Setelah sekian lama work from home (WFH), akhirnya saya mempunyai kesempatan datang ke kantor lagi untuk bertemu dan diskusi dengan seorang teman. Saat pertama kali menginjakkan kaki di kantor, situasi terasa jauh berbeda. Kini suasana menjadi lebih hening dibandingkan dulu sebelum pandemi. Selain tidak ada mahasiswa yang lalu lalang, banyak staf terlihat serius menatap atau berbicara lirih dengan komputer di depan mereka.

Ya, mereka semua sedang melakukan pertemuan daring!

Saya sengaja datang lima belas menit lebih awal dari waktu yang kami sepakati. Sebenarnya, saya berencana untuk say hello dengan teman-teman lain yang memang secara terjadwal bergiliran untuk work from office (WFO). Tapi, saya mengurungkan niat saya karena mereka sedang sibuk dengan pertemuan daring. Saya memutuskan untuk langsung mendatangi teman yang saya tuju.

“Mmm… Paaak maaaf, tunggu bentar yaa...” teman saya menyapa dengan akrab.

“Saya sedang ada zoom meeting, dua acara, waktunya barengan pula! hadeeeh...” keluhnya.

“Iya... iya... silahkan, memang saya yang datang gasik (terlalu awal)” saya menjawab sigap.

“Permisi ya Pak...” kata teman saya sambil menaikkan volume smartphone yang terhubung dengan headset ke telinganya.

Saya melihat teman saya sesekali melihat tayangan presentasi pertemuan lain di layar laptopnya. Terlihat jelas di layar tersebut, sang pembicara sedang komat-kamit, tentu saja tanpa suara.

Saat itu, saya segera tersadar bahwa saya sedang menjadi saksi sebuah perselingkuhan.

***

Pertemuan daring atau virtual meeting merupakan salah satu produk positif hasil pandemi. Meskipun sebenarnya pertemuan daring sudah sejak lama ada, saat ini pertemuan daring menjadi semakin populer setelah COVID-19 melanda dunia.

Pertemuan daring sebenarnya membawa banyak manfaat. Sebagai contoh, pernah dalam satu hari saya menghadiri sebuah webinar yang diadakan oleh Universitas Sam Ratulangi Manado di pagi hari, dan saya menghadiri sebuah virtual conference yang diadakan oleh World Health Organization (WHO) di Zurich pada malam harinya. Hal yang benar-benar praktis dan menghemat waktu. Saya bisa berganti kegiatan dengan cepat tanpa berpindah tempat dan tanpa menempuh perjalanan panjang.

Selain itu, pertemuan daring ini membuat saya lebih hemat. Biaya yang saya keluarkan menjadi jauh lebih murah dibandingkan bila saya harus menghadiri dua pertemuan luring yang diadakan di dua tempat yang berbeda. Satu hal yang bahkan tidak mungkin dilakukan dalam sehari bila tidak dilakukan secara daring.

Sayangnya, kemudahan yang diperoleh dari pertemuan daring itu diikuti dengan maraknya perselingkuhan peserta pertemuan. Perselingkuhan yang saya maksud adalah melakukan pertemuan sambil melakukan kegiatan lain. Sebagai contoh, banyak peserta pertemuan mengikuti pertemuan sambil sesekali mengobrol dengan peserta lainnya melalui fitur chat yang tersedia di media pertemuan daring, atau melakukan tangkapan layar dan mengunggah di akun media sosialnya.

Perselingkuhan kecil semacam ini mungkin masih dapat dimaklumi. Apalagi bila aktivitas sambilan itu dilakukan dalam pertemuan yang tidak formal, atau memang pada pertemuan tersebut sudah disepakati bahwa peserta pertemuan boleh menyambi.

Tetapi, lain halnya bila aktivitas sambilannya adalah pertemuan daring lainnya. Seorang peserta pertemuan mengikuti dua atau lebih pertemuan daring secara bersamaan. Perilaku inilah yang dapat dikatakan perselingkuhan. Bagaimana tidak, dengan mengikuti dua atau lebih pertemuan sekaligus, seseorang harus memecah perhatian dan pikirannya.

