“Your attention please, passengers of Garuda Indonesia on flight number GA328 to Thailand please boarding from door A12, Thank you.”

Suara khas itu beberapa kali terulang kalimatnya. Menandakan arakan penumpang siap menuju pintu-pintunya. Bandara yang megah itu bak sarang burung-burung besi yang terhubung dengan belalai gajah.

Dia masih saja duduk di kursi yang tak empuk itu. Licin, beberapa kali dia membetulkan duduknya. Tak seperti yang lain yang sudah bergegas, dia begitu tenang memandangi sekali lagi kertas di tangannya itu.

Warnanya masih masih putih, seputih sucinya. Lugu, kertas kekanakan yang tertulis indah. Kertas yang masih diperlakukan dengan gerakan yang masih tangan saat menulis kalimat di atasnya. Kertas yang masih dengan goresan tinta.

Tak seperti lawannya itu, di sakunya. Benda yang begitu keras dengan layar kacanya yang katanya antigores. Memerlakukannya harus dengan sentuhan-sentuhan jari. Kadang hangat bahkan panas tubuhnya.

Bisa juga riuh oleh nada-nada hingga hanya bergetar saja. Untuk kali ini, kali ke sekian, kali yang hanya beberapa menit, kalah oleh selembar kertas yang masih dipegangnya itu.

Dibacanya sekali lagi dengan jemari yang sedikit gemetar. Ujung kertas menari-nari. Terlihat hanya kusut di beberapa bagian yang pojok itu. Baunya harum, seperti ada noda percikan minyak wangi.

Ah, begitu singkat tulisannya. Tapi cukup membuat jemarinya sedikit bergetar. Dilipatnya dengan hati-hati dan dimasukkan ke saku jaketnya. 

Sembadra si elok nan manis itu dengan kemeja putih dan rok abu-abunya itu berlarian menyusul teman-temannya dan arakan penumpang yang sudah tak terlihat lagi di pintu A12. Wajahnya mirip Preechaya Pongthananikorn, aktris Thailand yang cantik itu. 

Cukup elegan dengan tanda pengenal yang sudah terpasang dengan bangganya sejak dari rumah. Untung jaket almamater SMA-nya menutupi keluguannya itu. Kali ini naik pesawat dengan memakai seragam sekolah.

“Cek lagi paspornya!” seru Dharma

“Lengkap,” jawab Sembadra singkat.

“Nanti jangan lupa telepon si Rakai, pastikan jemput kita di bandara.”

“Ok.”

Sembadra sekelas dengan si Dharma di sebuah SMA swasta favorit Ibu Kota Provinsi. Sekolahnya di bawah kendali sebuah yayasan rohani yang berpusat di Provinsi Pattani, Thailand.

Hari itu mereka berdua dan beberapa teman-temannya mendapat undangan acara tahunan sebagai siswa berprestasi perwakilan Indonesia. Keduanya ceria dan semangat. Apalagi baru kali ini pergi ke negara yang berjuluk Gajah Putih itu.

Sebagaimana reguk nikmat sebuah kepayahan dan kerja keras yang akan meletup serta berbarengan dengan pemuasnya., bak di rimba lebat. Bagai lebah-lebah yang berburu nektar semerbak di kelopak bunga. Tak peduli perbedaan antara nektar dan serbuk sari. Hisap saja. Bebas!

Setelah berganti dengan transportasi bus yang bertarif 500 ribu rupiah di bandara internasional Shuvarnabhumi, Bangkok itu, Sembadra dan Dharma beserta rombongan, ditemani Rakai yang warga negara Thailand itu, segera mungkin meluncur ke Provinsi Pattani untuk mengejar jadwal. 

Tak banyak hal menarik sepanjang perjalanan Bangkok-Pattani. Sembadra duduk dengan tenang di kursi bus "double decker" itu.  Terasa nyaman dengan suspensi empuknya. Melaju halus membelah Kota Bangkok. 

Pada pemberhentian di Hat Yai, Sembadra turun untuk sekedar membeli jajanan yang jelas asing baginya. Sambil berkudap, tampak serius memandangi nektarisasi bunga oleh beberapa lebah yang mendengung-dengung di taman kecil hasil sulapan lahan sempit yang tertata cantik itu.

Yang diingatnya adalah satu setengah jam perjalanan burung besi kelas Airbus A328. Air matanya berlakrimasi, basah meleleh. Sembadra bangkit dari bangku taman. 

Menghentikan pergerakan tangannya yang sedar tadi meremas-remas batu. Di dapat dari mana batu itu, dan untuk apa? Pelampiasan?

