Prabowo akan maju lagi dalam laga pertarungan politik Pilpres 2024 nanti. Memang semangat beliau perlu diapresiasi untuk ikut pertarungan, walaupun sering kali mengalami kekalahan.

Wacana Pilpres 2024 sudah sering dibicarakan sejak kini. Tak lekas juga Prabowo Subianto selaku ketua umum Partai Gerindra, digadang-gadang akan maju kembali, dan tentunya banyak pembelajaran yang dapat diambil atas kemenangannya yang sering kali tertunda. Ya, memang rejeki ndak akan kemana-mana kok.

Dalam tulisan Tsarina Maharani yang dimuat Kompas.com, pada rapat koordinasi daerah DPD Gerindra Sulawesi Selatan yang digelar Sabtu (9/10/2021), Sekjend Partai Gerindra Ahmad Muzani memastikan Prabowo Subianto akan maju pada Pilpres 2024, bahkan menargetkan akan meraih suara di Sulsel 65 persen.

"Majunya beliau karena begitu masifnya permintaan kita semua. Majunya beliau karena begitu besar harapan rakyat, pembangunan harus berlanjut, cita-cita kita berpartai belum terwujud," kata Muzani dikutip dari keterangan tertulis, Minggu (10/10/2021, terbitan Kompas.com).

Walaupun, pernyataan secara langsung dari mulut Prabowo belum keluar, namun rekomendasi dari internal partai Gerindra sangatlah besar jika Prabowo kembali bertarung pada Pilpres 2024  mendatang. Bahkan partai lain pun telah menggadang-gadang nama yang nantinya siap mendampingi bapak Prabowo itu.

Ambisi pak Prabowo untuk tetap ikut bertarung pada Pilpres 2024 memang perlu diapresiasi, mengapa tidak, mengingat beliau tak pernah bosan berjumpa dengan kekalahan. Bahkan, semangat beliau pun tetap berkoar-koar dan tak pudar dalam laga perpolitikan. Keyakinan pak Prabowo memang kuat kalau kegagalannya adalah keberhasilan yang tertunda, dan tentu beliau pun makin agresif untuk membangun koalisi dan menarik perhatian rakyat untuk meraih suara kemenangan.

Karier pak Prabowo sebagai mantan anggota TNI tentu tidak diragukan lagi mengenai soal semangat, tak kenal mundur dalam pertarungan, dan keyakinan atas kemenangan pasti akan ada. Nah, ketimbang dari deretan nama-nama yang pernah terlibat dalam pertarungan politik Pilpres, tentu nama pak Prabowo menjadi peraih pertama yang sering terlibat dalam pertarungan Pilpres, entah sebagai Capres maupun Cawapres.

Jejak Prabowo dalam sejarah Pilpres di Indonesia

Pak Prabowo 1 kali Cawapres, 2 kali Capres dan rencana Capres lagi 2024. Pada Pilpres 2009, pak Prabowo awal mulanya ikut Pilpres yang kala itu mendampingi ibu Megawati. Ya, memang nama pak Probowo baru muncul saat itu, mengingat pada Pilpres 2004 beliau tak terlibat, di samping itu pula pasangan calon Susilo Bambang Yudyono-Jusuf Kalla ditetapkan sebagai pemenang pada Pilpres 2004.

Makanya, tidak heran saat Pilpres 2009, pasangan SBY-Boediono kembali ditetapkan sebagai Presiden 2009-2014. Sebagaimana dikutip dari detik.com "Jejak Kekalahan Mega-Prabowo di Pilpres 2009," dengan perolehan suara SBY-Boediono meraup suara 73.874.562 (60,80%), Megawati-Prabowo meraih suara 32.548.105 (26,79%) dan JK-Wiranto 15.081.814 (12,41%). Akhirnya, SBY-Boediono pun resmi ditetapkan menjadi pemenang.

Pilpres selanjutnya pun makin seruh, Prabowo yang sebelumnya menjadi Cawapres mendampingi Megawati, justru naik tingkat menjadi Capres pada Pilpres 2014. Pengalaman pak Prabowo yang sebelumnya menjadi Cawapres, mesti dapat menjadi pelajaran, apalagi lawan politiknya yang Capres adalah orang baru di rana kontestasi Pilpres.

Kala itu hanya ada 2 pasangan calon bertarung, pak Prabowo yang menggandeng Hatta Rajasa, melawan pasangan calon Joko Widodo yang didampingi oleh Jusuf Kalla. Alhasil, kekalahan kembali berada di pundak pak Prabowo, walau pertarungan sengit terjadi karena tak bisa menerima dari hasil perhitungan cepat yang mayoritas angka dihasilkan berpihak pada kemenangan pak Jokowi. Bahkan, pak Prabowo beserta pendukungnya sempat mengadakan sujud syukur di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, dan menyatakan ia sebagai pemenangnya.

