2 tahun lalu · 2799 view · 3 min baca menit baca · Politik hqdefault_1_3.jpg
Foto: YouTube

Semua Karena Ahok

Saya teringat jawaban Ahok saat ditanya Najwa dalam program Mata Najwa pada tanggal 18 Juni lalu: “Jika tak terpilih jadi Gubernur, Pak Ahok mau apa?” Ahok menjawab, “Stand up comedy-lah di MetroTV. Saya ‘kan lucu.”

Jawaban Ahok mengena sekali melihat negeri ini yang kian lucu dan cenderung ngeri. Ketika negeri ini mulai berbenah, mulai bangun dari keterpurukan moral, mulai menapaki dan percaya bahwa kejujuran menyelamatkan, kini harus bersinggungan dengan banyak korban yang akhirnya dipaksa tumbang.

Kasus penistaan agama yang akhirnya menyeret Ahok sebagai tersangka adalah kelucuan negeri yang katanya berbhinneka ini. Agama tidak perlu dibela, tuan-tuan yang terhormat.

Agama dekat dengan kedamaian, dekat dengan Tuhan sebagai penciptanya, tidak mungkin agama yang demikian mulia merasa tersinggung hanya karena ucapan Ahok yang ibarat pion. Arahkan semangat pembelaanmu pada kasus kemanusiaan yang terus mengusik nurani di negeri ini.

Intan, seorang anak yang dalam senyumnya dipaksa ikhlas untuk memaafkan pelaku pengeboman Gereja di Samarinda. Mengapa tidak datang mencerahkan otak pelaku pengeboman ini bersama gerombolan yang mengaku kaum pembela agama? Di tempat ini seharusnya semangat lebih dikobarkan, lebih difungsikan.

Ketika saya menyaksikan pemutaran film dokumenter Kementerian Pendidikan yang diluncurkan 11 November lalu, film berkisah tentang perjuangan Soekarno ini berhasil membuat saya menangis. Apa yang dilakukannya seperti sia-sia, jika melihat Indonesia yang rentan pecah ini.

Pengasingan selama bertahun-tahun hidup Soekarno dan akhirnya berlabuh juga di Ende, dalam kondisi terserang Malaria, ia merumuskan kalimat Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai salah satu dasar negara ini.

Soekarno dalam pengasingannya dibantu pendeta di Ende dan belajar banyak dari bacaan-bacaan yang diberikan Pendeta tersebut. Bacaan tersebut membuka pemikirannya tentang masa depan Indonesia. Beliau memeluk hangat para pendeta dan meminta restu untuk memerdekakan Indonesia.

Dari tempatnya terbaring lemah, ia melihat bangunan dua agama berdiri kokoh dan memancarkan kedamaian pada dirinya. Di tempat inilah, toleransi yang demikian hebat menjadi inspirasi Soekarno menuliskan kalimat ajaib “Ketuhanan Yang Maha Esa“ sebagai dasar negara.

Melihat negeri ini kini, adakah harapan Soekarno ikut terkubur di sisinya? Memeluknya hangat dan menangisi perpecahan yang sama sekali tak diinginkannya?

Semua karena Ahok. Siaran televisi, media cetak, bahkan paling riuh di media sosial selalu menyebut Ahok. Ah, okay. Ada juga yang memelesetkan ganyang Cina. Melihat mata Ahok yang seolah tegar, dia membatin, “Apakah agamaku tidak membelaku saat aku dinistakan begini?”

Ahok tidak membawa rombongan, ia menjalani sendiri seperti apa yang akan terjadi padanya. Sebutan tersangka, kafir, Cina busuk, ganyang Ahok, menempatkannya sebagai manusia tertuduh dan paling hina, mungkin.

Ahok beragama, namun agamanya tidak ikut sibuk mengurusi masalah pembelaan. Sebab, Ahok telah dan sangat tahu ia berperang bukan atas atau untuk agama, melainkan amanat untuk menyelamatkan negeri ini dari para bedebah yang sukar menerima pembenahan. Lalu, banyak orang merasa Ahok harus mundur dari pencalonan karena sudah menjadi tersangka yang konotasinya selalu buruk, dalam kasus apa pun.

Semua opini yang mendukung kejahatan Ahok diumbar tanpa ampun. Menyerang Ahok, mentalnya, hingga menyerang keberaniannya. Namun Ahok masih berdiri tegak di tempat seharusnya. Sebab, ia tahu ada jutaan orang yang masih percaya padanya, masih percaya bahwa bangsa yang besar yang bernama Indonesia ini akan berbenah menuju kebangkitan. Ahok tetap melawan, namun bukan melawan agama.

Ahok tidak akan pernah selamat. Jika ia bebas nanti, jutaan masyarakat yang mendukungnya ini akan menagih bukti untuk membuat Jakarta maupun Indonesia lebih baik. Dan ini sangat susah jika Ahok hanya sendiri. Jika ia terpaksa di penjara, pemikiran Ahok tidak akan pernah lepas dari program-program yang telah dirancangnya. Hidup Ahok seakan di ujung tanduk. Ia melawan dan tidak akan pernah berhenti melawan.

Keluar masuk penjara mungkin harus dilakukan Ahok. Sebab, pemimpin hebat terdahulu juga lahir dari jeruji penjara. Soekarno, salah satunya hingga penjara akhirnya bosan mengurung pemikirannya yang selalu liar.

Jika memang penjara nanti begitu dingin, ingatlah bahwa Ahok tidak dipenjara karena kasus korupsi, melainkan dipaksa beristirahat untuk menghimpun kekuatan yang maha agung. Penjara atau cacian memang menyakitkan, namun mereka mengajarkan kebesaran hati. Pemimpin yang hebat tidak dilahirkan dengan mudah. Ia harus melawan yang menjadi racun dalam tubuhnya sendiri.

Semua karena Ahok. Ahok yang dicaci juga dicinta banyak orang. Jika Jakarta tak memberimu kedamaian, cobalah singgah ke Bali. Banyak yang menantimu sesuai dengan kerja tulusmu.

Artikel Terkait