Menjadi mahasiswa yang bisa aktif di organisasi dengan masih memegang kendali tentang nilai, memang sangat dimimpikan bagi setiap mahasiswa. Sejauh ini banyak sekali perdebatan tentang bagaimana bisa menjadi mahasiswa yang aktif di berbagai bidang non-akademik namun tetap berprestasi di dalam perkuliahan. Kita juga bisa, akan tetapi tentunya  dengan usaha yang ekstra. Maksud dari usaha ekstra di sini adalah mau meluangkan waktu, tenaga dan pikirannya secara utuh untuk mencapai tujuan tersebut (menjadi aktif dan berprestasi).

Waktu adalah hal yang sangat berharga dan juga sebagai nikmat dan karunia dari Tuhan untuk setiap manusia. Yang tidak akan dapat dikembalikan lagi jika sudah terlewat, maka hargailah waktu yang sangat singkat ini agar kita hidup tidak akan menyesal dan mengatakan mengapa dulu tidak seperti ini? Mengapa tidak seperti itu? Yang hanya dapat berandai-andai akan terulangnya waktu yang tersia-siakan dulunya. 

Bayangkan setiap manusia memiliki waktu yang sama yaitu 24 jam setiap harinya, jika waktu tersebut dipakai dengan sebaik mungkin.

Setiap manusia mempunyai hak dan kewajibannya masing-masing. Setiap aktivitas yang dilakukan manusia termasuk dalam hak dan kewajiban yang mana semua itu diatur dalam suatu waktu atau masa. 

Menghargai waktu sebagai realisasi disiplin adalah salah satu sikap individu manusia yang dapat memanage waktunya dengan baik. Kita semua pasti tahu bahwa manusia mempunyai waktu yang sangat singkat di dunia ini.

Begitupun menjadi Mahasiswa adalah waktunya untuk kita lebih pandai dalam mengeksplore diri. Menjadi mahasiswa yang biasa-biasa saja tidak cukup, karena di waktu inilah kita akan dihadapi dengan momen-momen yang menuntut untuk belajar, berani mengambil risiko dan segala keputusan yang ditemui. 

Bisa dibilang masa perkuliahan merupakan masa transisi menuju kehidupan yang sesungguhnya, peralihan dari masa yang awalnya terikat dengan kedua orang tua menjadi masa yang nantinya akan membuat kita independen dalam menentukan sikap untuk masa depan kita nanti.

Hal-hal itu tidak akan kita dapat ketika di kelas saja tetapi akan kita dapat ketika di luar perkuliahan dengan mengikuti organisasi dan lain sebagainya. Dengan berorganisasi kita akan belajar untuk mengorganisir apapun, memanage waktu hingga cocok dengan keadaan diri kita, belajar kepemimpinan dan juga belajar bertoleransi dengan perbedaan yang ada hingga mampu mewujudkan kebersamaan dan kesatuan. Dengan mengikuti kegiatan non akademik di kampus maupun di luar kampus dapat menjadi sarana mengembangkan potensi diri. 

Mulai dari melatih soft skill, membangun relasi, hingga menambah pengalaman untuk di curriculum vitae. Ada tiga alasan utama mengapa kita dituntut menjadi mahasiswa yang aktif : 

Satu, karena masih banyak hal dari diri kita yang harus dikembangkan. Sebagai seorang mahasiswa, tentunya kita memiliki semacam goals akhir yang ingin dicapai setelah lulus. Untuk bisa mencapai itu, ada banyak kemampuan yang harus kita tingkatkan. Nah untuk bisa mengasah kemampuan itu, kita harus terus aktif mengembangkan diri,

Alasan kedua, biasanya ialah bentuk eksplorasi dan usaha untuk membangun network. Walaupun sudah ada tujuan akhir, kita masih ingin mencoba berbagai hal untuk memastikan apakah pilihan yang diambil sudah tepat atau belum, sehingga eksplorlah banyak hal sekalian membangun network seluas mungkin.

Alasan ketiga, banyak kegiatan-kegiatan yang kita lakukan merupakan cara untuk "giving back" dari semua privilege yang bisa kita dapatkan sebelumnya. Jadi tidak semua kegiatan untuk personal benefit, tapi banyak juga yang untuk memberi benefit ke masyarakat.

