Tanah kita ini adalah tanah surga, dimana seluruh keperluan hidup manusia dan makhluk yang mendiaminya, telah tersedia tanpa harus kemana-mana. Kail dan jala sudah cukup menghidupi. Demikian pula dengan berbagai jenis tanaman dan pohon, begitu melimpah dan dapat tumbuh subur di tanah kita.

Dengan ribuan lebih pulau yang dimiliki, pesona keindahan seperti yang ada di tanah Nusantara kita ini, tentu saja sangat sulit untuk dicari atau ditemukan di belahan bumi lainnya. Demikian pula dengan beragam kebudayaan dan kesenian tradisional yang dimiliki, secara alamiah pun melukiskan estetikanya sendiri, yang menyempurnakan keindahan tanah surga yang kita miliki.

Namun, bagaimana bila beberapa negeri juga meyakini bahwa tanahnya adalah tanah surga? Seperti pernyataan Republik Ceko dalam lagu kebangsaannya? Swiss, Austria, Korea Selatan dan juga Jepang? Bagaimana pula jika ada negara yang tidak menyatakan negaranya tanah surga, tetapi secara statistik penduduknya dinyatakan paling berbahagia di dunia? Seperti Denmark dan Finlandia? Dan bukankah sebenarnya kebahagiaan itu adalah juga simbol atau salah satu ciri kehidupan dengan peradaban surgawi?

Bila demikian, tentu bisa kita simpulkan bahwa surga itu sendiri memiliki pengertian yang beragam, sesuai perspektif subyektif individu atau masing-masing manusia. 

Sebenarnya tak masalah bila seluruh tanah di Bumi ini adalah Surga. Karena surga pada awalnya diciptakan memang untuk tempat manusia tinggal. Perspektif subyektif tentang tanah surga adalah sah-sah saja, yang perlu kita telaah lebih jauh adalah seperti apakah surga itu bila dilihat dari tujuan awal penciptaannya?

Surga adalah kesempurnaan dari keindahan, yang merupakan alam ciptaan Tuhan yang dapat dinikmati manusia, dimana manusia dapat tinggal di dalamnya dengan bahagia dan dapat berinteraksi dengannya (alam/surga) secara selaras, serasi dan seimbang. 

Bila surga diciptakan untuk manusia, lalu manusia seperti apakah yang tinggal di dalamnya? Yang pasti manusia pertama yang pernah tinggal di dalamnya adalah Bapa Adam, sosok yang setia dan taat kepada Sang Pencipta, yang juga bisa berinteraksi dengan alam dengan selaras, serasi dan seimbang.

Dengan demikian, dimana pun manusia berada, di tanahnya masing-masing dengan cara hidupnya masing-masing, dengan keyakinan akan tanah surganya masing-masing, dan dengan adanya cahaya keilahian yang ada pada setiap diri manusia masing-masing, dengan disadari ataupun tanpa disadari, maka peradaban surgawi, idealnya menjadi sebuah peradaban kehidupan di bumi, bila bumi itu dikatakan sebagai tanah surga.

Tetapi bagaimana bila kemajuan peradaban kehidupan malah menimbulkan perbandingan dimana manusia merasa tanah surga di belahan bumi lainnya lebih indah dari tanahnya? Dan mulai menginginkan keindahan tanah di belahan bumi lainnya untuk dimiliki atau ditaklukkan? Atau merampas sebagian keindahan tanah-tanah surga lainnya, untuk memperindah tanahnya sendiri dan melupakan siapa Pemiliknya? 

Invasi ke wilayah lain, perampasan dan penguasaan adalah hal-hal yang ditimbulkan dari apa yang dinamakan perbandingan-perbandingan itu, dan menyebabkan munculnya keinginan yang menjurus kepada keserakahan. Dan sebenarnya semua itulah, yang mengawali terjadinya sebuah tragedi maupun bencana kemanusiaan, dengan tanpa disadari.

Awalnya mungkin datang dan mengagumi. Bekerjasama dan bersahabat. Lambat laun kemudian menjajah dan menaklukkan. Tentu dampaknya berimbas pada manusia itu sendiri. Manusia yang wilayahnya dijajah pastilah kehilangan hak-hak kemanusiaannya dan yang menjajah tentunya juga sedang kehilangan rasa kemanusiaannya. 

Bencana di Tanah Surga

Kemajuan peradaban kehidupan ternyata tidak serta merta menjadikan kehidupan ini semakin indah seperti di Surga. Pada dasarnya alam memang telah menyediakan keperluan hidup manusia dengan cukup dan sesuai dengan kebutuhan manusia. Namun mengapa semakin majunya peradaban, malah terjadi ketidakselarasan, ketidakserasian dan ketidakseimbangan alam, yang otomatis menimbulkan reaksi alam yang kita sebut dengan bencana?

