Researcher
1 tahun lalu · 2643 view · 4 min baca menit baca · Budaya 82251_54838.jpg
Foto: Andy Budiman via melekpolitik & detik.com

Senangnya Punya Identitas Teroris

Di tengah duka keluarga yang kehilangan anak-anak dan orangtua yang terkasih karena kebiadaban aksi terorisme di berbagai gereja dan markas kepolisian di negeri ini, dan di tengah kekhawatiran dan ketakutan akan keselamatan anak-anak kita, ada banyak orang yang mencari panggung.

Tidak, saya tidak berbicara tentang mereka yang mengatakan “ini settingan”, “pengalihan isu”, “Ahok”, “212ThePowerOfLove”, “#2019GantiPresiden”, dan sejenisnya. Jujur, saya sudah tidak peduli dengan mereka. Tuhan berkata: mereka sudah mendapat upahnya.

Tidak, saya tidak berbicara tentang orang yang tertawa di atas penderitaan kita. Saya berbicara tentang mereka yang lebih halus, yang merasa lebih baik dan lebih mulia penderitaannya.

Pertama, mereka mengutuk aksi teroris yang biadab tersebut dan menuntut aktor intelektualnya ditangkap dan dihukum seberat-beratnya. Simpatik? Mungkin, terlepas dari kenyataan bahwa mereka memberi porsi lebih kecil pada penderitaan korban dan keluarganya. (Tetapi, bukankah dalam setiap aksi teror kita semua lebih suka petentang-petenteng keberanian dan keberhasilan daripada simpati pada korban?)

Tuntutan pengusutan aktor intelektual (atau hulu permasalahan) ini adalah bentuk buang badan. Persis sama dengan mengatakan teroris tidak punya agama, maka pengalihan fokus (bukan isu) ke sebuah (atau sekelompok) sosok misterius tanpa identitas adalah usaha menyangkal kenyataan bahwa gerombolan yang meledakkan diri atau menghunus pedang itu jelas-jelas membawa identitas – dan bertindak atas nama – agama.

Bukannya merasa malu karena orang-orang yang seagama mengumbar ajaran dan identitasnya untuk membunuh orang lain, mereka malah menuduh orang lain salah lihat atau bahkan buta.

Kedua, tuduhan salah lihat atau buta ini berlanjut pada hilangnya empati. Jika orang menjadi takut atau waspada pada identitas (baca: atribut) keagamaan mereka (karena bisa dipakai untuk menyembunyikan senjata atau bom, atau seksdar menjadi “seragam perang”), tuduhan buta segera berubah menjadi “fobia” yang berkonotasi “stigmatisasi” dan “diskriminasi”.

Reaksi pada ketakutan dan kewaspadaan orang lain ini belum tentu berupa kemarahan atau protes keras. Bisa saja berupa petuah bijak nan halus bahwa ini semua hanya “framing”, orang lain tidak perlu lebay, dan sesama umat woles aja. Seorang teman bahkan terang-terangan (sambil tersenyum, karena senyum itu ibadah) menyindir orang-orang yang agak takut melihat identitas religiusnya yang dengan bangga ia tampilkan bersama istrinya, di tengah suasana begini.


Dan ketiga, tuduhan lebay dan fobia itu tak pelak memunculkan apa yang disebut Whataboutism: argumen perbandingan. Baru mati segelintir aja udah lebay; bagaimana dengan penderitaan umat Rohingya, Palestina, Irak, Suriah, imigran di Eropa dan Amerika?

Penyebabnya hanya satu: mereka berpikir pemeluk agama mereka dan identitasnya tidak mungkin salah. Maka yang salah pasti orang lain. Termasuk para korban.

Agama saya tidak mungkin salah, maka penganutnya tidak mungkin salah juga. Jadi, jika ada orang berbuat jahat atas nama agama saya dengan mengusung identitas agama saya, pasti ada orang lain dari luar yang menyalahgunakan.

