“Aku akan membawa singgasana itu kepadamu, sebelum mata mu berkedip.”

Demikian petikan satu ayat dalam Kalam Ilahiah yang bertutur tentang perjalanan religius seorang wanita yang sebelumnya menyembah matahari, atas anugerah jalan hidup yang diberikan padanya untuk bertemu seorang nabi, lalu sang wanita penguasa suatu negeri itu pun berubah menjadi sosok yang berserah diri.

Bahwa kejadian dimasa lalu, yang menjadi satu kisah dalam kemasan pesan Ilahiah yang tersurat, adalah ajakan bagi manusia untuk memaknai hikmah.

Bahwa pesan-pesan Ilahiah yang disampaikan kepada manusia-manusia pilihan-Nya dimasa lalu, melalui wahyu yang dibawa oleh malaikat yang mampu terbang melampaui kecepatan cahaya, adalah bekal ilmu yang telah tertakar, agar kelak manusia bakal mampu menelaah hingga mewujudkannya.

Beberapa penjabaran ilmu oleh manusia atas setiap Kalam Ilahi, membuktikan bahwasanya terdapat banyak sistem di dalam bumi, yang sejatinya sistem-sistem itu berjalan demi kebaikan manusia itu sendiri.



Energi yang belum berubah itu tetap bertualang di dalam Bumi...

Fenomena Siklus Jenius Energi dalam Bumi

Sistem peralihan energi misalnya, telah disadari oleh manusia bahwa energi bersifat kekal, hanya berubah wujud, di mana sirkulasi perputaran energi dari waktu ke waktu bakal menuai dampak bagi sistem itu sendiri, berupa munculnya ketidakberaturan sistem, yang dikenal sebagai Entropi.

Sebagai contoh, energi potensial hembusan angin, diubah menjadi energi kinetik untuk memutar motor turbin menghasilkan energi listrik, yang digunakan untuk menghidupkan gawai elektronik agar bisa memutar lagu-lagu.

Angin Menjadi Pilihan Alternatif Sumber Energi Terbarukan.

Suara sebuah lagu, lalu menyentil syaraf-syaraf gendang telinga si pendengar, yang jika cocok iramanya, bakal membuatnya bergoyang, juga berdendang. Energi suara itu pun berubah menjadi energi kinetik dalam wujud goyangan pinggul, juga hentak kaki si pendengar.

Namun, reaksi pendengar bisa berbeda, sesuai selera terhadap melodi lagu. Apabila tak cocok, maka energi suara pun lalu bisa berubah jadi gerak tutup telinga atau lari dari sumber suara lagu.

Bagaimana dengan sisa energi suara yang belum sempat berubah menjadi energi lain? 

Energi yang belum berubah itu tetap bertualang di dalam Bumi, hingga menemukan sasaran yang bisa diubah jadi energi baru. Jika belum menemukan sasaran baru, maka energi gabut itu bakal akan tetap melanglang ke seisi Bumi, hingga meningkatkan Entropi dalam Bumi.

Semakin banyak siklus perubahan energi, yang karena sengaja untuk memenuhi kebutuhan bagi manusia maupun ketidaksengajaan, bakal membuat Entropi dalam Bumi terus semakin meningkat.

Dalam tubuh makhluk hidup pun, dalam hal ini manusia, maka proses perubahan energi pun bahkan menyentuh hingga tingkatan seluler.

Berawal dari sekumpulan energi yang tersimpan dari setiap bahan olahan masakan, kemudian berpindah ke dalam tubuh penikmatnya melalui saluran cerna. 

Lalu, saripati masakan pun diserap melalui sistem pencernaan, yang mengubah energi masakan menjadi energi-energi dalam bentuk partikel-partikel mikro kosmis yang terbentuk sebagai untaian senyawa kimia bernama ATP.

Susunan Unsur dalam Senyawa ATP. Foto sumber; acs.org

Adenosine Triphospate demikian kepanjangan ATP, terbukti berperan sebagai senyawa kimia pengalih energi intra molekuler dalam tubuh makhluk hidup.

Karena energi bersifat kekal, maka ATP berperan untuk mengalihkan energi secara ‘merambat’ antar molekul dalam sel-sel tubuh. Tanpa ATP, metabolisme tubuh makhluk hidup bakal mandek.

Metabolisme dalam tubuh manusia, atas peran ATP membuat sel-sel bisa menduplikasi diri, apakah bermitosis agar sel tubuh berkembang, maupun bermeiosis agar sel genetika menyusut. Atas proses mitosis dan meiosis yang sempurna, maka manusia mampu berkembang biak di dalam Bumi, hingga kini.

Keberadaan ATP menjadi senyawa penting dalam setiap penelaahan dan pengembangan riset pada lingkup ilmu Biokimia.



...tanaman ternyata tak hanya menyerap air tanah lalu sekedar tumbuh.

Fenomena Siklus Jenius Air dalam Bumi

Satu contoh lagi, berupa sistem dalam bentuk siklus air yang diturunkan sebagai hujan dari langit, membasahi tanah, lalu menumbuhkan banyak tanaman sebagai bahan makanan bagi makhluk hidup di bumi.

Sirkulasi air yang demikian, lalu ditelaah oleh manusia, si makhluk ciptaan-Nya yang paling berakal, bahwa tanaman ternyata tak hanya menyerap air tanah lalu sekedar tumbuh.

Bahwa, air yang tercurah dari langit, ternyata membawa banyak senyawaan kimia tanah, kemudian berproses dalam tubuh tanaman. Hingga mereka mengandung fitokimia, aneka senyawaan kimia unik yang hanya terdapat dalam tanaman.

Kaya akan kandungan senyawaan fitokimia, membuat lalu buah dan sayuran tak hanya bermanfaat sebagai nutrisi. Namun juga menjadi sumber bahan pengobatan alami.

Kedua sistem yang mendasar, yakni peralihan energi dan sirkulasi air dalam Bumi, berkelindan dengan fakta bahwa di dalam Bumi, air lebih berlimpah dibanding tanah permukaan. 

Tercipta demikian, karena sebagian manusia bakal terus menggunakan akal pikirannya, yang secara sengaja maupun tidak, bakal berperan merusak bumi.

Betapa, Bumi beserta isinya yang merupakan sebagian kecil dari alam semesta ciptaan-Nya, yang tercipta dengan berjalannya banyak sistem setimbang. Sejalan dengan pesan-Nya sebagai Kalam-Kalam Ilahiah yang selalu tersampaikan baik tersirat maupun tersurat, dalam tatanan yang berimbang.

Dia melarang manusia berbuat kerusakan di bumi, namun Dia juga sangat bijak telah menciptakan lebih banyak air di bumi. Dia tak pernah lelah memberi kesempatan bagi manusia untuk memperbaiki kesalahan, yang sengaja atau tidak, telah berkontribusi terhadap meningkatnya Entropi di dalam Bumi.

Potret lalu lintas kendaraan di atas jalan beton beraspal dan berkurangnya tanah resapan, menjadi contoh aktifitas dan kreasi manusia yang menghalangi sistem peralihan energi dalam Siklus Air di Bumi yang memberi kontribusi  peningkatan Entropi.



...fenomena siklus jenius perubahan partikel, yaitu Fotosintesis dan Pembatubaraan.

Fenomena Siklus Jenius Perubahan Partikel dalam Bumi

Sistem peralihan energi maupun sirkulasi air, menunjukkan sebuah fenomena akan terdapatnya suatu pola konstan, yang menata proses peralihan setiap partikel baik di dalam ataupun dari luar Bumi, yang berpengaruh langsung maupun tak langsung, terhadap terjadinya suatu perubahan dalam bentuk tatanan partikel yang baru, secara setimbang.

Setimbang dalam pengertian bahwa, setiap aksi terhadap partikel yang membentuk senyawaan tertentu, bakal bereaksi mengubah senyawa tersebut menjadi senyawa baru, dalam tatanan baik energi yang dibutuhkan dan dihasilkan, maupun senyawaan baru yang dihasilkan, dalam tatanan yang setimbang.

