Learner
11 bulan lalu · 42 view · 2 menit baca · Cerpen 60273_37372.jpg
Peta.org

Semut

Hujan. Seperti biasa, sebatang Mild dan kopi jadi kawan setia meresapi aroma dan memandang tetesan air. Sembari duduk-duduk.

Kebulan asap membaur dengan oksigen, memberi efek kabut pegunungan. Kalau dipikir-pikir, menjadi seperti asap dan udara itu enak juga ya, ringan. Mereka tidak terbebani oleh tanggung jawab kehidupan.

Di hadapan, kendaraan berlalu lalang saja. Persis, seperti orang-orang dalam kehidupan. Ada yang sekadar lewat, mampir, menyapa, sedikit berbincang, kemudian menghilang. Sesudahnya, kita semua kembali pada kesunyian masing-masing. Sepi.

Nuansa hujan itu selalu nikmat. Pelan-pelan, aromanya meregangkan sel otak yang penuh sesak dengan konsep dan memori. Lalu, lidah mengecap sisa-sisa zat kafein. Sambil dibarengi hisapan sebatang Mild. Fuuuh…Berharap beban-beban hidup juga terbang bersamanya.

Disela-sela guyuran hujan, kuselipkan pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan. Yang mungkin, tak mesti semua harus terjawab saat ini juga. Biarkan ia mengalir bersama air, menemukan jawabannya sendiri.

Mengapa kita hidup? Ah, sudah bosan dengan pertanyaan ini.

Mengapa semakin dewasa, beban-beban tanggung jawab itu makin terlihat jelas?. Untuk apa keberadaan tanggung jawab itu?. Bagaimana caranya memikul tanggung jawab?. Apakah ini artinya menjadi manusia? Yaitu, memikul sebuah tanggung jawab?. Tapi, apakah hanya sebatas itu?. Dan masih banyak lagi pertanyaan lainnya. Ah, entahlah. Namun, yang jelas, pertanyaan-pertanyaan ini lebih esensial daripada persoalan yang berada di dunia akademika.

Ketika menunduk ke bawah, tiba-tiba ada suara yang memanggil.

“Hei!”

Lalu, kualihkan pandangan ke sekitar untuk melihat sumber suara. Tapi, di sini hanya ada aku dan pedagang kopi. Ia sejak tadi asik bermain dengan smartphone-nya. Lalu siapa yang memanggil? Ah mungkin gw halu. Abaikan saja, seruput kopi lagi.

“Hei, di sini, lihat ke sini, aku ada di bawah”

“Oh! Kamu semut!”, aku mendaratkan pandangan ke sumber suara itu, di tanah.

“Ngapain kamu di situ, Mut?”

“Lah, ini tempatku, rumahku. Justru kamu yang ngapain di situ?”

“Kamu emang ga liat? Aku lagi nikmatin hujan sambil nyebat dan ngopi… ”

“Iya aku tau, tapi kelihatannya kamu sedang gusar…”

“Tak seberapa hehehe”

“Aku kebetulan ingin jalan-jalan saja keluar dari rumah, bosan di bawah tanah terus… ”

“Oh gitu ya Mut, sama dong kita sama sama makhluk yang sedang jenuh. Ngomong-ngomong, di mana temanmu?”

“Mereka sedang asik di bawah menjaga sarang dan makanannya, kalau-kalau air hujan merembes masuk… ”

“Kalian itu kompak ya!. Asal kamu tahu Mut, kekompakan kalian sangat diakui di dunia manusia. Bahkan, kalian tidak suka perang dan membunuh sesama…”

“Yahh, itu hanya kelihatannya saja dari luar. Sebenarnya, kami pun juga memiliki kompleksitas masalah tersendiri…”

“Sepertinya, semua yang hidup pasti akan punya masalah ya Mut! Haha”

“Bagaimana tidak, walaupun makhluk kecil, kami juga memiliki siklus kehidupan. Kami butuh makan, juga seks…”

“Aku ga pernah dengar kalau ada Semut jomblo. Haha. Yaaah… Kalo dipikir-pikir kita ini punya kesamaan ya Mut.”

“Salah satu bentuk kesombongan manusia adalah merasa memiliki masalah hidup paling kompleks. Padahal, semut juga punya kompleksitas kehidupannya sendiri”, ujar si Semut.

“Terkadang aneh memang, manusia punya akal dan kesadaran tapi di saat yang sama manusia adalah makhluk yang paling sombong…”

“Sudah-sudah, tak perlu dipikirkan. Kita memiliki kemampuan dan keterbatasan masing-masing. Kadang, merasa kecil itu enak, tapi setiap hal di dunia ini selalu memiliki banyak sisi… ”

“Kamu itu Semut yang dewasa ya… Hahaha”

“Hahaha kamu berlebihan. Lagipula, kata-kataku ini bukan asli berasal dariku… ”

“Lantas, dari mana asalnya semua ucapanmu itu?”

“Jika kamu sedikit cerdas, sebenarnya ini semua adalah rekayasa. Perbincangan kitapun hanyalah rekayasa. Akupun hanya fana… ” ujar si semut.

“Kalau kamu fana, maka Aku ini siapa?. Lebih dari itu, siapa yang menciptakan rekayasa ini, dan mengapa?", kata si Aku.