Mahasiswa
9 bulan lalu · 198 view · 3 min baca · Gaya Hidup 35744_52314.jpg

Semakin Tahu Semakin Sakit

Krisis Kepercayaan

Apa yang akan Anda pikirkan tentang kenaikan biaya semester di kampus-kampus tempat berprosesmu?

Ya, bagi mahasiswa yang berlatar belakang kuat secara finansial, mungkin tidak begitu menjadi penghambat dalam proses menjalani perkuliahan. Namun, bagi mahasiswa yang berlatar belakang secara ekonomi pas-pasan, akan begitu terasa kewajiban pembayaran yang ditanggungnya.

Persoalan yang mendasar begini, di tengah keidealisan mahasiswa yang tengah belajar di suatu perguruan tinggi, tidak jarang yang berbalik arah dari yang tadinya sangat idealis karena faktor finansial yang cukup menghambat perjalanan mereka. Arah gerak dan langkah mereka cukup tertatih-tatih, bahkan sampai ada beberapa oknum yang menggadaikan keidealisan dengan nominal-nominal yang menggiurkan. 

Misal, dengan politik praktis, uang dimainkan agent of change untuk meraup suara bagi kekuasaan yang sedang berlangsung. Dalam bentuk wajahnya, bisa dalam kegiatan politisasi dengan wajah akademis ataupun memilih diam karena akan begitu banyak dampak yang akan diterimanya.

Biasanya bentuk politisasi berwajah akademis yang sering terjadi, di mana ada agenda-agenda politik yang masuk dalam wilayah perguruan tinggi dengan cara samar-samar. Kegiatan ini bisa berbentuk seminar nasional, diskusi publik, dan forum-forum yang menghadirkan tokoh-tokoh politik atas dasar rekomendasi senior-senior yang mendidiknya.

Sebetulnya, tidak ada masalah jika menghadirkan tokoh-tokoh politik. Tapi, jika outputnya hanya sebatas untuk ajang eksistensi tanpa substansi, ini hanya akan mengajari mahasiswanya untuk memakai cara-cara, taktik yang apa saja dengan motif asal senior suka dan saya pasti akan mendapatkan rekomendasi untuk masa depan. Hal ini kurang lebih seperti pemikiran tokoh politik yang mendeskripsikan bahwa politik itu bisa menghalalkan segala cara, pemikirannya Nicolo Machiavelli.

Agaknya kita tak butuh substansi. Pasalnya eksistensi berlebih dan prioritas untuk terkenal menjadi trending.

Ah, sudahlah. Mau bagaimana manapun, kita tidak bisa lepas dari lingkaran kekuasaan yang semakin mendominasi sehingga mulut kita akan rapat terkunci untuk menyuarakan kritik serta ketidakterimaan yang ada.

Nyatanya, orang kelas bawah atau mereka yang hidup termarginalkan lebih percaya dan menaruh harap pada tokoh politik mereka. Buat apa kita susah-susah membela yang tidak jelas arahnya?

Atau mungkin bagi yang tetap menjaga keidealisannya dengan memiliki apatis terhadap kejumudan, ketidakpastian, dan kekotoran yang diperankan oleh tokoh politik sekarang.

Ah, sudahlah. Nyatanya kita mau berbicara sekeras apa pun kekuasaan ya tetap kekuasaan yang sangat lezat uangnya. Kembali lagi sajalah untuk membahas wajah pendidikan sekarang. Menurutmu berapa jumlah perguruan tinggi di Indonesia? Ya, mungkin kita serempak akan menjawab: ribuan, ratusan, puluhan, bahkan tak terhingga yang menjamur di berbagai daerah.

Dan jika ditanya, adakah dampak yang timbul dari menjamurnya perguruan tinggi yang berdiri? Bagi lingkungan sekitar? Masyarakat? Atau bagi diri kalian? Ya, pertanyaan semacam ini bisa jadi sulit untuk dijawab sebab nyatanya masih banyak persoalan-persoalan sosial yang belum teratasi, apakah itu pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), jorupsi, penyalahgunaan hak suara, dominasi kapitalisme, angka kemiskinan, serta menjamurnya pengangguran yang tersebar di beberapa daerah.

Kalau dari pengalaman penulis di lapangan, ternyata dengan keberadaan masyarakat yang sudah mulai pintar, ada semacam krisis kepercayaan. Kenapa bisa begitu, tanyakan saja pada masyarakat langsung. Tapi, intinya, upaya untuk melihat realitas yang ada adalah bagian dari cara untuk memahami situasi sosial.

Lalu, yang jadi pertanyaan, dengan keberadaan orang-orang pintar di sekitar yang berdampak pada krisis kepercayaan, apakah masih dipentingkan kepintaran/kecerdasan seseorang? Bagaimana bisa krisis kepercayaan itu ada dan ditimbulkan dengan menjamurnya orang-orang pintar? Iya, karena akan semakin banyak yang menaruh skeptis terhadap sesama yang memudarkan kedamaian. 

Jika boleh jujur, apakah betul kita percaya terhadap seseorang? Apakah kita betul-betul percaya kepada pemerintah? Apakah kita betul-betul percaya terhadap kekasih kita? Dan pertanyaan yang cukup ekstrem, apakah kita betul-betul percaya kepada Tuhan?

Penulis sempat berpikir bahwa ternyata semakin kita tahu semakin sakit, kenapa bisa? Ya, karena kita akan semakin dalam melihat masih begitu banyak ketidakpastian, semakin melihat ketidakadilan, semakin buruknya situasi sosial. Semua itu bisa kita sakit karena kita sudah semakin tahu. Itu sedikit mengulas kenapa penulis berpikiran semakin kita tahu semakin sakit.

Oleh karena itu, masih pentingkah kita belajar? Jika setelah kita pintar hanya akan menambah angka untuk masuk dalam kriteria krisis kepercayaan.

Awalnya penulis mencoba bisa profesional dalam bekerja di dunia jurnalistik, tapi di lapangan ternyata banyak teori-teori ideal yang banyak tidak dipraktikkan. Misal, banyak wartawan yang menyandang label bodrek, wartawan lalat, dan sebutan lainnya yang menggambarkan wartawan yang bertujuan untuk memeras narasumbernya secara finansial.

Ternyata dari hal tersebut menjadikan kesulitan dalam mencari informasi karena dari beberapa narasumber yang penulis temui mengalami trauma atas kejadian yang dilakukan oleh oknum wartawan abal-abal. Sialnya lagi, ketika penulis mencoba mengangkat suatu isu potensi daerah sudah dicurigai hanya akan meminta uang, sialan memang maksud hati yang disia-siakan.

Bukan hanya di bidang jurnalistik, soal yang lain pun memiliki kemiripan. Misal, di dunia usaha. Terdapat begitu banyak krisis kepercayaan yang menjadikan kita hidup dalam alam negative thinking. Selalu menaruh akan rasa curiga terhadap sesama, ah sekali lagi penulis ingin katakan ini karena kita sudah pintar-pintar semua sehingga dalam hal apa pun kita akan berupaya untuk mencari keuntungan pribadi. Dan sekali lagi penulis ingin katakan, semakin kita tahu semakin sakit.

Artikel Terkait