Terdapat dua contoh yang menarik guna menjelaskan fenomena siklus jenius perubahan partikel, yaitu Fotosintesis dan Pembatubaraan.

Contoh Siklus Jenius Bernama Fotosintesis

Sebagai contoh, reaksi Fotosintesis terhadap tanaman, atas pengaruh energi foton ultraviolet cahaya matahari ke atas daun.

Energi yang diterima oleh zat hijau daun, Klorofil, memicu reaksi berantai dalam tanaman, yang merubah kandungan Karbondioksida (CO2) dan Air (H2O), menjadi Karbohidrat (CxHyOn) dan Oksigen (O2).

Dalam reaksi Fotosintesis, maka foton-foton cahaya matahari yang diterima oleh Klorofil dalam daun tanaman, menjadi energi reaksi perubahan partikel-partikel dalam senyawa COdan H2O menjadi partikel-partikel dalam senyawa CxHyOn dan Odalam komposisi unsur-unsur yang setimbang.

Tak hanya komposisi unsur-unsur dalam senyawa yang seimbang, namun juga besaran energi yang digunakan sebagai pemicu reaksi Fotosintesis, setimbang dengan besaran energi yang tersimpan di dalam kedua senyawa hasil reaksi tersebut, yakni Karbohidrat dan Oksigen.

Ilustrasi Siklus Fotosintesis. Foto sumber; istockphoto.com

Selanjutnya, energi yang tersimpan dalam kedua senyawa hasil akhir reaksi Fotosintesis tersebut menjadi sumber energi yang siap diubah, beralih menjadi energi dalam wujud lain.

Misalnya, Karbohidrat sebagai sumber energi dalam makanan agar mampu bergerak, sementara Oksigen sebagai sumber energi untuk menjalankan proses metabolisme dalam tubuh.

Contoh Siklus Jenius Bernama Pembatubaraan

Contoh lain proses setimbang pengalihan bentuk partikel dalam suatu senyawaan beserta berubahnya kandungan energi, adalah proses terjadinya batu bara.

Bahan bakar yang bersifat tak bisa diperbarui ini berupa fosil organik dari tumbuhan dan gambut, hasil proses pembatubaraan (coalification), karena pengaruh alami berupa tekanan, panas bumi dan perubahan geologi di permukaan bumi sekitar 290 - 360 juta tahun lalu.

Proses pembatubaraan secara alami tersebut, membuat karakter batu bara berbeda, sesuai dengan kondisi lapangan (coal field) dan lapisan (coal seams). Serta, memiliki urutan kematangan, berturut-turut mulai dari Gambut (Peat), batu bara muda / Lignit (brown coal), Semi Antrasit (sub bituminous) dan Antrasit (bituminous).

Pengaruh alami terhadap fosil organik tersebut juga memicu reaksi kesetimbangan kimia sebagai proses pembentukan unsur dasar batu bara, yaitu;

5 (C6H1005) → C20H22O4 + 3 CH4 +  8 H2O +  6 CO2 + CO

     (Selulosa)          (Lignit)        (Metana)     (Air)  (Asam Arang) (Monoksida)


10 (C6H1005) → C40H44O8 + 6 CH4 + 16 H2O + 12 CO2 + 2 CO

    (Selulosa)         (Antrasit)     (Metana)     (Air) (Asam Arang) (Monoksida)

Melalui proses reaksi kimia alami dalam waktu sangat lama tersebut, maka tiap jenis kematangan batu bara tersebut di atas juga membentuk kandungan senyawa Hidrokarbon yang unik pula, yang terkandung dalam batu bara, yaitu Parafin, Naftena dan Benzena.

Parafin merupakan Hidrokarbon yang memiliki struktur ikatan yang tak sekedar lurus melainkan lebih kompleks. Serta tak hanya mengandung atom-atom Hidrogen dan Karbon. Foto sumber; chemicalbook.com

Naftena merupakan Hidrokarbon yang memiliki struktur ikatan Hidrokarbon rantai melingkar bersudut (Siklo), tanpa memiliki ikatan rangkap yang reaktif.

Naftena merupakan Hidrokarbon yang memiliki struktur rantai Siklo Heksana. Foto sumber; Naphthenes Sciencedirect.com

Batu bara juga mengandung beberapa jenis gugus fungsionil Hidrokarbon, seperti Fenol dan senyawa yang mengandung Sulfur. Serta unsur-unsur mineral hingga logam berat, sebagai efek proses pembatubaraan.

Berikut adalah urutan kandungan Hidrokarbon sesuai tingkat kematangan batu bara, yaitu;

  • Lignit, yang berkualitas sebagai batu bara muda, dominan mengandung Parafin dan sedikit kandungan Benzena.
  • Sub Bituminous, yang berkualitas semi Antrasit, maka memiliki kandungan Parafin dan Benzena yang seimbang.
  • Batu bara Antrasit, memiliki kualitas paling banyak mengandung Benzena.

Dari urutan tingkat kematangan batu bara tersebut di atas, maka terdapat keterkaitan antara proses pembatubaraan dengan struktur Hidrokarbon, yakni;

Semakin matang batu bara, maka struktur Hidrokarbon menjadi semakin kuat. 

Dalam hal ini, perubahan struktur Hidrokarbon dari Parafin yang semakin diperkaya Benzena, juga Naftena yang berubah menjadi Benzena.

Adanya tiga ikatan rangkap dalam Benzena yang berbentuk heksagon, membuat senyawa Hidrokarbon ini menjadi unik karena memiliki 'cincin' Aromatic yang sangat reaktif.

Dengan demikian, fenomena alamiah proses pembatubaraan tersebut, menjawab pertanyaan mengapa batu bara berkualitas Antrasit memiliki kalori paling tinggi dibanding Lignit dan Sub Bitumious, yakni dikarenakan terdapatnya kandungan Benzena yang dominan di dalam Antrasit.

Benzena merupakan Hidrokarbon yang memiliki struktur tiga ikatan rangkap pembentuk cincin Aromatic. Foto sumber; chem. libretexts.org

Struktur ikatan cincin Aromatic Benzena yang sangat kuat, membuat batu bara Antrasit mampu menghasilkan kalori tinggi. Foto sumber; chem. libretexts.org

Hingga kini, kalori yang dihasilkan oleh batu bara menjadi sumber energi yang andal guna memenuhi kebutuhan pasokan listrik. 

Meski, proses pengelolaan batu bara, mulai dari eksplorasi, eksploitasi, transportasi, penggunaan hingga limbah sisa pembakaran, telah menuai isu kerusakan lingkungan hidup.



...konsep matematika Himpunan, menjadi bekal mendasar untuk memaknai fenomena...

Himpunan Semesta

Pada ilmu matematika, terdapat pemahaman yang secara mendasar dapat berguna untuk menelaah fenomena berjalannya sistem peralihan energi maupun perubahan wujud partikel dalam Bumi, yakni Matematika Himpunan (Set Mathematic).

Dalam Matematika Himpunan, dikenal istilah-istilah yang sejatinya mewakili keberadaan berjalannya suatu sistem dalam Bumi. 

Kemudian, bisa dirinci lebih lanjut bahwa dalam setiap sistem yang sedang berjalan, maka terdapat kaidah matematis dalam memaknai Himpunan (simbol: { }) benda-benda dalam alam semesta, baik yang kasat maupun tak kasat mata, yang mengakomodasi antara lain keberadaan Himpunan Kosong, Himpunan Bagian dan Himpunan Semesta.  

Tak hanya selesai pada definisi Himpunan, maka pemahaman tentang matematika Himpunan juga mengakomodasi fenomena kenyataan dalam kehidupan sehari-hari, bahwa setiap Himpunan bisa memiliki keterkaitan dengan Himpunan lainnya dalam bentuk relasi.

Keterkaitan antar Himpunan, antara lain berupa Irisan (simbol: ∩), Gabungan (simbol: ∪), Himpunan Bagian atau Subset (simbol: ⊆ ; ⊂), Superhimpunan atau Superset (simbol: ⊇ ; ⊃), Elemen (simbol: ∈), Kesamaan (simbol: =), Ekuivalen (simbol: ~), Komplemen (simbol: Ac), Kardinalitas (simbol: |A| atau n(A)), Perbedaan Simetris (simbol: ∆), hingga Himpunan Kosong (simbol: {Ø}).