Pertanyaan ini tentu tak hanya memerlukan kajian dan jawaban saja, tapi juga aksi dan vibrasi kemanusiaan, untuk mengembalikan Bumi layaknya Surga. Kebutuhan yang berganti keinginan dan keserakahan manusia, yang tidak lagi sesuai dengan kebutuhan itulah, yang sebenarnya menjadi kunci kemerosotan sebuah peradaban kehidupan manusia, yang pada awalnya sudah indah. 

Tentu saja ketidakselarasan, ketidakserasian dan ketidakseimbangan tersebut, memungkinkan terjadinya bencana. Bahkan Atlantis Lemuria (Ibu Peradaban) yang dalam kisahnya merupakan peradaban yang sudah sangat maju, tetap saja musnah tatkala interaksi dengan Alam tidak lagi berjalan dengan selaras, serasi dan seimbang. 

Bicara tentang kebutuhan hidup manusia di tanah surga, memang dapat saja dengan mudah kita bayangkan, karena semua yang kita butuhkan telah tersedia. Tapi, bagaimana bila pada awalnya panen pangan yang biasanya hanya terjadi sekali setahun, dengan kemajuan dan perkembangan zaman saat ini, panen itu bisa kita buat menjadi tiga kali dalam setahun? Bahkan untuk tanaman jenis tertentu dengan atas nama kebutuhan, yang biasanya hanya bisa dinikmati hanya semusim, juga bisa dinikmati sepanjang tahun?

Sebenarnya, itu hanya segelintir contoh kecil perubahan kebutuhan menjadi sebuah keinginan atas nama kebutuhan. Sejatinya keinginan adalah kebutuhan yang sebenarnya masih bisa ditunda waktunya, agar kita tetap bisa menjaga keseimbangan alam.

Pada era sekarang, peradaban surgawi rasanya memang sudah mulai tak tampak, dimana toleransi terhadap sesama makhluk sebagai sesama ciptaan mulai terkikis, demikian pula dengan interaksi dengan alam, sangatlah jauh dari kata selaras, serasi dan seimbang. Seandainya kita tahu dan menyadari bahwa kebutuhan telah berganti keinginan, yang menjerumuskan kita ke arah keserakahan, tentu kita bisa lebih mudah memaklumi, kenapa ketidakselarasan, ketidakserasian dan ketidakseimbangan terjadi pada Alam. 

Bencana akhirnya memang ada dimana-mana, baik alam maupun buatan manusia. Keadaan semacam ini tentu sangat disayangkan berada di tanah yang katanya adalah tanah surga. Kepiluan akibat dari bencana pun tentu memunculkan empati atau rasa kemanusiaan, meskipun semua itu sebenarnya akibat dari tindakan kita sendiri sebagai manusia karena telah kehilangan rasa kemanusiaan kita dengan disadari maupun tanpa disadari.

Bahkan cara pemberian bantuan kemanusiaan pun, masih saja kita jumpai dengan cara-cara yang menimbulkan kericuhan dan berbuntut rebutan, yang menjadikan aksi kemanusiaan malah menjadi tidak manusiawi, yang tentunya sangat menyimpang dari kepribadian bangsa kita sebagai manusia yang berketuhanan dan berkemanusiaan yang adil dan beradab.

Derita dan nestapa suatu wilayah yang terjadi bencana, memang terlihat memilukan. Namun setiap wilayah atau bangsa, memiliki kapasitas penerimaan yang berbeda-beda. Ada yang merasa derita atau nestapa yang terjadi adalah berkah tersendiri, atau pun sebaliknya. Seperti beragamnya perspektif subyektif akan makna surga itu sendiri.

Manusia Pancasila

Manusia secara umum adalah makhluk yang berakal budi. Berakal yang berarti memiliki kepandaian dan berbudi yang berarti memiliki nurani atau cahaya keilahian yang ada pada padanya dengan disadari maupun tanpa disadari, yang memungkinkan manusia itu menemukan jati dirinya yang sejati dan menempatkan sifat-sifat kemanusiaannya dengan tepat (bijaksana).

Keragaman yang ada pada manusia di Indonesia antara lain adalah keragaman budaya, bahasa, agama dan banyak lagi. Melihat realitas dan karakteristik bangsa Indonesia yang beragam itu, tentu diperlukan suatu dasar negara yang bisa mengikat, mengakomodir, sekaligus mempersatukan keragaman tersebut. Pancasila, yang dalam hal ini menjadi dasar dan pandangan hidup bangsa adalah yang paling sesuai untuk mempersatukan keragaman yang ada dalam tubuh bangsa Indonesia.

