7 bulan lalu · 903 view · 7 min baca menit baca · Budaya 93532_44997.jpg
Dua Pemuda Muslim Ahmadi tengah beraksi dalam perhelatan CTC Asian Games 2018

Semangat Pemuda ala Ahmadiyah

Kaum muda merupakan segmentasi paling penting dalam demografi masyarakat. Kapan pun waktunya, di mana pun tempatnya, dan bagaimana pun caranya, para pemuda senantiasa memainkan peran utama dalam kemajuan suatu kaum. Sejarah telah, sedang, dan akan selalu mencatat jejak langkah mereka dalam goresan tinta yang tak akan pernah terhapus.

Islam, agama yang kini dianut oleh sekitar 1,8 miliar penduduk bumi, juga berawal dari lingkaran sekelompok pemuda. Mereka, dengan semangat kesetiaan dan ketulusan, menjadi pengusung panji pertama Muhammad di Arabia. Tak peduli dari strata bangsawankah atau rakyat jelata, mereka bersatu dalam ramai dan sunyi untuk mengesakan Tuhan serta berbuat baik kepada sesama manusia. Keaniayaan dan kezaliman yang ditimpakan kepada mereka tak menyurutkan tekad mereka sedikitpun dalam menempuh suluk ilahi.

Mayoritas Sahabat yang memeluk Islam di tangan Nabi, teristimewa pada masa permulaan, masih berusia di bawah 40 tahun. Hadhrat Abu Bakr, misalnya, berumur 38 tahun, Hadhrat ‘Umar 26 tahun, Hadhrat ‘Utsman 20 tahun, dan Hadhrat ‘Ali 8 tahun. Wujud-wujud ini merupakan pilar utama Islam yang kelak, berkat sumbangsih mereka yang tak ternilai bagi perjuangan agama dan kemaslahatan manusia, diangkat oleh umat sebagai al-Khulafa’ ar-Rasyidin.

Begitu pulalah halnya dengan Hadhrat ‘Abdur Rahman bin ‘Auf, Hadhrat Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah, Hadhrat Zubair bin al-‘Awwam, Hadhrat Thalhah bin ‘Ubaidullah, Hadhrat Sa‘d bin Abu Waqqash, dan Hadhrat Sa‘id bin Zaid yang masing-masing berada pada usia 30-an, 27, 18, 11, 17, dan 19 tahun ketika berbaiat.

Kesepuluh orang tersebut—biasa dikenal dengan ‘asyrah mubasysyarah, sepuluh yang dijanjikan masuk surga—adalah Sahabat-Sahabat terbaik yang menyertai Rasulullah selama hidup beliau.

Futuwwah—demikian terminologi kepemudaan dalam literatur bahasa Arab—inilah yang hendak dihidupkan kembali oleh Jamaah Muslim Ahmadiyah. Kami meyakini bahwa, pada era ketika semangat mengkhidmati Tuhan dan makhluk-Nya tengah meredup seperti sekarang, Allah Taala mengutus Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad sebagai Imam Mahdi dan Almasih Yang Dijanjikan untuk merevitalisasi roh futuwwah dalam pengabdian terhadap Islam dan sesama makhluk Allah Taala. 


Dalam kitab al-Istifta’, beliau bersabda lewat sebuah syair berbahasa Arab:

Nas‘a ka fityanin li dini Muhammadin.

Lasna ka rajulin faqidil a‘dha’i.

Kami berjuang bagai para pemuda demi agama Muhammad.

Tiadalah kita seperti seorang tua yang telah lumpuh anggota badannya.

Begitu juga, dalam kitab Barahin-i-Ahmadiyah, beliau bersabda melalui sebait syair berbahasa Farsi:

Mera maqshud-o-mathlub-o-tamanna khidmat-e-khalq asat.

Hamein karam, hamein baram, hamein rasmam, hamein raham.

Tujuanku, kedambaanku, dan hasrat hatiku yang terdalam adalah mengkhidmati manusia.

Inilah pekerjaanku, inilah keimananku, inilah adat-istiadatku, dan inilah jalan hidupku.

Dalam rangka mengorganisasi kawula muda yang benaung di bawah payung Ahmadiyah, Khalifah kami yang kedua, Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad, mendirikan sebuah badan yang dinamakan Majellis Khuddamul Ahmadiyah. Badan tersebut berisikan para pemuda Muslim Ahmadi yang berusia 15 sampai 40 tahun serta anak-anak—dikenal sebagai Athfal—yang berumur 7 hingga 15 tahun.

