How many stones u throw to me as a shit, ill build the stones to be a strong building and stand still. ~ Nikita Mirzani Mawardi

Jalāl ad-Dīn Muhammad Rūmī [جلال‌الدین محمد رومی] pernah berkata, “Tak ada yang kau ketahui kecuali namanya, itulah cinta.” Bagi yang tak mengagumi Nikita Mirzani Mawardi Rasyidin tentu boleh berada di planet Bumi, walakin tak serta merta bisa semaunya menista Niki beserta pengagumnya.

Niki memang terlanjur akrab dengan penistaan terhadapnya. Wajar saja, Niki kerap dianggap bersikap semaunya. Sikap yang membuat sebagian manusia merasa dirisak karenanya. Penistaan terhadapnya dimulai sedari dini karier sebagai penghibur ditekuninya.

Ajang Take Me Out menjadi gerbang bagi Niki untuk menghentak khalayak. Ukuran kesintalan badan yang merangsang naluri lelaki membuatnya ditarik menjadi model sampul salah satu majalah. Sejak saat itu, namanya semakin dikenal sebagai penghibur yang kerap memancing riak. Riak yang membuat Niki semakin bergairah.

Di balik kesan cemar yang didapatnya, Niki adalah ibu yang terus menyayangi dan mengasihi anak-anaknya. Niki menyadari, ada rasa lara didera sang buah hati selepas kegagalannya membina ikatan keluarga dan rumah tangga. Perilaku keseharian Niki sebagai orangtua tunggal bagi dua buah hati membuatnya tampak sebagai perempuan tangguh. Niki juga kerap tampil ceria saat di layar kaca, walakin ada sisi lemah yang membuatnya luluh.

Orangtua adalah satu sisi yang mudah mengubah suasana sukma Niki menjadi temaram. Niki memiliki ikatan intim dengan mamanya, yang mewujud pada sikap manja dan sempat membuatnya merasa berada pada masa kelam. Niki sempat mengalami depresi hingga sempat ada keinginan untuk bunuh diri ketika sang mama berpindah dimensi alam.

Nyaris saja Niki mengiriskan pisau pada nadi. Dirinya memang menyaksikan dan merasakan mamanya didera lara sebelum berpisah ruang dengannya. Walau begitu, perempuan kelahiran 17 Maret 1986 ini merasa tak siap sama sekali. Niki memang dikenal mbeling—nakal yang merawat muruah—hanya saja anak mbeling ini selalu setia menemani sepanjang mama didera lara.

Ketidaksiapan berpisah dalam ruang dengan mama membuat perasaan Niki remuk redam hancur didera. Rasa hancur yang didera menjadikannya bingung untuk kembali bisa menata hatinya. Rasa hancur pula yang membuatnya rajin nyambangi pusara mama dan papa. Niki selalu didera rindu dalam kalbu dengan suasana kebersamaan dengan kedua orangtuanya.

“Papa, Mama ... Kalianlah guru terbaik aku untuk mengenal cinta.. Cara kalian mencintaiku yang tak terhalang oleh apapun menyadarkan aku tentang apa arti cinta sesungguhnya,” ungkapnya pada satu waktu.

Perpisahan dalam ruang dengan sang mama menjadi titik balik epik bagi Niki. Setitik lara menguatkan, setitik luka melembutkan, setitik perih mendewasakan. Setitik perlintasan penting yang membuat Niki semakin tegar meski kesan cemar tetap menggelayuti. Kesan cemar yang tak dihiraukan untuk terus melanjutkan perjalanan.

Depresi yang sempat dialami tak membuat Niki langsir. Malahan dia berhasil kembali ke atas pentas menyedot perhatian seperti sebelumnya. Perhatian yang membuatnya sangat dicinta laiknya Mûsâ bin Amram [ ٰمُوسَى atau Moses] saat berhasil menyelamatkan muruah bangsa Israel setelah diinjak bangsa Mesir. Perhatian yang juga membuatnya begitu dibenci seperti Fir’aun [فرعون atau Pharaoh] era Mûsâ sebagai pencetak catatan kelaliman luar biasa.

Apapun semat yang diberikan padanya, yang jelas Niki  bukanlah Mûsâ maupun Fir’aun era Mûsâ. Segala pujian dan kata sanjungan tak membuatnya melayang seperti halnya segala hinaan dan caci maki tak membuatnya tumbang begitu saja. Niki mengerti bahwa dampak mementaskan diri sebagai penghibur adalah segala perkara maupun peristiwa yang berkelindan dengannya tak bisa dilepaskan dari sorotan media (massa, sosial, dan petan).