Jika orang lain jadi korban (termasuk anak-anak), saya turut prihatin bukan karena saya kasihan, tapi karena agama saya baik dan membenci kejahatan tersebut. Jika ada umat seagama yang jadi korban, nah ini dia, pasti pelakunya orang lain yang tidak seagama (atau tidak beragama).

Jika orang lain melihat pelakunya memakai identitas agama saya – bahkan dengan gamblang mengaku melakukannya demi agama saya, pasti orang itu salah lihat, atau jelas-jelas berprasangka buruk. Prasangka buruk adalah salah, dan memang orang di luar saya pasti salah.

Jika mereka menjadi takut atau waspada, saya dengan mudah menjawabnya. Kesedihanmu melihat anakmu meregang nyawa atau ketakutanmu mengantar anakmu ke sekolah yang ada gerejanya (salah sendiri menyekolahkan anak ke sekolah milik gereja) belum seberapa dibanding penderitaan “saudara-saudara” saya di Palestina atau Myanmar. (Walaupun saya tidak ada hubungan darah, kenal saja tidak.)

Dan yang paling menyenangkan dari semua ini adalah: secara politis, saya tidak bisa salah! Saya bisa menyalahkan mereka yang membuat saya merasa terzalimi; tetapi sesedih atau setakut apa pun mereka, mereka tidak bisa menyalahkan saya karena bisa dituduh fobia, diskriminasi, atau penistaan. Sepanjang saya berhati-hati untuk tidak (gamblang) menuduh kejahatan itu hoaks atau rekayasa, saya akan selalu dibenarkan. Bangga!

Karena itu, saya sungguh terharu melihat kaum Nahdliyin membesuk para korban, bahkan menghadiri misa requiem untuk para martir belia ini. Bukan untuk ngeles dengan lip service bahwa agama mereka mengajarkan kebaikan, tetapi untuk meminta maaf atas nama umat Islam!


Ya, mereka dengan segala identitas islaminya datang untuk meminta maaf atas kelakuan orang-orang seagama mereka yang bukan hanya memalukan, tetapi benar-benar jahat. Semua agama punya orang-orang yang bikin skandal, dan mereka tidak terkecuali. Tidak perlu cuci tangan dengan menuduh pelakunya tidak beragama atau ada aktor intelektual, atau mengaku-ngaku lebih menderita: semua manusia bisa salah.

Tentu saja mereka tidak salah. Bukan seluruh umat Islam – atau bahkan agama Islam – yang salah. Tetapi, anak-anak muda NU ini mengorbankan diri untuk menjadi duta perdamaian yang dimulai dari tindakan kasih yang paling berat: pengampunan. Dan pengampunan diawali dari pengakuan akan kesalahan, bahkan yang dilakukan orang lain sekalipun tetapi membuat aib bagi seluruh umat.

Dan tentu saja gereja memaafkan, umat Kristiani memaafkan. Tidak ada “minta maaf saja tidak cukup” atau “proses hukum tetap berjalan”. Proses hukum, apalagi politik, bukan koridor gereja. Bahkan gereja tidak bisa mengaku-ngaku memaafkan karena ajaran Kristus jauh lebih luhur. Tidak. Ini demi kemanusiaan dan perdamaian. Agar kemartiran mas Bayu, kakak beradik Evan dan Nathan, ibu Lim dan para petugas polisi tidak sia-sia.

Misa arwah di gereja itu menjadi pertemuan identitas agama. Tetapi tidak ada ketakutan dan kecurigaan. Padahal pemuda Gusdurian yang datang pasti berbusana mirip dengan mereka yang menyerbu dua hari sebelumnya.

Mengapa? Karena kerendahan hati tidak bisa berbohong. Kerendahan hati menembus sekat identitas yang lebih sering dipakai dalam konteks bertahan – atau menyerang.

Kesadaran berlebihan akan identitas membuat orang berlomba-lomba untuk lebih dahulu merasa terzalimi dan membenarkan kecurigaan. Tetapi kesadaran akan diri sendiri akan meleburkan identitas sehingga bisa melihat ke dalam luka batin orang lain. Ketika identitas lebur, Tuhan menampakkan diri.


Artikel Terkait