Modernisasi rupanya kian sukses mendoktrin khalayak dunia untuk sibuk membangun pesta pora lewat dunia maya, nggak terkecuali di Indonesia. Teknologi komunikasi (utamanya gadget) dan seluruh aplikasi-aplikasi tetek bengeknya jadi batu loncatan demi mewujudkan visi-misinya.

Penikmatnya beragam, mulai dari belia, remaja, dewasa, sampai usia senja. Kehidupan manusia jadi lebih berwarna dan punya banyak rasa. Manis, asem, asin, rame rasanya (kayak iklan permen nano-nano). Tapi hambar sama pahit kok nggak masuk silsilah keluarga rasa nano-nano sih? *tuing*

Jaman dulu, sebelum ada teknologi, masyarakat Indonesia masih kalem-kalem asri gimana gitu. Maklum, saat itu moralitas masih menjelma sebagai titik prioritas. Kalau jaman sekarang maraknya ya soal euforia dan kebebasan.

Sebagian masyarakat ada yang berusaha keluar dari zona aman dan melupakan kekakuan dalam berbagai tuntutan dan aturan. Liberalisme nggak bercanda kok dalam menawarkan hawa segar kemerdekaannya.

Lewat modernisasi, budaya hidup orang Indonesia, utamanya kita anak-anak muda, jadi kian tumbuh dan berkembang pesat. Contohnya dari mulai kita bangun pagi yang masih ileran, bau kecut, umbelan, belekan, setengah merem setengah sadar, yang disambangi pertama kali pasti gadget.

Bahkan sesaat sebelum tidur di malam hari pun sama. Sibuk ngecek timeline, entah itu via Facebook, Twitter, Instagram, BBM, Line, Path, dan aplikasi lainnya.

Update berita lokal, nasional, sampai internasional juga lebih gampang. Karena dunia ada dalam genggaman, cuman sebatas jari-jari tangan. Kalo keseringan pegang gadget sih biasanya buat update status. Atau, kalo nggak, ya stalking updetan pacar, gebetan, bahkan mantan sekalipun. Hari gini masih mikirin mantan? Yaelah.. susahnya mau move on.

Terus kalo jomblo, fungsi gadget buat apaan? Hmm.. Jawab sendiri deh mbloo!!

Saat ini kita sedang dihebohkan perihal demam foto selfie. Mulai yang tua sampai yang muda, kayaknya kita doyan banget selfie. Biasalah anak muda, sukanya seru-seruan gitu. Toh selfie nggak mahal, kecuali kalo hapenya nggak nyediain fitur buat selfie, barulah selfie itu mahal. Soalnya mesti beli hape dulu yang ada fitur buat selfie-nya.

Ngomong-ngomong soal selfie, tiap orang pasti punya persepsi dan alasan masing-masing terkait fungsinya. Selfie juga bisa kok dilakukan di mana pun, kapan pun, sama siapa pun. Mau sama keluarga, sodara, hewan, teman, sahabat, gebetan, bahkan pacar sekali pun nggak jadi masalah. Asal jangan sama mantan, itu bisa bermasalah. Inget, ntar susah move on lagi!

Meski begitu, tetep ada pro dan kontra juga di masyarakat terkait selfie ini. Ada kalangan yang pro selfie dan memberikan pembelaan habis-habisan. Mereka bilang, selfie itu wujud gaya hidup modern dan sah-sah saja menjadi bagian hidup kita sebagai anak muda. Namanya juga anak muda, jiwanya kan masih berapi-api, waktunya nyari jati diri, seneng berekspresi dan ngejar eksistensi. Iih.. gemes deh, masa pada nggak ngerti?

Terus kalau ngomongin yang kontra, wuihhh.. banyak banget. Maklumlah, pencela kan lebih banyak daripada pembela. Tugas mereka memang jadi komentator. Nggak jarang mereka melontarkan kalimat-kalimat yang kadang bikin nyesek. Miriplah, sebelas dua belas sama lirik lagunya Iwan Fals feat Noah “Para Penerka” :

Menghitam hati penuh kebencian bersahut-sahutan
Menyebar kedengkian di kehidupan
Mereka berseru, menusuk jiwamu
Dengan cerita, dengan berita

Para pencela menaruh racun di mulutnya
Para penerka bercerita dengan prasangka,
prasangka buruknya...

Terus, kenapa saat kita selfie justru dikomentarin habis-habisan, di-bully dengan membabi-buta, dihujat di berbagai media? Kan ini bagian dari seni. Kok bisa selfie itu dosa, hukumnya haram, memicu syahwat juga? Ckckck.. ada-ada saja.

Kenyataannya, kalo kita selfie sambil nge-close up muka kalem, dibilangnya sok cakep. Selfie muka jelek (atau yang aslinya emang udah jelek/pas-pasan) dibilangnya kufur nikmat. Selfie sambil melet imyut dan pasang pose kyut, dibilangnya cabe-cabean. Lha, terus yang nggak sok kecakepan, nggak kufur nikmat, dan nggak cabe-cabean itu kayak gimana sih?