Beberapa jam yang lalu ia telah menjadi pribadi iblis. Tanpa sadar langkahnya terbimbing menuju pancuran di pojok taman. Menoleh kanan kiri, pastikan tidak ada orang yang melihatnya.

Dengan mengangkat tangan, akhiri ritual wudunya. Ia masih tetap menganggap taman itu hutannya. Sembadra mengambil air wudu! Menyela-nyela jari. Yang Beberapa jam yang lalu lengket dengan cairan kental beraroma klorin.

Sebuah sarang lebah bergantung di dahan pohon taman, membentuk lempengan bundar, tebal. Sembadra memandanginya..

”Tenanglah, jangan menyengatku,” Sembadra menangis lagi. Lebah-lebah itu mulai berdenging saat dia mulai membasuh mata kakinya. Begitu sempurna pigmentasi kulitnya, melanin nampak tak begitu banyak bercahaya ditimpa lampu taman yang mulai menerangi sore yang indah.

Air terakhir meluncur mulus melewati bulu-bulu halus kakinya. Sesungguhnya pada kulit putihnya ada 650 kelenjar keringat, 20 pembuluh darah, 60.000 melanosit, dan lebih dari 1.000 ujung saraf, semuanya beristighfar atas keiblisannya.

Tak lama kemudian, bus kembali melanjutkan perjalanan. Begitu keluar dari daerah Hat Yai dan memasuki daerah Pattani, terlihat pos penjagaan militer berada di tengah dan pinggir jalan. 

Barikade dan pos jaga itu disusun dengan tumpukan pasir setinggi dada manusia dewasa dilengkapi senjata laras panjang oleh militer Thailand. 

Pattani merupakan salah satu provinsi yang berada di Thailand bagian selatan. Mendampingi provinsi lainnya seperti Narathiwat, Yala, Songkhla, dan Hat Yai. 

Provinsi-provinsi yang berada di bagian selatan ini unik, terutama untuk provinsi Pattani dan Narathiwat, terlihat bahwa Muslim etnis Melayu mendominasi wilayah yang menjadi satu pusat pengembangan agama Budha terbesar di Thailand itu. 

Banyak juga konferensi organisasi Islam yang digelar di sini. Itu menunjukkan perhatian pemerintah pusat kepada umat Muslim di Pattani.

Wilayah Thailand bagian selatan yang rentan konflik dengan pemerintah pusat itu, tak bisa dilepaskan dari masa lalunya. Pemicu khas sebuah konflik yang berbasis fakta sejarah.

Wilayah Thailand bagian selatan dahulu adalah wilayah Kesultanan Melayu Islam yang ditundukkan oleh Kerajaan Siam. Seiring perjalanan waktu, wilayah kesultanan ini secara resmi masuk ke dalam wilayah negara Thailand. 

"Bagaimana acaranya?" tanya Rakai.

"Biasa saja, seperti umumnya, beberapa protokoler dan diskusi perdamaian Muslim Pattani," jawab Sembadra.

“Sembadra, maaf," suara lelaki lain menyela pembicaraan itu.

“Sudahlah," jawab Sembadra lirih.

Sembadra meninggalkan dua pria itu. Berjalan di trotoar yang berseberangan dengan  wisma pertemuan itu. Dia kenal dengan suara itu, bahkan sangat dikenalnya. Pria iblis juga, sama dengan dirinya. 

Kaki ramping Sembadra melangkah dengan sol empuk ber-power grip. Melekat pakem di licinnya paving perkotaan. Hatinya hancur oleh lacur tubuhnya.

Tak seperti nama-nama peserta pertemuan yang kekinian banget, nama "Sembadra" sepertinya bersaing ketat untuk enak di telinga. Ada Jody, Arriene, Brigitta, hingga Wan Abud. 

Pergerakan Sembadra di trotoar pertokoan itu cukup menyita mata liar nan laten para hidung belang. Pinggulnya melenggak-lenggok bukan bergestur seronok. Tapi memang perih. Menghindari pergesekan yang makin perih saja.     

Cepat dia meringsek memasuki gerbang Mall untuk melindungi dirinya dari sergapan permintaan maaf yang tak perlu. Gelora semburan AC sedikit mengoyak rambut panjangnya, menyiur ke kiri dan kanan.

Mencetak jelas bentuk kepalanya yang jenjang eliptikal. Pertanda volume otak yang mumpuni. Namun, masih kala dengan nafsunya yang besar. Lengkingan hatinya menelusuri setiap rolling door yang mulai tergulung di penjuru etalase. 

Tasbih di tangannya entah mementu ke mana. Antara mereka yang dikenal Sembadra di pertemuan itu pun beda-beda jumlah hitungan tasbihnya. 

