Lecturer
4 minggu lalu · 2535 view · 4 min baca menit baca · Agama 33779_81787.jpg
Youtube.com/saya-mualaf-bila

Semoga Deddy Corbuzier Tak Jadi Ustaz

Deddy Corbuzier sudah mantap berpindah agama. Ia tinggalkan agama lamanya setelah kecantol agama baru yang –di negeri ini— lebih banyak jumlah pengikutnya; Islam. 

Bagi sebagian orang, ini adalah berita baik, sebuah kabar yang menggetarkan hati, tentang seorang sosok ternama yang mendapat hidayah hingga akhirnya mantap berpindah agama.

Namun bagi sebagian yang lain, kabar ini levelnya biasa saja, atau malah justru mengkhawatirkan. Pindah agama bukanlah peristiwa besar. Ada banyak orang yang melakukannnya. Namun saat peristiwa ini terjadi pada salah seorang selebritas ternama, tentu akan lain cerita. Semacam ngeri-ngeri sedap.

Ini bukan tanpa alasan. Sebab, meski status muslimnya baru ‘diresmikan’ pada 21 Juni 2019, kabar soal rencana ‘pindah gerbong’ om Deddy sudah didengungkan sejak jauh-jauh hari. Bahkan konon, peristiwa ganti agamanya akan ditayangkan secara live di TV.

Seolah ini adalah peristiwa penting yang perlu diketahui seluruh tumpah darah negeri ini. Meski kita sama-sama tahu, kabar pindah agama ini tak akan berpengaruh terhadap harga cabai dan bawang merah di pasar dekat rumah.

Namun ya jangan heran, siaran langsung di TV-TV kita memang makin tidak bermutu. Salah satu cirinya, hampir semua hal wajar yang dilakukan selebritas selalu diberitakan secara berlebihan. 


Kita tentu masih ingat dengan rentetan peristiwa berikut; selebritas menikah, disiarkan secara langsung. Selebritas akan melahirkan, disiarkan hingga seharian. Selebritas menggerebek istri yang sedang selingkuh, disiarkan secara besar-besaran di TV nasional. Sekarang, selebritas akan pindah agama, disiarkan secara langsung pula.

“Ya, daripada nonton sidang MK, kan? Mending nonton orang pindah agama!”

Mungkin begitu pikir sebagian dari kita. Saya pun sempat tebersit pikiran serupa. Menonton sidang MK benar-benar tak sesuai harapan. Lebih banyak adegan ala Srimulat dan ceramah ala khotbah Jumat.

Namun begitu, menyaksikan siaran langsung Deddy masuk Islam juga tak berguna. Selain karena pindah agama ini sifatnya sangat personal –jadi tak perlu dipertontonkan--, siaran langsung yang seperti ini berpotensi menyinggung perasaan umat Muslim. Kok bisa? Ya bisa!

Orang Islam tiap hari membaca syahadat dan tak sekalipun masuk TV karenanya. Lha ini, baru akan membaca syahadat sekali saja sudah siaran langsung. Duh, remuk atiku, gusti!

Untungnya, rencana siaran langsung proses pindah agama ini batal lantaran dilarang oleh Komisi Penyiaran Indoneisa (KPI). Meski kita tentu tak boleh senang dulu, sebentar lagi si Deddy pasti akan diundang ke Hitam Putih. Masuk TV juga, kan?!

Jadi gini, saya turut berbahagia belaka untuk Deddy yang kini sudah menjadi Muslim. Saya berharap dengan agama barunya, ia menjadi lebih berbahagia dan menjadi berkah untuk sesamanya. Namun saya juga memiliki kekhawatiran. Terutama dengan berkaca pada kecendurungan perilaku latah sebagian Muslim Newbie di negeri ini.

Belajar agama belum sampai setengah, tapi sudah jadi orang yang paling berisik menjajakan hijrah dan khilafah. Baru belajar agama sebulan, sudah berani mengkafir-kafirkan. Jadi Muslim baru saja, sudah berganti penampilan laiknya Ninja. Ini mengkhawatirkan.

Tentu ini tak sepenuhnya salah mereka (Muslim Newbie), kita juga yang turut menyumbang kesalahan; terlalu mudah percaya pada semua hal yang dibungkus agama. Terutama jika yang menyampaikan adalah orang-orang yang sudah kadung punya nama, meski kini sudah tak terkenal lagi.

Entah bagaimana mulanya, sebagian dari kita cenderung mengira apa pun yang disajikan dalam bungkus agama pasti benar adanya. Jika terus begini, maka jangan kaget jika agama menjadi makin terpinggir dari ajaran intinya. Alih-alih berfungsi untuk menenteramkan jiwa dan kehidupan, agama justru kerap digunakan sebagai ajang gagah-gagahan.


Belakangan ini, kita makin sering menyaksikan agama yang direcehkan sedemikian rupa justru oleh pengikutnya sendiri, yakni mereka yang merasa paling dekat dengan sang ilahi.

Atas nama agama, orang makin merasa bebas berlaku sesukanya. Mulai dari merendahkan orang lain, merusak fasilitas umum, hingga menghinakan diri sendiri dengan melakukan rentetan aksi menutup jalan untuk pamer Tuhan. 

Dikiranya Tuhan akan nesu dan uring-uringan kalau umatnya tak salat di Monas dan perempatan. Seolah tak akan sah ibadahnya kepada ilahi jika tak diliput wartawan TV.

Pada kondisi ini, tentu kabar Deddy Corbuzier yang mantap menjadi mualaf menyedot perhatian banyak orang, tak hanya wartawan. Maka Deddy harus hati-hati, jangan sampai salah pilih guru agama. Bisa bahaya.

Tak usah ikut-ikutan gaya senior mualafmu yang baru saja hijrah sudah langsung ngeyek agama lamanya dan ujung-ujungnya maksa minta dipanggil akhi biar bisa nikah dengan banyak ukhti.

Sebagai informasi saja, di agamamu yang baru ini, ada banyakulama su’ alias ulama jadi-jadian. Ngaku-ngaku jadi ulama, padahal tasrifan saja tak bisa. Yang lebih bikin geli, ada pula teman-teman seagamamu yang sibuk buka workshop untuk persiapan melakukan poligami. Seolah agama ini memang diturunkan hanya untuk ngurusi selangkangan.

Saya percaya Deddy Corbuzier tak akan tergoda untuk melakukan itu semua, terutama karena saya melihat ada orang-orang hebat di balik proses panjangnya belajar agama. Semoga di agamanya yang sekarang, Deddy Corbuzier tetap rendah hati dengan selalu menempatkan dirinya sebagai pembelajar. Tak keburu tampil menjadi ustaz dan lantas mudah menceramahi orang.

Nikmati dan rengkuh agamamu untukmu sendiri. Tak usah dipamer-pamerkan, apalagi dipaksakan ke orang lain. Sebab agama adalah urusan hati, kecuali situ mau nyalon jadi gubernur di DKI.

Sekarepmu nek kui…

Artikel Terkait