“Sudahkah kamu mencintai dirimu seutuhnya?”

“Sudahkah kamu menerima setiap kekurangan dalam dirimu?”

“Sudahkah kamu menghargai dan berterima kasih atas apa yang sudah kamu lakukan hari ini?”

Sebuah pertanyaan singkat, namun masih banyak yang menjawab “belum”. Sama halnya ketika seseorang diminta menyebutkan 3 orang yang paling ia cintai. Kebanyakan akan menjawab orang tua, sahabat, dan pasangan.

Kenapa kita tidak menyebutkan diri sendiri dahulu sebelum menyebutkan orang lain?. Dari jawaban tersebut, sebenarnya dapat terlihat bahwa kita masih belum berhasil mencintai diri sendiri.

Self-love atau mencintai diri sendiri bukanlah narsisisme. Orang yang mencintai dirinya adalah mereka yang dapat menghargai diri sendiri sehingga dapat menjadi individu yang baik untuk dirinya dan orang lain.

Orang yang dapat mencintai dirinya adalah mereka yang dapat bersahabat baik dengan dirinya sendiri. Sementara, seorang yang narsisisme adalah mereka yang cenderung egois, sombong, menganggap dirinya paling benar, dan rakus perhatian.

Cinta diri sangat berpengaruh terhadap kehidupan seseorang. Seorang yang tidak punya cinta diri akan sering merasa cemas. Kecemasan yang mereka rasakan karena mereka selalu tidak cukup pada dirinya sendiri dan apa yang mereka miliki.

Seorang yang tidak mempunyai cukup cinta diri akan membandingkan kehidupannya dengan orang lain. Seolah, mereka merasa tidak cukup tampil menjadi dirinya sendiri dengan apa adanya.

Seseorang yang tidak mencintai dirinya cenderung sering merasakan insecure. Seseorang yang tidak punya rasa cinta diri akan kesulitan menjalin hubungan harmonis dengan pasangan karena terus menerus menganggap dirinya tidak pantas dicintai.

Seseorang yang tidak mampu mencintai dirinya, ketika melakukan kesalahan maka dia akan menghakimi dirinya dengan komentar negatif hingga menggerus harga diri. Komentar negatif yang secara tidak sengaja, beberapa dari kita pernah menggunakannya sebagai bentuk penghakiman diri, seperti :

“Kenapa melakukan itu! “

“Ceroboh banget!”

“Begitu saja tidak bisa!”

“Dasar tidak berguna!”

Ketika membuat kesalahan, beberapa orang pasti sering menghakimi dirinya dengan kalimat tersebut. Komentar-komentar negatif yang diungkapkan muncul ketika seseorang tidak punya cukup cinta diri. Kata hati negatif tersebut terbentuk dari suara yang sering kita dengar sejak masih kecil.

Baik dari suara orang tua yang sering marah-marah, keluarga yang sering bertengkar, guru yang tidak pernah menghargai kemampuan dan sering merendahkan, atau dari teman sekolah yang sering melakukan bullying.

Suara menghakimi diri sendiri terdengar secara berulang-ulang seakan diri sendiri selalu salah dan tidak pernah benar bagi orang di sekitar kita. Memberikan kritik bagi diri sendiri adalah hal yang penting untuk mengetahui perkembangan diri.

Namun, terkadang suara kritik yang diberikan terlalu keras atau bahkan destruktif. Kritik destruktif berkepanjangan bahkan bisa mendorong diri sendiri menjadi putus asa, depresi, atau bahkan bunuh diri karena terlalu membenci dirinya sendiri.

Maka dari itu, mulailah menumbuhkan rasa mencintai diri sendiri dengan berusaha menjadi sahabat terbaik bagi diri sendiri. Menumbuhkan rasa cinta diri dapat dimulai dengan menerima diri sendiri.

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan agar kita bisa menerima diri sendiri. Pertama dengan menghadiahi diri sendiri ketika sudah melakukan kerja keras. Tidak perlu khawatir atau perhitungan pada diri sendiri, karena tubuh dan kesejahteraan batin adalah investasi terbesar.

Kedua, seringlah mengucapkan, “maaf, terima kasih, dan I love You”. Apa pun kondisinya, tetaplah mencintai diri sendiri. Teruslah ingat, bahwa sebenarnya kita sudah cukup dan kita sudah lengkap sehingga tidak ada yang perlu dihakimi dari diri sendiri.

Ketika kata hati mulai mencambuk bertubi-tubi, berusahalah untuk segera menyadari dan mengganti suara itu dengan suara yang menenangkan yang pernah kita dengar. Kata hati yang sehat, seperti suara yang datang dari sahabat baik.

Seorang sahabat bisa menjadi hakim terbaik bagi diri kita. Mereka, bisa melihat kekurangan, tetapi juga bisa mengingatkan sederet kelebihan kita. Mereka, akan mendengarkan keluh kesah kita dan mampu melihat titik permasalahan serta dapat menawarkan kebijaksanaan dan hiburan agar kita kembali semangat.

Seorang sahabat menerima kita apa adanya, bahwa diri sendiri sebenarnya sudah cukup dan tidak perlu lebih. Ketika gagal dalam hidup, sahabat adalah orang pertama yang pengertian. Sahabat akan mengatakan, “tidak apa gagal, nanti coba lagi”.

Ketika suara menghakimi masih terus menerus menghujam diri sendiri, cobalah berkata pada diri sendiri :

“Tidak apa, kamu sudah berusaha sebaik mungkin, apa yang terjadi memang sering kali di luar kendalimu. Kalau saat ini hasilnya mengecewakan, masih ada hari esok untuk mencoba lagi”

Kalau selama ini kita bisa menjadi teman terbaik bagi orang lain dengan memberikan cinta, maka kita juga bisa melatih untuk menjadi teman terbaik bagi diri sendiri. Kemampuan kita dalam mencintai orang lain harus berbanding lurus dengan kemampuan mencintai diri sendiri.

Seseorang yang punya cinta diri tidak hanya bisa membedakan yang baik dan buruk, tetapi juga bisa memaafkan, adil, dan akurat memahami masalah sehingga bisa membantu mencari jalan keluar. Ketika kita mencintai diri sendiri, maka kita dapat menerima kekurangan dan kelebihan kita.

Mulailah memahami diri sendiri dan tidak perlu terlalu tajam dalam mengkritik. Yuk menjadi sahabat untuk diri sendiri dengan mulai mencintai diri sendiri.