Pendirian Khuddam, seperti tertera dalam pedoman dasarnya, dimaksudkan dan ditujukan sebagai berikut: “Melatih dan mendidik anggotanya, termasuk Athfalul Ahmadiyah, dengan cara Islam yang sejati untuk menanamkan dalam diri mereka kecintaan kepada Allah dan Hadhrat Khatamun Nabiyyin, Muhammad Mushthafa, jiwa pengabdian kepada Islam, negara dan umat manusia, serta berjuang demi kesejahteraan mereka.”


Kemudian, dalam diktum pertama janji Khuddam, ada termaktub sebagai berikut: “Aku bersedia mengorbankan jiwa-raga, harta, waktu, dan kehormatanku untuk kepentingan agama, nusa, dan bangsa.”

Atas dasar ini, para pemuda Muslim Ahmadi, kapanpun dan di manapun dengan dibalut oleh cara-cara yang Islami, selalu siap untuk berbakti bagi kepentingan agama serta masyarakat luas. Para pemuda Muslim Ahmadi senantiasa berusaha untuk memberikan warna yang positif bagi lingkungan di mana masing-masing dari mereka tinggal, tak terkecuali di Tanah Air Indonesia.

Tarikh Nusantara merekam bahwa pemuda-pemuda Muslim Ahmadi turut menyuguhkan kontribusi yang besar, secara moralkah atau melalui perjuangan fisik, bagi kemerdekaan bangsa kita.

Dalam Kongres Pemuda II sendiri—diselenggarakan di Jakarta pada 27-28 Oktober 1928 dan melahirkan Sumpah Pemuda—, ada satu khuddam yang tampil cemerlang: Wage Rudolf Supratman. Di Gedung Oost-Java Bioscoop, lagu nasional gubahannya yang berjudul “Indonesia Raya” pertama kali diperdengarkan kendati hanya melalui lantunan biola.

Di samping itu, terdapat Entoy Mohammad Tojib, pemuda Muslim Ahmadi yang aktif dalam pergerakan kemerdekaan dan, karena kegiatan-kegiatannya yang vokal, beberapa kali diasingkan serta ditangkap, baik oleh Pemerintah Hindia Belanda maupun Pemerintahan Jepang. Pada masa revolusi fisik 1945-1949, beliau bergabung dalam Badan Keamanan Rakyat-Tentara Keamanan Rakyat (BKR-TKR) untuk mempertahankan kemerdekaan yang sudah diraih.

Berikutnya, ada Malik Aziz Ahmad Khan dan Abdul Wahid, dua orang muballigh Muslim Ahmadi yang terlibat dalam usaha-usaha diplomatik mengumumkan kemerdekaan Republik Indonesia ke dunia luar, khususnya melalui siaran RRI berbahasa Urdu.

Kemudian, terdapat Ahmad Nuruddin dan Sadruddin Yahya Pontoh, dua anggota lain dari korps muballighin Jamaah Muslim Ahmadiyah yang giat mengunjungi pusat-pusat tentara India di Jakarta guna menjelaskan kepada mereka, dalam bahasa Urdu dan Inggris, kesucian perjuangan bangsa Indonesia. Alhasil, sejumlah besar tentara India yang beragama Islam memutuskan untuk desersi dari otoritas Inggris dan melebur dalam upaya mempertahankan kemerdekaan.

Selanjutnya, tercantum nama R. Mohammad Muhyiddin, Ketua Umum Pengurus Besar Jemaat Ahmadiyah Indonesia yang ditunjuk sebagai sekretaris perayaan hari ulang tahun Indonesia yang pertama di Jakarta pada 1946. Hanya saja, delapan hari sebelum pelaksanaan, beliau diculik dan ditembak mati oleh tentara Belanda.

Ahmadiyah pun ikut memberikan pencerahan ideologis kepada golongan muda perintis kemerdekaan Indonesia. Nilai-nilai yang diajarkan oleh Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad menjadi sumber inspirasi bagi mereka dalam menentukan masa depan bangsa yang besar ini.

Soekarno, misalnya, adalah figur proklamator yang memperoleh pengaruh besar dari Ahmadiyah. Sedari muda, beliau telah banyak menarik faedah dari literatur-literatur Ahmadiyah yang rasional, modern, broadminded, dan logis. Meskipun tidak setuju dengannya dalam beberapa hal, beliau tetap mengapresiasi Ahmadiyah atas penerangan pemikiran yang telah diberikannya kepada beliau.

