Oh pohon, warna daunmu selalu mampu menghilangkan risauku.
Batang tubuhmu yang kokoh, menguatkan aku di kala lesu.
Kamulah psikolog dan motivator terbaik di dunia ini.
Aku tak dapat membayangkan tanpamu di sini.

Meski banyak orang yang melukaimu.
Banyak pula yang selalu mengabaikanmu.
Banyak yang tak menyadari arti pentingmu.
Tapi kamu tetap bergeming dengan ketulusanmu.

Bagiku kamu tidak biasa.
Kamu sangat luar biasa dari yang kamu kira.
Bungkammu merupakan zikir kepada Yang Maha Segalanya.
Dalam melestarikan roda dunia yang berputar.

Kamu begitu kuat dan anggun.
Panas terik, hujan badai mampu kamu lalui tanpa keluh kesah.

Aku juga begitu kagum dengan sifat-Nya.
Andai Tuhan tak menyukai seni,
Apa yang orang sebut dengan keindahan mungkin tak pernah ada.
Semua tentang-Mu, sungguh indah.

Tapi, aku juga begitu heran.
Mengapa masih banyak manusia menyepelekanmu.
Apakah lantaran kamu cuma bisanya diam.
Ataukah sebab kamu hanya gelandangan

Oh pohon, ketahuilah akan hal ini.
Sebanyak apa pun kebencian terhadapmu,
Hingga di ujung waktuku, aku selalu mencintaimu
Lestarilah bersamaku.

Cerita Senja Yang Tak Pernah Usai

Petang tadi kamu sempat mengejutkanku.
Sebab, hampir sepanjang hari ini cuaca mendung.
Tapi, rona merahmu tak dapat pernah bosan untuk menyapaku.
Aku berutang budi padamu, Senja.

Aku memang belum sepenuhnya sembuh dari luka itu.
Kamu juga pasti tahu bahwa tak mudah bagiku melupakan sesuatu,
yang terlanjur menancap erat di sanubari.
Sungguh, kamulah penawar kecewaku.

Pada setiap tatapan yang kutuju padamu,
Tak pernah dan tak bisa cepat-cepat kualihkan padanganku.
Hingga tangisanku menjelma air mata penuh kedaiaman.
Kamu tak hanya cukup disandingkan dengan sajian kopi,
Melainkan bersama doa demi doa yang kulangitkan.

Kamu bukan sekadar simbol keindahan.
Lebih dari itu, kamu adalah simbol penguat,
Seusainya lalu lalangnya kehidupan,
yang tak menemui kesudahannya.

Bagimu, kami adalah remah-remah semesta,
yang tertipu oleh wujud yang tiada.
Kemanapun dan apapun kehidupan yang kami jalani,
Semata untuk menyapamu. Begitukah hakekatnya?
Tapi ketahuilah, aku bukan sekadar kawan 'amatiran' mu yang mau berkawan dengan syarat.

Aku adalah sahabat kecilmu yang sering kulukiskan kamu,
Pada hampir di setiap pelajaran menggambarku.
Rasanya kamu juga ingat, bagaimana kita habiskan waktu bersama saat aku mengayuh sepeda menuju langgar setiap sore.
Atau, ketika kita terbuai oleh pertandingan sepak bola bocah ingusan.

Tetaplah di sini senja.
Temani aku sampai nanti aku kembali.

Hidup Untuk Bahagia

Bayangan itu selalu terkenang.
Ketika semua hal hanya terlihat indah pada pandangan.
Aku masih ingat bagaimana cara mengejar bahagia hakiki.
Catatan-catatan masa kecil kala semuanya terasa menyejukkan kalbu.

Kita berkelana ke sana ke mari.
Mengunjungi satu tempat ke tempat lain tanpa merisaukan tiap hambatan.
Apapun kita akan lakukan, bahkan hanya dengan memanjat dan berayun pada pohon.
Pun ketika kita 'mengembara' di lembah gunung, ketika kita menyemplung ke sungai.
Semua untuk mencari kebahagian versi kita.

Kebun, sawah dan ladang menjadi saksi cerita kita saat itu.
Awan yang melahirkan hujan juga pasti masih dengan baik mengenal kita.
Semilir bisikan angin, hangatnya dua waktu sinar mentari,
Merindukan keceriaan yang selalu kita tebarkan.

Kicauan burung dan lembutnya sentuhan embun,
Mereka mencari, dan pasti tertegun menemukan kabar kita hari ini.
Sekarang, kita adalah kuncup bunga yang telah tumbuh.
Dan, aku ingin sekali lagi bersama-sama dan terus mencari bahagia itu.
Pelita hati.

Langir Mendengar

Kusapa langit pagi ini di teras belakang.
Kuceritakan buih-buih kekecewaan yang telah kudapat pada biru merekahnya.
Kudengungungkan juga amnesia yang ada padaku.
Aku luapkan tentang sebuah mimpi yang ternyata tak pernah terjadi.
Tak terasa tiga tetes air mata ikut meluap.
Sepantasnya memang aku harus pamit dari satu celah ruangan,
yang tak sengaja ku masuki tanpa permisi.
Semestinya, aku tak pernah sekali-kali lancang mengendap ke dalam ruang yang tidak pantas untuk aku singgahi.

Dialogku bersama langit kian hidup,
Ketika aku menemukan diriku yang begitu cepat melupakan segala hal yang sering kualami.
Aku lupa menyadari bahwa aku hanya sekeping dahan yang dipermainkan oleh angin.
Dan, aku tidak pernah tau sampai kapan senda gurau ini menikmati polosnya hati.
Sepuluh menit aku memandangi langit,
Membuatku semakin tenang.

Kini aku ridha membiarkan dia berlari sejauh yang disukanya.
Aku hamparkan gaungan doa-doa terbaik untuk dia kehidupannya yang baru.
Aku percaya dia bisa menjadi kupu-kupu bersayap indah tanpa aku.
Aku berjanji bahwa serpihan-serpihan yang sedang hilang arah ini tidak akan pernah menghambat langkahnya.
Selamat Tinggal. Dan jangan pernah membuka ruang lagi untuk aku.

Wahai langit, tiada pendengar dan penasehat terbaik selain dirimu.
Untukmu, terima kasih untuk setiap hal yang membuatku penuh arti.