Pancasila merupakan rumusan dan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat negeri ini. Lima sendi penyusun Pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan dan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Kedudukan Pancasila sebagai dasar dan pandangan hidup bangsa merupakan cermin dari budaya masyarakat yang menganut nilai-nilai luhur, sebelum terciptanya Pancasila itu sendiri, karena sebenarnya Pancasila itu lahir dari pemikiran, ide maupun gagasan yang berasal dari kristalisasi budaya-budaya yang dimiliki bangsa ini, yang sudah ada sebelumnya atau sejak dulu.

Pancasila bukan saja jiwa bangsa yang menggambarkan tingkah laku dan sikap mental rakyat (manusia) sebagai ciri khas (kepribadian) yang membedakannya dengan bangsa lain, tapi Pancasila juga merupakan falsafah hidup bangsa (rakyat), karena Pancasila memiliki nilai-nilai luhur, kepribadian yang benar, bijaksana, adil dan cocok untuk bangsa dengan segala keberagamannya ini.

Tujuan utama dari Pancasila itu sendiri adalah menghendaki bangsa ini menjadi bangsa yang religius, yang taat kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan sila pertamanya. Ketuhanan Yang Maha Esa sendiri memiliki pengertian bahwa Tuhan bagi bangsa ini adalah Tuhan dari segenap makhluk, Tuhan dari segenap bangsa, Tuhan dari segenap yang hidup, Tuhan dari semua agama, Tuhan dari semua aliran kepercayaan dan keyakinan, dan juga Tuhan dari semua ciptaan di alam semesta ini tanpa terkecuali. 

Dan pengertian inilah, yang menjelaskan tentang adanya kata Maha, sebelum kata Esa pada sila pertama Pancasila, yang sanggup mengakomodir seluruh keberagaman yang ada di seluruh Nusantara ini.

Dan bicara tentang kemanusiaan, salah satu wujud konkrit dari nilai kemanusiaan itu adalah melakukan kegiatan sosial, seperti kegiatan bakti sosial, menyalurkan sumbangan pada korban bencana, menyantuni anak kurang mampu, dan sebagainya. 

Akan tetapi yang paling penting dalam melakukan tindakan tersebut, kita tidaklah boleh mengharap pamrih atau balasan. Kita juga sepatutnya tidak terlalu mengekspos yang bertujuan untuk pamer dan mendapat pujian. Kita memang dianjurkan untuk mengajak teman atau saudara lain untuk ikut dalam kegiatan sosial, tapi tidak sepatutnya sampai memaksa orang lain. 

Sebagai manusia Pancasila, sudah seharusnya kita juga mengakui persamaan derajat, persamaan hak dan kewajiban asasi setiap manusia, tanpa membedakan suku, keturunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit dan sebagainya, seperti hak untuk hidup, mendapat pendidikan, dan hak untuk memeluk agama. 

Selain itu, negara kita kini juga sudah berkomitmen untuk melindungi hak asasi manusia sebagai contoh nilai kemanusiaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.  Bukti nyata dari komitmen tersebut adalah dibentuknya Komisi Nasional Hak Asasi Manusia untuk mengatasi masalah-masalah yang berkaitan masalah kemanusiaan.

Persatuan dan kesatuan di Indonesia juga tidak akan terjadi apabila tidak ada sikap tenggang rasa dalam memahami berbagai perbedaan dalam keberagaman yang kita miliki tersebut. Tenggang rasa dapat diwujudkan dengan menyadari bahwa setiap orang memiliki hak yang sama sebagai manusia. Dan hal itu sesuai dengan nilai kemanusiaan yang diajarkan oleh Pancasila.

Demikian pula dengan gotong royong sudah menjadi jati diri bangsa sejak zaman dahulu kala. Gotong royong pun memiliki peranan penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, yang juga merupakan perwujudan dari nilai kemanusiaan, yang mampu mendorong semangat untuk membantu sesama. 

Tak hanya itu, manusia Indonesia pun juga mengakui dan menyatakan bahwa dirinya adalah bagian dari seluruh umat manusia, maka dari itu dikembangkanlah juga, sikap hormat menghormati dan bekerja sama dengan bangsa lain. 

Dan merupakan sebuah konsekuensi logis sebagai manusia Pancasila, sepatut dan sepantasnya mendasarkan seluruh pemikiran, tindakan dan nurani kita berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, sesuai dengan Pancasila.

Dengan mendasarkan seluruh pemikiran, tindakan dan nurani kita kepada Tuhan Yang Maha Esa, hal itu mengingatkan kita untuk senatiasa menyadari bahwa kita ini sebenarnya sedang belajar menjadi manusia Pancasila, yakni manusia yang berketuhanan.