Kelompok Syiwa memiliki tasbih dengan 84 biji, sedangkan kelompok Wisnu mempunyai tasbih dengan 108 biji. Sebagaimana  ketika ajaran Budha muncul, mereka akhirnya menggunakan tasbih seperti yang dipakai kelompok Syiwa yaitu 108 biji. 

Saat ajaran ini semakin meluas ke berbagai negara, para pemuka agama Nasrani pun ikut menggunakan tasbih seperti yang dipakai kelompok Syiwa. Semua ini terjadi sebelum datangnya agama Islam. Itulah materi hari pertama yang diikutinya.  

Sembadra terus membilang ganjil tiga kali seolah meminta rekomendasi berkah dari Yang Maha Ganjil. Levi’s, Gabrielle, Louis vuitton, Nevada, Gucci, semua membisu, asing dengan zikir anehnya itu.

Sembadra meneruskan tirakat batinnya dengan membaca surah yang dihafalnya. Jatah al Fatihah sudah berkali-kali. Apalagi surah al Falaq, An Naas, Al Ikhlas. Tidak ada surah lagi yang disodorkan ke hadirat-Nya.

Hampir-hampir terlupa portaging lafaz basmalah-nya. Sekejap etalase di bilangan Pattani membalik wujud menjadi arena  gladiator. Terlihat dirinya dibelenggu oleh borgol. Bersimpuhlah Sembadra. Para tampak malaikat berbaris rapi.

Ada Angel Muqarrabin, Angel Kurubiyin, Angel Kiraman Katibin. Angel Arsy, Angel Hafadzah, Angel Aran, dan Angel Jibal. Malaikat itu menanggung ketentuan qadha-qadar-Nya. Barisan malaikat itu bermunajat untuknya. 

Tiada irama genderang Spartan yang berbunyi mengagungkan amarah Tuhan. Ataupun, buhul-buhul sihir yang mencelakakan.

Tiba-tiba saja teringatlah saat dirinya membonceng Dharma waktu itu. Sembadra sedikit berusaha kilas balik sambil kernyitkan keningnya. Waktu itu, bukannya Dharma gak bisa motoran, tipusnya agak kambuh, meriang. Demam tifoidnya cukup membuat mual Dharma saat itu di sebuah acara penanaman pohon di area sakral itu.

Kala itu, cukup dua jam bagi keduanya untuk motoran menuju rumah si juru kunci pertapaan di dusun Talunnongko, tempat acara tanam pohon itu. Kebetulan juga itu adalah area ziarah situs purbakala.

Biasanya peziarah wajib mampir ke situ. Istilahnya minta ijin mbaurekso dan sekedar minum kopi hangat yang disuguhkan keluarga juru kunci. 

Mereka bisa rehat sejenak sesuka hati sebelum mendaki ke pertapaan Indrokilo yang terletak di Gunung Ringgit itu. Dibutuhkan waktu sekitar 2 – 3 jam untuk sampai di pertapaan dengan medan tanjakan yang cukup melelahkan. Ini sangat berbahaya untuk demam tipoid-nya si Dharma.

“Sembadra.”

“Dharma.”

Keduanya menyalami si juru kunci. Orang itu tanpa senyum, berperawakan kokoh seperti monster. Asli penduduk lereng gunung. Tanpa jaket tanpa sarung. Hanya kaos putih usang dan celana pendek. Terlihat bisep kakinya menonjol dan berurat keras. Hanya topinya yang gaul, fans Liverpool.

“Duduk.”

“Saya teman Sembadra.”

Tanpa jawaban, orang itu memandangi keduanya.

“Kamu pucat!”

“Iya.”

Orang itu bangkit dari duduk, berjalan deras menuju dapur. Tak selang lama yang keluar malah perempuan setengah baya. Ini modis, pakai celana ketat, sadis memperlihatkan kurus badannya.

“Saya istrinya Cak Doel,” kata perempuan itu.

“Masnya istirahat dulu, jangan langsung naik sore ini, lagi dibuatkan jamu sama Cak Doel,” ucapnya lembut.

Suasana kaku, pertemuan kultur desa dan kota, tradisionalis dan megapolitan. Tapi tetap satu rasa, dingin hawanya. Kabut gunung tak sungkan mampir hingga masuk ke selasar rumah. Pintu rumah itu tak ditutup, 24 jam terbuka bagi peziarah.

“Ini minum, air rebusan cengkeh,” kata Cak Doel.

Dharma bengong, wajar dirumahnya biasa tersedia antihistamin, antipiretik, parasetamol dan sejenis generik lainnya. Ditaruhnya gelas itu, Cak Doel kembali duduk. Tetap dengan gestur yang sama. Diam, membusung dada, seperti Reco Pentung.