Termasuk, terdapat simbol-simbol untuk jenis-jenis Himpunan bilangan, seperti bilangan Natural (simbol: ℕ), Bulat (simbol: ℤ), Kompleks (simbol: ℂ), Rasional (simbol: ℚ), Irrasional (simbol: P), Asli (simbol: ℝ).

Adapun gambaran relasi antar Himpunan tersebut dapat tergambarkan dalam suatu diagram yang disebut Venn, sebagaimana tertuang dalam gambar berikut ini.

Diagram Venn Contoh Relasi antara Himpunan H, F dan W dengan Model Interaksi (H∩F)c∩W. Foto sumber; courses.lumenlearning.com

Konsep matematika Himpunan, yang telah menjadi materi wajib dalam mata pelajaran matematika dasar, yang diajarkan pada sekolah-sekolah umum mulai tingkat dasar hingga perguruan tinggi.

Memahami konsep matematika Himpunan, menjadi bekal mendasar untuk memaknai fenomena berjalannya banyak sistem yang berlaku di alam semesta, melalui pendekatan logika matematis.

Sebagai konsep mendasar untuk melatih penggunaan logika matematis, maka matematika Himpunan telah menasbihkan matematika sebagai ilmu pengetahuan yang terbukti berkontribusi nyata pada banyak pemecahan masalah dibidang yang tak terkait dengan ilmu eksakta, namun juga ilmu-ilmu non eksakta.

Termasuk di dalamnya adalah ilmu pengetahuan berkategori eksakta, masuk dalam ranah fisika modern, yang melibatkan dualisme sifat cahaya yakni sebagai gelombang elektromagnet dan sebagai partikel foton.

Adalah Teleportasi yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) belum tercantum sebagai kata yang bermakna.

Teleportasi merupakan kata alihan dari Teleport, sebuah kata yang menghimpun dua suku kata, yakni Tele, yang dalam istilah Yunani kuno, berarti sangat jauh dan Port yang mengambil istilah Latin, Porta, yang bermakna pintu gerbang.



...memadukan konsep lama Teleportasi dengan metode klasik matematika Himpunan dan kecerdasan buatan...

Kontemplasi Teleportasi dalam Relung Hati

Pengertian Teleportasi kurang lebih adalah kegiatan memindah benda dari satu pintu gerbang satu, yang disebut Teleporter, menuju pintu gerbang lainnya, yang disebut Zona Landing, yang kedua pintu gerbang tersebut relatif berjauhan jaraknya, memang menebar banyak pertanyaan, sekaligus menuai jawaban, dalam cakupan teori-teori ilmu fisika modern.

Tanya; ‘Bukannya itu kegiatan yang biasa? Seperti kegiatan pengiriman paket yang dikirim melalui moda transportasi darat, laut maupun udara, dari tempat angkut muatan menuju tempat bongkar muatan?’

Jawab; ‘Oh, dalam konteks pemahaman fisika modern yang melibatkan sifat dualisme cahaya, maka Teleportasi bakal membuat kegiatan memindah barang melalui moda transportasi tersebut, menjadi kuno.’

Tanya; ‘Moda darat, laut, udara saat ini yang sudah canggih itu kelak jadi kuno?’

Jawab; ‘Mengapa demikian? Karena dalam Teleportasi, moda pemindah benda yang hendak dipindah, adalah partikel cahaya yang tak kasat mata dengan kecepatan ratusan juta meter per detik.

Jadi, bisa dibayangkan dalam moda Teleportasi, sebuah benda yang berada dalam instrumenTeleporter, setelah sistem moda pengangkut berkecepatan cahaya dinyalakan, sontak benda tersebut menghilang, berpindah.

Tak lama, benda tersebut telah pindah di dalam suatu instrumen sebagai Zona Landing, tempat benda tersebut dikirimkan.’

Tanya; ‘Bagaimana benda bisa diangkut dengan kecepatan yang sedemikian cepat, bahkan mata belum sempat berkedip?

Jawab; ‘Secara teori bisa! Bukankah persamaan temuan si jenius Einstein, E = mC2, bermakna materi yang memiliki massa, apabila dialihkan dalam kuadrat kecepatan cahaya setara bakal berubah menjadi energi?’

Tanya;Oke, benda yang dialihkan dari instrumen Teleporter bakal menjadi energi selama perjalanan. Lalu bagaimana instrumen Zona Landing bisa merubah energi itu menjadi benda yang sama persis dengan benda kiriman instrumen Teleporter?’

Jawab; ‘Bisa saja.’

Tanya; ‘Bagaimana bisa?’

Jawab; ‘Bukankah dalam alam semesta di Bumi berlaku konsep matematika Himpunan?’

Tanya; ‘Maksudnya bagaimana?’

Jawab; ‘Energi yang terbawa ke Zona Landing, digunakan untuk menata partikel-partikel pembentuk benda, yang sama persis dengan benda yang dikirim oleh Teleporter.’

Tanya; ‘Apa nggak kesasar itu nanti si energi?’

Jawab; ‘Ya nggak lah, kan cahaya juga bersifat gelombang elektromagnetik. Berbentuk gelombang, berarti punya frekuensi. Punya frekuensi berarti bisa terdeteksi, juga bisa ditangkap bagai gelombang radio.’

Tanya; ‘Oh, jadi, energi yang notabene adalah alihan benda berkecepatan kuadrat cahaya yang terkirim dari Teleporter itu, digunakan untuk memecah Himpunan yang berisi partikel-partikel pembentuk benda yang dikirim, pada jarak yang Himpunan Semestanya berbeda?’

Jawab; ‘Persis. Ingat ada fenomena dan fakta tentang kekekalan energi dan kesetimbangan reaksi.’

Tanya; ‘Lalu, bagaimana pengkodean agar partikel-partikel Himpunan dalam Semesta yang berbeda jarak itu agar menghasilkan benda yang sama persis?’

Jawab; ‘Ya, mari kreasi sistem kecerdasan buatan, Artificial Intelligent atau disingkat AI, agar energi yang diterima bisa sekaligus berisi kode-kode cerdas, pembentuk benda yang sama persis pada Himpunan Semesta yang berjarak relatif jauh.

Lalu, kode-kode cerdas itu diunduh pada sistem AI pada instrumen Zona Landing, supaya pesan membentuk benda berwujud sama persis dengan benda kiriman pintu gerbang angkut, bisa terwujud.’

Tanya; ‘Misal nih ya, aku ngirim sekilo beras hasil panen, dari Karawang ke Kanada pake mesin Teleportasi. Mosok beras yang diterima bisa sama persis di Zona Landing?”

Jawab; ‘Ya bisa saja, kan di alam lingkungan Kanada juga ada partikel-partikel tak kasat mata dalam Himpunan Semesta yang bisa ditentukan sebagai beras. Tinggal kirim beras sekaligus kode-kode cerdas yang berwujud energi karena dilempar dengan kecepatan kuadrat cahaya.’

Tanya; ‘Lalu, di Zona Landing, instrumen AI menerjemahkan kode-kode cerdas itu sebagai beras kiriman Karawang, dengan bantuan energi kuadrat cahaya yang cepat dan tepat menata puzzle tatanan partikel tak kasat mata dalam Himpunan Semesta di Kanada, menjadi beras yang sama persis?’

Jawab; ‘Persis!’

Ilustrasi Proses Self Brain Storming Merangkai Puzzle Rangkaian Pertanyaan untuk Menemukan Tatanan Gambar sebagai sebuah Jawaban.

Tanya;Weitz! Sebentar! …Bagaimana Himpunan Semesta di Zona Landing, di Kanada sana bisa menerjemahkan kode-kode cerdas bawaan benda dari Teleporter di Karawang? Emang partikel-partikel beras yang tumbuh di tanah terkandung dalam Himpunan Semesta udara di Kanada?’

