Adegan-adegan kecil namun intim apa yang melekat dalam hidupmu? Yang bahkan tak kau sadari bahwa hal-hal kecil itu ternyata penting.

Menikmati sore sembari ngopi? Mencabut uban pasangan? Memasak telur dadar bersama? Semuanya mungkin terasa biasa saja, layaknya rutinitas yang kau lakukan sehari-hari.

Tapi saat semua berlalu, ada yang kosong. Hampa.

Kau masih bisa ngopi menghabiskan senja, tapi tentu tak ada lagi yang menemani berbincang. Kau masih bisa mencabut ubanmu sendiri, tapi mungkin sedikit sulit. Tentu juga kau masih bisa membuat telur dadar, tapi apakah sama rasanya?

Semua yang berawal pasti akan berakhir. Pegang itu kuat-kuat dalam kepalamu. Agar saat semuanya berlalu, berakhir, dan semua yang dulu asing kembali menjadi (lebih) asing kau akan selalu siap. Kau akan tetap paham. Tak ada yang abadi.

Bahkan kopi yang kau seduh saja akan berangsur dingin 'kan?


Jealous

Kau tahu rasanya cemburu, 'Dik?

Sama sekali tidak enak. Semuanya menjadi serbasalah. Apalagi bila dalam posisi sedang berjauhan seperti kita sekarang ini.

Iya, aku sedang cemburu.

Aku cemburu padanya karena aku tahu kau mencintainya sejak dulu. Bila dia datang kau selalu menyambutnya penuh sukacita. Sentuhannya padamu jauh melebihi dari apa yang pernah aku lakukan. Belaiannya jauh lebih dekat daripada bayanganmu sendiri.

Rasanya tidak enak, 'Dik.

Aku cemburu pada setiap malam yang kau lalui tanpa aku. Aku berpikir keras apa yang kiranya sedang kau lakukan. Dengan siapa kau berbagi sesap kopimu, dengan siapa kau berbagi kata rindu.

Sungguh rasanya tidak enak, 'Dik.

Aku cemburu pada apa yang dulunya kita sebut cinta. Yang dulunya biasa kita lakukan bersama. Yang lalu menghilang perlahan-lahan dari kehidupan kita. Doa - doa kecil sebelum tidur yang biasa kita rapalkan bersama sekarang menjadi tiada arti.

Kau harus tahu bahwa ini benar-benar tidak enak, 'Dik.

Mau tahu yang lebih tidak enak, 'Dik?

Bahwa diatas semua itu ternyata aku masih mendoakan kebaikan untukmu. Bahwa aku masih ingin melihatmu kembali padaku. Bahwa akhirnya kau mengakui menyesal telah meninggalkanku. Bahwa aku percaya kita akan mengucap doa bersama lagi.

Walaupun aku bena-benar cemburu melihatmu bahagia tanpaku, 'Dik.

(Dari lagu "Jealous" ~ Labrinth)


Alibi

"Tuhan memberi kita waktu lebih untuk saling merindukan"
Itulah alibi kita yang paling sempurna.

Rindu selalu berharap temu.
Walau kita menyadari rindu kita tidak akan pernah ada ujungnya.
Kita seperti anak kecil yang sedang bermain petak umpet. Bedanya teman main kita adalah waktu.
Terus menerus mengulur waktu, menghibur diri masing-masing dengan sebuah kata "temu".

Kita sering bertukar cerita, kau duduk santai dengan segelas susu hangat kesukaanmu, aku dengan kopi sachet favoritku.
Berbicara tentang apa saja. Menyenangkan.
Sampai saatnya kita sadar, salah satu dari kita berada ditempat yang salah.
Kau di ruang kerjamu, dan aku di teras rumahku.

Begitu, begitu, dan begitu lagi.
Entah kapan kita bisa sampai di satu alibi yang baru yaitu "Tak akan ada temu".

Ya, sayang.
Rindu bisa sekejam itu.


Falling in Love With People We Can't Have

Kamu gak pernah bisa minum kopi, lambungmu gak kuat. Jadi selalu milih teh hangat. Sedangkan aku merasa superior gak bisa hidup tanpa kopi.

Yo ra mathuk, toh?

Kamu sukanya telur setengah mateng, lha aku maunya telur yang mateng paripurna tanpa cela.

Kamu doyan susu jahe atau es-te-em-je sedangkan aku nyium aroma jahe aja udah mabok. Gimana bisa bikinin wedhang buat kamu nantinya? Huffftt.

Terus, kamu suka olahraga, jogging, nge-gym, sepeda, sampai main bola. Aku? jalan kaki agak jauh dikit aja aku wegah.

Terus apa yang sama dari kita, Mas?
Selain sama-sama suka nonton dan bergigi gingsul?
Sama-sama jatuh sayang mungkin. Jatuh cinta.

Eh, ada lagi.

Kita berdua juga sama-sama tahu dan paham bahwa sampai kapanpun juga kita gak bakalan bisa hidup bersama. Aku sudah ada yang punya. Kamu sebentar lagi menikah.

Selain itu, ternyata kita sama-sama bodoh ya.