“Kemarin ada juga yang lewat sini,” ucapnya.

“Namun tak ijin, kebiasaan buruk,” tambahnya.

Siapa yang dimaksud cak Doel? Keduanya bingung. Secangkir air rebusan cengkih hangat tadi masih terduduk di meja usang. Dharma belum meminumnya. Sembadra menginjak kaki Dharma sambil matanya tertuju ke gelas itu. 

Kode brutal untuk Dharma agar segera meneguk jamu itu. Dharma tetap saja terdiam. Berpikir, beracun gak ya? Pahit? Masam? Suasana di luar gelap, lampu hanya ada di seberang sana, tertutup kebun nangka yang seram.

“Silahkan diminum,” tawar istri cak Doel.

“Iya,” jawab mereka berdua lagi. Dharma kau jangan basa-basi, bentar lagi injakan kaki Sembadra makin keras. Secangkir air mujarab langsung diteguknya habis.

Sembadra juga menyeruput dan terhenti sejenak. Merasakan rasa air itu. Ternyata sama! Cak Doel membuat dua cangkir hangat air rebusan cengkih. Cepat-cepat Sembadra menguasai keadaan, dituguknya habis pula. Dharma terkekeh, rasakan!

“Terima kasih obatnya,” kata Dharma Tak ada obrolan malam itu, cak Doel mempersilahkan mereka istirahat, tidur di ruang tamu.

“Pertapaan ini sangat sakral, awas, jangan mesum!” kata Cak Doel mengawali percakapan. Sedari tadi sepi. Mereka berdua diantar oleh Cak Doel menuju pertapan Indrokilo. 

“Kalau tidak sopan dengan arca-arca dan patung di Indrokilo maka kalian syirik.”  Cak Doel memandangi mereka berdua.

“Mereka bukan berhala!” tandasnya lagi sambil menghisap dalam kreteknya.

Sembadra dan Dharma hanya diam. Cak Doel berjalan di depan dengan langkah begitu kuat stabil. Terlatih mencari rumput untuk ternaknya, tiap hari lagi. Hutan Ringgit begitu rapat, walau jalan setapaknya lebar. 

Efek repetisi injakan para peziah yang tiap harinya ada saja. Dukun, tukan tenung, kyai, ustad, pelacur, pelajar sampai buronan banyak yang berkunjung. Termasuk ayah dari Sembadra, seorang kyai yang terjerat kasus korupsi.

Alam selalu terbuka menerima siapa saja. Tanpa pandang predikat. Alam selalu sediakan hawa segar, nyanyian rimba, sejuk air, dan kesunyian untuk mereka semua.

“Kalian tahu, arca di sini bisa terbang pindah tempat.” Cak Doel menakuti.

Kemudian dilanjutkan, “Dan kamu mirip arca itu!” Cak Doel mencoba terus bermonolog sambil menunjuk jarinya ke ke sebuah arca yang dibungkus kain putih. 

Itulah hari yang paling berkesan, ketika Sembadra tak sekedar menziarai tempat keramat tersebut. Namun, nilainya lebih besar, yaitu menjenguk ayahnya yang sedang menenangkan diri dari hiruk-pikuk dunia untuk sementara waktu. Demi pemulihan mental setelah terjerat kasus korupsi. 

Dan, pada hari itu pula Sembadra mendapat lipatan kertas bertulis dan wangi yang dibukanya di bandara beberapa waktu yang lalu saat pemberangkatan. 

Di akhir hantaman kilas balik itu, dibukanya sekali lagi kertas itu, jelas tulisannya: "tebus dirimu seperti diriku, aku tahu yang terjadi."

Kini dirinya di Pattani, mirip dengan keadaan ayahnya di pertapaan itu. Sembadra ingin tenang walau dalam sekejap. Diputarbaliklah acara pada hari kedua pertemuan antar pelajar dua negara itu. 

Bukan lagi diskusi dan debat yang berbuih-buih yang kemudian unggah sana-sini di media sosial. Atau ekspos konten dan gambar-gambar perang, kekejaman dan penderitaan yang kadang tak jelas maksud dan tujuannya.

Atas saran Sembadra, mereka akan terjun langsung ke kampung gajah, untuk sekedar memberi kabar kepada dunia bahwa di sini ada gajah, ada kehidupan damai, ada alam segar dan ada cinta.

Konten-konten mereka kini terasa sejuk, langsung bersentuhan dengan alam. Bukan lagi bersentuhan dengan senjata, agitasi, wajah-wajah menyeringai ataupun kengerian lainnya. Sejak itu pula Sembadra berusaha menghentikan ketagihan itunya.