Jawab;Lha diawal topik tadi kan sudah dibahas tentang sistem jenius sirkulasi air di bumi? Gimana si?’

Tanya; ‘Jadi, bagaimana merancang sistem dalam AI agar tepat dalam menerjemahkan kode-kode cerdas yang tersemat dalam energi cahaya, agar kembali menjadi partikel-partikel benda yang memiliki massa, itu menjadi kunci.’

Jawab; ‘Betul, tidak salah. Manuk Kuntul, tidak sekolah.’

Tanya;Sik, sikHop!... Lama-lama kamu kok kayak ngarang nggrambyang ya. Ini kan jadinya bahas fiksi sains. Ada pembuktian oleh ilmuwan sebelum-sebelumnya kah?’

Jawab;Lho ya ada lah. Gimana kamu ini. Temuan-temuan keren yang membantu manusia lebih mudah, itu berawal dari fiksi sains. Imajinasi itu penting ya. Mana kita pernah menyangka 30-an tahun lalu ada smartphone. Sekarang kita genggam, kita main-mainkan, kalo telepon pintar ketinggalan di rumah, kita merasa kehilangan. Nggak kebayang kan?’

Tanya; ‘Ilmuwan yang pernah nyoba Teleportasi itu loh, sopo?

Jawab; ‘Jelas ada. Namanya adalah Nikola Tesla. Seorang ilmuwan terapan fisika modern, yang seratusan tahun lalu pernah mencoba teleportasi energi.’

Tanya; Oalaah… Jadi sebenarnya konsep Teleportasi itu mulai dikenal sejak seratusan tahun lalu ya.’

Jawab;Yup! Hanya saja waktu itu belum sempurna, karena teknologi sistem informasi berbagi dan memecah kode, masih belum sepesat seperti sekarang.’

Tanya;Hmmm… Jadi selama seratusan tahun belum pernah ada bentuk teknologi aplikasi sederhana Teleportasi?’

Jawab; ‘Pernah, awal tahun 1990-an.’

Tanya; ‘Apa nama mesinnya?’

Jawab; ‘Faksimile. Teleportasi tulisan atau ketikan dari satu tempat ke tempat lain yang berjauhan, bahkan antar benua dalam hitungan detik.’

Tanya; ‘Oh iya ya. Pertama kali ada internet dulu, saya belum bisa kirim Surel. Waktu itu saya bisanya cuman kirim Faks, he he

Berarti, memadukan konsep lama Teleportasi dengan metode klasik matematika Himpunan dan kecerdasan buatan, bisa dong sebentar lagi manusia membuat Teleportasi jadi nyata. Memindah benda ke tempat jauh, tak pakai lama.’

Jawab; ‘Nah itu dia. That’s the point! Kamu itu ya, nanya-nanya sendiri, njawab-njawab sendiri.’

Done! Kontemplasi usai.

Ting! Sebentar lagi, ada fenomena tak sampai mata berkedip, benda kiriman Teleportasi telah sampai tujuan, tepat di depan mata.



...penyebab peristiwa Tunguska pada 30 Juni 1908 masih misteri.

Si Jenius Pelopor Nirkabel

Kisah hidup Nikola Tesla sang fisikawan terapan kelahiran Kroasia yang pada pertengahan abad ke 19 lalu menjadi warga Amerika Serikat pada usia jelang 30-an tahun ini, mirip Thomas Alfa Edison, yakni sosok penemu sistem mekanik ataupun benda yang kelak memiliki kontribusi mengubah tatanan peradaban.

Selain tercatat dalam sejarah sebagai penemu sistem arus listrik bolak-balik (Alternating Current / AC) pada akhir abad 19, sebagai penyempurna sistem arus listrik langsung (Direct Current / DC), maka Tesla juga dikenal sebagai penemu sistem nirkabel, yang pengaruh atas temuan ini bermanfaat hingga kini.

Potret Nikola Tesla sedang memegang sebuah bola lampu berisi gas Neon dan nirkabel, sebagai produk pesaing bola lampu kreasi Thomas Alfa Edison. Foto sumber; teslasociety.com

Ada satu lagi temuan Tesla yang hingga saat ini masih belum terungkap, karena mungkin berpeluang penyalahgunaan menjadi senjata pemusnah massal, yakni mekanisme teleportasi energi.

Bahkan, peristiwa kebakaran hebat yang melanda wilayah Tunguska Rusia pada tahun 1908, yang penyebabnya hingga sekarang masih misteri, ditenggarai sebagai dampak riset teleportasi energi yang dilakukan oleh Tesla.

Kondisi hutan Tunguska yang porak poranda setelah kejadian misterius 30 Juni 1908. Foto sumber; space.com

Energi yang dikirim melalui mesin Teleportasi di Amerika Serikat, mampu melintasi ratusan ribu kilometer jauhnya menuju ke utara di wilayah Rusia. 

Lalu partikel-partikel pembawa energi berkecepatan cahaya itu menghujam wilayah tak berpenghuni, yang menimbulkan kebakaran hebat di atas tanah seluas ribuan hektar, tanpa meninggalkan jejak.

Hingga saat ini, penyebab peristiwa Tunguska pada 30 Juni 1908 masih misteri. Riset tentang aliran listrik nirkabel dalam bentuk Teleportasi energi oleh Tesla, menjadi spekulasi sebagai biang penyebabnya.

Ilustrasi peta arah Teleportasi Energi Tesla yang diduga menjadi biang penyebab kebakaran hebat di hutan Tunguska Rusia pada 30 Juni 1908.

Ironisnya, sekitar 2 bulan sebelum peristiwa Tunguska, Tesla telah menerbitkan karya literasi yang mewakili cita-citanya untuk membuat perubahan bagi dunia berupa tatanan alih energi listrik secara nirkabel.

Karya literasi ilmiah berjudul ‘How the Eletrician’s Lamp of Aladdin May Construct New Worlds.’ Tesla dimuat dalam harian The New York Times pada tanggal 21 April 1908, dengan Headline; ‘Mr. Tesla’s Vision’.

Sejak peristiwa misterius di Tunguska Rusia itu, dalam catatan sejarah perjalanan seorang ilmuwan, nama Tesla perlahan redup. 

Hingga hampir 20 tahun semenjak kematiannya, maka pada tahun 1960 dunia ilmu fisika menghormati nama Tesla telah diabadikan menjadi satuan intensitas medan elektromagnetik.

Bisa jadi, temuan keberhasilan Teleportasi energi yang sekaligus berpotensi menjadi pemusnah massal tersebut disembunyikan oleh Tesla sendiri, agar tak berkembang lebih lanjut. 

Atau, terdapat spekulasi bahwa pemerintah Amerika Serikat merahasiakan hasil temuan Teleportasi energi, agar tak jatuh ke tangan musuh-musuh pihak sekutu selama Perang Dunia pertama dan kedua.



Teknologi ini bernama Internet.

Semangat Menggali Teknologi Teleportasi Bersemi Kembali

Kejadian penuh misteri tahun 1908 di Tunguska Rusia, berbuah hikmah. Meski masih spekulasi tanpa bukti nyata, riset Teleportasi energi tetap dipercaya oleh banyak kalangan fisikawan.

Generasi demi generasi berganti, sejalan pergantian abad peradaban dari industri sejak pertengahan abad 19 hingga pertengahan abad 20, lalu pada tahun 1960-an berganti abad informasi yang semakin marak sejak peluncuran satelit-satelit buatan ke luar orbit Bumi, berlanjut tahun 1990-an berganti lagi menjadi abad pengetahuan, semakin menyadarkan para ilmuwan tentang temuan-temuan Nikola Tesla yang visioner.

Berkelindan dengan peradaban yang memasuki abad pengetahuan, maka sejak tahun 1990-an pula temuan-temuan Tesla yang hampir seratus tahun sebelumnya terpendam, lalu diungkap kembali, menjadi telaahan yang lebih serius.

Semangat meraih impian untuk memindah benda-benda, termasuk energi, dari satu tempat ke tempat lain yang berjauhan, dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, tanpa menggunakan moda transportasi maupun tanpa perangkat penghubung seperti kabel, pun bersemi kembali.