Tan Malaka, pemuda revolusioner yang pertama kali mencetuskan nama “Republik Indonesia”, termasuk pula dalam kalangan tokoh yang terilhami oleh Ahmadiyah. Sewaktu tinggal di Singapura, beliau sempat membeli dan menelaah kitab tafsir Alquran Ahmadiyah. Beliau mengakui Ahmadiyah sebagai salah satu gerakan Islam kontemporer.

Selanjutnya, tertulis nama Djohan Mahmud Tjay, representatif Jong Islamieten Bond dalam Kongres Pemuda II. Setelah melakukan studi terhadap Ahmadiyah secara mendalam, beliau lantas mengagumi nilai-nilai perjuangan dan reformasi Islam yang dikembangkan oleh Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad dan para pengikut beliau, terutama di Asia Selatan. Beliau juga berujar bahwa, atas jasa-jasanya itu, Ahmadiyah patut disyukuri alih-alih dikecam dan dijelekkan.

Setelah Indonesia merdeka, para khuddam pun giat berpartisipasi dalam mewarnai kehidupan berbangsa hingga titik di mana kita sekarang berada. Baik dalam mendorong kebaikan maupun mencegah kemungkaran, para khuddam secara berkesinambungan menjejakkan kaki mereka di atas pijakan yang kuat. Moto Ahmadiyah berupa love for all, hatred for none terus-menerus menggema dalam dada dan perilaku mereka.

Contohnya, sejak tahun 2013, Majelis Khuddamul Ahmadiyah Indonesia telah menginisiasi dan menyelenggarakan program kebersihan bernama Clean the City. Awalnya, kegiatan ini hanya difokuskan pada usaha membersihkan titik-titik tertentu di berbagai kota di Indonesia seusai perayaan malam tahun baru. 


Kemudian, mulai tahun 2018, Clean the City dikembangkan menjadi sebuah gerakan edukator kebersihan yang beraksi pada perhelatan-perhelatan besar, seperti Asian Games di Jakarta dan Bekasi serta Karnaval Budaya di Kabupaten Kuningan.

Selain itu, per tanggal 26 Mei 2018, Majelis Khuddamul Ahmadiyah resmi meluncurkan aplikasi GiveBlood. Aplikasi daring ini dibangun dan dikembangkan dengan tujuan menolong masyarakat yang membutuhkan darah dengan cepat serta memberikan informasi penting terkait donor darah. 

Sistem kerjanya mirip aplikasi ojek online, yaitu mempertemukan orang yang membutuhkan darah dengan orang yang siap mendonorkan darahnya. Tercatat, sejak pertama kali diinaugurasi, puluhan orang telah menggunakan GiveBlood tiap bulannya dan mendapat permintaan donor darah yang mereka cari.

Tak ketinggalan, para khuddam juga berpartisipasi menjadi sukarelawan dalam kegiatan-kegiatan Humanity First, lembaga kemanusiaan yang didirikan oleh Khalifah keempat kami, Hadhrat Mirza Tahir Ahmad. Humanity First sudah berdiri di Indonesia dan mempunyai enam program utama: Klinik Asih Sasama, kegiatan medis, water for life, orphan care, pendidikan dan keterampilan, serta disaster relief

Berkenaan dengan program terakhir, sukarelawan muda Muslim Ahmadi, laki-laki dan perempuan, pun terjun pada beberapa waktu terakhir ke lokasi-lokasi bencana di Lombok, Palu, dan Donggala untuk membagikan bantuan bagi para korban serta melipur kesedihan mereka.

Ringkasnya, bagi setiap khuddam, pengabdian kepada agama dan kemanusiaan tidak pernah dan tidak akan pernah terlepas dari jati diri mereka. Betapapun angin berhembus kencang di samudera pengkhidmatan, bahtera kami akan tetap berlayar dan menerjang ombak-ombak yang bergelombang. Inilah cara kami menghidupkan semangat anak-anak muda yang dahulu berjuang di sisi Nabi untuk Tuhan dan umat manusia. 

Demikianlah jalan kami meneruskan misi futuwwah Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad selaku pelayan Nabi Suci Muhammad. Begitulah upaya kami dalam memenuhi ekspektasi Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad, Sang Pendiri Majelis Khuddamul Ahmadiyah yang pernah mengungkapkan:

Nations cannot be reformed without the reformation of its youth.

Artikel Terkait