Kata mutiara, hikmah, motivasi, dan kearifan senantiasa memberikan makna magis di hati pembaca maupun pendengarnya. Karena ia merupakan ungkapan kejujuran hati, aksiomatika logika, saripati perenungan mendalam dan kesimpulan dari pengalaman panjang batin seseorang.

Demikian pula dengan Senarai Kearifan Gontory yang disusun oleh ayahanda kami, Al Ustadz Ahmad Suharto (pengasuh Pondok Modern Darussalam Gontor Putri Kampus 1 tahun 2015-2021) yang mengunduh dari berbagai sumber, baik secara lisan dan tulisan, langsung dan tidak langsung dari Trimurti pendiri Gontor serta para masyayikh ma’had.

Sebagian besar ungkapan hikmah ini langsung berasal dari para guru kita yang mulia , sementara sebagian lainnya merupakan nukilan dari Al Qur’an, Hadits, atsar generasi salaf atau ungkapan populer lainnya yang telah teradopsi dan terinternalisasi dalam detak nadi kehidupan Gontor.

“Hikmah adalah barang hilang miliknya orang mukmin, dimanapun dia menemukannya, maka dia lebih berhak untuk mengambilnya.”

Sebenarnya hanya dengan membaca nash kata-kata aslinya saja tanpa penjelasan dan keterangan sudah cukup jelas dengan sendirinya, bahkan keterangan sering kali tidak mampu menegaskan makna, justru mengaburkannya. Meski demikian, beliau tetap mencoba memberikan ulasan singkat sebagai afirmasi atas pesan moral dan spiritual yang ada.

Yang menarik dari semua Mutiara Kearifan Gontory yang tersusun, tidak dirasakan ada yang mempunyai makna atau semangat yang kontradiktif. Yang ada, justru saling menguatkan dan menegaskan bertautan saling berkelindan dengan lainnya, seolah keluar dari satu sumber dan bermuara pada satu tujuan.

Berikut ini akan saya tuliskan beberapa kata mutiara dari masyayikh Gontor yang berkaitan erat dengan dunia pendidikan. Karena manusia tidak akan lepas dari yang namanya pendidikan. Dan setiap orang harus memiliki jiwa pendidik, walaupun dia hanya mampu mendidik dirinya sendiri.

Bondo bahu pikir lek perlu sak nyawane pisan (K.H. Ahmad Sahal)

Dalam perjuangan harus siap berkorban baik berupa harta, tenaga, fikiran, bahkan kalau perlu nyawa. Inilah totalitas dalam berjuang, perjuangan tanpa pengorbanan adalah kebohongan.

Siap memimpin dan siap dipimpin (K.H. Imam Zarkasyi)

Siap ditunjuk menjadi pemimpin itu baik dan dibutuhkan umat. Tetapi siap dipimpin juga sangat penting untuk mensinergikan kekuatan, jangan hanya siap memimpin tetapi susah untuk dipimpin, sehingga menjadi kerikil tajam yang mengganggu keharmonisan.

Kita ini satu barisan perjuangan, tidak masalah siapa yang terpilih sebagai pemimpin sesuai mekanisme yang berlaku. Kita berjuang karena Allah, bukan karena sang pemimpin. 

Seperti kata-kata Khalid bin Walid ketika dicopot dari jabatan panglima perang oleh Umar. Dia tetap berperang dengan gagah berani sebagai prajurit seraya mengatakan, “Saya berjuang demi Allah, bukan karena Umar”.

Andai kata muridku tinggal satu, akan tetap ku ajar yang satu ini sama dengan seribu. Kalaupun yang satu ini pun tak ada, aku akan mengajar dunia dengan pena (K.H. Imam Zarkasyi)

Pendidik sejati, tidak peduli pada jumlah anak didiknya, berapapun akan diajar, bahkan kalau tidak ada yang diajar secara lisan (langsung), maka akan mengajar dunia dengan pena. Semangat dan kreativitas seorang pendidik tidak bisa dibatasi dengan apapun. Bahkan banyak mereka yang dimasukkan penjara sebagai konsekuensi perjuangannya. Namun tetap berdakwah dan mendidik bangsanya.

Tak lekang karena panas dan tak lapuk karena hujan (Trimurti)

Berkemauan keras, pantang menyerah, apapun kesulitan dan hambatan yang dihadapi tidak akan mampu mengendorkan atau meruntuhkan semangatnya.