Lebih-lebih, sering kali peserta pertemuan tanpa canggung meminta ijin untuk berselingkuh dengan dalih akan tetap hadir tetapi hanya menyimak saja. Kalimat permintaan ijin yang biasa diungkapkan misalnya,

“Mohon maaf, saya ijin menyimak saja. Saat ini, saya ini juga sambil mengikuti meeting lain”

Kalimat tersebut sebenarnya bukan permohonan ijin, tetapi lebih cocok sebagai sebuah basa-basi untuk memaklumi perselingkuhan.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata "menyimak" berarti mendengarkan atau memperhatikan baik-baik apa yang diucapkan atau dibaca orang. Lalu, bagaimana mungkin seorang peserta pertemuan dapat menyimak beberapa pertemuan sekaligus. Padahal, dia tidak mungkin dapat memperhatikan dengan baik kalau pikirannya terbagi. Oleh karena itu, bisa dipastikan bahwa dia tidak akan mampu mengikuti jalannya pertemuan dengan baik sesuai tujuan pertemuan.

***

Sebenarnya, pertemuan daring hanya mengubah metode pertemuan saja. Esensi pertemuan daring tetap sama dengan pertemuan-pertemuan biasa yang dilakukan secara luring. Dalam satu pertemuan, minimal terdapat tiga komponen dasar komunikasi yang ada, yaitu pesan yang akan disampaikan, pembawa pesan, dan penerima pesan.

Coba kita amati lagi, pada pertemuan daring juga ada admin yang bertugas menyiapkan segala kebutuhan dan memantau jalannya pertemuan. Lalu, ada pemateri yang menyampaikan pesan atau materinya pada pertemuan tersebut. Bahkan mungkin sang pemateri sudah mengerahkan segenap energi dan waktunya untuk menyiapkan materinya itu. Pun juga, ada peserta pertemuan yang diharapkan dapat menyumbangkan pemikiran mereka, atau setidaknya bisa menerima materi agar tujuan pertemuan tercapai.

Sungguh, esensi dan persiapan pertemuan daring tidak berbeda dan tidak kalah rumitnya dengan pertemuan luring.

Lalu, peserta pertemuan dengan mudahnya berselingkuh dengan mengikuti pertemuan lainnya. Padahal, mereka pasti sudah dipilih dan dipertimbangkan dengan seksama berdasarkan kriteria tertentu untuk diundang sesuai dengan tujuan pertemuan. Coba bayangkan, bagaimana perasaan pemateri bila dia tahu bahwa peserta pertemuannya berselingkuh, mendua, mengikuti pertemuan lain? Sakit hati kan?

Sebenarnya, seperti halnya pertemuan luring, ketika kita mendapat undangan lebih dari satu pertemuan secara bersamaan, maka kita dapat memilah dan memilih untuk menghadiri salah satu pertemuan sesuai dengan tingkat kepentingannya. Selanjutnya, sudah sewajarnya kita pamit tidak hadir pada pertemuan lainnya. Ketika kita memaksakan untuk mengikuti pertemuan secara bersamaan, alih-alih memberikan kontribusi secara optimal, bahkan untuk dapat menerima pesan dengan baik saja pasti sulit.

Padahal, perilaku selingkuh semacam ini semakin lama semakin menjadi kebiasaan. Coba bayangkan kalau kebiasaan mengikuti beberapa pertemuan sekaligus ini dimaknai sebagai salah satu kepraktisan pertemuan daring. Lalu, perilaku ini diizinkan dan dimaklumi sebagai bagian dari kenormalan baru. Bisa jadi, kebiasaan berselingkuh ini bukan hanya berakibat pada tidak tercapainya tujuan pertemuan saja, namun juga akan menggeser standar kepantasan dan membawa sikap permisif pada perilaku tersebut.

Jangan heran bila suatu saat kita malah tidak diizinkan untuk absen dalam satu pertemuan untuk mengikuti pertemuan lainnya karena pertemuan daring bisa dilakukan secara bersamaan.

Bila fenomena ini terus berlanjut, maka kita harus bersiap dengan hari-hari yang disibukkan dengan banyaknya pertemuan daring yang tidak efektif, menguras waktu, tenaga, dan pikiran. Akan banyak pertemuan-pertemuan yang tidak jelas apakah tujuannya tercapai atau tidak.

Tetapi memang lumrah, sebuah perselingkuhan selalu berkutat dengan ketidakjelasan, selalu ada yang terabaikan, dan sering berakhir dengan hati yang tersakiti.

Jadi, tetap mau selingkuh?