Mengapa kita perlu membaca? 

Pikiran kita sebenarnya setiap hari bekerja seperti server yang bergerak tak beraturan dan kita perlu mengendalikannya dengan memberinya jalan untuk fokus, salah satunya dengan membaca.

Secara tidak kita sadari  pikiran kita sebenarnya seperti berselancar di internet saat kita tak beraktivitas apa apa. Itulah mengapa, dalam tidur kita, seperti hadir dalam berbagai cerita yang kita bangun sendiri tanpa sadar. Itulah mimpi, yang skenarionya kita tulis dalam berbagai lamunan singkat saat kita sadar. 

Dengan kisah yang terputus putus saat kita melamun dalam keadaan sadar karena begitu cepatnya kita berpindah pindah tema(dalam hitungan sepersekian detik) maka cerita yang terputus itu berlanjut menjadi mimpi. 

Nah saat membaca itulah saat kita mengekang rapid fire ide di benak kita. itulah sebabnya kita dilarang terlallu banyak diam atau bengong. Keadaan ini membuat kita terlalu banyak berkhayal tanpa kegiatan yang positif. Sepertinya ini pernah dibahas Sigmun Freud, yaitu kondisi  tentang alam bawah sadar ini.

Otak kita bekerja lebih sering menggunakan alam bawah sadar ( ketidaksadaran) sehingga seringkali informasi yang masuk tidak terekam sempurna karena tidak ada yang dianggap penting bagi kesadaran kita. Nah membaca adalah sebuah kegiatan yang secara sadar kita jalani sehingga apa yang kita masukkan sebagai informasi ke otak kita banyak tertangkap meski itu masih perlu diolah lagi dan dikonfirmasikan lagi.

Nah kembali ke aktivitas membaca tadi, ini bermanfaat untuk kita bisa memfokuskan keliaran otak kita itu agar menjadi ide riil tak hanya jadi nuansa rasa yang terlepas begitu saja. Akan lebih baik jika saat membaca kita tak harus langsung setuju dengan yang kita baca. 

Kita bisa protes atau meragukannya sebelum  memverifikasinya dengan bacaan lain atau sudah  bisa dibuktikan kebenarannya  dengan jalan mempraktekkan kebermanfaatan ide si penulis yang sedang  dikunyah informasinya itu (membaca kritis). 

Membaca bagai rel yang mesti dijalani oleh pikiran kita agar selalu dalam tracknya. Setiapa kata yang kita baca membuat daya pikir kita mengolah apa yang sedang kita hadapi. Tak ada lagi kesempatan bagi pikiran kita untuk lepas kendali.

Membaca Itu Senam Otak

Saat kita terlarut dalam bacaan kita seperti masuk dalam dunia antaberantah. Kita melibatkan diri secara sadar dengan apa yang ada dalam bacaan. Kita berinteraksi  dan berdiskusi tanpa menyadari ruang dan waktu riil kita.

Kita meninggalkan alam kenyataan sebegitu rupa hingga tanpa terasa waktu seolah berhenti dan berjalan begitu cepat. Saking terlenanya dengan bacaan kita sering dianggap oleh orang lain di sekitar kita "lupa waktu".

Kita menjadi tokoh yang terlibat dalam bacaan. Seolah-olah ada dunia lain yang kita masuki saat kita sedang dalam puncak trance ketika membaca. Bahkan terkadang, kita pun lupa bahwa kita sedang memegang buku saat itu, karena terlalu fokusnya dalam membaca.

Konsentrasi yang terjadi dalam membaca inilah yang membuat otak menjadi sehat dan kuat. Otak yang dibiasakan terstruktur sangat jauh dari ancaman kepikunan.

Seperti dilansir Pshycology Today, penelitian teribaru mendukung gagasan bahwa dapat memengaruhi proses pemikiran manusia. Hal ini merupakan bentuk latihan otak yang sangat kuat. Membaca bisa seperti senam mental bagi otak.

Itulah mengapa orang yang menghafal Alquran seringkali hingga tua kita dapati masih bisa mengingat banyak hal tanpa mengalami gejala kepikunan. Ternyata, di luar berkah yang ada, itu dikarenakan otak mereka sudah terbiasa konsentrasi dan fokus saat membaca.

Dari sini bisa kita terapkan dalam semua jenis  bacaan tak terkecuali kitab suci. Aktivitas membaca memang menjadi sarana "senam" bagi otak kita agar tetap lentur dan kokoh sebagaiman fisik yang sering dilatih tiap hari.

Masihkah kita melewatkan sarana murah meriah yang mencegah kita dari kepikunan dan kealpaan permanen kita di saat tua tersebut. Jangan lagi kita hanya memanjang-manjangkan khayal yang tak produktif. 

Melamun selalu membuat otak tergelincir karena dikhawatirkan ada bisikan-bisikan negatif yang malah membuat kita depresi karena kenyataan tidak sesuai dengan apa yang ada dilamunan.

Bukankah setiap tindakan negatif kebanyakan selalu dimulai dari "Bengong" yang tak tentu arah. Bahkan orang yang stress pun dianjurkan untuk tidak sering melamun agar tidak melakukan tindakan destruktif bagi diriya maupun lingkungannya.   

Dengan hanya dipakai melamun otak kita sering ngelantur tak terstruktur karena seringkali ide dalam lamunan itu  meloncat loncat dari satu tema ke tema lainnya. 

Akan tetapi, jangan risaua karena ada jurus untuk menyiasati ide kita yang meloncat loncat ini, yaitu  dengan membaca karena  otak yang sedang membaca  akan fokus mengolah informasi dari rangkaian huruf huruf atau tulisan yang kita baca. Tunggu apa lagi, ayo membaca!