Seroja itu telah pergi. Jejaknya adalah catatan untuk dibaca generasi kini dan sesudahnya. Kita tidak perlu mengelak, apalagi saling menyalahkan. Seroja itu telah mati, lalu pergi dengan kebahagian. Kita tentu terpukul dengan fakta itu, namun kepergian itu adalah kepergian yang bahagia. Kronik Asmat telah menegaskan bahwa semua ini adalah repetisi yang gagal kita pahami. Semua ini hanyalah I’Histoire se repete. Itulah sebabnya ia adalah Seroja ketujuh puluh satu. Mungkin yang terakhir diatas tanah ini, atau, mungkin juga tidak!

Dia bukanlah Lolita, nama yang telah dikenal dunia. Dia adalah Selvana. Lengkapnya, Selvana Tayapo, gadis berusia dua tahun dari Kampung Kaemo Distrik Siret, Asmat. Dia adalah Seroja yang belum sempat mekar di taman kehidupan dunia. Ia adalah kebutaan mata hati kita yang terlambat menjangkaunya. Ia terbuang dalam kesendirian total, berlinangkan air mata kesepian dan kesendirian, lalu menutup mata menuju dunia yang lebih bahagia.

Dia bukanlah Seroja yang tumbuh di negeri Dilan. Negeri yang oleh M.A.W. Brouwer katanya, “diciptakan ketika Tuhan sedang tersenyum.” Tapi dia adalah Seroja kesepian yang tumbuh di negeri Rawa. Negeri yang disebut Franky Sahilatua sebagai surga kecil yang jatuh diatas bumi.

Dalam kondisinya yang lesuh dan rapuh sebelum ajalnya, ia harus dirawat di Aula Gereja karena rumah sakit penuh. Ia dibaringkan di rumah Bapa (Gereja), sebelum tangan medis menyentuhnya. Mungkin itulah yang membuat Tuhan memanggilnya dengan cepat. Tuhan tak tega, atau Tuhan sedih melihatnya begitu menderita. Ia rapuh dengan pancaran mata yang tegas memancarkan penderitaan tanpa ruang kebahagian. Ia adalah manifes dari sabda Allah: “Marilah datang kepada-Ku, kalian yang berbeban berat!”

Tenaga medis akhirnya menyapa setelah kondisinya semakin memburuk. Ia di pindahkan dari gereja ke rumah sakit untuk mendapatkan bantuan lebih. Sayang, cinta orang tuanya salah. Mereka takut dan tidak siap melihat Selvana ditolong dengan mengfgunakan selang oksigen. Ia akhirnya dibawa pergi diam-diam keluar dari rumah sakit. Ia dibawa kembali ke kampung yang jaraknya cukup jauh. Tentu ini kesepakatan yang tak adil.

Beberapa hari kemudian, ia dibawa kembali oleh orang tuanya. Sayang, ia datang dengan keadaan lebih kritis. Ia digendong dalam keadaan tak sadarkan diri. Dokter berjuang untuk menyelamatkannya, namun usaha itu tak berhasil. Dokter terpukul, sebab Selvana masuk dalam hitungan angka tujuh puluh satu, angka yang dihitung pergi. Ia tertunduk lalu menyatakan dukanya.

Mengetahui anaknya pergi, Ibunya menangis, menggendongnya, lalu, dengan tanggisan yang dalam berkata; “Selvana mengapa engkau pergi tinggalkan kami?”

Dalam duka yang sama. Tak ada yang berani mengatakan ini kesalahan kolektif.

Selvana, Seroja Asmat telah pergi. Ia pergi terlalu pagi. Juga sebelum mekar.

Kita tahu usia dua tahun bukanlah usia harapan hidup. Dua tahun bukanlah waktu yang tepat untuk menutup mata dan berlayar menuju laut keabadian. Dua tahun bukanlah waktu yang tepat untuk menderita malainkan untuk tumbuh penuh cahaya. Namun, garis tangan telah mengguratkan takdir. Dua tahun adalah takdirnya. Dua tahun adalah waktunya.