Kondisi menggali konsep mendasar Teleportasi yang pernah digagas oleh Tesla, setidaknya konsep mengalihkan energi listrik nirkabel, mendapat jalan lebih terbuka.

Setelah pertengahan tahun 1995, ditemukan teknologi berkomunikasi, berbagi informasi melalui bantuan serah terima sinyal tak kasat mata dari piranti di permukaan Bumi ke satelit di atas awan, di luar orbit bumi.

Teknologi ini bernama Internet.

Masih dalam abad pengetahuan tahun 1990-an, keberadaan Internet mempermudah manusia dalam merajut jejaring sosial dalam dunia maya dengan cakupan sejagat raya, di dalam Bumi. 

Pelan namun pasti, Internet turut memengaruhi perkembangan sistem dan teknologi informasi, dalam bentuk aplikasi berbasis Internet yang tersemat dalam gawai elektronik yang bersifat portabel, yakni laptop dan handphone.

Hingga, pada pertengahan tahun 2000-an muncul tiga sistem operasi, yakni iOS, Android dan Blackberry pada gawai elektronik yang semakin mempermudah para penggunanya, untuk tak sekedar berselancar menuai banyak informasi di dunia maya melalui fasilitas Internet. Namun, juga menikmati banyak aplikasi gratis pun berbayar, yang selain mempermudah jalinan komunikasi, juga menambah pengetahuan serta menjadi media pelepas penat, berupa hiburan.



...memaknai adanya Himpunan Semesta yang sama antara area Teleporter dengan Zona Landing...

Mendambakan Teleportasi yang Ramah bagi Peradaban

Saat ini, hanya dua sistem operasi yang bertahan tersemat pada produk-produk gawai elektronik, yakni iOS untuk gawai khusus bermerek Apple dan Android untuk gawai bermerek lebih umum. 

Perbaikan atas kedua sistem operasi selalu dilakukan dan berkembang, dengan kapasitas menggali serta menebar informasi yang meningkat pula. 

Pengembangan sistem operasi pun dibarengi dengan meningkatnya kemampuan gawai elektronik dalam hal menyimpan, menerjemahkan dan menebar data.

Tak hanya berurusan dengan sirkuit elektronik pembagi kapasitas listrik arus lemah, maka gawai elektronik dituntut untuk berkembang semakin pintar, memiliki kemampuan mengurai tatanan logika yang tersimpan dalam sinyal-sinyal alihan partikel tak kasat mata yang melayang-layang di atmosfer Bumi.

Lalu kekerapan partikel-partikel alihan yang menyentuh detektor gawai elektronik tersebut diterjemahkan menjadi kode-kode, yang membentuk simbol, karakter, angka dan huruf, yang tersusun menjadi tatanan kata, kalimat, juga gambar baik yang konstan maupun bergerak, yang lebih informatif.

Sejatinya, sistem berbagi informasi melalui perkembangan teknologi informatika yang demikian, secara tanpa disadari peradaban manusia sedang dalam proses perkembangan teknologi Teleportasi pula.

Suatu peradaban, yang mampu mengalihkan bentukan simbol, karakter, angka, huruf juga gambar dari Teleporter menuju Zona Landing yang keduanya terpisah oleh suatu jarak, secara nirkabel.

Sehingga, dalam konteks memaknai adanya Himpunan Semesta yang sama antara area Teleporter dengan Zona Landing hingga menghasilkan tatanan informasi yang sama pula dari gawai pengirim kepada gawai penerima, maka sistem dan teknologi informatika yang berkembang sejak awal tahun 1990-an hingga kini, merupakan pengejawantahan teknologi Teleportasi secara mikro dalam wujud yang relatif lebih maju dari pendahulunya, yakni Faksimile.

Dengan demikian, impian untuk meraih Teleportasi terhadap benda-benda yang lebih besar, makro, daripada sekedar simbol, angka, karakter dan gambar, bakal akan terwujud dalam beberapa dekade mendatang, bukanlah hal yang mustahil.



Suatu karakter yang ibaratnya selalu menyerap air...

Deklarasi Semesta Alihan

Adalah Metaverse, suatu Platform teknologi informatika yang memungkinkan penggunanya bisa berselancar dalam dunia maya, dengan sensasi tengah berada dalam dunia nyata, menggunakan piranti vitual, Virtual Reality (VR) , yang dikembangkan menjadi Augmented Reality (AR).

Sebagai piranti elektronik yang tak sekedar berfungsi sebagai pemindah dan penebar informasi sebagaimana gawai elektronik pintar, maka VR dan AR yang mampu mengalihkan jiwa serta pikiran penggunanya teralihkan ke semesta yang berbeda dengan semesta di mana raga pengguna sedang berada.

Platform Metaverse yang baru tahun 2021 marak menjadi opini publik, adalah deklarasi penerapan konsep Semesta Alihan yang bakal menjadi tatanan peradaban baru bagi manusia.

Platform Metaverse dengan Logo Perusahaan Meta yang Menyerupai Simbol Matematika Infinity (). Foto sumber: Republika.co.id

Prediksi antusiasme terhadap keberadaan Metaverse bisa menjadi kenyataan sejalan dengan kebutuhan manusia, khususnya bagi kebanyakan generasi milenial yang sejauh ini terlanjur tak bisa lepas dari penggunaan gawai elektronik pintar, sebagai piranti pendukung untuk menelusuri informasi. Sekaligus melakukan pengembaraan menggali ilmu pengetahuan, dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Sebentar lagi, pada tahun 2022 ini, keberadaan VR dan AR menjadi mainan baru bagi generasi milenial, yang terlahir pada kisaran abad pengetahuan ditahun 1990-an, dengan pengaruh peradaban berpengetahuan yang turut memengaruhi pembentukan karakter mereka yang memiliki perilaku bagai sebuah spons.

Ilustrasi Pengguna Platform Metaverse Mengenakan Instrumen VR-AR. Foto sumber; mansworldindia.com

Suatu karakter yang ibaratnya selalu menyerap air, yang apabila air di sekelilingnya habis, maka spons bakal mengering. Sehingga, piranti VR dan AR menjadi media agar informasi dan pengetahuan yang diibaratkan sebagai air, akan selalu ada.

Agar, generasi millennial hingga kelanjutannya kelak, bakal tetap berpengetahuan, guna beradaptasi menjalani suatu peradaban baru, dalam kemasan konsep Semesta Alihan, Metaverse.



...elektron tersebut berhasil melompati batas kondisi Majorana...

Majorana Bound State dan Superkonduktor Mesoskopik

Sekarang, melalui keberadaan Platform Metaverse dengan logo Meta berupa sebuah simbol matematika yang bermakna tak terhingga, yang secara tak langsung memberi makna tentang terdapatnya fenomena Semesta Alihan, maka arah perkembangannya kelak untuk meraih mimpi terwujudnya teknologi Teleportasi yang saat ini masih sering terbilang sebagai fiksi sains bahkan sains samar-samar, pseudo science, menjadi semakin jelas.

Perkembangan teknologi Nano Particle, yang terintegrasi dengan olahan logika matematika Himpunan yang tertata dalam sistem AI, juga bakal mendukung terwujudnya berjalannya Teleportasi kelak kemudian hari.

Adapun proses pengalihan massa benda menjadi energi dalam kecepatan kuadrat cahaya, maka fenomena berkurangnya waktu unsur sejalan dengan bertambahnya kecepatan penghamburan energi, telah ditemukan seratusan tahun lalu, sejak Nikola Tesla melakukan riset Teleportasi energi.

Diagram yang menunjukkan bagaimana kecepatan yang membuat energi menghambur semakin meningkat, sejalan dengan berkurangnya waktu unsur.

Sebuah langkah terobosan mewujudkan teknologi Teleportasi terhadap benda-benda makro, menjadi nyata pada kisaran tahun 2010.

