Matahari terus menaiki langit saat saya menuju tribune terbuka di bawah pohon besar yang sangat rindang. Hari itu udara memang cukup panas, namun tetap saja tak menyurutkan harapan saya untuk dapat menyaksikan sebuah pentas seni drama tari yang dengan judul Memayu Hayuning Bawana, yang dibawakan oleh 32 siswa dari kelas 11 MIPA 1 SMAN 1 Ambarawa.

Kisah dalam sendratari ini bermula dari sebuah negeri yang gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharja. Sebuah negeri damai yang kehidupan masyarakatnya selaras dengan Alam. Mengambil secukupnya dari Alam untuk hidup dan tidak berlebih. 

Kerta karti kang negari, murah sandang miwah pangan, wong alit heca mannahe. Negeri yang tenteram dan makmur, pangan dan sandang melimpah, dan rakyat bahagia.

Keseimbangan Alam pun terjaga dengan baik di sana. Air, tanah, api maupun udara. Demikian pula dengan kehidupan masyarakatnya yang damai sejahtera, hingga membuat imajinasi saya tergugah untuk membayangkan apa yang telah digambarkan oleh para pemain dalam sendratari tersebut.

Seolah berada di puncak gunung, saya benar-benar bisa membayangkan betapa indahnya kehidupan di negeri itu. Negeri dengan hamparan gunung yang indah dan lautan luas yang membiru.

Dengan menjunjung tinggi adat dan budayanya, masyarakat di negeri itu baik masyarakat gunung maupun masyarakat lautnya, memang dapat menjaga Alam dengan baik. Keduanya tampak harmoni hidup berdampingan dan saling melengkapi.

Tak ada sampah yang berserakan, tak ada tanaman yang kekeringan, bunga-bunga pun indah bermekaran dan ikan-ikan di laut  tampak berenang dengan riang, meski sesekali menampakkan diri ke permukaan untuk menyerahkan usia hidupnya pada kail sang nelayan, yang mengantarkannya kepada Sang Pencipta dengan damai.

Sumber pangan dari laut memang sangat melimpah di negeri itu. Kail dan jala memang sudah bisa menghidupi mereka. Bahkan juga untuk berbagi dengan sesamanya. 

Demikian pula dengan para petani di gunung. Begitu suburnya tanah pegunungan di negeri itu, hingga tongkat kayu pun dapat menjadi tanaman sebagai sumber pangan dan sandang.

Negeri itu memang benar-benar makmur damai sejahtera. Kepada para pendatang, mereka pun menyambut ramah seperti sumber air di pegunungan yang tak bertanya dari mana asal usul siapa yang mengambil airnya. Apapun agamanya, apapun suku bangsanya dan juga apa pun rasnya dapat mengambil dan menggunakannya untuk keperluan hidupnya.

Sejatinya, Alam memang telah menyediakan keperluan hidup seluruh makhluk tanpa terkecuali dengan tanpa pamrih apa pun. Dengan banyak belajar dari Alam, masyarakat di negeri itu memang benar-benar menunjukkan kesahajaannya dalam hidup.

Namun seiring dengan berjalannya waktu, ketika para pendatang mulai memberikan pengaruhnya untuk mengambil dari Alam lebih dari yang dibutuhkan untuk hidup atas nama kemakmuran dan kesejahteraan, di situlah kebutuhan akhirnya berubah menjadi keinginan yang berujung kepada keserakahan, yang kemudian malah merusak Alam. Dan untuk mendapatkan keseimbangan barunya, maka Alam pun akhirnya mulai bergolak.

Bencana alam kemudian datang bertubi-tubi di negeri itu. Banjir, gunung meletus, kekeringan dan juga kebakaran hutan terjadi di mana-mana. Negeri yang makmur itu kini tampak menyedihkan, kelaparan dan kesusahan melanda hampir seluruh negeri.

Di puncak ketidakberdayaan itu, mendadak langit menjadi gelap. Matahari pun menghilang di balik awan. Dunia benar-benar kelam, sampai kilat yang bercahaya seperti matahari bermain-main di langit. Angin badai kemudian datang mengembus, hujan turun membasahi tanah seluruh negeri, tak ada yang tersisa sejengkal pun. 

Pada saat tanah terakhir bermandikan air hujan, di antara kilat cahaya dari langit, seketika hujan sepanjang musim itu terhenti. Kegelapan telah mencapai puncaknya, hingga kemudian terbitlah terang menuju keseimbangannya. 

Langit pun terbuka dan matahari muncul dari balik awan. Sang Ibu Pertiwi yang merupakan representasi dari Alam pun kemudian hadir dengan anggunnya.  Ia berdiri di antara manusia, menyadarkan manusia untuk kembali hidup selaras dengan Alam. 

Dengan suara merdunya, ia pun memberikan nasihatnya, “Apakah kalian tahu, bahwa sesungguhnya, merusak Alam sama halnya dengan merusak diri sendiri? Dan menjaga Alam, sama halnya dengan menjaga keberlangsungan hidup seluruh makhluk tanpa terkecuali? Maka bangkitlah! Jadilah penjaga Alam yang senantiasa Memayu Hayuning Bawana."

