Mahasiswa
5 hari lalu · 175 view · 3 menit baca · Cerpen 64398_30235.jpg
Google.com

Senandung Angin Silir Tak Berganti

Senja tiba pada waktunya, penantian seorang gadis terhadap kekasihnya tidak berubah setiap masanya, dia adalah Nafisah. Penantian terhadap kekasihnya tidak pernah tergoyah, dia selalu optimis dengan ikatan hati mereka.

Jika lamanya dia ditinggal pergi oleh kekasihnya di luar negeri, untuk melanjutkan kuliah dan bekerja disana.

Malam hari perbincangan ayah, ibu dan Nafis dimulai. Tiba-tiba ayah Nafis memberikan pertanyaan yang sulit dijawab olehnya.

"Nak, umurmu sekarang berapa?"(Pertanyaan seorang ayah)

"24 tahun Yah" (Jawabnya)

"Itu umur yang matang Nak" (Ungkapan ayah kembali)

"Iya Ayah" (Belum paham dengan ungkapan ayahnya)

"Ayah umurnya sudah beranjak menua Nak, maukah kamu menikah dengan pilihan Ayah?"

Nafisah seseorang yang patuh dan taat kepada kedua orang tuanya, namun dengan pernyataan ayahnya yang seperti itu, Nafisah bingung tentang bagaimana cara menolaknya.

"Ayah, apakah secepat ini Nafis menikah?" (Keluhan Nafis terhadap ayahnya)

"Iya Nak, hanya kamu harapan Ayah sekarang" (Sahutan ayah Nafis)

Terdengar ucapan ayah Nafis yang seperti itu, dia tidak bisa membantah, namun Nafis telah memiliki pilihan sendiri, yaitu seseorang yang berada di luar negeri.

Nafis tidak kuasa menahan nangis, karena tidak seperti yang dibayangkan sebelumnya.

Pada zaman sekarang masih ada perjodohan yang memaksakan kehendak orang tua terhadap anaknya.

"Apa yang harus aku lakukan, apakah aku harus kabur dari rumah?"

(Batin Nafis berontak, namun tidak berani untuk mengungkapkan kepada orang tuanya)

"Kring, kring, kring..." (Terdengar suara bunyi hp Nafisah)

Nafisah tak kuasa mengangkat telepon dari seseorang yang dia harapkan, yaitu Fery. Hp berdering terus menerus dan panggilan tak terjawab 7 kali.

Hubungan Nafisah dan Fery sudah mencapai 3 tahunan, tepatnya ketika Fery berangkat ke luar negeri dan sampai sekarang.

"Nak, ayo makan malam dulu" (Ajakan ibu Nafis mengetuk pintu kamar)

"Tidak Ma, Nafis tidak lapar" (Sahutan Nafis dari dalam kamar)

"Beneran Nak?" (Pertanyaan seorang ibu yang menghawatirkan kesehatan anaknya)

"Iya Ma" (Jawaban Nafis yang sesingkat mungkin)

Makan malam hanya berdua saja tanpa Nafisah, perbincangan antara ayah dan ibunya membahas tentang pernikahan Nafisah dan seorang pilihan mereka akan disegerakan.

"Bagaimana untuk bulan pernikahan putri kita Yah?
(Ibu Nafisah mempertanyakan hal ini)

"Secepatnya, soalnya seminggu lagi laki-laki itu telah datang kesini." (Jawaban ayah Nafisah)

Seminggu berjalan, Nafisah tidak pernah mengangkat telepon dari Fery. Dia tidak kuasa bercerita dengannya tentang masalah perjodohan antara dirinya dan laki-laki pilihan orang tuanya.

"Nak, kamu dandan yang cantik. Sebentar lagi calonmu datang ke rumah."(Perintah ibu Nafisah)

Nafisah hanya bisa terdiam dan tersenyum sedih, melihat ibundanya mengatakan hal seperti itu.

Nafisah pasrah dengan dirinya, dia bersedih hati atas apa yang menimpa cerita cintanya yang telah terjalin sejak lama dengan Fery.

"Maafkan aku Fer, bukannya aku tak mengabarimu tentang hal ini. Namun hanya saja, aku tak kuat jika aku bercerita kenyataan yang tertimpa  padaku saat ini." (Batinnya mengungkap dengan penuh bentrokkan)

Tibalah rombongan dari calon yang dijodohkan, tetapi seorang laki-laki belum juga terlihat di mobil itu. Ternyata dia berada di mobil yang lain.

Sedangkan Nafisah di dalam, menahan sedih terhadap keadaan yang memaksanya.

"Assalamualaikum..." (Suara laki-laki yang hendak melamar Nafisah)

Nafisah tak asing dengan suaranya, dia sangat kenal betul dengan suara ini. Sampai Nafisah kaget, namun Nafisah tetap saja tak mau melihat laki-laki itu.

"Waalaikumsalam" (Jawab orang-orang di rumah Nafisah)

Mulailah rangkaian acara tunangan tersebut, sampai akhirnya Nafisah memberanikan diri untuk melihat calonnya.

Nafisah terkejut ternyata...

"Fery..." (Nafisah menyebutnya dengan nada tinggi)

"Iya" (Sahutan Fery dengan halus dan penuh senyuman)

"Kamu ternyata? Kamu jahat Fer, kenapa kamu tidak mengatakan sejujurnya. Kenapa kamu seperti ini? Kenapa Fer? Sedangkan tadi nama yang disebutkan adalah Fezza Rizky Anan, bukan Fery Anan.

(Nafisah mulai marah, namun moodnya berubah menjadi kebahagiaan serta kebingungan)

"Hahahaha... Namaku adalah Fezza Rizky Anan, Fery Anan hanyalah singkatan dari nama itu. Aku mencoba mengabarimu, namun selalu saja tak pernah kamu angkat.

Terus mau bagaimana lagi? Ayahku dan ayahmu telah memikirkan perjodohan kita, tanpa sepengetahuan kita."(Penjelasan Fery)

Nafisah diam tersipu malu dihadapan kedua orang tuanya, dan calon mertuanya. Perasaannya berubah seketika.

Ungkapan Fery dalam sebuah kata puisi kepada Nafisah

"Tenangkan hatimu, pikiranmu, dan perasaanmu.

Jika cinta suci tak akan berganti,

Dan perasaan tak tertiup oleh kencangnya angin abadi.

Akan tertulis sebuah kisah hati

Senandung angin silir tak berganti."