Aku terbangun dengan perasaan kacau, jam 05.15 Wita. Waduh, imsak jam sudah lewat aku tidak sahur, di masjid orang sudah salat subuh. Aku ketiduran, ini gara-gara semalam tidak bisa tidur. Aku asyik mainin hape; melihat-lihat Instagram, saling membalas komentar di Facebook, berbalas-balas WhatsApp, membuka-buka YouTube, dan memutar musik diari aplikasi sampai jam 01.12 lewat.

Aku memasang alarm jam tiga, 03.00 teng. Namun karena masih merasa mengantuk, kumatikan dan kupasang alarm ulang. Aku meniatkan bangun lagi jam 04.00 teng, eh malah bablas, molor sampai jam 05.15 subuh. 

Aku tidak masalah dengan tidak sahur, suer, tidak apa-apa, namun aku kepikiran dengan mimpi tadi.

Mengapa baru saja kamu masuk ke dalam mimpiku? Baru saja menemuiku dalam mimpi? Dunia mimpi, bukan dunia nyata. Di dunia nyata saja, hampir sebulan ini, kita tidak pernah bertemu. Mimpi ini seperti sesuatu yang sudah tidak pernah kuharapkan, kuinginkan, dan kubutuhkan lagi sejak aku tahu kamu masih mencintainya.

Ya, aku tahu, kamu masih mencintainya. Seperti perasaanku yang mengatakan bahwa Nina dan Adi saling menyukai di kantor hingga akhirnya kita kaget, tiba-tiba saja mereka memberikan surat undangan pernikahan. 

Atau Kiki dan Jun yang sukanya saling ledek, marahan satu sama lain soal pekerjaan ternyata mereka jadian, menjadi sepasang kekasih. Serta Ami dan Chiko yang awalnya cuma saling memperhatikan, diam-diam. Ternyata, saling suka. Ami juga  jujur padaku, kalau mereka saling suka, namun, Ami sudah punya pacar.

Dan kamu? kutahu kamu telah putus dengannya. Namun, kamu masih menyimpan rasa untuknya. Aku tak tahu kenapa? 

Mungkin saja karena dia adalah cinta pertamamu, your first love. Atau dia adalah perempuan yang paling mengena dihatimu. Kamu tidak bisa melepaskan bayang-bayang mantanmu itu. Aku mengerti, dia perempuan yang cantik dan pintar seperti impianmu. Persoalan kamu putus dengannya, aku tak pernah tahu alasannya.  

Perasaanmu pada gadis itu, selalu ada. Walau aku yang tiba-tiba hadir dalam hidupku karena urusan pekerjaan. Aku tergila-gila pada caramu bekerja, melaksanakan tugas-tugasmu, dan menyelesaikannya dengan baik dan benar. Aku tergila-gila pada pola pikirmu, kamu selalu orisinal, selalu puny ide jitu. Aku tergila-gila padamu, pada solusi di akhirmu, ketika kita semua sudah buntu melaksanakan pekerjaan itu.

Lalu, aku pun mulai suka mengajakmu berbicara, membicarakan pekerjaan awalnya, karena kamu adalah teman diskusi yang asyik. Tak lama kemudian, setelah berkomunikasi denganmu, jantungku selalu berdegub, bergetar tak karuan. 

Namun, aku tak tahu denganmu, bagaimana? Setiap kita bertemu, aku melihat, mata kita yang tidak bisa berbohong. Dan seandainya kamu tahu, hatiku merasakan sakit, hati yang tiba-tiba merasa lirih. Aku pun selalu memikirkan untuk selalu dekat denganmu.

Lalu, tiba-tiba saja kita jadi dekat, dan tiba-tiba saja saling jatuh cinta? Atau hanya perasaanku saja. Atau hanya karena aku punya hati lagi kosong? Atau kamu juga yang biasa kosong, dan biasa terisi? Hati yang sama-sama kosong?

Hati kita pernah kosong. Ketika sama-sama hati kita ditinggalkan dan dilupakan oleh oranng-orang yang yang pernah mengisinya, orang orang yang pernah kita sayangi, orang – orang yang kita cintai, orang-orang-orang yang pernah kita rindukan. Namun rasa cinta itu berubah menjadi benci. Hanya benci sesaat, karena kita sama-sama membebaskan pasangan kita memilih yang terbaik baginya dan hidupnya.

Aku pun tahu diri, walau kita sudah dekat, berhubungan akrab, hatimu mungkin masihlah untuknya. Kamu juga tak pernah mengatakan apa-apa. Dan aku menjalani hubungan pertemanan ini dengan datar-datar saja, biasa-biasa saja, dan wajar-wajar saja. Kita teman tapi mesra, walau aku menginginkan sesuatu yang lebih.

Aku dulu juga suka sekali sama Wawan. Aku juga sangat mencintai Wawan. Aku selalu merindukan Wawan. Namun, perasaan itu hilang ketika dia harus bekerja ke Kalimantan kami harus long distance relationship (LDR), hubungan jarak jauh. Lebih tepatnya, pacaran jarak jauh. 

Susah saling percaya dalam hubungan itu. Kami saling cemburu dan kepo, setiap ada foto atau kegiatan yang terbagi di medsos. Aku saling memikirkan apa yang telah dibuatnya disana, kepikiran terus. Kami pun tidak sevisi dan semisi lagi, seperti caleg saja. Impian kami hidup bersama, buyar.

