Proyek terbesar dan hak tertinggi agenda kemanusiaan hari ini adalah mencari kebahagiaan. Sepanjang sejarah,—banyak pemikir, filsuf dan nabi yang telah menafsirkan kebahagiaan adalah “kehidupan eksistensi setelah mati.” Namun bagi seorang Filsuf Epicurus adalah soal lain. Dia mendefinisikan bahwa kebahagiaan itu hanya terletak pada kehidupan tunggal.

Yang Menurutnya, tidak ada keberadaan dan kehidupan setelah mati, yang ada justru evolusi. Yaitu perubahan komponen materi,—alam, fisik dan bak tubuhnya manusia menjadi komposisi tanah.

Sebaliknya sains modern, filsuf dan para pemikir memandangnya sebagai kebaharuan, rekayasa buatan dan proyek kolektif manusia. Yang memang di buat khusus untuk merancang dan melampaui batas kenormalan manusia.

kemungkinan bagi Anda, akan melihat, dunia ini tanpa research dan peran sains,—segala agenda besar manusia akan gagal.

***

Anda tentunya akan menderita, dan turut berbelasungkawa, dan merasa sakit jika melihat situasi pengetahuan, kesehatan dan kondisi ekonomi manusia telah musnah hari ini. Dan belum memenuhi standar dan puncak kebahagiaan global.

Misalkan, jika Anda melihat sistem kesehatan di akhir-akhir abad ke-19 seperti Jerman, Jepang Dan Perancis. Maka Anda akan melihat, seluruh pendanaan, akses kesehatan, pengetahuan dan kondisi ekonomi mereka pada saat itu akan terpenuhi. 

Seperti penyediaan asupan makanan, suplai vaksinasi bayi-bayi, sistem dan pembuangan limbah kotoran yang tersentralisasi. Serta juga penyediaan pendidikan khusus bagi remaja.

Tujuan mereka adalah bukan seperti yang Anda maksud,—ingin memerdekakan masyarakat dan keadaan manusia global. Melainkan ingin menjadikan negara lebih bahagia, lebih kuat dan lebih sejahtera.

Hari ini dan di masa depan, negara membutuhkan anak, remaja, pemuda-pemuda dan masyarakat-masyarakat yang sehat, pendidikan-pendidikan yang luas, dan pengetahuan-pengetahuan yang dalam. Supaya negara-negara dan keadaan global saat ini bisa menjadikan negara lebih sejahtera dan bahagia.

Ketika para pendiri Amerika Serikat mendeklarasikan hak dan kemerdekaan tertinggi adalah mencari kebahagiaan, selain hak kebebasan dan hak untuk hidup, maka secara tempramen, Thomas Jefferson tidak menjadikan warganya berhak bahagia atas kehidupan masing-masing. 

Jika saya pikir,— lebih bahagia menikahi Endriani tinggal di San Francisco daripada menikahi Irma tinggal di Salt Lake City, dan bekerja sebagai Penulis ketimbang menjadi Petani. Maka saya bebas memilih di antara salah satunya.

Untuk itu, semua orang berhak untuk bahagia, tetapi tak seorang pun bisa hidup bahagia. Kenapa? 

Karena negara tidak boleh campur tangan atas kebebasan dan kehendak manusia untuk hidup bahagia. Sekalipun Anda dan saya mengambil keputusan yang keliru.

Tetapi,  dalam beberapa dekade terakhir keadaan kita telah berubah. Visi kita di intai, dan agenda kita di perhatikan. Negara mengakui dan mempercayai secara jelas bahwa sistem dan kekuatan yang terbesar kita miliki adalah sistem yang tersentralisasi ke dalam tubuh negara. 

Anda hidup di negara ini, bukan Anda yang melayani negara, melainkan negaralah yang harus melayani Anda. Hak untuk hidup dan hak untuk bahagia adalah negara menjamin kebebasan kita untuk memilih dan menentukan hak kita masing-masing. 

Bukan, seperti Epicurus yang mendefinisikan  kebahagiaan adalah kehidupan tunggal dan kebaikan tertinggi. Anda mungkin sedikit percaya, bahwa prestasi, uang, kesenangan dan ketenaran itu akan membuat Anda menderita. Epicurus mengajarkan tentang hal itu. Dalam kehidupan selanjutnya, kemewahan bisa membuat Anda lebih puas, ketimbang pesta gila-gilaan.

