Tersisa beberapa hari lagi ummat Islam akan sampai pada satu bulan yang dalam Islam dikategorikan sebagai salah satu bulan yang mulia, yakni bulan suci Ramadhan.

Tidak lama lagi pula lorong-lorong perkampungan akan ribut oleh segelintir warga kampung yang dengan sukarela membangunkan para penduduk kampung di waktu yang masih sangat dini hari.

Tidak lama lagi kita juga akan dipaksa bangun oleh ibu kita untuk makan di waktu yang tidak biasanya bagi kita lakukan. Yang seharusnya mata kita masih terpejam, kita justru malah dipaksa menjejali mulut dengan makanan.

Tidak lama lagi masjid-masjid juga akan dipadati oleh para jamaah pada malam harinya. Mereka dengan berduyun-duyun akan mendatangi masjid lengkap dengan pakaian yang bersih nan wangi (tapi untuk yang ini belum bisa dipastikan. Mengingat Corona masih merajalela di mana-mana).

Dan tidak lama lagi segala kebaikan yang sudah kita rencanakan untuk bulan suci nanti akan kita sadari betapa lemahnya kita sebenarnya untuk menjalankan semuanya.

Dalam Islam, bulan Ramadhan disebut sebagai bulan yang suci tidak lain karena di dalamnya terdapat banyak sekali keutamaan. Bagi seorang muslim yang mengisi bulan ini dengan amalan-amalan yang banyak (tentunya sesuai dengan anjuran Islam) akan memperoleh keutamaan-keutamaan itu. 

Salah satu keutamaan yang bisa diperoleh seorang muslim di bulan ini bisa kita ketahui melalui hadis berikut, “Barangsiapa yang berpuasa Ramadan karena penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah SWT, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sudah barang tentu tidak ada satupun dari kita yang ingin memiliki dosa yang bertumpuk-tumpuk. Kita semua pastinya ingin agar Tuhan mengampuni seluruh dosa-dosa kita. Namun, untuk meraih ampunan Tuhan di bulan Ramadhan nanti (sebagai salah satu keutamaan yang bisa didapatkan seorang muslim di bulan Ramadhan sebagaimana yang tertera pada hadis di atas) tentu bukan sesuatu yang bisa kita dapatkan secara cuma-cuma.

Bukan dengan memperpanjang waktu tidur dari hari biasanya (di luar dari bulan Ramadhan) sehingga keutamaan tersebut bisa kita dapatkan, bukan pula dengan bermalas-malasan di rumah, apa lagi dengan menceritakan kejelekan-kejelekan orang lain saat berkumpul dengan teman-teman. Sebab alih-alih dosa-dosa kita jadi terpangkas karena sudah terampuni, yang ada justru malah akan semakin menggunung.

Melainkan dibutuhkan usaha ekstra berupa meningkatkan kualitas spiritualitas yang harus kita tunjukkan di bulan Ramadhan nanti sehingga keutamaan tersebut bisa kita dapatkan. Bahkan keutamaan-keutamaan yang lainnya pun juga akan ikut dengan sendirinya.

Upaya peningkatan kualitas spiritualitas yang bisa kita lakukan di bulan Ramadhan ada banyak caranya. Sebut saja seperti mendirikan shalat lima waktu di waktu yang tepat dan tidak bolong-bolong lagi (bahkan ditambah juga dengan shalat-shalat sunnah lainnya), bisa juga dengan memperbanyak baca Al-Qur'an, ataupun dengan semakin mempererat hubungan sosial kita dengan setiap orang, dan masih banyak lagi upaya-upaya lainnya yang bisa kita lakukan demi meningkatkan kualitas spiritualitas kita di bulan suci Ramadhan nanti.

Selain keutamaan seperti yang sudah disebutkan di atas, ada lagi keutamaan-keutamaan lainnya yang bisa kita dapatkan di bulan Ramadhan. Izzuddin bin Abdissalam al-Sulami (w.660 H) dalam kitabnya Maqâshid al-Shaum, Sulthân al-Ulamâ', mengungkapkan kurang lebih ada tujuh keutamaan yang bisa diperoleh seorang muslim pada bulan Ramadhan. Dan tujuh keutamaan itu saling terkait satu dengan yang lainnya.

Keutamaan yang pertama yang disebutkan Izzuddin adalah: meninggikan derajat; yang kedua penghapus dosa; menundukkan syahwat; memperbanyak sedekah; menyempurnakan ketaatan; mensyukuri nikmat Tuhan yang tersembunyi; dan terakhir mencegah keinginan bermaksiat.

