Ketika kalian mendengar istilah self-love, apa yang kalian pikirkan? Apakah kalian terpikir akan cinta diri dalam arti egois? Atau cinta diri yang sehat sehingga pribadi kita menjadi pribadi yang bahagia? Sekarang bagaimana jika kalian membaca golden rule dalam banyak agama dan budaya yang berbunyi “cintailah orang lain seperti kamu mencintai dirimu sendiri”?

Menariknya, Aristoteles sejak zaman Yunani Kuno sudah memikirkan relasi antara self-love yang sehat dengan cinta dan perbuatan baik kepada orang lain. Baginya, hanya orang yang benar-benar memahami self-love yang dapat melakukan hal-hal yang baik bagi orang lain.

Bagaimana pemikiran Aristoteles mengenai self-love?

Memahami Apa yang Baik

Aristoteles menjelaskan mengenai self-love dalam uraiannya mengenai persahabatan dalam buku IX Etika Nikomakea. Di sana, Aristoteles menjelaskan bahwa self-love merupakan bekal penting bagi seseorang untuk mampu mengembangkan persahabatan yang baik dengan orang lain.

Mengapa demikian? Karena menurut Aristoteles, dengan seseorang menerapkan self-love, ia akan memahami apa yang baik bagi dirinya sebagai manusia. Dengan memahami apa yang baik bagi dirinya sebagai manusia, ia pun akhirnya akan memahami apa yang baik bagi orang lain sebagai sesama manusia.

Bagi Aristoteles, seseorang tidak akan mampu melakukan apa yang baik bila ia tidak mengetahui apa itu kebaikan dan apa saja yang termasuk perbuatan baik. Jika seseorang tidak mengetahui apa yang baik bagi seorang manusia, ia pun tidak dapat berbuat apa yang baik bagi sesamanya manusia. Atau, bisa saja ia berpikir bahwa ia telah berbuat baik namun sebenarnya ia melakukan suatu hal yang tidak baik karena ia kurang memiliki pengetahuan atau pengalaman tentang apa yang baik. Di sinilah pentingnya seld-love yaitu memberikan pengetahuan dan pengalaman akan apa yang baik bagi seorang manusia dimulai dari diri sendiri.

Self-Love Sebagai Keutamaan

Ciri khas pemikiran Aristoteles adalah bersifat teleologis yaitu mengacu pada suatu tujuan lalu mencari cara-cara yang baik untuk meraihnya. Dalam buku Etika Nikomakea, tujuan yang ingin dicapai adalah kebahagiaan dan cara untuk meraihnya adalah keutamaan. Kebahagiaan sendiri bagi Aristoteles adalah terpenuhinya potensi seseorang sebagai manusia.

Bila kita melihat cara Aristoteles dalam menjelaskan self-love, kita dapat menduga bahwa Aristoteles melihat self-love sebagai suatu keutamaan. Itu artinya, self-love berguna untuk memenuhi potensi kita sebagai manusia. Namun, potensi yang seperti apa?

Selain manusia sebagai makhluk yang berakal budi, kita juga memahami diri kita manusia sebagai makhluk yang hidup bersosial. Seorang manusia tidak dapat hidup seorang diri, ia hidup saling bergantung dan saling melengkapi satu sama lain. Di sinilah self-love berperan.

Self-love sebagai keutamaan sebenarnya memiliki tujuan akhir yaitu menjadikan kita semakin humanis dan mampu hidup bersosial. Dengan kita mencintai diri sendiri, kita tahu apa yang kita butuhkan sebagai manusia sehingga kita pun tahu apa yang sesama kita butuhkan dan dapat melakukan apa yang baik secara benar bagi sesama. Dalam proses menyadari apa yang kita butuhkan, kita juga kerap mendapatkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan kita. Dari sinilah kita semakin menyadari bahwa manusia saling membutuhkan dan saling melengkapi sehingga kita pun mau melengkapi orang lain.

Penyimpangan Self-Love

Keutamaan bagi Aristoteles seperti sebuah neraca yang seimbang yang memiliki sepasang musuh ketika neraca tersebut berat sebelah di satu sisinya, satu ketika kurang, satu lagi ketika berlebihan. Dengan menyadari self-love sebagai keutamaan, kita dapat merefleksikan lebih jauh musuh sebenarnya dari self-love.

Ketika self-love muncul secara berlebih, kita akan terlalu fokus memenuhi kebutuhan diri kita. Akhirnya, kita melupakan kebutuhan orang lain. Akibatnya, kita bisa saja melakukan hal-hal buruk yang melanggar keadilan bagi orang lain demi memenuhi kebutuhan pribadi kita. Inilah sef-love yang menyimpang menjadi sikap egois.

Ketika self-love kurang atau tidak ada dalam diri kita, kita akan abai atau kurang peka akan kebutuhan diri kita sendiri. Tanpa sadar, kita pun abai atau kurang peka akan kebutuhan orang lain karena kita tidak tahu apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh orang lain. Ketika kita melakukan sesuatu bagi orang lain, sikap dan perbuatan kita bisa saja dirasakan oleh orang lain sebagai “dingin” atau malah kita bingung apa yang sebaiknya dilakukan bagi orang lain. Kekurangan self-love seperti ini dapat memunculkan sikap apatis.

Dari kedua penyimpangan ini, kita dapat menyadari bahwa sebenarnya self-love merupakan suatu hal yang penting bagi perkembangan pribadi kita sebagai manusia. Mempraktekkan self-love secara sehat dapat menumbuhkan empati dan simpati yang sehat dan benar dalam diri kita sehingga kita dapat menolong orang lain secara tepat.

Mulai dari Diri Sendiri

Perubahan bagi dunia dimulai dari perubahan di dalam diri kita. Dan ternyata, kebaikan bagi sesama dimulai dengan kebaikan yang kita lakukan kepada diri kita. Oleh karena itu, latihlah kebaikan dalam dirimu dengan cara melakukan kebaikan tersebut kepada dirimu sendiri.

Aristoteles memang tidak pernah menjelaskan panduan detil mengenai apa yang harus kita lakukan termasuk untuk mengembangkan self-love. Aristoteles menyerahaknnya untuk kita refleksikan dengan harapan kita dapat mengembangkan keutamaan-keutamaan termasuk self-love sesuai dengan bakat kemampuan dan posisi pekerjaan/jabatan kita masing-masing. Di sinilah sebenarnya bagaimana self-love yang dikembangkan dari keunikan pribadi kita masing-masing akan mendukung kita menjadi orang yang makin humanis dan berjiwa sosial tinggi.

Seperti yang kita tahu dan alami sendiri, setiap manusia unik dengan segala kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Karena kita berbeda itulah kita diundang untuk hidup saling melengkapi sebagai makhluk sosial. Dengan keunikan self-love dan cinta bagi sesama yang kita miliki, kita diundang untuk menyumbangkan keunikan kita tersebut hingga akhirnya kita menemukan posisi kita yang pas bagi dunia yang semakin penuh cinta dan perdamaian.

Dan itu semua dimulai dari dalam diri kita. Cintailah dirimu dan cerminkan cinta itu bagi orang lain.