Cinta memang tak harus memiliki. Akhirnya, kami putus baik-baik, kami menjadi sahabat, kakak dan adik. Apalagi kutahu, Wawan sudah mendapatkan gadis sana yang sangat menarik itu. Aku lihat dari postingan Wawan. Aku bersyukur dan berbahagia, Wawan menemukan orang yang bisa menemaninya, dan mencintainya. Aku selalu berdoa untuk kebaikannya, kebaikan mereka berdua, tidak lebih.

Dan aku masih termenung, memikirkan mimpi tadi.  Dalam mimpiku, kamu datang ke rumahku. Kakak perempuanku menyambutmu, ketika aku baru mau menyapa, kamu malah sibuk bermain diluar rumah dengan keponakanku anak dari saudara-saudaraku. Namun, aku memperhatikanmu dari jauh. 

Lalu, kamu pergi, pulang tanpa pamit padaku. Apa maksudnmu? Aku ingin menemuimu, aku ingin berbicara denganmu. Namun, kamu pergi. Di mimpiku  kakakku sampai bilang, “Kok dia cuek banget?”

Arti mimpiku? Beberapa hari ini, kami memang tidak saling berkomunikasi. Namun, perempuan yang tulus mencintai itu  perasaannya kuat sekali. Aku bisa merasakan apa yang terjadi. Aku merasakannya, perasaanku selalu mengatakan, kamu masih sayang mantanmu walau mungkin kamu sudah menyukaiku. 

Mungkin itu yang membuatmu berat melepaskannya atau tidak dengan gampang menemuiku, mengatakan rasa yang sebenarnya. Aku punya rasa, dan radar hati yang bisa merasakan dan melihatmu.

Bukan, bukan aku cemburu. Bukankah dulu kita pernah saling mengatakan untuk melempar mantan dan membuangnya pada tempat sampah? Walau itu Cuma sekedar bercandaan di kantor. Namun, kata-kata itu yang terpatri, aku dan kamu akan meninggalkan masa lalu, dan menukarnya dengan masa depan. Masa depan kita berdua. Kamu? Aku saja, kali? Mengapa harus GR? Sudahlah, aku harus bangun.

Jam 06.30 Wita.

Aku menyalakan data seluler di hape, pesan, chat masuk. Aku melihat WA, banyak sekali chat, baik perorangan maupun grup. Ada yang membuat aku terdiam sejenak, kemudian tersenyum, tak biasanya, ada chatmu yang masuk.

“Assalamua’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.. Lagi dimana, bukber yuk, ntar?”

Kamu memang tidak suka basa-basi, terlalu serius. Aku terkadang tak mengerti maksudmu. Walau kadang kamu melucu, aku bercanda, namun, aku tak pernah melihat kamu tertawa berlebihan. Paling hanya senyum dan memperlihatkan gigi tanpa suara yang berarti. Aku tak pernah melihatnya, melihatmu terbahak-bahak. Kamu selalu terlihat cool, biasa saja.

Aku ingin segera membalas chatmu, aku mau bilang, “Aku ada dihatimu. Ayo mau dimana bukbernya, sayang?” akuh jadi ingat dulu ada rubrik di majalah remaja, Puasa khusuk asmara syahdu. Tuhan, maafkan hamba-Mu. Aku hanya ingin mendapatkan dia, mendapatkan ridhamu, berkah puasa di bulan Ramadhan ini.

Tapi aku cuma membalas,

“Salam., Sudah di Mamuju, bukber dimana?”

 Dan kamu sudah tidak aktif, di layar terlihat dilihat terakhir jam. 04.30. batas imsak.

Apa arti mimpi semalam? Apa maksud mimpi semalam? Apakah tak berarti dan berdasar hanya bunga-bunga tidurku? Kamu datang, kemudian pergi? Haruskah aku berlari padamu, sehingga kamu berlari padaku, haruskah aku menggebu padamu, sehingga kamu menggebu padaku. Sehingga, kamu tidak cuek padaku lagi? aku harus apa? Harus bagaimana dong? Haruskah aku bilang, aku mencintaimu, sehingga, kamu juga akan mengatakan I love you? Aku tak tahu.

Bagaimana dengan gadis itu? Mampukah aku bersaing dengannya. Bersaing meraih hatimu? Lalu aku berkata pada diriku sendiri, “Ra, kamu Cuma diajakin buka bareng, buka ngedate. Jadi, jangan GR!” Aku takut cuma GR. Tapi, aku tahu, kamu orangnya jujur, serius, dan berkomitmen pada sesuatu. Namun, aku tak mau kecewa. Kutak mengerti. Aku mau kamu yang terakhir.

Dan aku tak sabar menunggu, menanti buka bersama nanti. Bukan karena tidak sahur, namun karena kita akan bertemu. Nanti aku mau cerita, aku memimpikanmu, aku mungkin merindukanmu. 

Mungkin kamu masuk ke mimpiku, untuk menemuiku secara nyata? Kamu tahu, cuma aku yang belum menikah di keluargaku, kalau kamu suka aku, segerakanlah. Aku lalu tersenyum-senyum sendiri, seberani itukah aku nanti? Jangan-jangan aku cuma mimpi.

Mamuju, 100519.