Adalah Liang Fu, seorang fisikawan dari Universitas Harvard Amerika Serikat berhasil melakukan riset tentang sebuah elektron yang berhasil melakukan lompatan Teleportasi dari sebuah super konduktor, menuju ke super konduktor lainnya, di mana kedua superkonduktor tersebut bersifat Mesoskopik.

Super konduktor Mesoskopik berarti sebuah substansi penghantar listrik yang lebih besar dari ukuran atom, namun lebih kecil dari ukuran bahan material curah (bulk material) sebagai bahan utama super konduktor tersebut. 

Sehingga, partikel-partikel berukuran nanometer (Nano Particle), menjadi syarat bahan pendukung terjadinya sebuah Teleportasi.

Satu terobosan utama dalam riset tersebut, bahwa tanpa melalui media perantara, satu elektron tersebut berhasil melompati batas kondisi Majorana (Majorana Bound State / MBS). Suatu batas kondisi partikel-partikel elementer beririsan satu sama lain, sesuai kategori partikel tersebut, apakah Higgs Boson, Hadron atau Fermion.

Ilustrasi Majorana Bound State berupa Irisan Himpunan Semesta Pertikel Elementer meliputi Higgs Bosson, Hadron dan Fermion.

Dalam kondisi mikro kosmis, sebuah elektron terbukti bisa melakukan Teleportasi dalam suatu sistem yang terkondisi, menambah optimisme bahwasanya Teleportasi bukanlah fiksi sains, juga bukan sains palsu. Melainkan, Teleportasi adalah fenomena alamiah yang nyata, dalam keadaan tertentu, yang terkondisi.

Batas kondisi Majorana, MBS, yang mengambil nama dari seorang fisikawan asal Italia bernama Ettore Majorana, sang penggagas kategori semesta partikel elementer yang terkategori sebagai Fermion, hingga saat ini menjadi bahan telaahan intens bagi kalangan fisikawan modern.

Ettore Majorana fisikawan asal Italia penemu fenomena MBS, mendadak hilang tahun 1938. Temuannya diakui oleh pegiat fisika modern pada tahun 2006 dan terus ditelaah hingga kini. Foto sumber; cerncourier.com

Sekumpulan jurnal terbaru terbitan tahun 2021 yang berkisar telaahan tentang MBS, semakin mengerucut menjadi pemahaman tentang adanya Himpunan Semesta partikel elementer, yang dalam kondisi tepat saling beririsan, bisa menimbulkan efek yang menunjang terjadinya Teleportasi.



...mengelola suatu sistem yang kelak bisa memperkaya proses Teleportasi...

Metaverse itu Semesta Alihan, Semesta Alihan itu Metaverse

Tak mengherankan, temuan terobosan selama satu dekade belakangan tersebut, ditangkap sebagai peluang oleh kalangan penggiat sistem dan teknologi informatika tingkat  dunia.

Betapa sosok seperti Bill Gates sang penggagas Microsoft, sebuah temuan revolusioner sistem operasi komputer pada awal tahun 1990-an, juga Mark Zuckerberg sang penggagas media sosial pertemanan pada tahun 2008-an yang merevolusi pola hubungan sosial antar orang secara maya, begitu antusias dengan proses eksponensial terhadap temuan-temuan ilmiah, yang dalam beberapa waktu mendatang bakal membuat teknologi Teleportasi menjadi nyata.

Bill Gates sosok revolusioner bidang sistem dan teknologi informatika. Foto sumber; nextren.grid.id

Antusiasme Bill dan Mark bisa dipahami, mengingat keduanya saat ini tengah mengelola suatu sistem yang kelak bisa memperkaya proses Teleportasi menjadi optimal, yakni penyempurnaan Himpunan Semesta.

Bill punya ranah untuk menelisik tatanan logika matematis yang nantinya dikemas menjadi untaian kode informatif sebagai sistem informasi dalam teknologi informatika, guna menakar kuantitas serta kualitas massa dan energi yang terkirim dan diterima. Sehingga, benda yang terkirim dengan yang diterima via Teleportasi adalah sama persis, identik.

Sementara itu, Mark punya ranah untuk menelaah sekumpulan besar gagasan banyak orang sejagat raya, yang bisa terpilah menjadi banyak pengetahuan, yang bakal memperkaya kode-kode logika matematika, yang terkait langsung pun tak langsung dengan matematika Himpunan Semesta.

Mark Zuckerberg sosok revolusioner bidang media sosial jejaring dan pertemanan daring, Facebook. Foto sumber; independent.co.uk

Apabila MBS mewakili ranah Himpunan Semesta partikel elementer, maka akumulasi pengetahuan yang dihimpun oleh sistem informasi dalam aplikasi media sosial milik Mark, bakal menunjang kesempurnaan proses penerjemahan kode-kode cerdas dalam paket energi Teleportasi, agar benda yang terkirim dan diterima adalah sama persis, identik.

Jadi, antusias orang sejagat raya petualang dunia maya telah terpicu oleh visi Bill dan Mark, bahwa Platform Metaverse adalah media elektronik yang memungkinkan setiap orang bisa saling interaksi tanpa berpindah lokasi, maka kelak Metaverse bakal menjadi suatu peradaban baru yang mengakomodasi fenomena Semesta Alihan, Metaverse itu sendiri.



...membuat sistem agar energi yang terkirim tak menjadi liar dan membahayakan...

Terobosan Syarat dan Kondisi Teleportasi

Sebagaimana dasar berjalannya proses Teleportasi yakni menghambur massa partikel menjadi kuadrat cahaya dari Teleporter, lalu setiba di Zona Landing, partikel-partikel cahaya tersebut ditata ulang membentuk massa kembali, maka diperlukan sebuah detektor nirkabel ultra sensitif guna menangkap kode-kode cerdas yang menginformasikan bentuk benda awal secara presisi dan akurat, hingga di Zona Landing bakal terbentuk benda yang sama persis dengan benda yang dikirim oleh Teleporter.

Cetak biru bentuk, bahan dan sistem kerja detektor yang menjadi piranti penting bagi proses Teleportasi tersebut, telah menjadi satu buah karya intelektual Nikola Tesla, yang belum sempat berlanjut, karena mungkin gara-gara kejadian Tunguska 1908.

Bentuk Detektor Nirkabel Ultra Sensitif Hasil Rancangan Nikola Tesla. Foto sumber; Teslauniverse.com

Apabila memang demikian halnya, bahwa peristiwa lebih dari seratus tahun lampau yang meluluhlantakkan area hutan seluas 2.500 kilometer persegi di kawasan terpencil Rusia tersebut, maka urusan paling penting dalam mewujudkan teknologi Teleportasi pada masa mendatang adalah, bagaimana membuat sistem agar energi yang terkirim tak menjadi liar dan membahayakan bagi penghuni dan alam lingkungan di Bumi.

Temuan Liang Fu pada tahun 2010 yang menjawab pertanyaan tentang syarat minimum detektor ultra sensitif, adalah berupa super konduktor yang bersifat Mesoskopik berbahan Nano particle, merupakan terobosan penting dalam upaya mewujudkan Teleportasi dalam skala benda makro.

Termasuk, temuan terobosan tentang MBS yang menjadi jawaban atas syarat kondisi Himpunan Semesta, berupa irisan semesta-semesta partikel elementer, baik Higgs Boson, Hadron maupun Fermion. Agar, partikel bisa melompat secara Teleportasi dari tempat satu ke tempat lain yang terpisah jarak, tanpa media angkut.

Kedua jawaban atas syarat terjadinya Teleportasi yang lebih aman, dengan tetap melibatkan energi dalam bentukan yang aman, kiranya belum tertemukan ketika Nikola Tesla memulai riset Teleportasi energi, pada lebih dari seratus tahun lampau.



...menggunakan analogi mengetik ‘potong-cetak’ (Cut & Paste)...

Paten Teknologi Teleportasi

Gayung bersambut!

Adalah Gerald Paul Greelis, warga Amerika Serikat telah menemukan sistem Teleportasi dan mengajukan hak paten atas temuannya tersebut pada 31 Maret 2015.