Oke, ada lagi nih soal foto selfie anak-anak muda yang ngaku pecinta alam. Sekelas sama acara tv yang pastinya sudah familiar banget di kalangan kita, My Trip My Adventure. Hobinya mengeksplor alam terus selfie di tempat-tempat yang super ekstrim, ada yang sampai nekad selfie di bibir kawah dan dikabarkan hilang nyawa.

Eh, kayak gitu bukannya ikutan mendoakan supaya arwahnya dapet kebaikan di akhirat, malah nyukurin habis-habisan. Dibilang kita sok jagoan lah, kurang kerjaan lah, nggak sayang nyawa lah, kualat lah, dan bla..bla..bla..

Kalo yang ini beda lagi kasusnya, booming di media juga baru beberapa pekan terakhir. Foto-foto selfie ala sekelompok anak muda di lintasan zebra cross lantaran pengen memperjuangkan hak para pejalan kaki. Nggak perlu lah disebutin grup nya apa, kalian bisa searching sendiri di internet (tahu fungsinya eyang Google toh?)

Ada juga sekumpulan anak muda berpenampilan agamis, semi-semi narsis yang nekad selfie saat salat jamaah di tengah jalan. Lha anak muda sekreatif ini kok ya dicibir juga, dituding melanggar aturan lalu lintas, sampai diarani kurang kerjaan, main-main di jalanan.

Pikir sebagian netizen, belajar saja belum bener kok sudah kebanyakan gaya. Buang tenaga, buang waktu, buang duit, ditambah bikin macet. Sampai dibubuhi sindiran sarkastik, belum kapok kalo belum nyium aspal. Walahh, ngeri..

Ya memang beginilah potret kita sebagai anak muda Indonesia jaman sekarang. Punya banyak bakat dan potensi, jiwa artistik juga tinggi. Salah satunya diungkapkan lewat foto selfie. Ini wujud aktualisasi karya seni.

Nggak perlu keseringan belajar, sebab negara kita, Indonesia, sudah kaya. Kita nggak perlu repot-repot jadi aktivis, kaum intelek, atau pelajar teladan yang sibuk ngejar prestasi dengan melalang buana raya. Toh kita lebih senang menikmati kebodohan dengan bersombong-sombong ria. Melewati kesengsaraan lewat pesta pora. Merayakan krisis moral lewat hura-hura.

Kalo masih banyak netizen yang mencela, berarti merekalah yang cetek intuisinya. Belum berkembang wawasannya. Belum sempurna dewasa pengalamannya, dan tentunya masih kuper soal bergaya. Nggak seperti kita, anak muda kekinian. Muda hura-hura, tua kaya raya, mati tetep masuk surga. Betul?

Mungkin mereka juga belum belajar dari Cak Nun yang percaya kalo orang Indonesia itu, utamanya anak muda, adalah bangsa garda depan (avant garde nation). Bangsa dengan sejuta sejarah yang selangkah lebih depan dari bangsa mana pun.

Sudah disambangi banyak negara sejak ratusan tahun lalu, diajari hidup keras sambil sesekali ngendas-endasi. Meski begitu, toh bangsa kita sudah menerapkan filosofi “ngalah kuwi dhuwur wekasane” (mengalah itu tinggi derajatnya).

Jadi, nggak perlu lagi deh kita susah-susah belajar dari sejarah. Masa lalu yowis masa lalu. Masa depan dipikir saja sambil lalu. Sebab, nggak ada anak muda negara lain yang seceria kita, suka hura-hura, berpesta pora, berjoget-joget ria, santai, penuh canda dan tawa. Nggak ada.

Untuk dapetin gelar anak muda yang besar, kita nggak perlu sibuk-sibuk pintar. Bodoh dan kerdil wawasan pun kita sudah jadi besar. Modal moralitas rendah dan awut-awutan pun kita tetep jadi anak muda kebanggaan.

Jadi, kalo masih ada kalangan netizen mencela para selfier (sebutan asalku untuk penggemar foto-foto selfie) kenapa musti pusing? Kita kan anak-anak muda dermawan yang ingin berbagi semarak di dunia maya. Generasi milenium yang kadung unggul nilai dan moral budayanya.

Pemuda pembaru bangsa dengan segenap nafsu eksistensinya. Lebih milih bersikap andhap asor, kalo perlu sampai seasor-asornya untuk ngrespon para haters. Tak perlu nanggepin dengan suara kita. Cukup diam saja kok.

Toh kita sudah cukup keren dan nge-tren. Sudah banyak kemajuan. Nggak ketinggalan jaman kayak netizen yang bisik-bisik sumbang. Mesti diumbar, dirayakan, dan dimeriahkan semeriah-meriahnya.

Seperti pesan seorang tokoh pemikir sekaligus sastrawan Indonesia: “Makin arif manusia, makin sedikit kata-katanya. Hingga kalau Anda tahu dunia kesusastraan: puisi tertinggi adalah yang kata-kata apa pun sudah tak mampu mewakili inti nilainya.”

Makanya.. selfie yukk, selfie!!! Sebab, hidup cuman sekali. Nggak selfie nggak trendi...