Bagai tersadar dari mati suri yang panjang, setelah mendengar dan memahami nasihat dari sang Ibu Pertiwi, seluruh masyarakat di negeri itu pun kemudian bangkit dan membulatkan tekad untuk kembali hidup selaras dengan Alam. Hidup sesuai kebutuhan dan mengendalikan keinginan agar tidak berujung kepada keserakahan yang dapat merusak alam, dengan senantiasa memohon perkenan Sang Pencipta.

Sejak saat itu, tak ada lagi sampah berserakan baik di gunung maupun di laut. Kail dan jala kembali dapat menghidupi para nelayan. Kehidupan laut kembali terjaga keseimbangannya. Tak hanya ikan, penghuni air seperti moluska yakni kerang dan siput, krustasea seperti udang, lobster dan kepiting, sederetan mamalia, reptilia dan burung pun turut menikmati kembali kedamaian dan kesejahteraan di negeri itu.

Demikian pula dengan para petani di pegunungan. Mereka pun mendapatkan kembali kesuburan tanahnya. Dari puncak gunung, aliran air tampak mengalir deras sampai ke laut tanpa obstruksi lagi. Tak ada lagi yang kelaparan dan juga kehausan.

Masyarakat gunung maupun masyarakat laut di negeri itu pun akhirnya kembali hidup berdampingan dengan harmoni. Saling melengkapi dan bersama-sama menjadi penjaga Alam yang senantiasa terus memayu hayuning bawana. Tak hanya memikirkan sesama manusia, tapi juga keberlangsungan hidup seluruh makhluk hingga di masa depan.

Negeri itu akhirnya benar-benar kembali damai dan makmur melebihi sebelumnya. Tak ada negeri seperti itu sebelumnya. Semua kebutuhan sandang dan pangan melimpah ruah. Mendapat berkah dari Tuhan Yang Maha Mulia, atas kesadaran dan ketulusannya untuk kembali hidup selaras dengan Alam dengan senantiasa memayu hayuning bawana.

Tepuk tangan yang meriah pun seketika terdengar riuh dari seluruh penonton mengakhiri kisah dari pementasan sendratari Memayu Hayuning Bawana siang itu. Pentas seni yang digelar tahun lalu tepat pada 16 Desember tersebut merupakan salah satu rangkaian dalam perayaan dan peringatan HUT ke-37 SMAN 1 Ambarawa.

Sebenarnya saya masih ingin menyaksikannya sekali lagi. Namun pesan dari sendratari tersebut mengingatkan saya untuk berhati-hati dengan setiap keinginan, karena bisa saja dapat berujung kepada keserakahan yang dapat merusak keseimbangan Alam.

Meski duduk  di bawah pohon yang rindang, terik cahaya matahari siang itu masih saja mampu menerobos celah daun-daun yang berhimpitan dan jatuh sampai di kepala saya. Namun, saya tetap tak bergeming dari tempat saya duduk siang itu. Kisah dalam sendratari ini telah mampu memikat hati saya, hingga meyakinkan hati saya untuk tetap menyaksikannya sampai di akhir cerita.

Mereka yang memainkan sendratari ini memang benar-benar mampu menyampaikan kisahnya dengan bahasa rasa dan visual yang sangat indah. Sanggup menyentuh bagian dari jiwa saya yang terdalam hingga saya tak lagi dapat berkata-kata. Ini benar-benar bukan sekedar sendratari biasa, tapi lebih merupakan visualisasi idealnya sebuah peradaban manusia. 

Tujuh babak dalam satu latar elemen Alam berupa kain satin panjang mengilap sesuai simbol warna elemen Alam masing-masing benar-benar mampu mereka bawakan dengan indah siang itu.

Saya sangat mengapresiasi para pemain sendratari ini. Mereka benar-benar telah mengembalikan makna seni yang sesungguhnya. Seni yang menurut asal usul katanya berasal dari bahasa Sanskerta yakni sani yang berarti persembahan. 

Dengan perkenan Tuhan, mereka memang tampak dapat menyatukan pikiran, hati, jiwa dan raga mereka ke dalam setiap peran yang mereka bawakan untuk dipersembahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan segala yang hidup, Tuhan segala bangsa dan Tuhan segala agama.

Maka, tidaklah mengherankan bila tangis haru pun kemudian pecah usai pementasan sendratari tersebut. Baik di antara sesama pemain sendratari maupun yang menyaksikannya. Karena sesungguhnya, tangisan keharuan itu adalah sebuah tanda akan kehadiran Tuhan pada setiap hati.

Matahari masih menerobos celah daun-daun, dan cahayanya masih saja jatuh tepat di kepala saya. Namun, kini saya lebih memilih untuk beranjak dari tempat saya duduk. Saya pun berdiri dan berjalan ke belakang area panggung tempat berkumpulnya para pemain sendratari tersebut usai pementasan berakhir, untuk memberikan ucapan selamat atas kesuksesan mereka dalam memainkan sendratari Memayu Hayuning Bawana tersebut dengan sangat indah. 

"Kerta karti kang negari, murah sandang miwah pangan, wong alit heca mannahe. Negeri yang tenteram dan makmur, pangan dan sandang melimpah, dan rakyat bahagia." (Diambil dari penggalan salah satu tembang dalam Serat Jatiswara).