Menghayati, mengamalkan dan menerapkan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, tentu dapat memupuk rasa kemanusiaan kita sebagai manusia yang seharusnya bisa hidup bahagia dan sejahtera di bumi laksana di Surga. Bisa menghormati, menjaga dan berinteraksi dengan alam dan seluruh isinya, secara selaras, serasi dan juga seimbang.

Maka, semua kembali lagi kepada diri kita masing-masing, apakah kita bisa menjadi sosok manusia yang setia dan taat kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta bisa berinteraksi dengan alam dengan selaras, serasi dan seimbang sesuai dengan kepribadian kita sebagai manusia Pancasila? Dan juga mau banyak belajar lagi dari cara kerja alam yang senantiasa ikhlas tanpa pamrih? 

Ikhlas tanpa Pamrih

Akar budaya tanah Jawa yang dikatakan sebagai tanah surga ini adalah ikhlas tanpa pamrih, yang diambil dari teladan Ibu Pertiwi (Alam), yang memberi dan menyediakan kebutuhan seluruh makhluk tanpa terkecuali, dengan tanpa pamrih. Bila tanah-tanah di belahan bumi lainnya dikatakan sebagai tanah surga pula, bisa jadi nuansa keikhlasan juga ada pada budaya mereka. 

Maka, sebenarnya keikhlasan adalah juga budaya yang universal, yang bisa menumbuhkan peradaban surgawi, dan mewujudkan mimpi manusia akan hadirnya surga di bumi, sebuah tempat yang indah untuk manusia, dimana yang ada hanyalah kebahagiaan, kedamaian, kesejahteraan, dan keikhlasan, yang secara tidak langsung bisa membuat manusia bisa berinteraksi dengan alam secara selaras, serasi dan seimbang, dengan alamiah, tanpa dibuat-buat.

Kekuatan vibrasi senandung kasih tanah surga dan budaya ikhlas tanpa pamrih, sangat memungkinkan empati maupun solidaritas kemanusiaan lahir secara alamiah. Dimana pun, kapan pun, kepada siapa pun tanpa terkecuali tanpa melihat golongan, agama maupun non agama, tak hanya manusia tapi sudah bicara seluruh makhluk atau lebih tepatnya kesemestaan. Tanpa diorganisir, dan itu bisa jadi lebih cepat dari yang kita dipikirkan, karena ia lahir dari hati, apakah itu berupa aksi atau pun vibrasi (doa). 

Kemurnian sebuah aksi maupun vibrasi kemanusiaan yang terlahir secara alamiah, tentu tak akan banyak memiliki hambatan. Budaya surgawi, ikhlas tanpa pamrih tentu dapat menyalakan dan membuat  cahaya keilahian yang ada pada manusia, dapat bersinar terang dan bersinergi dengan alam, yang memungkinkan manusia bisa berinteraksi dengan Alam secara selaras, serasi dan seimbang. 

Bagi bangsa laut, kail dan jala memang cukup untuk hidup. Bagi bangsa gunung, hasil pertanian dengan panen sesuai dengan cuaca alam juga telah mencukupi. Tentu demikian pula dengan cara hidup manusia di tanah surganya masing-masing, sudah sepatutnya tetap menjaga keseimbangan alam, dan menempatkan kebutuhan sesuai pada tempatnya.

Kemajuan zaman harusnya memang memudahkan hidup manusia, karena memungkinkan untuk bisa saling berbagi kebahagiaan dengan keikhlasan yang sempurna. Bahkan dengan akal budi yang kita miliki sebagai manusia, kita seharusnya bisa dinamis menyikapi perubahan zaman, tanpa kehilangan kemanusiaan kita.

Mendengarkan hati dan panggilan  jiwa kita dengan seksama dan melakukannya, sebenarnya jiwa kita tersebut dapat dikatakan sedang menjadi katalisator untuk mengilhami jiwa-jiwa yang lain, menjalani kehidupan yang bahagia dan bermakna, dengan mengabdikan diri memberi dengan tanpa pamrih, kepada orang maupun sesama makhluk Tuhan Yang Maha Esa, yang ada di sekeliling kita secara alamiah.

Aksi dan vibrasi kemanusiaan dengan  kemurnian dan keikhlasan tanpa pamrih itu, memang merupakan harapan yang nyata bagi masa depan tanah-tanah surga di Bumi. Kedamaian, kebahagiaan dan kesejahteraan, yang spiritualis adalah peradaban surgawi, yang mampu dan memungkinkan mewujudkan cita-cita manusia hidup di bumi laksana hidup di Surga.