Lebih dari setahun kemudian, permohonan paten atas temuan tentang rancangan sistem informasi mendasar sebagai upaya mewujudkan teknologi Teleportasi menjadi nyata tersebut, mendapat persetujuan oleh pemerintah Amerika Serikat, yang diterbitkan pada 6 Oktober 2016, sebagai sebuah karya literasi ilmiah, berjudul; ‘Low Energy Technology For Real Teleportation’. 

Dalam karya paten tersebut, dinyatakan bahwa, temuan tentang bagaimana mmbuat teknologi Teleportasi menjadi nyata, tak melulu menjadi ranah ilmu rekayasa fisika semata. Melainkan lebih menjadi urusan penyelesaian oleh teknologi informatika.

Dinyatakan pula dalam karya literasi berpaten tersebut, bahwa secara mendasar terdapat tiga fase agar Teleportasi bisa berjalan, yaitu;

  1. Menginisasi proses Teleportasi terhadap benda yang akan dikirim. Proses ini berlaku pada area sistem Teleporter.
  2. Menentukan tujuan Zona Landing terhadap benda yang dikirim secara Teleportasi.
  3. Menjalankan sistem komunikasi berbasis teknologi informatika yang didukung Internet.

Guna memenuhi ketiga fase tersebut, maka Teleportasi yang menggunakan analogi mengetik ‘potong-cetak’ (Cut & Paste) ini, maka diperlukan pula enam sistem teknologi yang berbeda, agar Teleportasi bisa bekerja, yaitu;

  1. Teleporter,
  2. Zona Landing,
  3. Internet,
  4. Sistem penentu posisi global (Global Positioning System / GPS),
  5. Komputer,
  6. Jaringan sistem elektronik terkondisi khusus.

Terdapat satu hal lagi, yang menjadi piranti khusus untuk menjalankan suatu Teleportasi yaitu adanya substasi kristal, berbentuk Oktahedron, yang dinilai mampu membuat partikel-partikel benda dalam Teleport yang akan menjalani Teleportasi bakal terhambur menjadi energi, agar terangkat sebagai energi cahaya untuk dialihkan dalam kecepatan kuadrat cahaya, hingga mencapai tujuan di Zona Landing, dalam kondisi aman dan sama persis.

Kristal Oktahedron tersebut dinilai memiliki kemampuan untuk mengondisikan suatu frekuensi yang memiliki resonansi alami, yang mengakomodasi teori Einstein tentang keberadaan dimensi ke-4, yakni ruang-waktu. Sebagaimana terindikasi dalam temuan tentang adanya fenomena Gelombang Gravitasi, sebagai hasil riset LIGO (Laser Interferometer Gravitational Wave Observation), pada 14 September 2015.

Kristal Berlian yang Berbentuk Oktahedron Alami Memiliki Potensi Menjadi Aparat Pengubah Massa Menjadi Hamburan Energi dalam Teleporter. Foto sumber; Tapia, Salvador Ascencio, Minerals And Gemstones, Diamond Octahedral Crystal, id.pinterest.com

Dalam naskah paten ini, juga mengakomodasi temuan Eric W. Davis, seorang Doktor ilmu fisika modern dalam karya tulisannya berjudul Teleportation Study in Physics, yang menyatakan bahwa keberadaan kristal Oktahedron sebagai bagian dalam Teleporter, diperlukan guna menakar hamburan energi yang bakal dihasilkan, dalam intensitas yang aman. Oleh karenanya dalam naskah paten ini pula, dinyatakan sebagai teknologi Teleportasi yang menggunakan energi rendah.

Tak hanya penerapan Teleportasi yang bakal terwujud mengakomodasi faktor keamanan, namun penggunaan energi rendah dalam teknologi ini juga mewakili kinerja Psikokinesis. 

Sebuah kinerja yang dilakukan oleh manusia yang memiliki kemampuan istimewa, dalam proses memindah benda tanpa menyentuh benda tersebut, melainkan menggunakan kekuatan pikiran.

Keberadaan sumber kecerdasan eksternal, menjadi syarat penciptaan Kinerja Psikokinesis dalam teknologi Teleportasi dalam naskah paten ini. Agar, kode-kode cerdas benda yang terkirim dari Teleporter, yang tersemat dalam hamburan energi cahaya menuju Zona Landing, tetap terjaga.

Kemudian, dalam sekejap dibentuk menjadi benda yang sama persis dengan benda yang terkirim.



...Roadmap peluang mewujudkan teknologi Teleportasi...

Peluang Mewujudkan Teknologi Teleportasi Menjadi Nyata

Menggabungkan antara naskah paten Gerald Paul Greelis tahun 2006, dengan temuan Liang Fu pada tahun 2010 dan mengambil hikmah riset Nikola Tesla dalam kisaran awal abad 20 hingga tahun 1908, serta mengakomodasi isu terkini tentang konsep tatanan baru bagi manusia untuk saling berinteraksi dalam kemasan Metaverse, maka sekali lagi, impian untuk mewujudkan teknologi Teleportasi menjadi nyata bukanlah hal yang mustahil.

Skema proses Teleportasi sebagaimana naskah paten Greelis, bisa dikombinasi dengan temuan Fu, serta masukan-masukan yang bakal terangkum dalam sistem dan teknologi informatika Metaverse.

Terdapat tiga hal utama yang diprediksi menjadi proyek utama pengisi Roadmap peluang mewujudkan teknologi Teleportasi, dalam beberapa waktu mendatang, yaitu;

  1. Skema mendasar tentang Proses Teleportasi, yang mengakomodasi tiga fase Grelis dan temuan Fu tentang MBS dan super konduktor Mesoskopik.
  2. Rekayasa Kristal Oktahedron, yang dalam hal ini diperkirakan adalah bahan Berlian, sebagai aparat penghambur massa benda dalam Teleporter menjadi energi cahaya.
  3. Sumber Kecerdasan Eksternal, dalam hal ini keberadaan gagasan dan hasil terapan Metaverse, sebagai penjaga dan penerjemah kode-kode cerdas dalam Himpunan Semesta, guna mewujudkan kembali benda yang sama persis (re-materialized), pasca Teleportasi.


Skema Mini prosesTeleportasi Paten Greelis yang apabila digabung dengan temuan Fu perlu melibatkan gawai elektronik pengirim dan penerima kode-kode cerdas massa benda, instrumen Teleport dan Zona Landing, Kondisi Batas Majorana (MBS) dan super konduktor Mesoskopik.



...teknologi senjata pemusnah massal. No Way!

Pesan bagi Generasi Milenial pun setelahnya

Ulasan perihal Semesta Alihan yang bakal merubah peradaban manusia, yang bertumpu pada Platform Metaverse sebagai pijakan awal diraihnya teknologi Teleportasi menjadi nyata, diprediksi bakal dirasakan bagi generasi Milenial pun setelahnya.

Penulis, dalam hal ini mewakili generasi X yang telah berusia lebih dari separuh abad, melalui ulasan tersebut diatas, dengan kerendahan hati, berkenan hendak menyampaikan pesan bagi generasi-generasi yang nantinya bakal terpapar perubahan peradaban tersebut.

Bahwasanya, Teleportasi bakal membantu manusia dalam banyak hal, khususnya kemudahan realisasi kebutuhan terhadap benda-benda pendukung kehidupan, dalam waktu yang singkat tanpa mereka perlu berpindah tempat, tentu banyak hal yang bisa dihemat.

Namun demikian, perlu disikapi dengan bijak perihal adanya fenomena konstan yang selalu mendampingi setiap sistem yang menjalankan suatu proses, yakni derajat ketidakberaturan sistem, atau lebih dikenal Entropi.

Upaya riset mewujudkan teknologi Teleportasi, hingga pengembangannya kelak setelah menjadi nyata, harus diimbangi dengan suatu teknologi yang menyangga Entropi. Agar, justru tak lekas membuat sistem dalam Bumi menjadi tak seimbang.

Kelak, penerapan teknologi Teleportasi yang melibatkan partikel-pertikel elementer ke dalam fenomena Semesta Alihan yang tak kasat mata, sejatinya melibatkan perubahan energi yang sangat luar biasa.