Selain alasan tadi adapun banyak sekali komponen soft skill yang akan kita dapat jika kita mau menjadi mahasiswa yang aktif tidak hanya di akademik tetapi juga di non-akademik. Soft skills memiliki beberapa komponen, menurut Purwandari (2007: 11) menjelaskan bahwa komponen soft skills meliputi:

1.Etos kerja, yaitu dapat mengikuti instruksi yang diberikan atasan atau supervisor.

2.Sopan santun, yaitu kebiasaan mengucap “silakan”, “terima kasih”, “maaf”, “bolehkah saya membantu Anda dalam berhubungan dengan customer, supervisor, dan kolega?”.

3.Kerjasama, yaitu kemampuan untuk berbagi tanggung jawab, saling memberi dengan orang lain, komitmen dengan rasa hormat, saling membantu untuk mengerjakan tugas, dan mencari bantuan jika diperlukan.

4.Disiplin diri dan percaya diri, yaitu kemampuan mengatur tugas-tugas untuk performance yang lebih baik, belajar dari pengalaman, bertanya dan mengoreksi kesalahan, mampu menyerap kritik dan petunjuk tanpa perasaan bersalah, marah dan benci atau merasa terhina.

5.Penyesuaian terhadap norma-norma, yaitu kemampuan untuk mengatur cara berbusana, rapi, bahasa tubuh, nada bicara, dan pemilihan kata-kata sesuai yang sesuai dengan budaya kerja.

6.Kecakapan berbahasa, kemampuan bertutur kata, membaca dan menulis standar biasa

Lantas ada tidak sih tips dan trik dalam menghadapi situasi bilamana ada bentrok antara kuliah dan organisasi? Pastinya ada

Yang pertama, Pahami tujuan dari setiap kegiatan. Kalau tujuannya jelas, maka akan bisa menjadi motivasi internal untuk menyelesaikan semua yang sudah dilakukan. Petakan kegiatan yang tidak bisa berjalan tanpa kehadiran kalian, yang mana yang bisa didelegasikan. Sumpah ini penting banget, walaupun kita banyak kesibukan bukan berarti semua kerjaan diri sendiri yang handle! Apalagi di organisasi. Itulah yang disebut sebagai teamwork.

Kedua, gunakan planner! Mencatat jadwal dan tugas kita itu menjadi keharusan karena manusia pasti punya lupa ketika banyak pekerjaan yang hadir sekaligus dalam satu waktu. Gunakan lah framework kegiatan penting mendesak, tidak penting mendesak, penting tidak mendesak, dan tidak penting - tidak mendesak.

Ketiga, sesekali ambil waktu untuk diri sendiri. Jangan sampai kita udah burnout baru berhenti karena jatuhnya jadi lebih nggak produktif. Pahami kemampuan diri sendiri itu penting banget sih.

Keempat, menjaga kesehatan dan lakukan olahraga rutin untuk merefresh pikiran kita yang lelah, dan juga tidur yang cukup agar performa kerja kita baik setiap harinya.

Selain itu untuk menjadi mahasiswa yang aktif dan prestasi adalah dengan terikat oleh Beasiswa. It’s work for me! Karena selain kita di dukung oleh materi untuk Pendidikan yang kita tempuh, kita juga akan selalu termotivasi untuk mempertahankan Indeks Prestasi Kumulatif kita setiap semesternya karena adanya pelaporan hasil studi yang di data setiap pergantian semester jadi mau tidak mau nih kita belajar dengan giat untuk mempertahankan IPK agar terus di angka yang bagus. 

Begitu pun pelaporan prestasi tiap semesternya sehingga inilah bisa menjadi pendorong kita untuk selalu aktif meraih dan menorehkan prestasi baik di keorganisasian maupun dibidang non-akademik lainnya. Dan inti dari proses itu semua akan Menjadikan kita terbiasa dan akhirnya bisa melakukannya secara terus-menerus. 

Satu yang ingin saya tekankan ke teman-teman semua : “ Ketika sudah memulai sesuatu, lakukanlah dan selesaikan dengan tuntas” itu kunci sukses di dunia perkuliahan.

Daftar Pustaka:

Purwandari. (2007). Model Pembelajaran Berbasis Soft Skills untuk mengembangkan Kecakapan Sosial Anak Tuna Laras di Sekolah Luar Biasa. Laporan Penelitian. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Keolahragaan.

https://disperkimta.bulelengkab.go.id/informasi/detail/artikel/pentingnya-menghargai-waktu-sebagai-realisasi-disiplin-hidup-47