Bertemu denganmu, aku sadar, ternyata aku masih memiliki cinta. 

Sempat aku berpikir bahwa aku bukanlah seorang pencinta yang mudah terlena dengan wanita. Ternyata itu semua salah ketika akhirnya aku menemukan dirimu dalam hidupku. Aku ternyata adalah budak dari rasa yang tak terarah, budak dari nafsu yang tak sampai, budak dari cinta yang tak bersua.

Sejak aku mulai menelusuri siapa sebenarnya dirimu, aku juga mencoba untuk menjadi dirimu. Aku mulai mencari kemiripan di antara kita. Aku mulai menjadi orang asing yang bahkan diriku pun tidak mengenalnya. Karena apa? Karena aku mencoba untuk mencintai apa yang kau suka, kau idolakan, hingga yang kau sangat cintai. 

Aku mencoba menjadi seperti itu. Tentu bukan dengan kehebohan, aku melakukannya dalam diam yang penuh ketenangan dan dalam sunyi yang penuh kekosongan.

Tahukah kau bahwa bagiku cinta bukanlah sesuatu yang spesial? Kau layak mengecamku atas kalimat munafik tersebut. Namun hingga detik ini, aku masih menganggap cinta adalah sesuatu yang bisa kunomorduakan. Cinta bagiku saat ini hanyalah lakon sepasang kekasih yang menganggap dirinya saling membutuhkan satu sama lain.

Sebuah kebutuhan yang sebenarnya tidak memiliki kadar yang jelas. Cinta punya banyak jenis, jangan kau anggap aku adalah sang pembenci cinta. Tidak, bukan seperti yang ada di dalam pikiranmu saat ini. Aku saat ini sedang membual soal cinta antara sepasang kekasih tanpa ikatan yang mengikat. Hanya bermodal nafsu lalu dengan ringannya menyebut dirinya sedang jatuh cinta.

Cinta bagiku adalah sesuatu yang bisa tiba-tiba mengejutkanku. Dengan sekejap muncul tanpa sapa dan permisi. 

Cinta sering tidak sopan padaku. Ia sering tiba-tiba menghujam ke ulu hatiku hanya dengan sekali tatap dan senyum. Dan saat ini aku harus jujur bahwa perasaan itu bukan untuk kau seorang. 

Bukannya kau orang yang tidak spesial. Tapi kau harus tahu kau bukan orang yang pertama untuk diriku. Bukan orang pertama yang membuatku akhirnya menyerah dan memilih untuk melanjutkan hidup dengan menyimpan luapan rasa sayang yang tak pernah meledak.

Akhirnya aku harus jujur dengan hatiku dan juga perasaanku. Bahwa cinta dalam hidupku adalah sebuah titik hitam yang tak pernah kumengerti maksudnya. Aku tak akan pernah menutup hatiku terhadap orang-orang yang kusukai. Hatiku selalu terbuka untukmu dan untuk mereka. 

Walaupun nyatanya hati ini sudah tak memiliki tenaga yang sama seperti saat getaran ingin memiliki di awal bersua itu muncul. Hati ini sudah kucoba untuk selalu berdamai dengan apa pun. Selalu kujaga agar tidak mudah untuk jatuh cinta. 

Hingga akhirnya aku bertemu denganmu, hatiku sudah mengkhianatiku. Ia akhirnya kembali terjebak dalam kebodohan yang pernah ia buat sebelumnya. Jatuh cinta dan ingin memiliki.

Kau juga harus tahu bahwa ada dua orang yang pernah membuat hatiku melakukan hal-hal  bodoh dalam hidupku. 

Ada dua orang yang memang membuatku benar-benar jatuh cinta yang sebenar-benarnya. Hingga pada akhirnya dua orang itu juga memiliki peran besar yang membuatku harus mengubur dalam-dalam rasa ini di dalam palung terdalam lautan hatiku. Dua orang itu telah kuanggap sebagai malaikat yang tak akan pernah bisa kulihat. 

Mereka yang hanya bisa kucintai dalam diam dan dengan berani kulamar dengan doa di sepertiga malamku. Hanya itu yang kubisa. 

Dan perlu kau tahu, kau adalah orang terakhir dari dua orang tersebut. Kau adalah orang yang menutup kisah cinta dalam diamku. Cinta dalam anganku. Cinta dalam wujud semu yang kucoba menjadi nyata. 

Namun apa daya, aku tetap akan menjadi seorang lelaki pengecut. Seorang lelaki yang memiliki rasa cinta yang besar namun dengan ketidakberanian yang lebih besar.

Kau tidak perlu kecewa dan mungkin kau tidak akan pernah kecewa. Kau hanya perlu tahu bahwa kau adalah penutup dari semua perjalanan yang membuatku memilih menjadi sunyi yang terus mencintai dalam diam.

Kau juga tak perlu takut ketika aku akhirnya akan benar-benar hilang. Aku bukanlah makhluk yang abadi. Semua yang ada pada diriku adalah ketidakabadian. Kecuali satu, kau. 

Kau akan terus kukenang sepanjang napasku berpendar di bumi ini. Kau akan kubuatkan tempat abadi di pikiran dan hatiku. Hingga pada akhirnya rasaku ini hilang dan tak akan pernah sama. 

Kau tetap akan menjadi orang terakhir yang bisa membuatku benar-benar jatuh cinta. Kau tetap menjadi orang yang selalu kurindukan dalam lamunan. Kau juga orang yang selalu kuingat ketika aku memutar sebuah lagu yang kau dan aku sukai. Kau tidak perlu takut. Bahwa hati yang kubawa ini akhirnya akan menemukan cinta sejatinya, tanpamu.

Oh iya, kau juga bisa terus mengenang diriku ketika kau sibuk dengan duniamu. Ketika kau sudah bahagia dengan kekasihmu. Ketika kau sudah mengikat diri dengan cinta sejatimu. Hingga akhirnya kau telah memiliki kehidupan yang harus dipertanggungjawabkan bersama keluarga kecilmu. 

Simpanlah terus hadiah yang kubuat ketika kau berulang tahun dan kuserahkan dengan malu-malu. Sebuah hadiah yang kuharap akan terus kau simpan hingga akhir hayatmu. 

Bukalah dan sentuhlah hadiah itu sesekali dalam waktu bahagiamu. Dan ingatlah aku di setiap kalimat yang terukir indah di hadiah tersebut. Ingatlah seseorang yang akan terus mencintaimu walau dimensi bahagia kita telah dipisahkan oleh jurang bernama kehidupan yang sebenarnya. Aku dan hadiah itu adalah kenangan abadi yang akan membuatmu mengingatku. 

Hadiah itu adalah kado terakhirku untuk menutup lembar perjuangan dan rasa sayang di tengah sunyiku. Aku sadar bahwa kau dan aku adalah dua insan yang tak akan bisa tertawa bersama dan  berbahagia bersama. Dengan hadiah itu aku ucapkan selamat untuk hati yang tak pernah kuraih dan jiwa yang tak akan pernah bisa kusentuh.

Aku di sini akan selalu mendukung kebahagiaanmu. Juga akan terus maju sambil menangisi perasaanku kepadamu.

Terakhir, aku ucapkah terima kasih telah hadir dalam sebagian sejarah hidupku. Aku akan selalu mengingatmu dengan berbagai cara. Dan kuharap kau akan terus mengingatku tidak dengan berbagai cara. Buka saja kembali hadiah itu, maka kau akan ingat aku.