Selvana adalah Seroja yang tumbuh diatas rawa penderitaan. Ia adalah ironi yang tumbuh dalam luka derita lalu pergi dengan kehagiaan. Ia adalah wajah keterasingan dan aroma ketidaksadaran yang tak terjangkau. Ia adalah ulangan kisah dari periode kelam di tanah Surga. Ia adalah lanjutan dari kepilauan hati kita. Ia mewakili episod dan narasi sendu kita. Ia adalah potret kegagalan serta dosa-dosa kita. Dan mungkin juga seperti kata para pengamat yang sedikit naif, dia adalah eksistensi dari politik pencitraan yang hadir lewat kata dan tindakan yang dilakukan secara masif. Selvana adalah symbol keserakahan dan kesombongan kita.

Seroja itu telah pergi. Jejaknya adalah catatan untuk dibaca generasi kini dan sesudahnya. Kita tidak perlu mengelak, apalagi saling menyalahkan. Seroja itu telah mati, lalu pergi dengan kebahagian. Kita tentu terpukul dengan fakta itu, namun kepergian itu adalah kepergian yang bahagia. Kronik Asmat telah menegaskan bahwa semua ini adalah repetisi yang gagal kita pahami. Semua ini hanyalah I’Histoire se repete. Itulah sebabnya ia adalah Seroja ketujuh puluh satu. Mungkin yang terakhir diatas tanah ini, atau, mungkin juga tidak!

Sambil mengusahakan yang terbaik, yang perlu kita lakukan adalah meminta maaf kepadanya, juga kepada generasinya, ketika kita mengenangnya. Kita harus mengakui bahwa dalam situasi luka itu, kita adalah generasi gagal yang harus bertanggung jawab. Juga harus mengakui bahwa negeri kita, negeri, dimana pemerintah sulit untuk berkata jujur dan gereja terlalu sibuk dengan dirinya sendiri. 

Gereja terus-menerus mengabstraksi surga dan Tuhan lalu tenggelam dalam pencariannya disekitar altar suci, lalu lupa menjadi penyelamat. Begitupun disaat yang bersamaan, pemerintah larut dalam lautan kekuasaannya dan menjadikan para pemimpin menjadi lebih egosentris.

Saatnya belajar dari Selvana. Sekalipun ia adalah air mata kita, ia juga pengingat kita.

Belajar darinya adalah belajar bahwa surga di tanah ini hanyalah sebuah ‘ilusi’ , sebuah bayang-bayang nihilisme-utopia yang dibanggakan. Meminjam pengertian ilusi Muhammad Al-Fayyadl dalam bukunya filsafat negasi; surga itu hanyalah sebuah ilusi, yakni sebuah “cita-cita tentang yang tiada menjadi sesuatu yang tak pernah ada.” Surga diatas tanah ini adalah kebohongan yang disepakati oleh satu generasi dan dihidupi oleh generasi setelahnya. Kita belajar dengan jujur bahwa tidak ada surga di tanah ini. Kita belajar bahwa satu-satunya kebenaran tentang surga adalah kebohongan yang indah.

Dari Selvana kami akhirnya mengerti bahwa tanah ini hanyalah paradoks. Surga yang engkau dan kami kagumi, sesungguhnya hanyalah “paradise in exile”  - surga dalam pembungan. Sebuah ilusi yang tertradisikan dengan baik. Surga kita hanyalah narasi dan hayalan para elit politik di masa kini, dan semoga mereka sadar dan tidak mengulanginya dimasa yang akan datang.

Hari ini tepat satu tahun engkau pergi Selvana! Kami akan selalu mengingat dan mengenangmu. Engkau terbuang, tetapi engkau bukanlah air mata kesendirian.

Hari ini, satu tahun setelah kepergiaanmu. Ku yakin doamu sama seperti sebuah mawar disuatu hari, disuatu pagi yang lampau, setelah diguyur hujan badai, ia berdoa: Terima kasih Tuhan karena setetes hujan badai telah menciumku. Setidaknya melalui badai, aku akan kembali mewangi sebagaimana adanya. (***)

*) Selvana Tayapo penderita gizi buruk disertai komplikasi infeksi paru, ia meninggal pada hari Minggu 28 Januari 2018, pukul 07.00. Dia meninggal diusia yang sangat beliau yakni dua tahun. Tulisan ini untuk mengenangnya dan lebih jauh sebuah adalah untuk mengenang tragedy gizi buruk atau kejadian luar biasa (KLB) yang terjadi setahun yang lalu di Asmat Papua.