Namun, ketetapan atas kekalahan pak Prabowo  disampaikan oleh pihak KPU pada rapat pleno yang dilaksanakan tiga belas hari setelah Pilpres. Pasangan Prabowo-Hatta menang di 10 provinsi dengan raihan suara sebesar 62.576.444 (46,85 persen). Sementara Jokowi-JK unggul di 23 provinsi dan luar negeri dengan total suara sebesar 70.997.851 (53,15 persen). Artinya, Jokowi-JK yang menjadi presiden 2014-2019. (Tirto.id/Irfan Teguh).

Kekalahan pak Probowo tersebut tak membuat ia depresi dan mundur dalam pertarungan, bahkan pak Prabowo memilih jalan di luar pemerintahan dengan menjadi oposisi pemerintah, 5 tahun menjadi oposisi untuk persiapan bekal melawan pak Jokowi selanjutnya kembali diaktualisasikan.

Hingga akhirnya, Pilpres 2019 pak Prabowo dan pak Jokowi kembali bertarung. Kali ini dua pasangan didampingi dari orang baru yang masuk pada pertarungan Pilpres. Lagi-lagi kemenangan untuk pak Prabowo kembali tertunda. Sebagaimana yang dilansir dari cnnindonesia.com, pasangan Joko Widodo-Ma'ruf Amin sebagai pemenang Pilpres 2019 dengan perolehan suara 55,5 persen. Sementara, pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno meraih kemenangan tertunda dengan 44,5 persen suara.

Semangat yang tak luntur

Walau sering kali mengalami kekalahan, 1 kali sebagai Cawapres dan 2 kali Capres, semangat Prabowo tak luntur untuk kembali bertarung pada Pilpres 2024. Pilpres 2024 nantinya, bukan lagi melawan pak Jokowi, tetapi bisa saja bertarung dengan deretan nama-nama baru seperti Puan Maharani, Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, Airlangga Hartato, Ridwan Kamil, dan beberapa politikus muda lainnya, ataupun diantara nama itu juga akan ada yang mendampingi pak Prabowo. Ya, tergantung lagi koalisi dan perjanjian politik, siapa melawan siapa, siapa berdampingan siapa, bahkan siapa diuntungkan siapa, hehehe canda kali'.

Dalam beberapa survei, nama Probowo Subianto menjulang dan selalu menempati klasemen atas. Dalam tulisan Rakhmad Hidayatulloh Permana yang diterbitkan detikNews 10 Oktober 2021, ada 3 Lembaga survei terkait Capres-Cawapres pada Pilpres 2024 nanti, diantaranya lembaga survei Indo Barometer, lembaga Parameter Politik Indonesia, dan lembaga Indostrategic.

Lembaga survei yang dilakukan Indo Baromater sejak tanggal 9-15 Januari 2020. Adapun sampel dari survei tersebut berjumlah 1.200 responden dari 34 provinsi, simulasi A Prabowo-Puan 39,3% dengan Anis-Airlangga 21,9%. Lebih lanjut lembaga survei Parameter Politik Indonesia yang digelar 23-28 Mei 2020, simulasi skenario pasangan 1 Prabowo-Anies 43,8% dengan PUAN-AHY 13,9%. Sementara lembaga survei Indostrategic menyebutkan, Anies-AHY 20,25%

Prabowo-Puan 14,65%, Ganjar-Ridwan 8,05%, dan beberapa nama politikus lainnya juga disebutkan.

Walau, beberapa hasil survei menyebutkan bahwa nama Prabowo selalu menjadi rajanya, namum semuanya dapat berubah terkait waktu yang akan datang. Koalisi antara kemenangan Prabowo yang tertunda dengan hasil survei, akan membangkitkan semangat Prabowo untuk tetap ikut pada pertarungan Pilpres.

Oleh karena itu, semangat Prabowo memang perlu diapresiasi, karena kekalahan dalam Pilpres tak membuatnya mundur, bahkan walau kalah namun akan tetap menerima posisi strategis di pemerintahan, seperti sekarang ini memimpin Kementerian Pertahanan. Akankah Probowo meraih kemenangannya yang tertunda pada Pilres 2024 nanti, jika memang sudah resmi menjadi Capres? Atau mungkin akan menerima kembali jabatan sebagai menteri walau kalah dalam pertarungan, entahlah?