Perjalanan seribu kilometer harus dimulai dengan ayunan langkah kaki pertama (Trimurti dari kata hikmah Cina)

Sejauh apapun perjalanan yang akan ditempuh, setinggi apapun cita-cita yang ingin diraih, sebesar apapun harapan yang hendak diwujudkan tidak akan terealisir tanpa permulaan, apapun bentuknya, sekecil apapun kontribusinya harus ada gerakan memulai. Nanti Allah yang akan menyempurnakan. Yang tidak pernah memulai apa-apa tidak akan pernah menghasilkan apa-apa.

Pendidikan lebih penting daripada pengajaran (Trimurti)

Ini bukan pernyataan kontradiktif. Pendidikan mempunyai cakupan lebih luas daripada pengajaran, atau pengajaran merupakan bagian dari pendidikan. Meski demikian, pengajaran tidak bisa lepas dari pendidikan.

Pendidikan mencakup seluruh aspek kehidupan manusia, menggali, mengasah, dan meningkatkannya menuju kesempurnaan manusiawi. Sedang pelajaran lebih terfokus pada aspek kognitif.

Dalam menjalankan tugas (pengabdian) ananda supaya berpegang: toto, titi, tatag, tutug (K.H. Ahmad Sahal)

Artinya dalam menjalankan tugas pengabdian apapun dan dimanapun supaya tertib, teratur, teliti, berani, serta tuntas. Jangan setengah-setengah. Sangat indah kalau komposisi aturan ini dijalankan.

Sayangnya banyak yang tidak tertib dan teratur. Kalau ada yang teratur kadang tidak teliti. Yang teratur dan teliti sering kurang berani. Yang sudah tertib, teliti, dan berani sering tidak tuntas sampai batas.

Education is not only by lips, but by doing (K.H. Imam Zarkasyi)

Pendidik sejati tidak hanya bisa berpidato, mengarahkan dan memerintah, tetapi bisa menjadi contoh yang baik dalam segala bidang. Lidah kenyataan lebih fasih daripada lidah ucapan. Memberi contoh sekali lebih berkesan daripada berbicara seribu kali.

Ujian untuk belajar, bukan belajar untuk ujian (K.H. Imam Zarkasyi)

Ujian bagian dari sarana pendidikan dan pembelajaran. Pendidikan mental, kemandirian, disiplin, ketekunan, kejujuran, dan lain-lain. Ujian juga akan membentuk pola belajar anak didik. Karena itu ujian menjadi kalender tetap akademis untuk meningkatkan kualitas belajar anak-anak.

Dengan harapan mereka terbiasa belajar dengan efektif serta produktif seperti saat-saat ujian. Dengan peringatan jangan sampai hanya belajar untuk ujian, kalau tidak ujian jadi malas belajar.

Sebesar keinsyafanmu sebesar itu pula keuntunganmu (K.H. Imam Zarkasyi)

Kesadaran dan keterpaanggilan hendaknya menjadi landasan dalam menjalankan tugas-tugas di pondok. Sehingga tugas terasa ringan dan mempunyai kesiapan untuk menyerap nilai-nilai pendidikan yang terkandung di dalamnya.

Hati-hati! Harta, tahta, dan wanita (K.H. Ahmad Sahal)

Peringatan bagi para pejuang, jangan sampai tergoda dan meninggalkan prinsip kebenaran hanya karena iming-iming harta benda, ambisi kekuasaan, dan rayuan wanita. Demikian pula dengan para wanita, hendaknya berhati-hati dengan rayuan pria yang tidak bertanggung jawab supaya tidak hancur masa depannya.

Hidup sekali hiduplah yang berarti (K.H. Imam Zarkasyi)

Untuk memaknai hidup, memberikan jasa dan manfaat sebesar mungkin dalam kehidupan agar menjadi jariah hingga hari kiamat. Memperjuangkan kebenaran dan kemaslahatan bagi sesama, menjadi pioner kebaikan dan karya yang monumental untuk umat manusia. Janagn sampai hidup berlalu tanpa tujuan jelas, tanpa memberi manfaat, serta hidup hingga mati tanpa cerita.

Berani hidup tak takut mati, takut mati jangan hidup, takut hidup mati saja (K.H. Ahmad Sahal)

Berani menghadapi kehidupan dengan segenap tantangan dan konsekuensinya dengan jiwa besar, kepala tegak dan pandangan ke depan. Selalu optimis, kreatif, dan dinamis, tidak dengan jiwa kerdil dan nyali sempit serta pengecut.