Melihat melimpahnya keutamaan yang terdapat dalam bulan Ramadhan, tak heran jika Tuhan mengkategorikannya sebagai salah satu bulan yang suci dan mulia. Dan, tak heran pula jika kita begitu sangat antusias menantikan kedatangannya. 

Hal tersebut nampak sangat jelas pada diri kita ketika bulan Ramadhan tinggal beberapa hari lagi. Demi menyambut datangnya bulan yang mulia, beberapa persiapan akan kita lakukan. Mulai dari meluangkan waktu pergi ke pasar untuk mencari pakaian yang bernuansa islami yang nantinya akan kita kenakan ke masjid dan juga akan kita pamerkan di media sosial kita.

Gaya rambut kita juga akan kita pangkas jadi lebih pendek dan lebih rapi. Status yang kita bagikan di media sosial kita juga jadi lebih terlihat bijak dan penuh damai. 

Kita tidak lagi ngomel-ngomel di Facebook, tidak lagi bergosip di Twitter, juga jadi tiba-tiba merasa malu untuk curhat melalui dinding WhatsApp story. Semuanya kita ganti dengan kalimat-kalimat penuh bijak dan inspiratif meski seluruhnya kita ambil dari internet.

Gambar-gambar yang tersimpan di galeri gawai kita semuanya juga jadi bertemakan Ramadhan. Lagu-lagu yang kita dengar setiap harinya pun adalah yang bergenre religi. Kita juga jadi lebih sopan di Tiktok, sehingga alih-alih untuk joget-joget. Dan kata-kata yang kita ucapkan bukan lagi "anjay", "anjir", "anjim", melainkan kita ganti dengan kata-kata yang lebih terdengar damai, seperti "alhamdulilah", "masya Allah", "astaghfirullah", dan semacamnya.

Hingga saat bulan yang kita rindukan tiba, kebiasaan-kebiasaan positif itu masih konsisten kita lakukan. Pada awal-awal Ramadhan semangat beribadah kita masih begitu berapi-api. 

Setiap malamnya kita masih pergi ke masjid untuk shalat tarawih berjamaah hingga kelar. Kita masih baca Al-Qur'an dengan niat akan khatam beberapa kali sampai Ramadhan berakhir. Kita enggan untuk tidur sehabis makan sahur karena takut alpa shalat subuh. Sehabis shalat subuh kita tidak tidur, tapi kita mengisinya dengan membaca Al-Qur'an.

Semangat beribadah itu masih mengalir deras dalam aliran darah kita beberapa hari di awal-awal Ramadhan. Namun, saat Ramadhan memasuki pertengahan, sayangnya semangat itu perlahan-lahan mulai kendor. Semangat beribadah kita tidak lagi sama seperti pada hari-hari pertama Ramadhan. Alih-alih semakin meningkat, yang ada justru malah semakin merosot.

Seperti yang disabdakan kanjeng Nabi bahwa keimanan itu seperti air laut yang pasang surut. Dan kita benar-benar mengalaminya, justru pada saat Ramadhan mulai memasuki pertengahannya. 

Alih-alih masih rajin membagikan status di media sosial dengan kalimat-kalimat yang menenangkan jiwa, kita justru malah tak sempat lagi untuk melakukannya. Karena kita lebih memilih menghabiskan waktu untuk tidur berlama-lama.

Shalat wajib lima waktu juga sudah mulai sedikit demi sedikit kita jarang lakukan, terlebih lagi dengan shalat sunnah tarawih dan shalat-shalat sunnah lainnya. Kebiasaan baca Al-Qur'an perlahan-lahan juga mulai kita tinggalkan. Kita pun juga tidak khawatir lagi untuk alpa shalat subuh dan lebih memilih untuk melanjutkan tidur setelah makan sahur. 

Hal yang demikian bahkan terus berlanjut hingga menjelang Ramadhan berakhir. Akibatnya, keutamaan malam lailatul qadr kita lewatkan begitu saja tanpa mengisinya dengan amalan apapun. 

Sungguh benar-benar sangat disayangkan, semangat beribadah kita hanya bergejolak di awal-awal Ramadhan saja. Serupa bunga yang tiba-tiba layu, fondasi yang tiba-tiba roboh, dan seperti tiang yang tiba-tiba patah. Begitulah sejatinya kualitas keimanan kita, sungguh teramat sangat rapuh. 

Lalu kita dengan bangganya mengaku-ngaku merindukan Ramadhan dan berjanji akan mengisinya dengan amalan-amalan yang banyak, sementara semangat beribadah yang kita miliki tidak lebih dari sekadar semangat panas-panas tahi ayam.