Epicurus, tampaknya menghasilkan sesuatu itu, menjadi bahagia,— tidaklah mudah. Terlepas dari preseden dan prestasi-prestasi yang Anda dan kita capai beberapa tahun akhir-akhir ini, masih sangat jauh relevan dan kejelasan dari sebelumnya. Keamanan, kemakmuran, dan tingkat kenyamanan tak sebanding dari kebahagiaan itu. 

Di Ghana, Haiti, Filipina, dan Peru, —yang di anggap sebagai negara berkembang itu jauh lebih menderita dan mencengangkan akibat dari instabilitas politik dan kemiskinan. Angka 100.000 orang, tidak lebih kurang dari jumlah mereka,—yang  mengakhiri hidupnya setiap tahun. Di akibatkan oleh “pembunuhan diri”. 

Anda mungkin akan bayangkan lagi di negara-negara kaya, seperti Amerika, Perancis, Jepang, Swiss, dan Selandia Baru. Lebih dari 10 per 100.000 orang dari mereka membunuh hidupnya dari setiap tahun.

Berikutnya, Anda tidak bisa merebut lagi bahwa segala penderitaan dari mereka, hanya dalam beberapa saat kebahagiaan itu di gantikan oleh kesengsaraan dan penderitaan yang rumit.

Memang kebahagiaan dan penderitaan ini tidak seberapa besar yang di alami oleh Korea Selatan. Tetapi karena negara yang di anggap relatif miskin, berkat di tempuh dan di ikat oleh perintah dan rezim yang otoriter. Kini negara itu menjadi negara terdidik dan terkemuka di dunia. 

Tetapi pada 1985, sekitar 9 dari 100.000 orang mati. Karena di akibatkan oleh “Bunuh diri”. Hal yang sama juga terjadi! Yaitu sekitar angka 16 per 100.000 orang meninggal. 

Tentu saja, sekalipun Anda adalah anak dari Margaret Thatcher, dan Ratu dari Elisabeth. Namun tidak menutup kemungkinan hak kebahagiaan, dan kebebasan Anda kemudian nantinya akan di gantikan oleh kesengsaraan dan penderitaan.

Anda boleh lihat, ketika paruh abad ke-20 di saat jaman keemasan bagi Amerika Serikat. Bahwa kemenangan yang di raih pada perang dunia kedua dan diikuti perang dingin.

Itu mencetak dan menemukan bahwa Amerika Serikat menjadi negara adikuasa dan global terkemuka di dunia. Antara tahun 1990 dan 2000,— GDP Amerika Serikat mendadak naik. Dari $2 triliun menjadi $12 triliun. Sekitar $10 triliun pendapatan per kapita Amerika Serikat berlipat ganda. 

Betapa tidak, hak kebebasan dan kebahagiaan dari penderitaan yang Anda dan Amerika Serikat alami itu adalah jaminan bagi kesejahteraan dan kemerdekaan negara.

Satu hal yang demikian menguak pada mereka, yaitu sensasi kebahagiaan yang di buat dalam tubuhnya,—itu sangat menyenangkan.

Bayangkan bahwa "Anda Mike Tyson" kemudian di serang oleh tim lawanya dari Inggris pada final kejuaraan dunia; 15 menit berlalu, tanpa satu poin tercipta. Hanya 10 menit tersisa, sebelum adu ronde terakhir yang mencengangkan. Sekitar 85.000 penggemar di stadion Hard Rock di Miami, Florida, Amerika Serikat. Dengan tak terhitung triliunan orang lainya menyaksikan  di dunia.

Anda hanya beberapa meter dari kubu perlawanan. Ketika lawanya Mike Tyson jatuh ke arah Anda. Kemudian The Baddest Man on The Planet naik di atas ring; mengangkat kedua tangannya, mantaaaaaap!

Satu stadion meletus, dan seluruh jutaan triliunan manusia meleleh, seperti gunung Tambora mengeluarkan api dan abu fulkanik yang meluap. Ribuan orang-orang lainya berteriak, teman-teman dan rekan-rekan tim Anda bergegas dan sembari memeluk Anda.

Sementara keluarga Anda di Indonesia dan di Malaysia mengalami ektase, air mata mendidih dan gelombang energi meledak. Seakan-seakan seluruh tubuh Anda terasa merambat dingin, naik dan turun di tulang belakang. Ini,—terasa betul bahwa suasana kebahagiaan itu tidak terbendung oleh siapapun. Sekalipun negara dan manusia lain tidak bisa membatasinya.