian tubuh manusia menuju kepada kebahagiaan sejati, yang sesungguhnya bersumber dari cahaya ilahi yang ada di dalam setiap diri manusia.

Hawa Nafsu Manusia

Namun, di balik merahnya darah dan putihnya tulang yang membentuk raga manusia, di situ memang terdapat hawa nafsu yang melekat pada dirinya, yakni bagian dari diri manusia yang tak dapat terpisahkan selama hidup di dunia.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, hawa nafsu adalah sebuah perasaan atau kekuatan emosional yang besar dalam diri seorang manusia berkaitan secara langsung dengan pemikiran atau fantasi seseorang.

Hitam dan putih dalam sendratari ini melambangkan hawa nafsu dalam diri manusia. Hitam melambangkan keburukan dan putih melambangkan kebaikan. 

Pada awalnya keduanya memang hidup harmonis, selaras dan seimbang di dalam jiwa manusia, berpadu dalam keindahan yang sempurna, saling melengkapi dan selalu menempati posisi yang telah ditetapkan seperti kutub utara dan kutub selatan yang tetap berada di tempatnya menjaga keseimbangan alam.

Hingga sang waktu kemudian menyeret langkah-langkah manusia yang enggan patuh pada suara hati nuraninya yang terdalam dan juga oleh karena banyak hal dalam pikiran yang kemudian mulai memengaruhi jiwa yang damai, kebaikan dan keburukan pun akhirnya mulai melewati batasannya demi memperebutkan tahta kebenaran sejati.

Seperti awan yang berarak di bawah langit biru, demikian pulalah sifat-sifat manusia. Terus bergerak seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan yang pada dirinya. 

Tidaklah mudah mengendalikan hawa nafsu. Hitam dan putih memang akan saling terus berebut menunjukkan eksistensinya kepermukaan, hingga perang abadi itu pun akhirnya tak dapat terelakkan.

Kutub utara dan kutub selatan memang tak semestinya bergeser dari tempatnya. Demikian pula hitam dan putih di dalam diri manusia juga tak semestinya melewati batasannya, karena dapat berujung pada tabir yang akan menutupi cahaya ilahi yang ada pada dirinya. 

Seperti rupa manusia yang tertutup oleh topeng-topengnya sendiri, silih berganti baik hitam maupun putih.

Perang di dalam diri manusia

Perang abadi itu sesungguhnya memang tak akan dapat dimenangkan oleh hitam maupun putih. Keduanya akan senantiasa silih berganti menguasai tahta kebenaran yang tentunya akan berujung kehancuran pada diri manusia itu sendiri.

Hawa panas kota palagan Ambarawa siang itu benar-benar turut menyempurnakan adegan perang oleh pasukan hitam dan putih dalam kisah sendratari tersebut.

Adegan demi adegan pun berjalan sempurna. Panas menyengat yang membakar kaki siswa-siswi kelas 11 IPA 3 SMA Islam Sudirman Ambarawa (ISSUDA) saat menapak pada lantai beton tempat pertunjukan ini digelar, sama sekali tak menyurutkan nyali mereka untuk tetap total memainkan perannya hingga mampu membangkitkan rasa, sekaligus menyempurnakan penyampaian alur cerita dengan apik.

Berdiri di sudut halaman sekolah di antara siswa-siswi SMA ISSUDA yang antusias menyaksikan pertunjukkan seni drama tari tersebut, mata saya pun tak  sempat berkedip melihat kegesitan pasukan hitam dan juga pasukan putih memainkan perannya seraya menahan panasnya telapak kaki dan juga tubuh mereka yang berada di bawah paparan sinar matahari.

Tentu saja ini langsung membangkitkan ingatan saya pada istilah ora mingkuh dalam filosofi tari Jawa klasik, sebuah karakter yang memang semestinya dimiliki oleh seorang penari, yakni tidak menghindar dari tugas alam yang diterima, teguh pendirian, total dan berani menghadapi kesukaran-kesukaran sebagai bagian dari bentuk pengabdian total kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Puncak peperangan dalam drama tari     siang itu pun berakhir dengan tumbangnya seluruh pasukan baik hitam maupun putih. Seluruhnya tak berdaya dan bergelimpangan di bawah teriknya mentari. 

Terbakarlah hawa nafsu yang melekat pada jiwa mereka, tatkala sang manusia sejati menyerahkan segala kebaikan dan juga keburukan, hitam dan juga putih kepada Sang Pencipta Sejati.

Richo Sabdo Handoko yang memerankan manusia sejati pun menapakkan kaki dengan pasti. Seperti tak merasakan panasnya lantai beton yang menyangga kakinya, ia pun melangkah dengan mantap, berdiri di hadapan pasukan hitam dan putih dengan balutan kain satin warna putih gading.