The Tesla Destroyer, tulisan karya H. Winfield Secor, terbit Maret 1916. Sebuah karya tulis ilmiah dalam sebuah majalah The Experimenter, yang mengingatkan dunia akan kemampuan teknologi Oscillator frekuensi tinggi sebagai senjata pemusnah massal.

Karya literasi The Tesla Destroyer pun secara tak langsung menuai pengaruh kepada publik, yang bahkan membuat riset Tesla untuk mengembangkan konsep dunia tanpa kabel menjadi dihentikan. Foto di atas adalah Menara Tesla yang terkenal dengan sebutan Wardenclyffe Tower, didirikan di desa Shoreham Long Island, New York Amerika Serikat, pada tahun 1901-1902. Menara setinggi 60-an meter yang menyangga puncak berbentuk bola berdiameter 21-an meter yang menjadi penyangga proyek dunia nirkabel pun mangkrak tanpa pernah digunakan, hingga dibongkar dan ditutup pada tahun 1917.

Dengan demikian, selalu bersikap penuh kehati-hatian dalam melanjutkan riset untuk menyempurnakan kaidah dalam proses Teleportasi, menjadi pesan yang pertama. Agar tak terjadi kesalahan yang tak disengaja, yang mengancam keselamatan alam lingkungan, manusia beserta makhluk hidup lainnya yang tinggal di Bumi.

Apalagi, dengan sengaja merubah tujuan awal Teleportasi sebagai teknologi yang mempermudah hidup manusia, menjadi teknologi senjata pemusnah massal. No Way!

Guratan lukisan Penulis sebagai ungkapan kata hati, tentang kondisi Bumi apabila manusia menyalahgunakan teknologi Teleportasi.

Pesan selanjutnya adalah, karena proses utama Teleportasi adalah mengubah massa partikel suatu benda menjadi hamburan energi cahaya, maka mencoba menerapkannya bagi makhluk hidup, khususnya manusia, maka patut dipertimbangkan untuk tidak dijalankan.

Kenapa demikian?

Karena, meski secara populer pernah digambarkan dalam karya seni sinema bergenre fiksi sains, yakni serial Star Trek, yang dalam banyak adegan terdapat teknologi Teleportasi yang mampu memindah manusia dari maupun keluar wahana antar bintang bernama USS Enterprise. Namun pada kenyataannya, susunan partikel pembentuk tubuh manusia sangatlah rumit, dibanding suatu benda mati.

Belum lagi ketika mengubah partikel massa menjadi hamburan energi berurusan dengan partikel-partikel pembentuk ruh yang tersemat dalam setiap individu manusia. Urusan bisa runyam!

Susunan partikel dalam tubuh manusia sangat kompleks dan unik.

Alih-alih mempermudah manusia untuk berpindah tempat tanpa wahana, sebagaimana ucapan Kapten Kirk sang nahkoda USS Enterprise sesaat sebelum Teleportasi dijalankan; "Beams me up, Mister Spock!” 

Malah sebaliknya justru menuai ketidakberaturan posisi partikel sebagaimana harusnya di Zona Landing.

Jika makhluk hidup, khususnya manusia menjalani Teleportasi, maka terdapat risiko tertukarnya sel-sel di dalam tubuhnya. Molekul-molekul seluler yang seharusnya menempati indera mata, bisa tertukar dengan sel-sel yang tadinya menempati organ reproduksi, misalnya.

Atau, jika ada dua orang menjalani Teleportasi dari Teleport yang sama, maka sesampai Zona Landing berisiko tertukar pula organ-organ tubuhnya. Misal, hidung si A tertukar dengan hidung si B.

Atau, si A setiba di Zona Landing, mendadak punya dua organ reproduksi. Sementara si B tak punya sama sekali. Paling gawat adalah, jika setiba di Zona Landing ternyata wujud si A dan si B menjadi berdempetan satu sama lain.

Poinnya, adalah bahwa sistem mikro seluler dalam tubuh makhluk hidup, khususnya manusia adalah sangat kompleks dan rumit, yang pola Himpunan Semesta di dalamnya belum, bahkan tak bakal bisa diterjemahkan oleh penerjemah kode ultra cerdas sekalipun.

Mr. Spock (diperankan oleh aktor Leonard Nimoy) sosok fiktif keturunan manusia dengan bangsa alien, Vulcan, dalam serial fiksi sains Star Trek memiliki salam berupa tempelan jari jemari tangan kanan yang unik, yang menjadi ciri khasnya, sambil berucap; “Long live and prosper.” Foto sumber; Time-CBS Photo Archive.

Jadi, sebagai pesan kedua, maka kelak terapkanlah teknologi Teleportasi hanya untuk benda-benda mati.

Sejalan kisah dalam Kalam Ilahiah paling awal dalam tulisan ini, yang lebih dari seribu tahun lalu, telah menginspirasi adanya teknologi Teleportasi terhadap benda mati.

“Aku akan membawa singgasana itu kepadamu, sebelum mata mu berkedip.”

Petikan surah An-Naml ayat 40, Qur’an Surah ke-27.

 

Bahan bacaan menginspirasi tulisan;

  1. Qur’an Surah (QS) ke-27, An-Naml.
  2. Qur’an Surah (QS) ke-24, An-Nur ayat 35.
  3. Secor, H. Winfield, March, 1916, The Tesla High Frequency Oscillator, the Electrical Experimenter, March 1916 – The Tesla Destroyer, teslauniverse.com
  4. Talbot, Andrew, Oct. 12, 2002, Tesla and Tunguska, Newscientist.com.
  5. Chang, Kenneth and the New York Times, June 17, 2004, Almost Like Sci-Fi Story, Scientists Teleport Atoms, Orlando Sentinel.
  6. Davis, Eric W., Teleportation Physics Study, Air Force Research Laboratory, researchgate.net
  7. Zichichi, Antonino, July, 24, 2006, Ettore Majorana: genius and mistery, cerncourier.com.
  8. Choi, Charles Q., 2008, Huge Tunguska Explosion Remains Mysterious 100 Years Later, space.com
  9. Fu, Liang, June, 20, 2010, Electron Teleportation via Majorana Bound State in a Mesoscopic Superconductor, Journal of Departement of Physics, Harvard university, Cambridge, MA 02138.
  10. Paz-y-Miño-C, Dr. Gullermo, 2012, On the Wrongly Called the God Particle, New England Science Public.
  11. Flasch, Jane, Feb. 12, 2016, RIT research helps prove Einstein’s 4th dimension theory, 13wham.com
  12. Greelis, Gerald Paul, Oct. 6, 2016, Low Energy Technology For Real Teleportation, United States, Patent Application Publication.
  13. Nurhayati, Ai Sri, 2019, Sumber Energi Listrik Alternatif, sumber.belajar.kemendikbud
  14. Pal, Subhajit and Benjamin, Colin, Feb. 2021, Stability of Majorana bound states in the presence of spin-flip scattering, Physica E: Low-dimensional Systems and Nanostructures, Vol. 126, sciencedirect.com
  15. Smith, Adam, March, 9, 2021, Mark Zuckerberg Says in 10 Years You Won’t Go to Meetings – You’ll Digitally Teleport to Them, independent.co.uk.
  16. Anderson, Paul Scott and Whitt, Kelly Kizer, June, 30, 2021, Today in science: The Tunguska explosion, eartsky.org
  17. Sulistya, Rahma dan Zuraya, Nadia, Lima Alasan Metaverse Mark Zuckerbeg Bakal Luar Biasa, Republika.co.id
  18. Magdoff, Fred and van Es, Harold, 2021, Building Soils for Better Crops Ch. 5 Soil Particles, Water and Air, Sustainable Agriculture Research and Education
  19. Aditama, Martinus, 6 Jan. 2022, Prediksi Bill gates Tahun 2022; Bekerja Mulai Dilakukan dari Metaverse, nextren.grid.id
  20.  Anonymous, Set Theory, Introduction to College Mathematics, courses.lumenlearning.com.
  21. Anonymous, Introduction to Sets, Math is Fun Advanced, mathisfun.com