Sorotan yang membuat Niki menjalani keseharian seperti ‘Alī bin Abī Thālib [علي بن أﺑﻲ طالب] dan Ā’isha bint Abī Bakr [عائِشة بنت أبي بكر]. Mereka sama-sama menjadi sosok yang sangat dicintai oleh sekerumunan dan begitu dibenci oleh sekerumunan lainnya. Wajar, lantaran mata yang cinta selalu tumpul dari segala cemar. Begitu juga mata yang penuh amarah hanya mudah memandang segala yang nista.

Segala semat yang dialamatkan pada Niki tak membuatnya berhenti meniti tatanan dan menata titian. Niki tetap bahadur sebagai penghibur yang dicintai serta dibenci secara bersamaan. Sebagai sosok yang dipuja sedemikian rupa oleh sebagian orang serta dinista sedemikian rupa oleh selainnya, Niki sanggup membikin manusia saling menyapa lantaran sama-sama merasa sama sebagai manusia, entah memujanya atau menistanya.

Tidak semua orang sanggup menarik perhatian kerumunan seperti dilakukan oleh Niki. Derap kehadirannya sanggup membuat tak sedikit orang merasa waktunya luang untuk menjadikan Niki sebagai bahan perbincangan. Perbincangan yang membuat nama Niki tetap tegap berbunyi. Perbincangan yang bisa meriuhmeriahkan lingkungan walakin tak membuat Niki berhenti meniti tatanan dan menata titian.

Sebagian orang memandang perempuan ini bukanlah sosok istimewa sehingga tak pantas untuk dikagumi. Memang tak ada yang istimewa dari diri Nikita Mirzani, manusia biasa yang butuh makan, minum, maupun tidur serta bisa berpeluh lelah, berkeluh kesah, merasa bad mood menghadapi serbuan orang, dsb. dst..

Meski begitu, Nika tetaplah sah-sah saja menjadi sosok yang dikagumi. Bukankah salah satu perkara yang membuat kirana azalea persembahan dari surga Muhammad [محمد‎‎] asyik dikagumi adalah karena dirinya mementaskan keseharian sepertihalnya manusia biasa?

Niki senantiasa mementaskan kesungguhan untuk bisa menjadi manusia biasa seperti manusia lain yang biasa membincangkannya. perempuan pemilik 34A terus menyelami ruang rasa agar kehadirannya memberi rasa gembira disertai kepedulian merawat kepantasan penampilan raga.

Kesungguhan Niki untuk bisa menjadi manusia seutuhnya juga dilakukan dengan menumbuhkembangkan sisi femininine dan masculinine. Sisi masculinine yang dipentaskannya dengan perilaku fearless selaras dengan perilaku kenes Perilaku sisi femininine. Dua sisi berlawanan yang ada dalam setiap manusia ini sanggup dipadukan sekaligus dengan bagus untuk membentuk dirinya menjadi sosok queen.

Kesungguhan melakoni keseharian dengan mementaskan laku seperti itu membuat Niki tak salah mendapat semat sebagai manusia paripurna. Manusia yang petuahnya pantas di-gugu (memotivasi) dan rekam jejaknya layak di-tiru (menginspirasi). Manusia yang memiliki daya dorong luar biasa pada manusia lainnya.

Ketika Niki mapan berdiri di hadapan sanjung puja dan popularitas, dirinya tetap berusaha untuk bisa menjadi panutan yang laras. Seorang panutan yang tak hendak menjadikan popularitas sebagai Tuhan. Perjalanan Niki adalah ikhtiar dan takdir yang selaras. Niki terus bersyukur ikhtiar yang dilakukan selaras dengan takdir yang digariskan.

Rasa sendu dalam kalbu Niki memang tak selalu bisa disirnakan. Namun Niki tetap tegap berusaha untuk tampil menghibur yang papa dan mengingatkan yang mapan. Penampilan yang memudahkannya menjadi penyebar virus-virus cinta pada manusia lainnya. Virus yang membuat manusia saling mencintai manusia seperti mencintai Tuhannya sang Pencipta.

Sebagian orang boleh saja memandangnya dengan cemar dan rajin mencibir. Meski demikian, Niki  tak langsir ungkapan nyinyir yang dialamatkan padanya dari para tukang pandir. Biarpun sebagian orang sirik tiada akhir, Niki terus tetap mengalir.

Karena Niki adalah manusia biasa, maka tak sulit bagi manusia lainnya untuk menikam rekam jejak yang Niki  pahatkan. Tak harus menikam rekam jejaknya sebagai penghibur, walakin mengikuti semangatnya untuk sepenuh hati menghadapi perjalanan.

Dengan segala ungkapan yang dialamatkan padanya maupun menyinggung namanya, Niki tetaplah Niki. Niki terus melangkah tanpa bisa dituturkan melalui kata dan aksara sepenuhnya, karena wanita memang sulit dimengerti meski tetap bisa dinikmati. “Warnamu yang kujilati...sendiri...” seperti lantun DEWA19 dalam Restoe Boemi.