Aura kemurnian yang terpancar dari raganya sungguh mengagumkan, memberikan atmosfer yang sungguh  indah di dalam pementasan seni drama tari tersebut, dan tentu ini menggambarkan sebuah proses panjang yang telah dilalui. 

Pada tahap proses awal pembagian peran yang terjadi satu bulan sebelum pementasan saat mengawali proses panjang pembuatan sendratari tersebut, saya menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri memang tak ada satu pun yang bersedia memangkas rambut hingga plontos untuk memerankan sang manusia sejati. 

Namun dari semua kandidat, pada akhirnya hanya dia yang bersedia dan ikhlas untuk total dalam memerankan manusia sejati, menyempurnakan konsep penyampaian/penuturan kisah dalam drama tari tersebut.

Dan aura kemurnian  yang tampak nyata pada saat pementasan siang itu adalah bukti bahwa hasil memang tidak mengingkari proses panjang yang telah dilalui.

Perlahan namun pasti, sederhana namun dapat membangkitkan rasa, tidak berlebih dan melewati batas, dengan bahasa yang indah, suara cahaya ilahi dari hati nurani yang terdalam sang manusia sejati pun bergema.

Kepada hitam dan putih, sabda itu terdengar sangat jelas, “Sesungguhnya kalian semua adalah bagian dari diriku, tetapi kalian bukanlah aku yang sejati. Maka, kembalilah pada asalmu yang tadinya indah dan sempurna adanya. Biarlah cahayaku memimpin kehidupanmu, membuat yang hitam menjadi terang dan yang putih menjadi lebih terang, bersatu dalam cahaya keikhlasanku. Keburukan menjadi kebaikan dan kebaikan pun menjadi keikhlasan. Maka, demikianlah sejatinya manusia sebagai cermin cahaya keikhlasanku.”

Di hadapan sang manusia sejati, pasukan hitam dan pasukan putih pun kemudian bangkit, melepaskan topeng dan menghamburkannya dengan serentak ke udara dalam pendaran cahaya keikhlasan.

Hawa nafsu itu pun kemudian seolah terbakar habis dan pulih kembali seperti pada awalnya bagai terbasuh air surgawi. Dan cahaya ilahilah yang pada akhirnya kembali bertahta sempurna pada tempatnya, mengembalikan hitam dan putih berada dalam keseimbangannya.

Penyerahan total diri sang manusia sejati kepada Sang Pencipta yang menjadi sumber segenap cahaya dan segenap warna kehidupan pun menjadikan semua warna kembali kepada asalnya, memancarkan kembali cahaya ilahi dengan sempurna, menembus ruang dan waktu, menyelesaikan perang besar dalam diri manusia dengan keikhlasan yang sempurna.

Tan Hana Dharma Mangrwa

Pada akhirnya kemenangan maupun kebenaran tidak menjadi milik hitam maupun putih. Keduanya lebur dalam cahaya keikhlasan, karena sesungguhnya kebenaran maupun kemenangan sejati hanyalah milik Tuhan Yang Maha Esa.

Sejatinya kebenaran memanglah tunggal. Berbeda-beda manunggal menjadi satu, tidak ada kebenaran yang mendua.

Tan Hana Dharma Mangrwa diambil dari penggalan pupuh yang terdapat dalam kakawin Sutasoma karangan Mpu Tantular, sang penyair yang termasyhur pada abad ke-14 yang mendasari konsep pembuatan drama tari tentang perjalanan jiwa di dalam raga manusia.

Sendratari tersebut dipentaskan pada tanggal 10 Februari 2020 dalam rangka perayaan ulang tahun SMA Islam Sudirman Ambarawa dengan tajuk ISSUDA FEST ke-6.

Sesungguhnya memang tidak ada kesejatian yang mendua (tan hana dharma mangrwa). Bagaikan terang bulan dan bintang di langit malam, juga terang matahari yang bersinar di langit biru, seperti itulah sifat yang keluar dari batin manusia yang telah memiliki kesadaran diri dalam terang cahaya ilahi yang ada pada dirinya.

Berhati murni dan juga ikhlas berserah diri kepada Sang Pencipta. Sungguh indah di luar bayangan. Cahaya yang keluar dari raganya pun dapat menyinari dunia, tatkala hitam dan putih kembali menempati posisi yang telah ditetapkan dan berada dalam keseimbangannya.

Dan waktu pun tak lagi menyeret langkah-langkah manusia, di kala cahaya ilahi kembali memimpin kehidupan hawa nafsu yang melekat di dalam dirinya. Menempatkan hitam dan putih berada di dalam keseimbangannya, menampakkan kebenaran sejati kepermukaan dan merambatkan vibrasinya ke seluruh penjuru semesta dengan keikhlasan yang sempurna. Ikhlas tanpa pamrih.