Semerbak Aroma Ramadhan.

Ramadhan, bulan istimewa yang datang dengan beribu kemuliaan. Betapa Maha Pemurah Tuhan kepada hamba-Nya. Aroma Ramadhan yang wangi, mengundang banyak manusia untuk mendekat kepada Tuhan.

Setan-setan busuk pun dikurung di neraka yang paling dalam. Yang ada hanya sayap-sayap malaikat kesana kemari mencatat amal baik orang-orang shaleh sholihah dengan segenap doa mustajab.

Meski setan terperangkap selama Ramadhan, para malaikat turut mencatat amal buruk para manusia yang pendosa yang suka mengeluh dan mereka-mereka yang menyianyiakan kedatangan Ramadhan.

Para malaikat seringkali berkunjung ke warung-warung yang tetap bekerja di siang hari, saat muslim-muslim wajib menahan untuk tidak makan dan minum. Tugas tetaplah tugas, pikir para malaikat.

Namun seiring berjalannya waktu dan kedekatan antar dimensi makhluk, kini para malaikat tersadar bahwa manusia-manusia yang mereka catat dalam amal buruk itu dalam hatinya terdapat jeritan keinginan-keinginan mendekatkan diri kepada Pencipta.

Namun apalah daya ketika perut-perut kekeringan akan makanan, pendidikan serta biaya untuk hidup meronta-ronta ke pikiran mereka, meski selamanya Tuhan bersemayam dalam hati mereka, yang terdalam.

Mereka bukanlah tangan-tangan kotor yang mengotori agama dengan ilmu pengetahuan, bukan juga kaum yang membanggakan harta lalu lupa daratan, bukan pula golongan yang berani mati karena berjumlah banyak.

Mereka adalah hamba-hamba kesayangan Tuhan. Yang memiliki nasib tragis dan masih memiliki keimanan. Takdir mereka ialah baying-bayang hantu yang mengganggu tidur.

Adakalanya mereka tersenyum bahagia atas rahmat Tuhan yang tiada batas. Kasih sayang Tuhan meliputi segala yang ada. Islam Rahmatan Lil Alamin.

Hamba-hamba pemberani yang hidup berani menenteng beban takdir di bahu yang perkasa. Mereka hidup dengan sederhana, berpikir pun dengan sederhana, maka jangan sesekali membodohi kesederhanaan mereka.

Doa-doa malam, lantunan kitab suci cahaya kehidupan, serta hiruk pikuk keduniawian yang saling berbarengan meski kadangkala berseberangan.

Sayup-sayup suara anak-anak kecil kegirangan memainkan petasan, ada yang menyibukkan diri dalam dunia, ada yang menyibukkan dalam perenungan akan dosa-dosa masa lalu, serta kekhawatiran akan masa depan.

Waktu bergulir dengan cepat tanpa adanya jeda, manusia dituntut mengikuti segala apa yang terjadi selama waktu berputar dengan istiqomah. Meski karakter manusia ialah berubah-ubah.

Entah mana yang lebih menyenangkan antara tempat peribadatan dengan tempat perbelanjaan, hanya hati manusia yang paham. Tentang kesukaran dalam hidup lantas mencari tempat pelampiasan.

Dzikir-dzikir mengalir dengan alur yang beriringan dengan perbedaan makna musik- musik tempat hiburan. Tabiat manusia memang begitu, melirik yang menarik.

Masjid-masjid, mushola-mushola yang hakekatnya merupakan rumah Tuhan, ramai berdesakan manusia-manusia yang ingin mendekat kepada Sang Pencipta. Namun hanya awal-awal, menuju pertengahan hingga akhiran hanya tinggal debu-debu manusia.

Ketika para pengkhotah sibuk mendalil untuk mendalih, tangan-tangan kurus mengulurkan jari-jari lusuh untuk sekedar meminta empati sesama, mereka lapar belum makan, seharian.

Mereka berpuasa bukan karena beribadah, melainkan terbiasa. Menahan lapar, perut kosong tanpa makanan bagi mereka merupakan kebiasaan, hal lumrah. Memang begitulah hidup bekerja, antara kebahagiaan dan penderitaan, porsinya setara, benar- benar setara.

Ramadhan, fase yang ditunggu-tunggu kedatangannya serta dilupakan saat sudah datang. Begitu tabah dan memang Ramadhan mengajarkan ketabahan tanpa dendam.

Toleransi antar umat beragama menyeruak tatkala fanatisme buta akan keyakinan masing-masing penganut. Saling membenarkan diri sendiri mengatasnamakan perwakilan Tuhan. Begitu juga ancaman-ancaman yang silih bergantian datang dengan tujuan untuk menjatuhkan.

Ramadhan di musim panas, maka hati jangan sampai ikut memanas, kepala harus dingin agar hati juga turut membeku akan kesalahpahaman.

Mulut-mulut saling mencaci maki tanpa adanya empati, dimanakah kemanusiaan itu?

Jari-jari kotor saling menulis ujaran kebencian dengan maksud agar sungai-sungai perdamaian tercemar limbah perpecahan.

Akal sehat menjadi sahabat dikala manusia-manusia saling beradu merasa lebih maju.

Ramadhan, bulan terang benderang, namun nafsu manusia membuatnya terlihat buram.

Nilai-nilai kebaikan dan keburukan saling beradu mendapatkan tempat di jiwa manusia.

Ramadhan, bukti kecil kasih sayang dari Tuhan, kepada hamba-hamba yang sedang menelusuri jalan hidup, baik yang gelap maupun yang terang.

Senyum tulus orang-orang lapar akan makanan, berdekatan dengan senyum kejam orang-orang lapar akan kekuasaan.

Ramadhan, berpuasa menahan dahaga, berpuasa memahami batas. Bukanlah batas agar manusia memiliki keterbatasan. Melainkan mengingat kembali kodrat manusia sebagai makhluk terbatas.

Biar hati tidak kering oleh sinar kerakusan, sehingga hujan enggan menurunkan tetesan butir-butir kasih sayang.

Hidayah-hidayah bertebaran dimana-mana mencari yang berhak mendapatkannya, aroma wangi surga menyebar ke dimensi dunia dengan angin-angin yang dibuat oleh sayap-sayap malaikat, merasuk ke paru-paru manusia, sehingga kebahagiaan meliputi jiwa.

Sedangkan bau busuk neraka tertutup sehingga tidak menyebabkan sakit-sakit hati di jiwa manusia.

              Tuhan memang Maha Pengasih, Mengasihi segala makhluk dengan banyak hal, meski makhluk-makhluk ciptaan-Nya membalas dengan luka dan dosa.